Bima

Bima
Part. 52


__ADS_3

Hari itu takdir besar menanti Bima, siapa yang tahu?


Lumayan bisa istirahat seperempat malam.


Bima merentangkan kedua tangan lebar-lebar mengendurkan otot-otot yang kaku karena tertidur meringkuk di atas kursi. Ia diberi fasilitas nyaman di rumah sakit tersebut karena memandang seragam yang dikenakan Bima kemarin.


Bibir merah alaminya tersenyum merekah kala melirik pada ranjang Dewa. Nyak, Babehnya masih terlelap di ranjang tersebut, saling berpelukan dan menguatkan. Biarlah, sebelum takdir pemisah datang memporak-porandakan hati keduanya.


Bima beranjak, membersihkan diri di kamar mandi. Berganti pakaian sebelum menunaikan kewajiban dua raka'at menghadap Tuhannya. Beruntung, kemarin ia sempat pulang mengambil pakaian ganti. Ia berdiri di atas sajadah polosnya, mengangkat tangan tinggi-tinggi mendatangi Tuhannya.


Di kesendirian subuh itu, Bima begitu khusyuk melangitkan setiap doa. Memintal harapan. Berharap kebahagiaan, kesehatan, kebersamaan, akan selalu terasa nikmat untuk hidupnya. Ia tidak tahu apakah siap ditinggalkan keduanya?


Bima mendatangi ranjang itu, memandang dua lansia yang masih terlelap. "Bima cari sarapan dulu, Nyak, Babeh. Udah mau siang ini," pamitnya tanpa berniat membangunkan mereka.


Masih mengenakan koko dan sarung lengkap dengan pecinya, ia persis ustadz muda yang digandrungi para muslimah. Berjalan seorang diri menyusuri selasar rumah sakit. Nampak sepi dan lengang, hanya ada beberapa perawat jaga dan orang-orang yang menunggui keluarganya masih terlelap di depan ruangan-ruangan.


"Ah ... seger bener paru-paru gua," gumamnya seraya terus membawa langkah keluar mencari sarapan. Ia berdiri di pinggir jalan memperhatikan gerobak-gerobak yang mangkal tak jauh dari jangkauan mata.


"Pak Ustadz, cari sarapan?" sapa suara lembut yang mengoyak hati Bima seketika. Ia kontan menoleh dan mendapati seorang gadis yang berdiri bersisian dengannya.


"Ara? Lu di sini? Ngapain?" tanya Bima terkejut. Sebelah hatinya berbunga melihat gadis itu, bibirnya mengulum senyum, maniknya memijar cahaya.


Gadis itu menunduk malu, ia membenarkan rambut yang berantakan tertiup angin ke belakang telinga.


"Aku menjual sarapan di sini. Apa Kakak sedang mencari sarapan? Oh, ya? Kenapa Kakak di rumah sakit? Siapa yang sakit?" ucap Khaira sedikit mengerutkan dahi sembari melongo ke dalam pagar rumah sakit.


"Ah ... Babeh gua, Ra. Iya, gua lagi cari sarapan. Lu jual bubur?" Ia mengangguk. Lantas menarik tangan Bima mendekati gerobak miliknya. Ia bersama sang Ibu berjualan bubur dan kupat tahu di sana.


"Eh, Nak, Bima! Mau sarapan?" sapa Ibu Khaira sambil tersenyum. Bima mengangguk.

__ADS_1


"Dibungkus saja, Bu? Satu bubur, dua kupat tahu, ya." Khaira mengangguk malu-malu, ia mengambil dua lembar kertas nasi dan menyiapkan semuanya sebelum disiram bumbu. Tak lupa satu bungkus bubur, ia satukan dengan kupat tahu tersebut.


"Tidak usah, Kak. Bawa saja." Khaira mengembalikan uang yang Bima sodorkan. Tertegun pemuda itu, matanya melirik sang Ibu yang mengangguk saja. Ia menghela napas, tanpa berkata apa-apa, meletakkan uang tersebut di dalam laci atap gerobak dan gegas menyebrang jalan.


Khaira bahkan tak sempat memanggilnya karena Bima begitu cepat menghilang. "Sudah, tidak apa-apa. Mungkin sudah rezeki kita," ucap ibunya sambil tersenyum. Bahu Khaira melorot jauh, niat ingin membalas kebaikan Bima, tapi pemuda yang terus-menerus mengalirkan kebaikan pada mereka.


Bima tersenyum sambil melirik bungkusan di tangan. Kehadiran Khaira menambah energi pada dirinya.


"Pagi-pagi serasa batre hp yang full baru dicargh. Semangat bet gua, dah." Ia bergumam di sepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan Dewa.


"Lho, Bang! Gua kesiangan! Mana tuh, bocah? Ngapa kagak bangunin gua?" Suara pekikan Tina terdengar hingga keluar ruangan.


"Awas, Nyak, jatoh! Jangan gerasak-gerusuk kaya begitu!" sentak Bima dengan mata membelalak ketika ia membuka pintu dan melihat Tina yang bergerak sembarangan.


"Eh ... dari mana lu? Ngapa kagak bangunin Nyak?" teriak Tina sembari menurunkan kedua kaki perlahan-lahan. Bima mengangkat kantong plastik di tangannya sambil terus berlalu mendekati Dewa.


"Gimana keadaan Babeh? Udah baikan?" Tersenyum bibir pucat itu menjawab pertanyaan anaknya.


"Babeh mau sholat, bisa kagak lu bantu Babeh wudu? Tapi Babeh kagak kuat bangun? Gimana cara Babeh wudu, ya?" celetuk Dewa dengan parau dan pelan.


Bima mengulas senyum, ia meletakkan bungkusan di atas meja samping ranjangnya sebelum berucap, "Babeh tenang aja. Islam itu mudah. Katanya pak ustadz, orang sakit yang ga memungkinkan wudu atau tayamum sendiri bisa digantiin. Biar Bima bantu Babeh tayamum. Sebelum itu, apa Babeh ada hajat kecil atau besar? Bima kudu mastiin dulu ranjang Babeh bersih apa kagak?"


Dewa terbengong, terdiam sejenak mendengar ucapan Bima.


"Kagak," katanya lagi dengan cepat setelah faham apa maksud dari ucapan anaknya. Bima mengangguk dan mulai mengambil debu menggunakan tangannya. Mengusapkannya pada wajah Dewa bergantian dengan tangan kanan dan kirinya.


"Babeh udah bisa solat. Baringan aja. Babeh bisa, pan, solat sambil baringan?" tanya Bima.


"Angguk-angguk aja, pan?" Bima mengangguk disaat Dewa bertanya. Ia menjauh dan membiarkan keduanya melakukan ibadah dengan tenang hingga selesai.

__ADS_1


"Sarapan dulu, Nyak, Beh. Bima berangkat dulu. Assalamualaikum!" pamitnya setelah mengganti pakaian dengan seragam seperti kemarin.


"Ati-ati! Wa'alaikumussalaam!" Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berlari keluar ruangan. Ia harus kembali ke rumah mengambil keperluan kuliahnya, biarlah hari ini ia akan membawa mobil ke kampusnya.


"Selamat pagi, Tuan!" Bima menyapa Fahru yang duduk di teras rumahnya. Ditemani cangkir yang masih mengepulkan asap, ia tersenyum melihat Bima.


"Tuan, apa tidak apa-apa saya membawa mobil itu ke kampus? Karena tidak mungkin saya kembali ke rumah mengingat jarak dari kantor dan kampus lalu rumah, itu sangat berjauhan," lanjut Bima meminta izinnya. Itu bukan mobil miliknya, ia harus izin terlebih dahulu, bukan?


"Tidak apa-apa, bawa saja! Aku percaya padamu, Juan," sahut Fahru lagi mengangguk pelan.


"Terima kasih, Tuan." Ia lantas mengikuti langkah Akmal yang tergesa keluar rumah. Laki-laki itu masih menyimpan kesal terhadap Bima, tak ingin mengajaknya bicara. Melengos masuk tanpa kata setelah dibukakan pintu oleh Bima.


Sesampainya di kantor, Bima tercengang melihat orang-orang berseragam sama sepertinya berbaris di lapangan parkir dengan posisi tubuh tegap, kedua tangan bertaut di belakang. Di depan mereka, Briant sedang memberi instruksi. Ah ... anak itu, sama persis seperti ayahnya.


"Juan! Masuk barisan!" Perintah tegas berasal dari laki-laki berdarah campuran itu, membuat Bima dengan cepat melaksanakan perintahnya. Ia masuk ke dalam barisan berdiri tegak seperti yang lain.


"Baik! Hari ini, kalian akan menerima tugas dari Tuan Besar. Yaitu, mencari seorang pemuda ke seluruh kota ini. Seperti apa ciri-cirinya, Tuan Besar sendiri yang akan menjelaskan!" ucap Briant menjelaskan kenapa mereka dikumpulkan pagi itu.


Di belakang pemuda itu, Razka muncul dari dalam gedung. Ia masih nampak gagah meskipun telah dimakan usia. Berdebar jantung Bima, kala maniknya menangkap sosok itu.


A ....


Tak ada kata yang diucapkan hatinya. Ia tak tahu harus melakukan apa, selain menunduk dalam-dalam menghindari tatapan Razka di kejauhan.


Kalo itu Tuan Besar, apa artinya dia orang yang kehilangan bayi itu? Tapi ngapa mirip ama gua? Apa jangan-jangan ....


*****


Nah, kan ... mereka udah ketemu, tapi belum pada sadar.

__ADS_1


__ADS_2