
Puas bermain di mal, Dewa membelikan keduanya pakaian baru juga sandal. Walaupun hanya harga diskon, tapi itu sudah membuat mereka bahagia luar biasa. Tak apa murah karena bukan soal harga yang membuat hati merasa puas dan senang, tapi semua soal rasa dan syukur. Rasa cukup yang menimbulkan syukur dalam hati.
Hari-hari dilalui Bima dengan penuh keceriaan, Tina tak lagi menangis karena kehabisan beras dan uang. Mereka hidup berkecukupan, hati Dewa selalu berbunga-bunga setiap hari karena Tina mencukupi lahir batinnya. Rezeki mengalir dengan deras ketika istri sentiasa tersenyum.
Sepuluh tahun berlalu sudah.
Deru sepeda motor mengepulkan asap yang membumbung tinggi di udara. Sekumpulan anak muda berbaris di jalanan, menyoraki ketiga pemuda yang bertengger di atas motor mereka.
"Kalau kau berhasil mengalahkanku malam ini, maka motor ini akan jadi milikmu!" ucap salah satunya jumawa. Bibirnya mencibir berikut pandangan yang merendahkan.
Terdengar tawa kecil dari pemuda yang ditantangnya. Ia menggigit bibir bersama kedua bahu yang terangkat.
"Gua kagak butuh motor lu. Kalo bisa lu uangin aja ntu motor baru gua terima." Bibirnya tersenyum tipis, kedipan matanya nakal tatkala bertabrakan dengan manik seorang gadis.
Jeritan para gadis membahana, siapa yang tak kenal Bima. Pembalap baru di arena liar tersebut. Berwajah tampan, dingin dan cuek, tapi sering menggoda. Tak ada gadis yang berhasil memikat hatinya meskipun mereka sering menawarkan diri untuk bersamanya.
Ia tak tersentuh, tapi begitu menggoda. Para gadis itu berlomba untuk mendapatkan hatinya.
"Oh ... baik. Kalau yang kau inginkan adalah uang, aku akan memberikannya," katanya membuat kesepakatan. Keduanya bersalaman tanda kesepakatan telah disetujui.
Suara bising yang dimainkan menambah keriuhan suasana malam panjang itu.
"Kalau kau berhasil menang malam ini, maka gadis tercantik di sana akan menjadi milikmu," ucap yang lain dengan jari yang mengarah pada salah seorang gadis yang cantik dan seksi.
Bima ikut melirik, ia hanya tersenyum tanpa berminat sama sekali. Tak menanggapi, ia lebih memilih menghadap ke depan dan memainkan motornya.
Seorang gadis berpakaian minim, berdiri di tengah jalan. Dengan sebuah sapu tangan di ujung jarinya, ia menari meliuk-liukkan tubuhnya yang seksi. Dua motor melesat begitu sapu tangan itu dijatuhkan. Suara sorak sorai dari anak-anak muda yang berbaris di pinggiran, meramaikan keadaan.
Mereka termangu tatkala satu motor masih menderu di tempatnya. Bingung, dan sebagian ada yang tertawa, tapi pemuda itu tidak panik sama sekali. Dalam sekejap mata, motor yang dikendarainya melesat bagai angin tak terlihat hanya meninggalkan jejak berupa debu yang beterbangan menutupi jalan.
Ketiga motor itu hilang dari pandangan, mereka semua menunggu dengan was-was. Berharap pembalap baru itu bisa mengalahkan dua sisanya. Di antara mereka, salah satu gadis dijadikan taruhan. Gadis misterius yang tak diketahui latar belakangnya.
__ADS_1
Ia menggigit bibir, entah kenapa gadis polos sepertinya ada di tempat seperti itu. Maniknya memancarkan ketakutan dan kecemasan sekaligus. Tak ada yang tahu apa isi hatinya.
Selama tiga puluh menit lamanya mereka menunggu, sorot lampu motor kembali meramaikan suasana yang sempat menghening sejenak.
"Bima!"
"Bima!"
"Bima!"
Tim penyemangat menyerukan satu nama saat hanya ada satu motor yang datang. Kedua tangan pemuda itu terangkat tinggi-tinggi, ia bahkan berdiri di atas motornya melakukan freestyle saat melawati garis finis.
Ia menurunkan tubuh. Ban berdecit lama kala sepeda motor itu berputar-putar sebelum akhirnya berhenti. Sekelompok orang mendatanginya, mengangkat tubuh atletis pemuda itu ke atas sambil menyorakan namanya.
Bima menepuk-nepuk bahu kedua orang yang menggotongnya, meminta mereka untuk menurunkannya. Kedua pengendara lainnya, berjalan lesu mendekati.
Mereka saling bersalaman, pertarungan sahabat.
Pemuda itu tak berkata apa pun, hanya tersenyum tipis sambil menunduk. Ia menengadah seraya melipat kedua tangan di perut.
"Kau yakin tak menginginkan motorku? Di antara semua pembalap mereka selalu mengincar motor itu. Pikirkan kembali keputusanmu, Bima," katanya memainkan alis menggoda Bima dengan menunjukan motornya yang memang menjadi incaran para pembalap liar.
Bima menggeleng, mengibaskan sebelah tangannya sambil berpaling sesaat.
"Gua udah punya motor, kagak butuh motor laen. Yang gua butuhkan duit bakal kuliah gua, bakal Nyak, Babeh gua. Mari!" Bima menadahkan tangan menggerakkannya ke atas ke bawah meminta uang yang telah disepakati.
"Tidak sabaran!" Ia terkekeh sambil menggeleng.
"Berikan nomor rekeningmu!" pintanya lagi seraya mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Elah, pake acara rekening. Gua kira uangnya, cash ... cash, Bro!" sungut Bima tak urung jua tangannya mengeluarkan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Sorry, Bro. Aku tak membawa uang cash." Ia mengangkat bahu mencondongkan tubuhnya saat Bima memperlihatkan apa yang dimintanya.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Bima mengecek, menganga kedua bibir dan melebar kedua matanya melihat nominal uang yang tak sedikit masuk ke rekeningnya.
"Seriusan lu harga motor lu segini?" Berbinar takjub manik hitam Bima. menggeleng kepalanya saat disambut anggukkan untuk jawaban pertanyaannya.
"Bujubuneng! Bisa kaya mendadak gua kalo gini. Kagak sayang lu ngasih duit segini banyak ama gua? Entar kalo duit lu abis, gimana?" seru Bima heran.
Tertawa temannya. Sikap polos Bima benar-benar membuat mereka merasa cemas.
"Kau sepertinya harus berhati-hati, Bima. Aku khawatir akan ada orang yang memanfaatkan kepolosanmu itu. Balapan liar itu tidak ada jaminan, tidak ada asuransi saat kau mengalami kecelakaan. Jumlah uang itu tidak akan bisa mengembalikan tubuhmu atau bahkan nyawamu saat kau mengalami kecelakaan dalam balapan. Kau harus mengerti soal itu!" Ia menepuk bahu Bima.
Tersenyum saat melihat Bima yang menundukkan wajah. Merenungi apa yang baru saja diberitahu temannya itu.
"Itu benar, Bim. Kau tidak hanya harus lincah dan gesit, tapi juga harus cerdas dan pandai membedakan mana kawan, mana lawan. Sekarang, nikmati hadiahmu. Gadis di sana milikmu malam ini, dia masih disegel," ujarnya berbisik di ujung kalimat.
Keduanya meninggalkan Bima sendirian, berhadapan dengan gadis yang bersikap malu-malu dan gemetar. Bima melirik, dahinya mengernyit melihat sikap gadis yang serba salah itu.
Bima melangkah, mendekat dan berhenti tepat di hadapannya. Gadis itu menunduk, kedua tangannya bertumpuk di depan meremas ujung rok mini yang ia kenakan.
"Siapa nama lu?" Pertanyaan pertama Bima membuatnya mendongakkan kepala bertatapan dengan manik hitam di depannya. Ia tertegun, hanyut dalam pesona keindahan pemandangan di depan matanya. Bima bergeming memberinya waktu untuk menelisik wajah tampan miliknya.
"Ekhem!" Gadis itu gelagapan. Segera memutus tatapan dengan menundukkan wajahnya.
"Gua tanya siapa nama lu?" tanya Bima lagi. Kali ini dengan nada sedikit meninggi.
"A-aku ... Cha-chaira," sahutnya terbata.
"Chaira?" Ia mengangguk saat Bima mengulang namanya menegaskan.
"Kayanya lu masih sekolah, ya. Ngapain lu di mari?" Pertanyaan yang dia pendam dari sejak netra menangkap sosoknya.
__ADS_1
"A-aku ...."