
Beberapa hari berlalu, Lucky diterima dengan baik di rumah itu. Hanya saja, Nasya masih ketus terhadapnya. Ingatan tentang kalung Bima yang dicuri untuk menipu Aulia, membuat Nasya tak bisa menerimanya begitu saja.
Namun, dengan sabar pemuda itu tak pernah melawan. Ia hanya diam dan tak membalas apa yang dilakukan Nasya terhadapnya. Apapun. Pada hakikatnya, Nasya sendiri pun yang tega berlaku demikian. Gengsi dalam diri masih besar.
Hari-hari yang dilalui Bima kini penuh warna, tugasnya bertambah menjemput Khaira dan dan Nasya di pagi hari. Semakin hari, Nasya dan Khaira yang sering bersama pun semakin dekat dan akrab. Gadis itu bahkan tak segan bercerita apapun pada calon kakak iparnya itu.
Beberapa hari itu pula, Yola tak terlihat batang hidungnya. Kedua temannya pun tak lagi mengganggu mahasiswa yang lain.
"Kudengar sejak kejadian di cafe beberapa hari lalu, Ayah Yola dikabarkan dipecat dari perusahaan Pratama. Semua asetnya disita karena ketahuan menggelapkan uang perusahaan." Desas-desus tentang gadis itu mulai tersebar ke telinga semua siswa.
Bima yang sempat mendengar, tak acuh dan terus melangkah menuju kelasnya sendiri. Sementara Nasya, ia jengah mendengar hampir semua orang membicarakan soal primadona kampus itu.
"Nasya, kau sudah dengar soal Yola? Apa kabar itu benar?" cecar teman Nasya yang bersamanya hari itu.
Nasya menaruh tas di atas meja, duduk tenang dan menatap malas ketiga teman yang berdiri di depannya itu. Ia seperti terdakwa yang sedang menghadapi sidang.
"Mungkin karena aku belum mendengar kabar itu dari pihak perusahaan, tapi perlu kalian ingat, Kakakku tak pernah main-main dengan ucapannya," sahut Nasya menegaskan bagaimana Bima dalam bersikap.
Sontak mereka semua menarik kursi secara bersamaan hingga menimbulkan bunyi gerasak-gerusuk sebelum hening.
"Jadi, benar ... kalian adalah keturunan Pratama Grup? Kenapa setelah beberapa lama berteman kami baru mengetahuinya. Apa kalian sengaja menyembunyikan identitas kalian?" tukas salah satu temannya dengan tatapan curiga.
Nasya melempar tatapan sebelum menghela napas panjang.
__ADS_1
"Yang sebenarnya begitu. Aku hanya ingin belajar dengan tenang, aku ingin berteman dengan siapa saja tanpa harus memandang siapa orang tuaku. Kalian ... jangan sebarkan informasi tentangku dan kak Bima. Bisa-bisa tulangku temuk diremasnya," pinta Nasya sembari memeragakan Bima mencengkeram sesuatu.
Ketiga teman Nasya manggut-manggut mengerti. Pembahasan pun terus berlanjut sampai seorang dosen muda memasuki ruangan kelas dan membungkam mulut semua siswa di dalamnya.
"Apa dia dosen baru? Kenapa aku baru melihatnya?" bisik Nasya pada teman yang duduk di sampingnya.
Siswi itu menepuk dahinya sendiri. Merasa heran dengan sikap Nasya yang hampir setiap Minggu bertemu dengan dosen itu di kelas dan tak menyadarinya?
"Astaga, Nasy! Di dalam satu Minggu dua kali kita akan bertemu dan belajar dengan dosen itu. Lalu, sekarang kau mengatakan baru melihatnya? Jadi, selama ini apa yang kau lihat, Nasya?!" pekiknya tertahan karena tidak mungkin ia menaikkan suaranya beberapa oktaf meskipun geram.
Senyum gadis berhijab itu mengembang lebar seolah-olah tak bersalah. Kepalanya menggeleng polos, ia bersumpah tak pernah memperhatikan setiap guru yang masuk ke dalam kelasnya.
Ia yang jengah memutar bola mata malas sambil membuang wajah dari Nasya. Kembali fokus pada sosok muda, tampan dan berkarisma di depan kelas itu.
Sepanjang pelajaran Nasya tak henti memuji ketangkasan sang dosen dalam mengajar. Tak hanya masih muda, ia juga sangat pandai menguasai kelas.
"Kakak, aku ke toilet dulu! Tidak tahan," pamit Nasya bergerak gelisah menahan hajat yang merangsek keluar.
"Jangan lama-lama, gua tunggu di sini," ingat Bima seraya duduk di sebuah bangku tunggu di lorong tersebut. Ia mengeluarkan gawai memeriksa pesan masuk dari sang kekasih, tak ada. Tentu saja, dia sedang bekerja.
"Bima!" Sebuah suara memanggil namanya dengan lirih dan bergetar. Bima yang asik memainkan gawai, mendongak menyambut panggilannya. Ia tersenyum miring, tak mengacuhkan kehadirannya.
Wanita itu berdiri dengan tubuh yang gemetar, mata sembab dan berair, bibir pucat yang terus berkedut.
__ADS_1
"Apa kau memerlukan sesuatu hingga mendatangiku seperti ini?" sarkas Bima yang menohok harga dirinya.
Wanita yang tak lain adalah Yola itu, meneguk ludah basi dengan susah payah. Air matanya menetes jatuh, hancur membentur lantai saat mendarat di atasnya. Tubuhnya jatuh berdebam, Bima masih tak peduli meskipun wanita itu telah berlutut di sampingnya duduk.
"Bima! Tolong maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf karena telah mengusik keluargamu. Maafkan aku, Bima," mohonnya sambil menangis sesenggukan.
Ia merunduk dalam, air terus berjatuhan menghujam lantai keramik putih lorong kampus tersebut. Bima tak acuh, rasanya ia menjadi tuli atau berpura-pura tak mendengar.
"Bima! Tolong, cabut tuntutan untuk Ayahku. Ibuku sakit karena mendengar kabar Ayahku ditangkap polisi lantaran korupsi. Aku tidak mempunyai uang untuk membawanya ke rumah sakit, Bima. Kasihani kami, Bima. Tolong aku!" mohon-nya lagi.
Mendengar itu, hakekatnya palung hati Bima tak tega. Namun, mau bagaimana lagi, Yola dan Ayahnya harus diberi pelajaran agar tak berbuat seenaknya di manapun mereka berada.
Bima jengah mendengar Yola terus memohon, ia menoleh dan mendelik tajam ketika pandang mereka bertemu.
"Semua itu terjadi bukan karena gua, tapi karena kesombongan kalian sendiri. Sikap kalian yang angkuh dan sewenang-wenang terhadap orang lain, membuat kalian harus menuai apa yang sudah kalian tanam lagipula-"
"Gua kagak ada wewenang buat ngebebasin Ayah lu dari hukuman apalagi ngeluarin dia dari dalam sel. Jadi, nikmatin aja, disyukuri, kalian masih bisa idup," papar Bima yang kian menusuk rongga dada.
Berharap Bima akan dapat membantunya, ternyata dendam yang ada di hati pemuda itu, masihpun membara dan sulit dipadamkan. Membayangkan Nasya yang dicekik dan hampir kehabisan napas kemarin, Bima menggeram kesal dalam hati.
"Sekarang lu pergi sebelum lu gua beri. Nikmatin aja apa yang terjadi ama lu, ambil hikmah untuk memperbaiki diri ke depannya. Pergi!" Bima mengibaskan tangan mengusir Yola yang masih menangis menjadi-jadi.
Wanita itu mengangkat wajah, menatap rupa Bima yang tak pernah tersenyum kepadanya itu. Ia sadar, semua yang terjadi disebabkan keangkuhannya sendiri.
__ADS_1
Yola beranjak, tangannya tak henti mengusap mata yang terus berair. Berbalik dan pergi begitu saja dari hadapan Bima. Ia berlari dan terus berlari keluar kampus dengan kepala yang tertunduk. Bima sebenarnya tidak tega, tapi orang-orang seperti Yola harus mendapatkan hukuman agar menjadi jera.
Ia masih duduk di lorong yang tak jauh dari toilet, sampai ....