
Di depan rumah sederhana itu, Bima masih berhadapan dengan kedua lansia yang telah merawatnya dengan suka rela. Ia menumpahkan segala rasa di hatinya dengan derai air mata yang tak tahu kapan akan berakhir.
"Udah ... udah, Babeh ngerti. Babeh ngerti banget. Sekarang, mending kita masuk ke dalem. Baju lu basah, ganti dulu, entar masuk angin lagi. Nyak lu bisa nangis semaleman klo lu panas dingin," ajak Dewa sambil tersenyum haru melihat Bima yang begitu menyayanginya.
Kini ia sadar, ketakutannya dulu tak berarti apapun disaat Bima menunjukkan rasa sayang yang besar terhadap keduanya.
"Iya, lagian lu ngapain ujan-ujanan. Bukannya mampir dulu buat neduh, malah terus aja jalan. Yuk, ah, Nyak kagak mau anak Nyak yang cakep ini sakit," sahut Tina pula sambil menggandeng tangan Bima memasuki rumah.
Pemuda itu mengangguk, melepas tangan dari gandengan Tina dan memeluk kedua lansia itu sambil bergelayut manja di pundak keduanya. Mereka tak tahu, jika tiga pasang mata tengah memperhatikan dari dalam mobil.
Razka sedang menunjukkan pada kedua putrinya bahwa Bima sangat menyayangi kedua orang tua asuhnya.
"Kalian lihat! Apakah kita akan tega memisahkan mereka yang telah dua puluh tahun hidup bersama? Ayah berjanji pada mereka berdua tak akan mengambil Bima selama mereka mengizinkan Ayah untuk bertemu dengannya kapanpun Ayah mau, tapi Ibu kalian ... entahlah. Ayah sendiri tidak tahu bagaimana dia berpikir?" tutur Razka kepada dua putrinya itu.
Baik Nasya maupun Ayra, keduanya sama-sama bungkam tak berucap. Mata mereka menatap sendu rumah sederhana yang baru saja tertutup itu. Ayra menunduk, hatinya ngilu melihat kesedihan Bima saat Aulia memintanya untuk meninggalkan Dewa dan Tina.
"Aku tidak tega melihat kedua orang tua itu. Mereka sudah sangat tua dan mungkin hanya Baim yang mereka miliki. Kita tidak bisa memisahkan mereka, Ayah. Bagaimana hati tua mereka akan kuat menerimanya, Ayah? Membayangkannya saja, rasanya aku tidak bisa." Ayra semakin dalam tertunduk.
Ia menangis tergugu, Nasya yang disampingnya memeluk sang Kakak. Ia ikut menangis merasakan sakitnya berpisah. Hatinya baru saja terluka karena cinta yang tak sampai, dan kini harus membayangkan jadi kedua lansia itu ketika dipisahkan dari anak yang mereka rawat hampir seumur hidup mereka.
"Mungkin Kakak ingin membalas cinta mereka dengan merawat kedua orang tua itu, Ayah. Tolong beri pengertian pada Ibu jangan memisahkan kak Bima dari kedua orang tua asuhnya. Mereka sudah sangat tua," timpal Nasya pula dengan hatinya yang pilu.
__ADS_1
Mendengar kedua anaknya yang bersikap bijak, Razka menitikan air mata. Mengapa Aulia tak dapat berpikir seperti mereka? Mengapa Aulia tergesa mengambil keputusan tanpa melihat secara langsung bagaimana kehidupan Bima dan kedua orang tuannya?
Kedua anak ingusan saja bisa menempatkan diri mereka di posisi Dewa dan Tina. Terlebih setelah melihat bagaimana Bima amat mencintai keduanya. Razka berbalik, melihat kedua anaknya yang masih tersedu-sedan.
"Apa kalian ingin tahu seperti apa kedua orang tua itu? Jika iya, Ayah akan mengajak kalian untuk bertamu ke rumah mereka," ucap Razka sambil tersenyum pilu pada keduanya.
"Apa boleh?" Nasya menyusut air matanya. Ia mengangkat pandangan pada sang Ayah yang masih melekat pada pandang mereka.
"Tentu saja," katanya seraya membuka pintu mobil dan keluar perlahan. Ayra yang mendengar, hatinya mengajak untuk beranjak. Maniknya berpendar pada sang adik sebelum ia mengangguk. Keluar bersamaan menyusul Razka yang telah lebih dulu berada di depan pintu rumah sederhana itu.
Kedua bahunya naik dan turun, terhembus napas yang berat dari mulutnya. Hatinya bersiap untuk menerima kenyataan apa saja yang akan terjadi setelah mereka berada di dalam.
Bunyi ketukan langkah terdengar, Razka mundur beberapa langkah dari depan pintu. Tak lama pintu pun berderit terbuka sedikit lebar dan menampakkan sesosok wanita tua yang baru saja memasukinya. Wajah tuanya menegang saat mendapati Razka yang bertamu ke rumahnya.
Laki-laki itu tersenyum ramah sebelum menyapa, "Selamat pagi, Bu. Bagaimana kabar Ibu dan Bapak?" Ia mengangguk sedikit.
Tina bertambah gugup dikala matanya menangkap dua sosok yang lain saling berpegangan tangan tak jauh dari Razka, salah satunya mirip dengan Bima.
Apa dia gadis yang diceritain Bang Dewa itu, ya? Mukanya mirip pisan ama si Bima.
Tina bergumam dalam hati, menebak dan menerka siapa kedua gadis itu. Pandangannya kembali terjatuh pada sosok Razka yang masih diam berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ah ... ya, Tuan. Kami baik-baik saja. Mari, masuk!" katanya sambil membuka lebar-lebar pintu rumah tersebut. Ia menekan gugup di hati, entah mengapa setiap kali bertemu Razka detak jantungnya selalu terasa berbeda.
"Oh, iya. Ini anak-anakku. Ayra, putri sulungku dan Nasya, putri bungsuku. Ayo, Nak, salim pada Ibu!" titah Razka pada kedua putrinya. Ayra mendahului meraih tangan Tina, disusul Nasya yang ikut mencium punggung tangan renta itu tanpa segan.
Tina benar-benar terenyuh, masih ada orang kaya yang mau bersentuhan dengan orang yang dianggap rendahan seperti mereka itu.
"Tina. Mari, masuk!" ucap Tina menyebutkan nama sebelum mengajak mereka semua untuk masuk, "maaf, keadaan di rumah kami memang seperti ini. Tak ada sofa atau kursi yang lainnya. Hanya ada tikar sebagai alas duduk. Silahkan duduk!" lanjut Tina tak enak hati sambil mempersilahkan duduk pada ketiganya di atas sebuah tikar yang tergelar. Ke mana Bima dan Dewa?
Nasya dan Tina melilau ke segala penjuru rumah, tak ada hiasan apapun. Hanya ada foto seorang anak yang diapit kedua orang tuanya saat acara lulusan sekolah.
"Sebentar, saya panggilkan mereka dulu," pamit Tina yang mendapat anggukan kepala dari Razka. Ia pergi memanggil Dewa dan Bima. Ayra yang penasaran, beranjak dari duduk mendekati sebuah figura besar yang terpasang di dinding. Bima kecil dengan senyum dan piala di tangan saat kelulusan sekolah dasar.
"Apa dia anak kecil yang bernama Bima itu?" tanyanya sambil meraba gambar Bima kecil yang tak pernah ia temui saat di desa. Nasya telah berdiri di sampingnya, ikut memandang wajah kecil yang ia rindukan dalam bingkai foto tersebut.
"Benar, Kak. Dia kak Bima yang aku ceritakan. Bukankah senyumnya mirip dengan Ayah? Lihat, ada lesung pipi di kedua sisinya meskipun tak sedalam Ayah," sahut Nasya. Jarinya menunjuk pipi Bima yang memiliki lubang kecil di kedua sisinya.
Ayra tersenyum penuh haru. Ia menyesal karena tak pernah menemukan bima kecil. Ia menyesal karena tak pernah tahu seperti apa rupanya Bima saat kecil dulu.
"Kau benar, dia mirip sekali dengan Ayah dan makin serupa saat dewasa seperti sekarang." Keduanya terkekeh bersama di depan gambar tersebut. Razka hanya terdiam dalam duduk, bibirnya membentuk garis lengkung ke atas mendengar diskusi kedua putrinya.
"Mau ngapain kalian ke rumah gua?!"
__ADS_1