
"Fandi!" Ayra berbinar dapat bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya. Puluhan tahun berlalu, mereka terpisah jarak dan waktu. Pada akhirnya, bertemu kembali dalam takdir yang berbeda.
"Ugh!" Ayra terhentak dalam kurungan tangan kekar suaminya. Pancaran api cemburu menjilat-jilat dari kedua manik Briant yang kebiruan.
Sementara pemuda berkacamata itu, menyunggingkan senyum tipis. Dulu, ia cemburu melihat Ayra begitu dekat dengan laki-laki yang saat ini telah resmi menyandang gelar suami untuknya itu. Kini, ia merasa biasa saja karena telah dapat menerima semua takdir dalam alur hidupnya.
Razka dan Aulia memaklumi sikap Briant karena bagaimanapun sudah ada persaingan antara mereka sejak kecil dulu. Rendy menepuk dahinya sendiri, merasa konyol dengan sikap Briant yang kekanakan. Namun, wanita di sampingnya justru terkekeh geli.
"Apa yang mau kau lakukan padanya?" Ayra meneguk ludah saat nada bicara Briant terkesan dingin menusuk.
"A-aku hanya ingin menyapanya, itu saja. Kau tak perlu cemburu, Kak. Aku sudah menjadi milikmu sekarang, tak akan aku berpaling hati darimu," rayu Ayra sembari memainkan jemarinya di dada bidang sang suami.
Ia mengedipkan mata lantas mendekatkan bibir ke dekat telinga Briant. Membisikkan sesuatu yang sontak saja menerbitkan senyum di bibir laki-laki berdarah campuran itu. Moment itu diabadikan Bima dan keluarga yang lain. Anak-anak nakal!
Briant melepas pelukannya, berjalan bersama mendekat ke arah Fandi dan neneknya. Ia bahkan tak segan menyalami rivalnya juga memberi pelukan akrab. Saling bertanya kabar seolah-olah mereka adalah teman lama. Namun, Briant tak membiarkan tangan Ayra terlepas dari jepitannya.
"Kau datang hanya berdua saja?" tanya Ayra menyelidik. Tak akan mungkin laki-laki tampan sepertinya masih sendiri, bukan? Setidaknya, ia telah memiliki calon istri.
"Tadinya memang hanya berdua dengan Nenek, tapi aku bertemu seseorang dan mengajaknya ke ...?" Kalimatnya menggantung tatkala ia menoleh ke samping tubuh di mana Nasya berada. Anak itu tak ada di sana, hilang entah ke mana.
"Kau mencari siapa?" Briant mengernyit.
"Dia di sana, Nak!" tunjuk Nenek yang begitu awas jika menyangkut soal Nasya.
Di sana, di tengah kerumunan para tamu, gadis itu sedang mengendap hendak pergi. Fandi tersenyum geli, ada apa dengannya? Apakah dia malu? Tanpa melihat ekspresi dari keluarga Pratama.
"Nasya!" panggil Fandi sambil melambai. Langkah gadis yang seperti pencuri itu terhenti, ia meringis karena ketahuan. Berbalik dan ....
"Nasya?" pekik semua orang saat melihatnya tersenyum malu.
__ADS_1
Razka, Aulia, Ayra, Briant, Sasa dan Rendy, mereka melebarkan mata tak percaya. Fandi kini yang seperti orang linglung. Ada apa?
"Jangan bilang kalau gadis tengil itu yang bersamamu?" pekik Ayra menuding pada Nasya.
"Memangnya kenapa? Memang dia calon istriku," sahut Fandi penuh percaya diri.
"Kau yakin, gadis nakal itu calon istrimu?" Kali ini Aulia yang bersuara. Antara senang dan terkejut mendapati putrinya memiliki calon yang luar biasa seperti Fandi.
"Benar, Nyonya. Dia calon istriku, hanya saja aku belum melamarnya secara resmi, tapi aku sudah bertemu Kakak laki-lakinya dan mendapatkan izin darinya," jawab Fandi lagi semakin bingung karenanya.
Kali ini, mata mereka beralih pada Bima yang tersenyum geli melihat ke arah mereka. Pemuda itu melengos menghindari tatapan semua orang. Terutama Razka dan Aulia.
"Kau tahu siapa dia?" tuding Ayra lagi semakin gemas dengan tingkah sang adik dan sahabatnya itu.
Fandi menghendikan bahu. "Aku tak peduli siapapun dia. Aku mencintainya dan tak akan memandang bagaimana dirinya. Di mataku, dia gadis yang baik dan sopan. Juga penyayang," tegas Fandi yang menabur bunga di hati Nasya.
Oh ... Ibu, oh ... Ayah! Aku ingin menikah dengannya. Nasya tersipu mendengar kalimat Fandi. Ia tak menyangka dosen itu benar-benar berani mengungkapkan isi hatinya. Dia laki-laki sejati.
"Kau mau tahu siapa dia?" Ayra mendekatkan wajah padanya, sedang Fandi berjengit terkejut dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Dia adikku!" pekik Ayra dengan gemas.
Fandi membelalak, sedikit bibirnya membelah, tapi dia tetap keren.
"Jangan bercanda." Ia mengibaskan tangan dengan senyum tipis tersungging. Jedak jeduk jantungnya berdentam. Gelisah mengundang keringat bercucuran di wajah. Pucat terlihat saat ia melirik Nasya, gadis itu mengangguk lemah.
"Dia adikku," lirih Ayra. Tubuhnya terasa lemas, ia ambruk di kursi pengantin dibantu Briant.
"Ma-maksud kalian, Nasya anak Nyonya dan Tuan Besar?" Terbata Fandi mengucap.
__ADS_1
"Benar, Nak. Dia gadis nakal kami, tapi kami akan tenang jika kau yang kelak menjadi suaminya," sambar Razka sambil mendekat.
Fandi masih tak percaya, sedangkan Nenek tersenyum penuh arti.
"Apa itu artinya, kita akan berbesan, Tuan Besar?" tanyanya penuh pengharapan.
"Benar sekali, Nek. Aku menerima lamaran Fandi untuk Nasya."
"Alhamdulillah!"
Ucapan syukur menggema dari semua orang. Nasya tersipu, ia menundukkan wajah menghindari tatapan semua orang. Ayra pun turut berbahagia kedua adiknya telah menemukan jodoh. Tinggal menunggu waktu saja untuk mereka dapat bersatu.
Razka membawa mereka menuruni panggung, memberikan ruang pada tamu yang lain untuk menyapa sepasang pengantin. Mereka duduk bersama Aulia juga Nasya tentunya.
"Apa pekerjaanmu sekarang, Nak?" tanya Razka. Ada rasa bangga di hati, anak yang dipungutnya dari perkampungan kumuh tumbuh membawa kesuksesan berkat kerja kerasnya.
"Saya dosen, Tuan. Saya mengajar di universitas tempat Nasya dan Bima belajar." Hampir tersedak Razka dibuatnya.
"Jadi, kalian bertemu sebagai siswa dan guru? Lalu, menjalin hubungan?" pekiknya dengan mata terbelalak lebar.
"Yah, mungkin bisa dibilang seperti itu."
Nasya menggigit bibir, wajahnya terlihat lugu dan polos, tapi dia berhasil menggaet seorang dosen muda berbakat tanpa membawa nama besar Pratama. Patut dibanggakan.
Sementara di sisi lain kota itu, ada yang tak senang dengan kebahagiaan mereka. Ada yang membara melihat senyum keluarga itu.
"Jadi kau gagal melakukannya? Apa saja yang kau lakukan selama ini? Sekali saja, buat dirimu berguna untuk kami!" hardik seorang wanita paruh baya dengan emosi yang meluap-luap tak terkendali.
Di hadapannya seorang pemuda tertunduk dalam dan hanya diam mendengar cacian yang meledak-ledak dari wanita itu.
__ADS_1
"Kau lihat sekarang! Mereka sedang berpesta pora di sana. Tertawa bahagia, menertawakan aku. Tentu saja. Aku memerintahkanmu untuk membunuh mereka, tapi sampai sekarang kau belum juga melakukan tugas yang aku berikan. Apa saja yang kau kerjakan selama ini? Apa kau melupakan tugasmu?"
Masih dengan suara tinggi yang membuat telinga pemuda itu berdenging kuat. Ia bahkan meringis, kedua tangannya terkepal erat menahan emosi yang sesaat lagi meluap. Ia muak dengan semua ini!