
Bagai baru saja mendapat undian lotre, Bima berjalan sumringah keluar dari gedung. Ia membuang masker yang selama ini menutupi wajahnya ke sembarang tempat. Rasanya, ia tak membutuhkan itu lagi. Toh, sang pewaris sudah ditemukan, dan dia bukanlah siapa-siapa.
Lega rasanya bisa menunjukkan diri sendiri tanpa takut diketahui dan tak perlu lagi bersembunyi di balik masker itu. Di dalam sebuah bangunan kecil, seorang laki-laki paruh baya mengamati tingkah Bima. Ia membelalak setelah dapat melihat dengan jelas wajah pengawal itu.
"I-itu, bukannya pemuda yang dicari Tuan Besar?" Ia meneguk saliva gugup. Apakah perlu dia melaporkan Bima yang memiliki wajah serupa dengan ciri-ciri yang disebutkan Tuannya kemarin.
"Apa aku harus melaporkannya? Tapi di dalam sana, Tuan Muda sudah ditemukan dan Nona muda sendiri yang menemukannya. Bagaimana mungkin ada dua Tuan Muda dalam satu rumah dengan wajah yang sama? Kecuali mereka kembar," celetuknya lagi masih menimbang isi pemikirannya.
Ia bergegas pergi meninggalkan tempatnya, memasuki aula dengan tergesa. Ia berteriak lantang-lantang memanggil Razka.
"Tuan! Tuan! Saya melihat dia, Tuan! Pemuda yang Tuan cari saya melihatnya ada di halaman, Tuan!" Suaranya yang menggema mengejutkan semua orang. Sekejap saja ia menjadi pusat perhatian. Wajah-wajah bingung yang menatapnya, membuat dirinya gugup seketika. Rasa yang tadi menggebu-gebu lenyap begitu saja. Terlebih, ketika ia melihat ke arah panggung ada pemuda yang sama dengan postur tubuh yang berbeda.
"Siapa yang kau lihat?" Briant melangkah menuruni panggung, mendekati laki-laki tadi. Berdiri berhadapan, menuntut penjelasan.
"Tu-tuan, maafkan saya. Mungkin hanya penglihatan saya saja yang salah. Tadi saya melihat pemuda yang sama di luar berjalan dari dalam gedung ini. Dia ... dia pengawal yang selalu memakai masker itu, Tuan," lapornya.
Briant teringat pada Bima yang baru beberapa saat keluar dari aula. Ia memberi isyarat pada yang lain untuk memastikan. Razka tersenyum dari atas panggung, jika tak ingat pada dua lansia di rumah sakit itu, sudah pasti ia akan mengusir pemuda yang bersamanya saat ini.
"Apa yang kau katakan! Pemuda itu ada di sini, mungkin saja kau hanya salah melihat tadi," seru Razka yang dibenarkan semua orang. Pelapor itu menggaruk kepalanya bingung sendiri.
"Bagaimana?" tanya Briant ketika dua orang yang pergi memastikan, kembali ke dalam aula.
"Tidak ada siapa pun di luar sana, Tuan! Hanya ada karyawan yang hilir-mudik di lorong. Selebihnya, tak ada pemuda seperti yang disebutkan olehnya," lapor mereka yang disambut helaan napas oleh Briant.
"Ma-maaf, Tuan. Mungkin benar saya salah melihat. Maaf sekali lagi, saya permisi!" Ia berbalik. Mulutnya bergumam tak jelas sepanjang kakinya melangkah keluar dari ruangan. Briant menggelengkan kepala, ia memijit pelipisnya yang terasa pening.
__ADS_1
Entah kenapa hatinya menjadi ragu pada sosok pemuda itu. Ia sedang menyelidiki soal Bima, ingin rasanya memergoki pemuda itu tanpa masker. Ia pikir akan mudah, nyatanya sampai hari itu pun ia belum pernah mendapati Bima kecolongan.
Sementara Bima telah berada di jalanan, gilap-gemilap wajahnya, senyumnya berseri, matanya terperling. Ia asik mengemudi sembari bersenandung mengikuti alunan musik klasik. Kulit hangat Razka masih dapat ia rasakan, melekat erat di permukaan kulitnya.
"Ya Allah ... rasanya ngapa lain, ya. Padahal, dia bukan siapa-siapa. Anaknya juga udah ketemu. Ah ... ngapa gua ngarep banget jadi anak mereka, sih? Tadi juga gua kecewa, pas tahu anak mereka udah ketemu dan itu bukan gua." Ia tertawa kecil. Merasa konyol dengan pemikirannya sendiri.
Mobil memasuki area kampus, lajunya melambat. Bima tak segan lagi menunjukkan dirinya. Untuk apa bersembunyi? Sedangkan ia bukanlah yang dicari. Ia mengambil kacamata hitamnya, menenteng tas keluar dari dalam mobil.
Desas-desus tentang dirinya pun sempat ia dengar, tapi bukan Bima namannya jika ia akan peduli. Kakinya terus melangkah memasuki gedung, berpasang-pasang mata tak berkedip menatapnya.
"Bima!" Suara gadis yang selalu menyulut emosinya itu kembali mendayu di telinga. Bima tak mengacuhkannya, terus berlanjut menuju kelasnya sendiri.
"Kagak usah cari muka di depan gua!" hardik Bima dikala Yola memapak langkahnya. Ia menepis tubuh gadis itu ke samping, hingga menyingkir dari jalannya.
"Apa yang kalian buat? Siapa yang menjerit-jerit itu?" Mata Bima merah menyala. Yola gugup sendiri, ia tahu apa maksud Bima.
"A-aku tidak tahu. Itu bukan aku," tolaknya takut-takut. Bima mendekat, langkahnya mengintimidasi Yola membuat gadis itu tersudut.
"Awas lu kalo masih nindas cewek lain di kampus ini!" ancamnya seraya berlalu menuju asal suara jeritan tadi. Kali ini ia mendengar rintihan, isak tangis di salah satu lorong kampus yang jarang dilalui mahasiswa.
"Apa yang kalian lakuin? Kurang ajar! Kagak punya adab kalian semua, ya!" bentak Bima seraya mendekat. Ia merampas apa yang ada di tangan mereka dengan paksa. Dua orang teman Yola itu termundur dengan tubuh yang membeku.
Bima mendekati seorang gadis yang menangis tertunduk. Ia duduk di lantai dengan kondisi yang kacau. Hijab yang dikenakannya ditarik paksa dan wajahnya dibuat seperti badut oleh mereka.
"Bersihkan wajahmu dan ini ... ambillah!" Gadis itu menerima kerudung dari tangan Bima. Mengenakannya sebelum ia mendongak menatap penolongnya.
__ADS_1
Lama ia terdiam, menelisik wajah tampan di hadapannya. Bibirnya yang tipis tersenyum, menampakkan dua buah lesung pipi kecil di kedua sisinya. Ia tersentak, matanya berbinar senang.
"Kakak! Akhirnya aku menemukan Kakak!" Gadis itu memeluk Bima tanpa segan. Dua orang teman Yola saling pandang, mereka meneguk ludah basi karena cemas. Sepertinya, kali ini mereka salah membuli orang.
Bima sendiri pun tak mengerti, kenapa gadis itu memeluknya tiba-tiba. Ia tak mengenali wajahnya karena dipenuhi coretan make-up.
"Sudah, jangan menangis. Bersihkan dulu mukamu terus pakai kerudungnya." Bima mengusap punggungnya. Ia membantunya beranjak, dan menunggu di luar toilet.
"Sial!" Bima mengumpat ketika tak mendapati dua orang yang telah membuli gadis tadi. Ia tak beranjak dari tempatnya, menunggu gadis itu selesai dan akan mengantarnya ke kelas.
"Selesai?" tanya Bima disaat gadis itu keluar sambil menunduk membenarkan kerudungnya, "kau sepertinya anak baru di sini? Pindahan?" lanjut Bima bertanya sembari memperhatikan wajah menunduk itu.
Perlahan kepala gadis itu mendongak, matanya yang merah menatap Bima penuh kerinduan. Bima mengernyit, dadanya berdebar-debar ketika pandang mereka beradu.
Ngapa gua kaya kenal ni cewek? Muka dia, mirip ama gua. Siapa, ya?
Bima bertanya-tanya sendiri, ia mengorek ingatannya dalam-dalam mencari kenangan bersama gadis di hadapannya. Merasa hatinya begitu dekat dengan sosok itu, Bima tak menyerah.
"Siapa kau?" Pada akhirnya lebih memilih bertanya daripada menebak-nebak.
"Kakak! Apa Kakak melupakan aku? Kakak tidak ingat padaku? Kenapa Kakak pergi begitu saja meninggalkan aku? Tanpa berpamitan, tanpa mengirimkan pesan. Kakak tahu, aku terus mencari Kakak sampai ke rumah, tapi Kakak sudah tidak ada. Kenapa Kakak meninggalkan aku?" cerocos gadis itu dengan derai air mata yang menganak sungai.
Bima tergagap, lisannya kelu tak dapat menjawab. "A-aku ...." Ia masih mencari sebuah kenangan tentang gadis yang memiliki rupa yang sama dengannya. Matanya membeliak, sebuah ingatan mencuat ke permukaan.
"Kakak, apa kita bisa bertemu lagi?" Bibirnya berkedut menyebutkan satu nama.
__ADS_1