
Harum semerbak bunga berbaur dengan bau tanah merah yang baru saja menimbun jasad seorang laki-laki berhati tulus. Gemericik air dari langit, mengguyur kota tersebut. Langit pun ikut bersedih, bumi berduka atas kepergian Dewa.
Bima masih duduk bersimpuh di samping gundukan tanah itu. Tangannya menyentuh nisan bertuliskan nama laki-laki hebat yang telah menjaganya seumur hidup yang dia lalui. Kepalanya tertunduk, air masih jatuh dari mata bercampur dengan tangisan langit yang menjatuhi kepalanya.
Bima mendekatkan wajah mencium nisan tersebut. Betapa rasa kehilangan menusuk jantungnya. Diusapnya ukiran huruf bertuliskan nama lelaki itu, bibirnya tersenyum kala mengingat masa-masa kecilnya yang penuh kegembiraan bersama Babeh yang tak pernah mengeluh.
"Semoga Babeh tenang di alam sana. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Babeh. Bima janji bakal jagain Nyak biarpun nyawa Bima taruhannya. Terima kasih, Beh. Babeh udah kasih masa kecil yang bahagia buat Bima. Bima sayang Babeh. Babeh adalah Ayah terhebat di dunia. Bima sayang Babeh." Ia kembali menangis sembari mencium nisan tersebut.
"Kak, Nyak akan berbuat nekad menyusul Kakak di sini jika saja Kakak tak kembali sekarang juga. Ingat, Kak, Babeh sudah tenang. Jangan memberatkan perjalanan Babeh dengan terus-menerus larut dalam tangis kesedihan. Nyak juga sudah tua, dia akan semakin terluka melihat Kakak yang seperti ini. Ayo, Kak, pulang." Nasya berdiri di belakangnya dengan sebuah payung yang menghalau air menjatuhi kepala Bima.
Mendengar itu, hati Bima membenarkan. Ia beranjak dari nisan Dewa, memandang tulisan nama itu dengan lekat.
"Bima pulang, Beh. Bima bakal sering-sering jenguk Babeh," katanya seraya mencium nisan tersebut dan berdiri. Tatapannya masih terpaku pada gundukan tanah itu. Ia berbalik dan berjalan mendahului Nasya yang berlari mengejarnya.
Taman belakang rumah besar Razka, pemakaman keluarga, di sana lah Dewa dikebumikan. Berjejer dengan Aisyah juga kedua orang tuanya. Laki-laki itu istimewa bagi Razka, tak akan ia menjauhkannya dari keluarga.
Bima mempercepat langkah disaat melihat Tina berdiri di teras belakang rumah dengan Ayra memeluknya dari belakang. Mungkin Kakaknya itu mencegah Tina menerjang hujan menyusul putranya.
"Nyak!" Bima berhambur memeluk Tina. Pakaiannya yang basah ikut membasahi Tina, tapi wanita tua itu membalas pelukannya. Ia yang tak lagi menangis, tak bisa menahan laju air mata yang merangsek turun mendengar isak anak laki-lakinya.
"Kagak usah nangis lagi. Kasian Babeh lu, langkahnya berat kalo kita terus nangisin Babeh. Ikhlasin, semua ini takdir Allah yang kudu kita terima," ingat Tina sambil mengusap-usap rambut basah Bima dengan lembut.
__ADS_1
Di belakang mereka berjejer semua orang, termasuk keluarga Atmaja dan keluarga paman Sam yang turut hadir saat pemakaman Dewa. Tina mengurai pelukan, ia mengecup dahi Bima sambil tersenyum getir.
Kasih sayang wanita itu begitu tulus. Mereka yang ada di sana dapat merasakannya hanya dari melihat bagaimana interaksi mereka. Revan mendekat, ia menepuk bahu Bima sebelum merengkuh tubuh sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Nyak benar, Bima. Kau harus ikhlas, aku sangat mengenal bagaimana Babeh Dewa. Beliau sangat baik, sudah pasti akan mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Kau tidak sendirian, Kawan. Masih ada kami keluargamu," katanya seraya memberikan tepukan-tepukan ringan di punggung Bima.
Ia mengurai pelukan, pandangannya mengedar menatapi semua orang yang ada. Senyum-senyum ketabahan juga kesedihan dapat ia lihat di wajah mereka. Bima tersenyum, ia mengangguk di hadapan semua orang penuh penghormatan.
"Terima kasih karena telah bersedia menjadi keluarga kami. Terima kasih karena telah hadir menghibur kami. Terima kasih," katanya bergetar.
Nasya yang tak suka mendengarnya, menggelengkan kepala lantas memeluk Bima erat. Diikuti Ayra juga Aulia yang ikut memeluknya.
"Mau apa kau?" cegah Briant pada Lusy yang melangkah hendak menghampiri.
"Siapa kau? Kau tidak boleh ke sana. Diam di sini!" titahnya tegas dengan mata melotot lebar. Lusy kembali dengan kedua kaki yang dihentakkan.
Mereka membawa Tina dan Bima masuk ke rumah, duduk lesehan di bekas orang-orang mengaji di rumah tersebut. Bima duduk di samping Tina, memeluk wanita yang berpura-pura tegar itu.
"Bu Tina, sebaliknya Ibu dan Baim tinggal bersama kami saja. Insya Allah rumah kami cukup untuk menampung kalian berdua," ujar Aulia yang tak tega membayangkan jika saja mereka berdua harus tetap tinggal di rumah itu.
Tina akan kesendirian jika Bima pergi kuliah atau bekerja. Tak ada teman yang mengajaknya berbincang.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya, tapi saya ingin tetap tinggal di sana. Jika Bima ingin tinggal di rumah kalian, saya tidak masalah. Saya tidak bisa meninggalkan satu-satunya kenangan yang ditinggalkan suami saya," tolak Tina dengan halus.
Aulia melirik Razka dan yang lainnya. Betapa mereka mengerti apa yang diinginkan hati Tina. Cinta yang begitu besar terhadap laki-laki itu, membuat Tina rela tinggal sendirian.
Bima yang mendengar tentu saja tidak senang, di mana pun Tina tinggal ia akan di sana menemani.
"Di mana pun Nyak tinggal, Bima bakal tinggal ama Nyak. Bima udah janji ama Babeh, Bima kagak bakal ninggalin Nyak sendirian," katanya seraya memeluk tubuh Tina yang ringkih.
Mendengar itu, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa juga memaksa karena itu hak mereka untuk tinggal di mana. Bima dan Tina lekas kembali pulang setelah perbincangan itu. Tak ingin berlama-lama karena bisa saja Bima kembali berlari dan menginap di makam Dewa.
Dengan diantar Razka, Bima tak ingin membawa serta mobil tersebut. Cukup motor di rumah peninggalan dari Dewa yang ingin ia kendarai.
"Jika ada apa-apa, tolong kabari Ayah. Kau masih memiliki keluarga lain, Nak. Ayah dan Ibumu ada dekat denganmu. Kami tak akan membiarkanmu sendirian," katanya sambil menepuk bahu Bima dan memeluknya.
"Terima kasih, Ayah. Bima akan selalu ingat. Maaf karena semalam Bima terlalu panik hingga tak sempat mengabari Ayah dan Ibu," ungkap Bima pula dengan penuh sesal.
Razka mengerti, ia melepas pelukan dan berpamitan. Memberikan waktu untuk mereka berdua tanpa orang lain. Sesekali ia dan semua keluarganya akan berkunjung menghibur keduanya.
Tina meraung usai kepergian Razka. Memeluk figura yang membingkai gambar Dewa dan dirinya. Ia duduk di tepi ranjang, malam ini akan tidur sendirian. Bima datang menghampiri, duduk di samping wanita itu dan memeluknya.
Membiarkan Tina menumpahkan tangisan tanpa ingin menenangkannya.
__ADS_1
"Nangis aja sepuasnya hari ini, Nyak. Besok dan seterusnya, jangan lagi ada tangisan. Cukup hari ini aja. Cukup hari ini aja, Nyak," lirihnya pelan.
Di kamar yang tak seberapa luasnya itu, tangis Tina menggema.