Bima

Bima
Part. 24


__ADS_3

"Kenapa kau membawaku ke sini? A-apa kita akan melakukannya di sini?" Chaira memekik dengan mata kecilnya yang membulat, gugup sekaligus malu dan takut melihat tempat yang didatangi Bima.


Tak!


"Aw!" Ia mengusap dahinya yang terkena sabetan jari telunjuk Bima, "kenapa memukulku?" sungutnya masih mengusap-usap dahi yang terasa berdenyut.


Bima tertawa tak peduli pada cercaan gadis yang masih bersungut-sungut itu.


"Emangnya apa yang mau kita lakuin di sini? Dasar, otak mesum! Bersiin tu otak supaya kagak mesum mulu!" Bima menuding pelan pelipis Chaira sambil terus tertawa kecil.


Gadis itu menepis tangan Bima, menunduk malu menyembunyikan semu merah di pipi.


"Kakak bilang kita ...." Terjeda ucapannya merasa malu sendiri dengan isi pikirannya. Ia kira Bima akan membawanya ke suatu tempat, hotel atau penginapan begitu. Ternyata, Bima membawanya ke rumah sakit tempat Ibunya dirawat. Memangnya apa yang akan mereka lakukan di rumah sakit? Bisa-bisa mereka dikutuk semua pasien karena melakukan hal yang tak senonoh di tempat tersebut.


"Gua bilang kagak mau di sono, bukan berarti gua mau ngelakuin begituan di tempat laen. Mesum lu!" ujar Bima jelas terlihat ia sedang mengejek Chaira.


"Gua kagak tega ngerusak gadis polos kaya lu. Kagak tega gua ngerusak masa depan lu. Lu kudu jadi orang, Dek. Jangan ampe gelap mata cuman karena lu butuh duit. Lu cantik, banyak laki yang pastinya demen ama lu. Saran gua, lu buka usaha kecil-kecilan abis Ibu lu dioperasi-"


"Aku tidak punya modal," tukasnya dengan cepat membuang pandangan dari pemuda di hadapannya. Bima berdecak.


"Gua belom selese ngomong udah lu salib aja. Dengerin dulu!" Kepalanya terangkat karena terkejut mendengar suara tinggi Bima.


"Lu ntu masih muda, terusin sekolah lu ampe lulus. Gua bakal kasih duit buat lu karena emang ntu udah hak lu-"


"Tapi aku tidak melakukan apa pun malam ini. Aturannya aku akan mendapat-"

__ADS_1


"Iya, iya gua tahu. Lu demen bener motong omongan orang. Gua belom selese ngomong udah lu embat lagi aja!" sungut Bima terlihat kesal, tapi rasa peduli lebih besar.


"Maaf." Ia tertunduk dalam-dalam. Kali ini ia harus bisa menahan diri agar tidak memotong ucapan Bima.


"Lu dateng ke arena ntu buat dapatin duit. Gua kasih lu duit bakal operasi Ibu lu, gua tambahin bakal modal usaha lu. Asal lu kudu janji ama gua buat ngejaga diri lu sendiri. Eh, Dek! Kalo bukan lu yang jaga diri sendiri, siapa lagi? Kecuali lu udah kawin, laki lu yang jagain. Sono, rawat Ibu lu. Gua yakin seratus persen Ibu lu bakalan sedih kalo tau anak gadisnya nekad begini," papar Bima panjang lebar.


Chaira mengangkat wajah, pandangannya semakin takjub pada pemuda itu.


"Apa tidak apa-apa Kakak memberikan uang Kakak secara cuma-cuma? Bukankah Kakak juga berjuang untuk mendapatkan uang itu?" Lirih ia bertanya. Ada air yang menggenang di sudut matanya.


Bima mengibaskan tangan di udara. "Duit gampang dicari, tapi kehormatan yang udah hilang kagak bisa lu dapetin lagi. Inget pesen gua, lu kudu bisa jaga diri lu sendiri ampe datang laki buat lamar lu," tutur Bima menasihati.


Jatuh air mata Chaira, tapi bibirnya membentuk senyuman penuh dengan rasa syukur.


"Aku berharap Kakak yang kelak akan menjadi suamiku. Seberapa jauh kita berpisah, doaku akan aku langitkan agar Kakak tetap kembali padaku." Ia menyusut air matanya. Bibirnya tak lepas dari senyum yang ia sematkan.


"Boleh gua minta yang tadi aja? Gua kagak tahu kita bisa ketemu lagi apa kagak?" Kepala Chaira mengangguk. Ia mengerti apa yang dimaksud Bima.


Lingkaran di tubuh lelaki itu mengendur seiring kepala Chaira yang sedikit menjauh. Kedua mata ia pejamkan, menunggu Bima melakukan. Cengkeraman di kedua sisi tubuh Bima menguat tatkala ia mulai memagut bibir yang tadi sempat menyerangnya.


Di bawah temaram sinar lampu, keduanya saling melempar saliva. Bima menekan tengkuk Chaira memperdalam ciuman. Tak ada lagi jarak antara tubuh mereka, menempel lekat. Cukup lama mereka melakukan itu sampai membuat pasokan udara di paru-paru menipis.


Bima melepas pagutan, kedua tangan menempel di pipi Chaira, dahi mereka menyatu dengan napas tersengal. Ia menjauhkan wajahnya, memandang lekat rupa cantik di hadapan, tersenyum. Ibu jarinya mengusap bibir Chaira dengan lembut.


Bima melepas tangannya. "Ambil!" Bima menyerahkan sejumlah uang kepada Chaira. Ditatapnya uang di tangan Bima sebelum menerima dengan pelan. Jika tak ingat Ibu yang sedang sekarat, tak ingin ia mengambil uang itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak." Ia mengusap sudut matanya yang kembali berair. Terisak kecil sambil menunduk meremas uang pemberian Bima.


"Kagak usah nangis. Ini udah rezeki lu. Moga-moga Ibu lu cepet sembuh," ucap Bima menepuk-nepuk pelan kepalanya.


"Makasih yang tadi, ya. Jaga diri lu dan Ibu lu. Gua pergi." Satu kecupan ia berikan di pipi gadis itu sebelum berbalik dan melangkah pergi.


"Gimana jawabnya kalo Nyak entar tanya?" Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali sambil berjalan mendekati sepeda motornya. Chaira masih berdiri di sana memperhatikan gerak-gerik Bima yang terlihat lucu.


Ia menatap uang di tangan, bibirnya tersenyum. Chaira mengangkat wajah, ia melambaikan tangan saat Bima menoleh. Tangannya mengusap pipi bekas kecupan pemuda itu, berlanjut pada bibir yang masih meninggalkan bekas pagutannya.


"Tuhan, pertemukan kami kembali dalam takdir yang lebih baik. Aku ingin menikah dengannya, aku hanya ingin dia yang menjadi suamiku." Ia bergumam sambil menatap motor Bima yang kian menjauh.


Langkahnya berlanjut setelah ia berbalik memasuki kawasan rumah sakit. Senyum di bibirnya tak pudar, menimang uang yang masih ia genggam. Senang sekali, esok ibunya akan dapat melakukan operasi.


"Aku berjanji, Kak. Aku berjanji akan menjaga diriku sendiri sampai kita bertemu lagi. Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi, aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku berjanji." Ia bertekad, melanjutkan langkah dengan berlari kecil menuju ruangan di mana ibunya dirawat.


Wanita paruh baya itu, terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Chaira duduk di kursi samping ranjang tersebut. Menggenggam jemari lemah tak berdaya itu, dan menciuminya.


"Cepat sembuh, Ibu. Aku ingin menceritakan kisah tentang dia. Pemuda luar biasa yang telah menolong kita," ucapnya lirih sambil menjatuhkan kepala di ranjang tersebut.


Rasa kantuk cepat menyerang dirinya karena lelah yang tak dapat ditahan. Hanyut ke alam mimpi, terbuai keindahan yang tak ia dapat di kehidupan nyata.


Sementara Bima, berjalan mengendap usai mematikan motornya. Ia memarkir motor dengan hati-hati nyaris tanpa suara. Membuka pintu perlahan, dan bernapas lega saat lampu rumah telah mati semua.


Jreng!

__ADS_1


"Dari mana lu?"


"Ba-babeh?" Hukuman menanti.


__ADS_2