
Semilir angin di pantai, mengingatkannya pada seseorang. Ah ... siapa dia? Tersenyum semanis madu, melambai lembut bagai bidadari. Wajah itu hilir-mudik dalam bayangnya. Lingkaran tangannya terasa nyata di lengan pemuda yang tengah menikmati waktu sendirinya itu. Alunan nada dan tata bahasa yang lembut, membuat Bima berpikir keras mengingat nama yang terlupakan dalam benak.
Siapa? Siapa? Kenapa gua kagak inget sama sekali?
Berkali-kali hatinya mengumpat, tapi meskipun begitu tetap saja nama itu tak kunjung muncul ke permukaan.
"Kakak! Apa kita bisa bertemu lagi?" Suara lucunya kembali mengiang di telinga Bima. Ia memejamkan mata kuat-kuat mengorek sedalam mungkin ruang ingatannya. Namun, tetap saja, nama itu enggan muncul.
Peluh sebesar biji jagung bermunculan di dahinya, napasnya tersengal-sengal, bayangan gadis itu masih di pelupuk mata. Bima beranjak, meninggalkan tempat di mana ia terkenang sesuatu, tapi tak dapat ia ingat sama sekali.
Tubuh tegap Bima berdiri di pembatas dermaga, bersandar memunggungi laut luas tak terbatas. Ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
Sebatang rokok terkadang bisa menghilangkan stress.
Ia bergumam, bibirnya tersenyum memandang teman karib di tangannya. Teman di kala suka dan duka, teman yang tak pernah berkhianat. Kemeja yang dikenakan Bima berkibar-kibar karena terpaan angin laut. Menampakkan bagian perutnya yang sempurna, menggiurkan mata-mata para gadis yang dengan sengaja melintasinya.
Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang bangir menambah kesan maskulin pada sosoknya yang dikagumi. Sayang, yang terlihat hanya bibirnya yang tak henti menyesap benda kecil di kedua jarinya itu.
Di kejauhan, Akmal dan kekasihnya tengah menghabiskan waktu bersama. Sepasang mata genit itu tak henti mencuri pandang pada sosok Bima. Ia terpikat akan pesona supir baru kekasihnya itu.
"Aku belikan minum dan camilan, kau mau?" Gadis itu mengangguk patuh. Satu kecupan dilayangkan Akmal pada dahinya.
"Aku ke sana, ya. Takut sendiri di sini." Ia menunjuk pada Bima. Penasaran juga hatinya ingin tahu siapa sosok itu? Ia seolah mengenalnya.
Akmal melempar pandangan pada Bima, tubuh yang sempurna itu membuat hatinya dihinggapi rasa iri. Ia memandangi perut sendiri, sedikit buncit berbeda dengan Bima. Melihat itu, ia ragu apakah baik mengizinkan sang kekasih mendatangi supirnya itu. Namun, membiarkannya di sini sendiri pun membuat hatinya was-was. Jadilah ia mengangguk sebelum pergi membeli apa yang mereka butuhkan.
Bima bergeming, ia tetap pada posisinya ketika kekasih sang majikan mendatangi tempatnya bersantai. Ia mencoba merebut kacamata Bima, tapi ditepis Bima dengan kuat. Meringis bibir merahnya yang mulai luntur itu.
"Sudah kuduga kau adalah Bima," desisnya sembari mengukir senyum licik.
__ADS_1
"Masih berani lu datangin gua setelah lu fitnah gua di depan Nyak ama Babeh? Masih punya muka lu?"
"Oh ... gua lupa. Muka lu, 'kan, datar kaya tembok. Tembok mana ada punya malu." Bima tertawa kecil, kepalanya ia geleng-gelengkan merasa heran dengan sikap dan sifat gadis di depannya itu.
"Sial kau, Bima! Akan kubongkar penyamaranmu di depan Akmal. Lihat saja!" ancam Yola. Bibirnya ikut mendukung dengan senyum licik yang menakutkan.
"Ck-ck-ck ... kagak salah lu ngancam gua? Kartu AS lu aja gua yang pegang. Apa jadinya kalo pacar lu yang buncit tau wanita yang dipujanya kagak lebih dari seorang ayam kampus aja?" Garis bibir yang ditariknya membuat kesal Yola.
Bima benar-benar licik. Aku tidak bisa bertindak gegabah.
Mengumpat dalam hati, sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pemuda yang asik dengan rokoknya itu.
"Gimana rasanya fitnah gua di depan Nyak ama Babeh? Mati kutu, 'kan, lu!" cibir Bima melirik sinis gadis yang mulutnya seketika terkunci rapat itu. Ia hanya mampu menggeram dalam hati, mengepalkan kedua tangan, dengan rahang yang ikut mengetat.
"Gua ingetin, ya. Berkali-kali lu bawa fitnah ke rumah gua, Nyak ama Babeh kagak bakalan percaya. Lu, kagak bakal bisa jatuhin gua. Ngarti lu?" kecam Bima tidak main-main.
Yola mendengus kesal, ia menghentak-hentakkan kakinya kesal sembari meninggalkan Bima. Kalah telak. Senyum di bibir Bima tersungging penuh kepuasan. Gadis itu bergelayut di lengan Akmal, merajuk, dan meminta kembali.
"Hei, kau apakan dia hingga meminta pulang tiba-tiba?" ucap Akmal bersungut-sungut. Bima melirik gadis di samping laki-laki itu, membuang puntung rokok dan menginjaknya sekali.
Ia berjalan menghampiri dengan kedua ujung kemeja yang berkibar. Bentuk kotak di perutnya membuat siapa saja teringin sekali menyentuh. Dengan dasi yang dibiarkan menjuntai, Bima tetap pada keangkuhannya.
"Oh, Tuan! Apa perlu aku ceritakan perihal obrolan tadi kepada Anda?" Yola mematung seketika, kedua mata membelalak tak menduga, semakin ia lebarkan tatkala bertabrakan dengan manik hitam milik Bima.
"A-"
"Ah ... tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya ingin pulang, tiba-tiba saja badanku tidak enak. Mungkin masuk angin," tukas Yola dengan cepat memangkas lisan Akmal yang baru saja akan berucap.
Wajah lelaki itu menoleh padanya, ia jatuhkan kepala di lengan kekasihnya berpura-pura tak enak badan. Bima membuka kacamata usai mengenakan kembali maskernya. Menunggu perintah lanjutan dari tuannya yang arogan.
__ADS_1
"Kau yakin? Tapi badanmu biasa saja." Akmal menyentuh dahi Yola tak ada rasa panas seperti kebanyakan orang sakit pada umumnya.
Uhuk-uhuk!
"Aku juga tidak tahu, tapi badanku rasanya pegal-pegal dan linu. Aku butuh istirahat, sayang," sahut Yola dengan nada manja yang dibuat-buat.
Akmal mendesah, ia melirik pergelangan tangan. Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Padahal, ia masih ingin bersama kekasihnya hingga malam datang nanti. Apalah daya?
"Ya sudah. Kita pulang," putus Akmal pada akhirnya. Bima melenggang mendahului, ia membukakan pintu mobil untuk tuannya sambil tersenyum yang terlihat dari kedua matanya yang menyipit.
Bima menutup pintu dan bergegas duduk di kursinya. Tanpa basa-basi ia langsung menancap gas melaju dengan kecepatan ala Bima. Ala pembalap liar. Bima bahkan tak sempat membenarkan bajunya kembali.
"Singgah dulu di rumahnya, Juan!" Suara perintah dari Akmal diangguki Bima tanpa mengucap sepatah kata pun. Secara tiba-tiba hatinya gelisah tak menentu.
Babeh!
Pikirannya dipenuhi Dewa yang sedang sakit di rumah. Tanpa berpikir dua orang itu akan ketakutan, Bima semakin dalam menginjak pedal gas mempercepat laju mobilnya.
"Hei, bisa kau berhati-hati? Ini bukan balapan kau tahu?" bentak Akmal gemetar. Tangannya menggenggam erat pegangan pada pintu takut Bima akan menabrakkan mobil tersebut pada apa saja.
"Maaf, Tuan, tapi perasaan saya tidak enak. Saya ingin langsung pulang takut Bapak saya kenapa-napa di rumah," sahut Bima tanpa memperlambat laju mobil.
Jangan ampe kenapa-napa, Beh. Bima mohon!
Ia bergumam dalam hati, semakin jauh semakin tak tenang hatinya. Ia memarkir dengan cepat mobil tersebut di halaman rumah Yola, beruntung Akmal tidak ikut turun. Belum sempat berpamitan, Bima segera menancap gas dan melaju cepat.
"Kurang ajar! Aku bahkan belum berpamitan padanya kau langsung pergi begitu saja?!" Akmal bersungut-sungut, dan Bima tak peduli.
"Maaf, Tuan, saya harus cepat," katanya. Perjalanan yang sebelumnya ditempuh dalam waktu satu jam, ia tempuh hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit saja. Mobil berdecit di halaman rumah besar itu menyentak orang-orang yang sedang duduk berkerumun di ruang tengah.
__ADS_1
"Baim! Dia di sini." Aulia bergumam lirih.