Bima

Bima
Part. 38


__ADS_3

Bising. Satu kata itu yang dapat menggambarkan suasana jalanan di tengah malam itu. Kedua pembalap beradu mesin, satu gadis cantik meliuk-liuk di hadapan mereka.


"Berhati-hatilah, ini balapan bebas tanpa aturan. Kau harus tetap waspada! Semoga Bima datang tempat waktu," ucap salah satu temannya sebelum ia memutuskan untuk menggantikan Bima.


Kedua pasang mata saling melempar tatapan. Jalanan lurus dan gelap di hadapan, sedang menanti kedatangan mereka. Tak ada yang tahu apa yang sedang menanti mereka di dalam kegelapan tersebut. Namun, demi harga diri, ia rela berkorban. Asal jangan menyerah sebelum berperang seperti seorang pengecut.


Kepulan asap membumbung tinggi ke udara. Sorak-sorai para pecinta balapan liar pun, turut menyemarakkan jalannya balapan tersebut. Entah mengapa, nyali Roy, teman Bima yang menggantikannya justru menciut tatkala motor lawan melesat lebih dulu. Padahal, ia selalu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan lawannya.


"Roy!"


Wush!


Sesuatu melesat cepat menerbangkan rok mini yang dikenakan para gadis. Mereka tahu siapa itu?


"Bima!"


"Bima!"


Roy bernapas lega, ia masih berada di garis start tatkala Bima menoleh padanya. Kawanan cheetah terperangah dengan aksi Bima yang tak biasa.


"Itukah anak yang bernama Bima?" celetuk mereka tanpa sadar.


"Benar. Itu Bima kami. Kalian akan melihat kegilaan yang akan dia lakukan. Jangan harap kalian bisa menghalangi jalannya!" sahut teman Bima dengan tegas dan jumawa.


Kelompok itu melempar lirikan, tersenyum mencibir. "Ini balapan bebas, Bro. Aku tidak yakin anak yang kalian banggakan itu bisa berhasil sampai ke garis finis." Mereka tertawa terbahak. Menertawakan kegugupan yang jelas terlihat di wajah teman-teman Bima.


"Kita lihat saja nanti!" Mereka melengos kembali ke kelompoknya. Bergabung dan berkumpul bersama yang lain menunggu Bima.


"Lihat bahwa kami adalah pemenangnya." Tawa mereka kembali terdengar. Tak ada lagi yang menyahuti. Mereka benar-benar dibuat kesal oleh sikap sombong kelompok itu.

__ADS_1


Sementara di jalan, motor Bima menderu mengusik pengendara yang melaju jauh di depannya. Ia menunjukkan jari tengah tatkala kepala pengendara itu menoleh ke belakang.


"Sial! Jadi dia yang bernama Bima? Boleh juga, tapi aku ingin melihat apa dia masih bisa bersikap sombong setelah ini," ucapnya pelan. Ada sesuatu yang telah mereka siapkan untuk Bima. Ini jalanan bebas, siapa pun boleh melakukan kecurangan.


"Owh ... jadi ini jalanan bebas. Dia pikir gua kagak tahu apa soal ini?" Bima tersenyum miring. Ia tahu apa yang akan terjadi di jalanan itu. Hatinya waspada, matanya awas. Apa pun akan membuatnya celaka jika tidak berhati-hati.


Bima menarik rem mendadak, ban motor berdecit, terangkat dan berputar setengah haluan. Di hadapannya ranjau tajam berbaris mencuat. Ia menatap sekitar, mencari celah untuk dapat melalui deretan benda tajam di jalanan itu.


Bima kembali melaju setelah memperhitungkan semuanya. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana, melemparnya dengan kuat ke arah semak-semak rimbun di pinggir jalan.


"Argh!" Jeritan menggema dari balik semak tersebut. Bima tersenyum, ia menambah kecepatan menyusul pengendara di depannya. Bima terus mengikis jarak meskipun lawan di depannya terus bertambah cepat.


"Gua kudu bisa nyusul dia." Tekad Bima begitu kuat, memberinya tenaga lebih dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia terus menambah kecepatan, menyusul dengan cepat lawannya tersebut.


"Sial! Cepat juga anak itu, tapi aku tak akan membiarkannya memenangkan balapan ini. Tidak akan!"


"Hmm ... jadi gini cara maen lu? Ok, gua jabanin!" Bima tak mau kalah. Mereka melaju berdampingan, saling melempar lirikan. Beberapa ratus meter lagi, garis finis menyambut mereka.


Lawan Bima membanting motornya ke kiri, sengaja menabrakkan miliknya itu pada motor Bima. Bima bertahan, terus melaju ke hadapan. Ia diapit dua buah motor sekaligus. Keduanya terus-menerus menyerang Bima ingin membuatnya terjatuh dan tak bisa bangun lagi.


Bima menarik rem sekaligus tatkala motor di kedua sisinya menyerang bersamaan. Tabrakan tak terelakan, hantaman dua kendaraan menimbulkan bunyi berdentam yang keras.


"Nah! Kau dengar? Itu pasti suara motor temanmu." Mereka kembali terbahak terus memupus kepercayaan diri teman-teman Bima. Roy nampak gelisah, tahu betul bagaimana kelompok itu saat bermain. Berbagai kecurangan mereka lakukan untuk mendapatkan balapan.


Perasaan cemas segera menyelimuti hati mereka. "Kau tenang saja, kita tidak tahu apakah itu Bima atau bukan? Mereka pun belum muncul juga. Kita masih punya harapan," ucap rekannya menenangkan. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, memupus kecemasan di hatinya.


Waktu terasa lambat berjalan. Menunggu Bima muncul seperti menunggu sang pujaan hati yang tak terduga hadirnya. Di jalanan itu, Bima melaju mendahului. Melesat secepat kilat menyambar. Dua orang pengendara yang saling berbenturan, kembali beranjak.


"Brengsek! Kenapa kau tidak menghindar saat tabrakan tadi?" sungut salah satunya sambil membangunkan motor yang tergolek membentur jalanan beraspal.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu kalau dia akan melakukan itu." Ia membantu rekannya untuk bangkit. Bergegas menyusul Bima yang telah jauh berlari. Sorak-sorai para penonton terdengar semakin menyulut rasa gengsi di hati kelompok itu.


"Bima!"


"Bima!"


Sorot lampu motor menyala di kejauhan. Deru mesin motor Bima sudah melekat dalam ingatan mereka. Menyusul di belakang Bima, lampu lainnya menyorot lebih tajam. Beberapa saat lagi ia akan sampai di garis finis, tapi sebuah senggolan membuat motor Bima hampir terjatuh. Beruntung, ia masih dapat menyeimbangkannya hingga terus dapat melaju.


Bima terkepung, di kanan dan kirinya dua motor mengancam, di belakangnya satu motor masih mencoba menyusul. Bima menambah kecepatan tak ingin lagi mengulur waktu, melesat meninggalkan ketiga motor yang mengepungnya.


"Curang, kalian!" Teriakan demi teriakan menggema bersama hiruk-pikuk suara-suara manusia lainnya.


"Ini balapan liar, Bro! Sah-sah saja, bukan?" sahut lawan yang tak peduli sama sekali. Wajahnya berubah tegang tatkala motor milik Bima mulai terlihat mendekat. Semakin dekat, dan tiba lebih dulu di garis finis.


Bima tak menghentikan laju motor sampai tiba di perkumpulan teman-temannya. Ia turun dan melakukan tos bersama mereka. Sorak-sorai anak muda itu bagai sekumpulan lebah yang menyerang. Menyusul ketiga motor lainnya tak terima dikalahkan Bima.


Pemuda itu berdiri bersandar di badan motor miliknya, ia tersenyum usai melepas helm yang menutupi wajah tampannya. Di antara kelompok tersebut, seorang laki-laki berjalan terpincang-pincang sambil memegangi tangannya yang dilumuri darah. Semua orang dibuat terkejut. Teman-teman Bima melirik ke arahnya, tapi pemuda itu justru menghendikan bahu.


Bima memutar kepala. "Akui kekalahan kalian dan pergi dari sini. Kagak usah datang lagi ke mari!" ucap Bima dengan nada pelan yang menohok.


"Sial! Awas saja kalian! Aku akan datang lagi ke sini untuk membalas!" sahutnya berapi-api.


"Lu tuli? Gua bilang kagak usah datang lagi ke mari! Denger kagak lu?" tegas Bima sekali lagi. Namun, mereka tak peduli, pergi membubarkan diri dan mengancam akan kembali.


Teman-teman Bima mengangkat tubuhnya selepas kelompok itu meninggalkan jalanan tersebut. Menyerukan nama Bima sang juara.


Sorot lampu yang terang benderang menimpa tubuh mereka dari sebuah mobil mewah yang datang mendekat. Mereka tertegun. Bima perlahan diturunkan, sekumpulan anak muda itu termangu menunggu. Siapa yang ada di dalam mobil tersebut.


Bima mengernyitkan dahi dalam-dalam. Hatinya bertanya-tanya sendiri. Namun, wajahnya berubah pucat pasih tatkala melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2