Bima

Bima
Part. 118


__ADS_3

Nasya melenggang dari toilet setelah merapikan hijabnya. Ia melangkah pelan karena mendengar suara obrolan Bima dan seorang wanita yang samar tertangkap telinganya. Namun, sebuah tangan mencekal pergelangannya dan menarik paksa Nasya untuk pergi dari sana.


"Nasya! Dengarkan aku, kumohon!" pintanya sembari menyudutkan gadis berhijab itu di tembok. Nasya yang terkejut tak dapat berkata apapun.


Degup jantung yang tiba-tiba terpicu membuatnya sedikit sesak. Matanya lebar melotot menatap laki-laki yang menarik tangannya.


"Aku ingin bicara, kumohon!" pintanya lagi hampir seperti bisikan.


Nasya tersadar, ia menarik cepat tangan yang dicekal laki-laki itu dan melipatnya di dada. Wajahnya berpaling enggan berpandangan dengan pemilik iris coklat di hadapannya itu.


"Baik. Bicaralah, akan aku dengarkan," katanya sedikit ketus tanpa memalingkan wajah padanya. Nasya sedikit menggeser tubuh menjauhi sosoknya yang enggan ia dekati kembali.


Lama Revi menatap gadis berhijab itu, ia menarik udara sebanyak-banyaknya mempersiapkan diri untuk membuka kata menyampaikan apa yang terbetik dalam hati.


"Nasya, aku ingin kita kembali-"


"Kembali?" ulang Nasya sinis. Ia berpaling cepat menghadap laki-laki yang menyakitinya beberapa hari lalu itu. Menatapnya nyalang dan penuh kebencian.


"Kembali ke mana? Kembali pada waktu yang menyakiti perasaanku, menghancurkan kepercayaanku? Atau kembali pada saat kau mengatakan bahwa janji yang kau ucapkan padaku waktu dulu hanyalah sebuah gurauan? Dan aku terlalu naif karena mau menerima perasaanmu. Begitu?" cecar Nasya dengan tegas dan diakhiri tawa yang mencibir.


"Konyol!" cibirnya sambil mengibaskan tangan di udara.

__ADS_1


Revi menunduk, ia sadar kesalahannya. Oleh karena terbuai rayuan gombal sang primadona, ia membangkang hatinya yang mencintai Nasya. Juga rela menyakiti perasaan gadis itu dengan kata-kata yang tak seharusnya ia ucapkan. Dia sadar betul.


"Nasy, beri aku kesempatan kedua. Kali ini aku berjanji tak akan melakukan kesalahan. Aku mencintaimu, Nasya. Tolong, maafkan lisanku yang lancang waktu itu. Sungguh, apa yang aku ucapkan pada waktu itu bertolak belakang dengan kenyataan yang dirasakan hatiku. Kumohon, Nasya, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Revi menangkupkan tangan di depan wajah.


Memohon kepada gadis berhijab itu agar kembali diterima untuk merajut kasih. Namun, Nasya tak akan melakukan kesalahan yang sama dengan menerima kembali janji semu yang diucapkan laki-laki tak berpendirian itu.


"Laki-laki pecundang!" cibir Nasya, "tak memiliki pendirian. Kau katakan A, maka A. Kau katakan B, maka B. Tak akan aku percaya lagi kata-kata rayuanmu yang hanya manis terdengar, tapi kenyataannya lebih pahit dari empedu," sambung Nasya menolak dengan tegas keinginan Revi untuk kembali.


Laki-laki itu melebarkan mata tak percaya bahwa Nasya baru saja menolaknya. Padahal, ia yakin gadis berhijab itu sangat mencintainya. Ia sudah menyusun rencana setelah Nasya mau kembali padanya. Mengingat Nasya adalah keturunan Pratama, tak akan ia melepaskannya dengan mudah.


"Aku tidak peduli apa yang mau kau katakan, Nasya. Kau boleh mencaciku, menghinaku sesuka hatimu, kau juga boleh memukulku di manapun yang kau sukai. Akan tetapi, setelah itu aku ingin kita kembali lagi. Aku masih sangat mencintaimu, Nasya. Kemarin aku hanya tertekan, mereka terus saja merayuku dan menggodaku dengan iming-iming ... ah, sudahlah! Kumohon, kembalilah padaku, Nasya!" ucapnya tak tahu malu.


Nasya mengerlingkan mata jengah, ia memandang manik di depannya dengan tegas. Tak ada lagi pancaran cinta seperti beberapa hari lalu. Hanya ada kebencian yang terlihat dalam iris matanya yang menajam.


Sontak kedua tangan laki-laki itu menutupinya. Melindungi dari serangan tak terduga gadis menyeramkan di hadapannya.


Nasya tertawa mencemooh, ia mencibir jijik disaat menilik tangan yang menutupi adiknya itu.


"Siapa juga yang ingin menyentuhnya! Aku sama sekali tak sudi melakukannya. Enyah dariku dan jangan lagi menampakkan dirimu di hadapanku. Aku muak!" sentak Nasya seraya membawa langkahnya hendak meninggalkan lorong toilet yang sepi.


Revi yang tak terima dengan sikap Nasya yang menolak mentah-mentah, dengan geram menarik tangan gadis itu dan membawanya menjauh.

__ADS_1


"Lepaskan! Kakak, tolong! Kak, tolong aku!" teriak Nasya kuat-kuat. Ia meronta, menggeliat mencoba melepaskan diri dari cekalan Revi yang kuat. Dalam hati menyesal karena tak menuruti kemauan sang Ayah yang memintanya untuk belajar beladiri bersama Ayra saat kecil dulu.


Revi seperti orang yang kerasukan setan, tak peduli seberapa kuat Nasya berteriak dan meronta, ia terus menarik gadis itu menjauh dari tempat awal.


Bima yang baru saja melepas kepergian Yola, tersentak kaget saat angin yang berhembus membawa teriakan Nasya kepadanya.


"Nasya!" Ia bangkit dengan cepat. Berlari ke arah datangnya suara sang adik. Terus memacu kaki mengikuti pekikan Nasya yang tak jauh darinya.


"Brengsek!" umpatnya saat melihat Revi dengan tanpa perasaan menarik adiknya yang terus melawan. Ia mempercepat laju kakinya, memapak langkah Revi dan melayangkan pukulan di wajah laki-laki lancang itu.


Tak cukup sampai di situ, Bima menarik kerah baju laki-laki yang terjerembab di atas lantai itu dan menariknya hingga berdiri tegak. Tak puas rasanya hanya sekali, Bima kembali melayangkan tinju di wajah dan perutnya. Untuk kedua kalinya, Revi terpelanting ke atas lantai sambil memegangi perut.


Sudut bibirnya robek dan meninggalkan jejak kemerahan di sana. Dengan napas memburu penuh nafsu membunuh, Bima menyalang ke arahnya. Revi bagai seekor tikus yang tersudut di pojokan, tubuhnya gemetar ketakutan. Bibirnya berdesis karena rasa sakit yang ia rasakan.


"Masih berani aja lu gangguin Adek gua! Mau lu apa?" hardik Bima dengan kedua mata menjegil pada sesosok tubuh bergetar itu.


"Ma-maaf, Kak. A-aku hanya ingin meminta maaf pada Nasya. Itu saja," ucapnya terbata dengan napas tersengal-sengal sambil memegangi bagian perut yang dihantam Bima barusan.


"Minta maaf? Tapi yang gua liat lu nyeret Adek gua kaya binatang. Itu yang lu bilang minta maaf?!" bentak Bima lagi semakin berang, "lu tau yang lu lakuin itu tindakan kriminal dan pantes gua laporin ke polisi," ancam Bima. Jari telunjuknya menuding lurus tepat di depan wajah laki-laki itu.


Wajah lebam itu terangkat cepat, kedua biji matanya membelalak lebar. Mendengar kata polisi membayang dalam pelupuk, hotel prodeo yang dingin menusuk. Ia menggeleng cepat dengan raut wajah memelas meminta pengampunan.

__ADS_1


"Ti-tidak, Tuan Muda! Ampuni aku ... aku tidak ingin dipenjara. Maafkan aku, Tuan Muda. Aku berjanji ... aku berjanji tak akan melakukan perbuatan buruk lagi. Aku berjanji. Tolong ampuni aku! Ampuni aku!" mohonnya sambil berlutut dengan kedua tangan menangkup di depan dada.


"Kak!" Nasya merangkul lengan Bima, menenangkan Kakak laki-lakinya itu.


__ADS_2