Bima

Bima
Part. 67


__ADS_3

"Juan! Ini istriku dan yang di sampingmu adalah putraku yang hilang. Angkat kepalamu dan sapa dia!"


Pemuda itu mengangkat kepala, berdiri tegak dan menunduk di hadapan keduanya sebagai tanda penghormatan. Jantung Aulia semakin berdebar. Matanya memanas saat ia melihat dengan jelas wajah pemuda itu. Setetes air jatuh seiring dirinya yang bergerak dari duduk.


"Hallo, Nyonya. Saya Juan. Tim kemananan Pratama Grup sekaligus supir pribadi Tuan Muda Akmal," katanya penuh wibawa. Ia kembali menegakkan kepala, wibawa dan keangkuhan yang dimilikinya nampak jelas terlihat saat ia berdiri tanpa senyum tersemat.


Seperti itulah yang diajarkan Dewa saat ia memperkenalkan diri sebagai pengawal Pratama Grup. Razka tersenyum, gambaran Bima dan pemuda yang duduk tegang di sampingnya benar-benar jauh berbeda.


Jika ia tak memiliki tata krama, maka Bima berada jauh di atasnya. Ia tahu bagaimana harus bersikap saat berhadapan dengan seseorang. Bisa membedakan kapan ia harus bersikap layaknya seorang pengawal, dan kapan ia bersikap biasa saja. Hal itu sudah dirasakan Razka saat bertamu ke rumah mereka malam itu.


Tanpa sadar tubuh Aulia bergerak hendak mendekati. Namun, Razka cepat mencekal lengannya, membuat kepala wanita yang wajahnya sudah dibasahi air mata itu menoleh ke arahnya.


"Duduklah! Makanan sedang menuju kemari!" katanya memejamkan mata pada Aulia, memintanya untuk menahan diri. Wanita itu kembali memutar kepala, menatap Bima yang masih berdiri kaku di tempatnya.


"Ibrahim!" Bibirnya bergumam, menyentak alam kesadaran pemuda yang duduk terpaku di samping Bima. Ia membeliak kaget.


"Nama saya Juan, Nyonya. Panggil saya Juan!" ucap Bima mengangguk sedikit, melarat panggilan Aulia untuknya.


"I-ibu ...?" Suara pemuda yang mengaku Ibrahim terdengar lirih. Mengapa jadi begini? Siapa laki-laki ini? Ia mengumpat dalam hati, suasana sudah berubah. Apa yang harus dia lakukan untuk dapat menyingkirkan Bima segera.


Aulia berpaling wajah padanya, ia menunduk setelah memandang wajah menyedihkan orang yang mengaku-ngaku sebagai putranya itu.


"Duduk, Juan! Makanan akan segera dihidangkan. Jangan sungkan, kita sudah pernah makan bersama, bukan?" titah Razka sambil tersenyum penuh kemenangan. Reaksi itu yang ia inginkan dari Aulia. Tanpa komando hatinya bergerak ingin mendekap pemuda di hadapannya.

__ADS_1


Ucapan Razka sontak membuat Aulia menoleh padanya, dahi tuanya berkerut tak suka. Selama ini dia menyembunyikan Juan darinya. Namun, ia menahan diri untuk tidak membahasnya saat ini, setidaknya sampai mereka kembali nanti.


"Terima kasih, Tuan!" Bima menunduk sebelum mendaratkan bokong di kursinya kembali. Pemuda di sampingnya menganga lebar, ia tak percaya sekaligus tak suka dengan kehadiran Bima. Sosoknya membuat ia tersisih dari pandangan Aulia.


Gawat! Kalau sampai wanita itu tak percaya lagi padaku. Lagipula kenapa laki-laki tua itu membawanya ke sini? Membuat rencanaku gagal. Tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan. Rencanaku tidak boleh gagal.


"Tuan! Kenapa makanannya sebanyak ini? Memangnya masih ada yang ditunggu?" tanya Bima saat melihat hidangan melimpah di atas meja. Sengaja Razka meminta pada pihak restoran untuk menghidangkan semua menu yang ada.


Busyet, dah, ni orang kaya! Kagak sayang apa duitnya cuma buat dibeliin makanan? Kalo ditabung, 'kan, lebih manfaat buat entar. Makanan segini banyaknya, siapa yang mau ngabisin?


Bima meneguk liurnya sendiri, bukan karena tergiur ingin memakannya, tapi karena ia membayangkan sisa-sisa makanan itu pastilah akan sangat banyak dan tentunya mubazir. Berbeda dengan pemuda di sebelahnya, tanpa segan lagi ia langsung menarik salah satu piring berisi nasi sesuai takaran restoran.


Bima menunduk, ia belum berani menyentuh makanan itu disaat semua orang sudah berhadapan dengan nasi mereka masing-masing. Aulia tak henti melirik Bima, hatinya merasa dekat dengan pemuda itu. Lantas ia melirik anak yang mengaku Ibrahim, tak ada getar apapun yang dirasakan hatinya. Ini aneh.


"I-iya, Tuan," katanya tergagap. Ia menarik nasi bagiannya, menatap bingung ikan apa yang akan diambilnya. Sementara Ibrahim sudah menyusun makanan yang dia inginkan di atas piringnya. Hampir semua jenis ikan ada di sana. Menggeleng orang yang melihatnya.


"Kau mau ini?" Aulia mengambilkan sepotong ayam bakar madu dan meletakkannya di atas piring milik Bima. Dilanjutkan dengan ikan yang lain dan teman makan lainnya juga.


"Cukup, Nyonya. Terima kasih, ini berlebihan. Saya takut tidak sanggup menghabiskannya," sergah Bima merentangkan kesepuluh jarinya mencegah Aulia meletakkan yang lainnya.


Aulia menarik tangannya lagi, meletakan ikan yang diambilnya tadi untuk Bima ke atas piringnya sendiri. Ia menunduk, terharu sendiri. Tanpa sadar terisak kecil, membuat Bima merasa bersalah.


Tatapan dingin yang dihantarkan Ibrahim ke samping tubuhnya, tak ia hiraukan. Pemuda itu makan dengan mata yang memerah nyala. Hatinya panas melihat Aulia lebih memerhatikan Bima.

__ADS_1


"Nyo-nyonya ...." Bima bingung sendiri. Ia kira Aulia menangis karena dia menolak makanan yang diberikan. "Baiklah. Saya akan memakannya. Anda tidak perlu menangis lagi, Nyonya. Saya akan menghabiskan ini," ucapnya seraya mengambil makanan tadi dari atas piring Aulia.


Ia tersenyum, dan mulai menyantap makanan itu. Razka mengusap punggung istrinya, ia tahu wanita itu menangis bukan karena Bima menolak makanan itu, tapi karena rasa di hatinya. Rasa rindu yang terobati sama seperti dirinya saat melihat Bima memakan sate yang ia bawa malam itu.


"Cih ... cari muka! Dasar penjilat!" gumam Ibrahim yang tertangkap indera rungu Bima, tapi tidak oleh kedua orang tua itu.


"Maaf, Tuan Muda. Apa yang Anda katakan tadi? Siapa penjilat itu? Biar saya bereskan!" seru Bima menatap sangar Ibrahim tanpa segan.


Ia tahu umpatan yang dilakukan pemuda itu adalah untuknya. Ibrahim mendengus, ia melanjutkan makannya tanpa berniat menanggapi Bima. Razka mengernyitkan dahi tak suka ke arah Ibrahim, lalu melirik Bima yang berwajah datar.


"Sudah, Juan. Makanlah dengan tenang jangan hiraukan hal yang membuatmu terganggu," sergah Razka tentu saja menyinggung kehadiran Ibrahim palsu itu. Ia melotot tak percaya, matanya berputar melirik Aulia. Namun, wanita itu justru tengah memperhatikan Bima makan.


"Baik, Tuan!" katanya. Entah mengapa, ada bagian kecil dari hati Aulia yang merasa tercubit dikala Bima memanggil mereka Tuan dan Nyonya. Ia berharap pemuda itu memanggil mereka Ayah dan Ibu. Itu hanya anganku saja.


Bima makan dengan perlahan, sudah hafal betul bagaimana cara orang-orang kelas atas makan. Ia sering memperhatikan Akmal meskipun tak pernah duduk di meja yang sama karena majikannya yang itu benar-benar angkuh dan memandang rendah semua pekerja di perusahaan.


Dia berbeda sekali. Lebih sopan dan tahu tata krama, terlihat berpendidikan dan menjunjung tinggi adab. Berbeda dengan Ibrahim. Siapa sebenarnya dia? Kenapa hatiku merasa dekat dengannya? Apa yang diinginkan Kakak dengan mengundangnya makan bersama siang ini?


Aulia bergumam sambil menyuapkan makanan, matanya tak lepas dari sosok Bima yang memakan makanannya dengan elegan. Ia pantas disebut berkelas.


Siapa kau, Juan? Mengapa hadirmu mengobati rindu di hatiku?


Sialan! Awas saja kau. Aku akan membuat perhitungan denganmu.

__ADS_1


Tangan Ibrahim menggenggam erat sendoknya sendiri, menggeram dalam hati, tapi mulut tetap dipenuhi makanan. Ck-ck-ck ....


__ADS_2