Bima

Bima
Part. 106


__ADS_3

"Kau suka?" bisik Briant di telinga Ayra. Gadis itu bahkan tak berkedip menatap langit senja yang gemerlap karena letusan kembang api rencana laki-laki di sampingnya.


Air menggenang di pelupuk mata, ia memberikan anggukan kecil tanpa memalingkan wajah dari keindahan langit senja itu. Kelopak bunga mawar berjatuhan entah dari mana datangnya. Ayra menadahkan tangan menyambut hujan kelopak mawar yang mengguyur kepalanya.


Belum habis rasa terkejutnya, Briant berjalan memutar seraya berjongkok di depannya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kotak berudu berwarna merah. Sebuah cincin bermata berlian nampak indah berkilauan saat terkena terpaan sinar lembayung.


Bum!


Letusan yang ke sekian kali menghentak jantung Ayra. Ia menutup mulut tak percaya, di langit sana kembang api yang berkilau menuliskan apa yang dinyatakan pria di hadapannya.


"Almahyra Putri Pratama, will you marry me?" Dengan senyum tersemat manis, laki-laki itu secara jantan melamarnya di bawah tatapan banyak pengunjung cafe bernuansa danau alami tersebut.


Seperti sedang berada di atas rollercoaster, jantung Ayra melompat-lompat tak terkendali. Instrumen melodi beralun lembut, menambah keromantisan momen tersebut.


Sorak-sorai dari pengunjung dan tim yang dibentuk Briant untuk membuat kejutan tersebut mengusik keterkejutan Ayra. Ia menatap sekeliling, air mata jatuh tak terkendali.


Di antara para pengunjung itu, semua anggota keluarganya hadir. Sasa dan Rendy bersama si kecil Lucy tersenyum penuh kebahagiaan. Ah, usia gadis itu hanya beberapa tahun di atas Bima. Razka, Aulia bersama kedua adiknya turut hadir dalam kebahagiaan yang dirasakan Ayra.


Di antara mereka juga, ada Emilia bersama keluarganya. Namun, Revan tak terlihat di antara mereka. Ke mana bocah itu? Termasuk Dewa dan Tina turut mengantar doa dengan hadirnya mereka.


Keluarga Atmaja pun tak mau ketinggalan momen haru tersebut. Semua yang ia cintai, ada di sana.


Ibu! Mereka semua menyayangiku. Kuharap kau bahagia di alam sana, Ibu. Aku mencintaimu meskipun tak pernah melihat wajahmu. Aku menyayangimu walau tak pernah merasakan hangatnya pelukmu. Jangan khawatir, Ibu. Mereka semua menjagaku dengan baik.


Ayra mengangguk berkali-kali saat pandang ia jatuhkan pada sosok Briant yang masih berjongkok di hadapannya dengan sebuah cincin yang indah.

__ADS_1


Ayra menjulurkan tangan kanannya, kedipan mata yang dilakukan Ayra memberi izin Briant untuk melakukannya saat pandang laki-laki itu dipenuhi keraguan. Disematkannya cincin tersebut pada jari manis sang pujaan hati, disambut tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang hadir.


Nasya dan Bima berlarian ke arah keduanya, gadis berkerudung merah muda itu memeluk sang Kakak dan mencium pipinya. Mereka terlihat akrab meskipun terlahir dari rahim yang berbeda.


"Selamat, Kak! Sebentar lagi aku akan punya Kakak laki-laki," seru Bima tanpa segan memeluk tubuh Briant. Sementara yang dipeluk, terkesima dengan aksinya.


"Eh, Juan?" Suara lirih Briant menghentikan tawa mereka. Bima yang mendengar panggilan lain untuknya segera melepas pelukan, ia menggaruk kepala yang tak gatal saat melihat raut bingung di wajah calon kakak iparnya.


"Kau? Kenapa ada di antara kami? Apa kau datang bersama Tuan Muda?" tanya Briant yang masih belum tahu tentang siapa Bima sebenarnya.


Ayra mengulum senyum bersama adiknya, Nasya. Keluarga Rendy dan Atmaja memang belum tahu perihal Ibrahim yang sebenarnya. Mereka hanya tahu Ibrahim palsu yang dibawa Briant dan Ayra ke aula pertemuan di kantor beberapa waktu lalu.


Razka dan Aulia hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Bima pun enggan menjelaskan, ia lebih memilih mendatangi tempat Dewa dan Tina berada yang berdampingan dengan orang tua kandungnya. Khawatir mereka merasa tak dianggap di perkumpulan tersebut.


Ayra mendekat, pandangan pemuda yang baru saja melamarnya itu masih terpaku pada sosok Bima yang bergelayut manja di bahu Tina juga Aulia. Ia mengedipkan mata nakal membuat kedua biji manik Briant melebar. Terkekeh bocah usil itu. Bahunya terangkat, ia memposisikan diri di antara kedua wanita itu.


Briant memicingkan mata, menelisik wajah Bima yang serupa dengan Razka dan Aulia.


"Sejak kau datang ke perusahaan aku memang sudah curiga. Aku juga sudah tahu siapa sebenarnya dirimu. Namamu bukanlah Juan, tapi Bima. Aku tidak menyangka jika kau adalah Ibrahim yang kami cari selama dua puluh tahun ini. Selamat datang di keluarga Anda, Tuan Muda!" ucap Briant sembari tersenyum dan bersikap sopan.


Kedua tangannya terbentang memberikan pelukan pada pemuda itu.


"Terima kasih, Kak." Bima menyambutnya dengan hangat. Satu per satu dari keluarga yang baru mengetahui perihal Bima, mendekatinya memberikan ucapan selamat serta menyambutnya dengan hangat.


Ada sepasang mata yang berbinar di antara mereka. Pipi putih itu merona dengan sendirinya. Ia mengulum senyum tak lepas pandang dari sosok Bima, bintang baru dalam keluarga mereka.

__ADS_1


Dia tampan sekali! Lebih tampan dari Kak Farel.


Hatinya bergumam, mata melirik kedua pemuda dan membandingkan mereka. Tetap saja, Bima unggul.


Adzan Maghrib berkumandang, mereka menjeda kegiatan untuk menunaikan kewajiban. Di sebuah mushola yang disiapkan pengelola, semua orang berkumpul. Menunggu imam untuk mendirikan sholat.


"Majulah! Ayah ingin kau menjadi imam sholat kami, Nak," ucap Razka sambil mendorong punggung Bima untuk menempati sajadah imam yang masih kosong.


"Tapi, Ayah. Aku tidak bisa. Biarkan yang lain saja melakukannya. Kak Briant, Akmal, atau mereka yang belum aku ingat satu per satu namanya," tolak Bima dengan lembut.


Razka teringin menyaksikan sendiri anaknya menjadi imam sholat. Tak hanya dari obrolan para tetangga Bima disaat ia mencaritahu soal dirinya.


"Ayah yakin, kau mampu melakukannya. Ayo!" katanya dengan pasti.


Lagi-lagi bocah bau kencur disuruh imam.


Ia melilau pada semua orang, mereka telah berbaris rapi di tempat masing-masing. Hembusan napas ia lakukan sebelum mengajak kakinya menginjak sajadah milik imam.


Untuk kedua kalinya, Dewa menyaksikan kehebatan anak yang diasuhnya. Patutlah ia berbangga hati karena kehebatan Bima tak lepas dari didikannya bersama sang istri, Tina. Suara merdu lantunan murottal mengalun syahdu, menembus relung hati mereka.


Inilah anak yang hilang dua puluh tahun silam. Ia menjelma jadi pemuda gagah berani dengan berjuta bakat dalam dirinya. Menciut nyali Akmal, ingin bersaing dengan Bima soal kursi CEO? Membayangkannya saja dia sudah malu. Sudah pasti Bima lebih mampu jika saja dia ingin, tapi pemuda itu tak berminat sama sekali menduduki kursi tersebut.


"Kau ...." Razka tak mampu berkata-kata dikala Bima beringsut mendekati dan meraih tangannya. Ditariknya tubuh sang anak dalam pelukan, menangis haru karena ia masih diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan sosok hebat itu.


"Terima kasih, Pak Dewa. Berkat bimbingan Bapak anak saya bisa seperti sekarang ini," ucap Razka sambil mengusap sudut mata usai melepas pelukan.

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Anak kita memang berbakat sejak lahir. Saya hanya memerintah saja, tidak membimbingnya. Guru yang membuat anak kita seperti sekarang ini," sahut Dewa menolak apa yang diucapkan Razka.


"Kalian semua orang tua hebat untuk Bima alias Ibrahim ini!" Tegas dan lantang Bima mengucapkannya.


__ADS_2