
Siang hari itu, sang mentari tak menampakkan diri. Bukan! Bukannya ia enggan untuk menyapa jagat raya, tapi awan mendung yang berpijak di bawah naungannya menyembunyikan intensitas dirinya sebagai sumber cahaya terbesar di jagat raya.
Di bawah teduhnya awan hitam di langit, memayungi dari sengatan sang mentari, Bima melakukan motor dengan kecepatan penuh. Tak peduli jalanan licin yang mengincar lengahnya, tak peduli genangan air yang menciptrati kakinya, ia ingin cepat sampai di tempat tujuan. Menjemput sang Ibu.
Kesedihan Aulia dapat dirasakan pemuda itu, rasa gelisah tak menentu dan tak kunjung enyah dari relung hatinya. Ketakutan pun tak luput, membaur bersama rasa yang kian bergejolak tak terkendali.
"Jangan lakuin hal bodoh, Ibu. Bima mohon. Bima masih pengen peluk Ibu, Bima pengen kenal Ibu. Maafin Bima, Ibu," lirihnya pelan. Ia terguncang hebat. Bahaya mengintai di jalanan licin itu, Bima tak menyadari karena hatinya yang dirundung gelisah.
"Gua kudu cari jalan pintas biar cepet sampenya," gumamnya lagi setelah memikirkan dengan matang cara agar ia bisa cepat sampai.
Ia berbelok, masuk ke jalanan yang lebih kecil. Jalan desa yang jarang dilalui kendaraan berat dan besar. Jalanan kasar dan penuh lubang, juga digenangi lumpur tak dipedulikan Bima. Seingatnya itu jalan tercepat untuk sampai di rumah Razka.
"Ah, sial! Ini emang deket, tapi gua lupa kalo jalanan di depan rusak parah. Bismillah aja, moga selamat sampe rumah," umpatnya disaat teringat kondisi jalanan yang rusak parah.
Bima terpaksa melambatkan laju motornya, jalanan berlumpur dan terdapat banyak lubang benar-benar menghambat perjalanan. Namun, sebentar lagi, ujung jalan ini terlihat. Setelah itu, ia bebas melaju di jalanan mulus tanpa lubang.
"Kalo tau bakal rusak separah ini. Kagak bakal gua lewat sini, tapi rumah Ayah udah deket banget. Tinggal keluar dari jalanan ini aja." Hatinya terus saja bergumam, antara menyesal dan tidak karena jarak memang begitu dekat meski jalan tak semulus jalan utama.
Bima melipat bibir, menekan hatinya agar tetap sabar melintasi jalan tersebut. Berkali-kali lisannya mengumpat tatkala sepeda motor yang berpapasan dengannya mencipratkan air hingga mengotori celaka yang ia kenakan.
Namun, ia tetap melaju dengan lamban hingga ujung jalan itu semakin terlihat jelas. Bibirnya membentuk garis lengkung ke atas, tak sabar rasanya ingin segera menjemput Ibu.
Di rumah, Aulia masih terbaring sambil menangis. Pikiran-pikiran buruk berseliweran menggoda dirinya. Bagai hantu yang bergentayangan menakuti bocah kecil di pojokan. Hati tua wanita itu telah putus asa, hingga setengah hari suami dan kedua putrinya belum juga kembali.
"Apa mereka semua benar-benar meninggalkan aku? Apa sekarang ini aku sendirian? Bagaimana aku akan menjalani hidup seperti ini, ya Allah," lirih lisan bergetar itu yang terdengar pilu dan menyayat hati.
Ia beranjak, mengusap air matanya dan tersenyum getir.
"Tak ada gunanya aku hidup jika semua yang kusayangi pergi meninggalkan aku." Isak tangisnya kembali menggema memenuhi ruang kamar yang tak terlalu besar itu.
__ADS_1
"Kakak, kau yang dulu mengeluarkan aku dari neraka. Sekarang, kau membiarkan aku sendirian. Aku harus bagaimana? Ke mana kalian pergi? Kuhubungi mereka pun tak tahu soal Kakak ada di mana. Pulanglah! Setidaknya nasihati aku, dan beritahu aku tentang semua yang harus aku lakukan. Jangan meninggalkan aku sendiri seperti ini," pintanya pada dia yang tak hadir di pelupuk mata.
Tangis yang ia perdengarkan, mengusik ketenangan hati Bima. Membuatnya semakin cemas dan teringin cepat sampai.
"Bima mohon, tunggu Bima, Ibu." Tak henti lisannya memohon, hatinya jua ikut berdoa. Bima menarik gas mempercepat laju kuda besinya.
Aulia di rumah itu beranjak, melangkah gontai meninggalkan kamar. Terus mengayun kedua kaki hingga pintu utama rumah. Helaan napas berat dan panjang tak surut ia lakukan demi mengurai sesak dan rasa takut di hati.
Pintu dibukanya, mata yang sembab itu menatap buram keadaan luar. Pandangannya melilau ke segala arah, berharap salah satu di antara mereka akan datang menjelaskan semua. Namun, sekian detik berdiri di ambang pintu, satu bayangan pun tak muncul.
Hatinya kecewa, putus asa datang melanda. Aulia meniti langkah menyusuri halaman rumah. Menunggu di gerbang, memperhatikan setiap kendaraan yang berlalu-lalang. Air matanya kembali berderai, segara ia hapus agar tak meninggalkan jejak basah di pipi.
Di jalanan, Bima kembali melaju dengan kecepatan tinggi tanpa mempedulikan kendaraan yang ia lewati. Mereka mengumpat, menyumpah-serapahi dirinya. Tetap saja Bima tak peduli, terus meninggalkan jejak bising di telinga mereka yang tengah asik berbincang.
Sementara di rumah sederhana milik Dewa, semua orang bersenda gurau. Berceloteh, bercerita ini dan itu sambil menunggu ikan-ikan yang sedang dipanggang Dewa dan Razka.
"Ada apa, Kak? Apa Kakak merasa sesak?" tanya Nasya dengan mimik wajah yang cemas melihat Kakaknya.
Tina yang berada dekat dengan mereka, membuang pandangan dari apa yang sedang dikerjakannya. Wanita tua itu melempar tatapan pada Kakak-beradik yang terdiam dengan raut wajah cemas. Seketika kerutan di dahinya semakin menumpuk.
Dada gua ... ngapa ini, ya Allah. Ngapa sesek gini? Ya Allah ... lindungin Bima, jangan sampe kenapa-napa tu anak. Ya Allah, moga-moga lu kagak kenapa-napa, Tong. Perasaan Nyak kagak enak.
Tina memegangi dada kirinya persis seperti yang dilakukan Ayra. Ia tertunduk, setetes air jatuh dari pelupuk tuanya. Ia mengusap segera, bingung sendiri dengan perasaannya yang tiba-tiba ingin menangis.
"Kak!" tegur Nasya lagi disaat Ayra tercenung tak menanggapi pertanyaannya.
"Kakak tidak tahu, tapi rasanya dada Kakak tiba-tiba sesak. Ibu ... semoga Ibu tidak kenapa-napa, ya Allah. Lindungi Ibu dan adik Baim," sahut Ayra dengan nada cemas yang tak dapat ia tutup-tutupi.
"Kakak, jangan menakutiku!" Nasya memeluk tubuh gadis yang membeku itu. Ia tak ingin kedua orang yang disayanginya mengalami hal buruk.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Dek? Perasaan Kakak semakin tidak enak. Kakak takut terjadi sesuatu pada Ibu dan Baim." Ayra semakin terlihat gelisah. Peluh sebesar biji jagung bermunculan di sekitar dahi, jatuh di pelipis hingga membasahi hijab yang ia kenakan.
Nasya melepas pelukan, ia beralih pandang pada sosok Razka yang sedang mengipasi ikan-ikan di atas bara.
"Ayah, apa sebaiknya Ayah menghubungi Ibu. Kakak ... Kakak mencemaskan keadaan Ibu di rumah," ucap Nasya sedikit meninggi meminta pada sang Ayah.
Laki-laki itu menyerahkan kipas bambu pada Dewa, ia beranjak mendekati kedua putrinya yang nampak gelisah. Duduk berjongkok di hadapan keduanya dengan wajah yang dipenuhi akan tanya.
"Ada apa? Apa kau merasakan sesuatu?" tanyanya pelan sembari menatap sang putri sulung.
"Aku tidak tahu, Ayah. Hanya saja perasaanku tiba-tiba gelisah. Tiba-tiba juga aku merasa takut, Ayah. Aku takut Ibu kenapa-napa di rumah. Sebaiknya Ayah menghubungi Ibu, jika Baim, mungkin saja dia belum sampai," tutur si sulung sambil memegangi tangan Razka dan sedikit meremasnya karena rasa cemas.
"Baiklah, tapi ponsel Ayah di mobil. Sebentar, Ayah akan mengambilnya dan langsung menghubungi Ibu kalian," katanya seraya beranjak setelah diangguki Ayra dan Nasya.
Sayang sungguh sayang, kedua gadis itu tak sempat membawa ponsel mereka. Dikarenakan terburu-buru pergi mengejar Razka pagi itu.
"Nak, doakan saja semoga mereka berdua selamat dan tidak terjadi sesuatu yang buruk sampai mereka kembali lagi," ucap Tina yang sama gelisahnya seperti kedua anak gadis Razka itu.
"Iya, Bu," sahut Ayra lemas. Keduanya menunduk, berdoa dalam hati untuk keselamatan mereka berdua.
Di kejauhan sana, Aulia yang jenuh menunggu, kembali melanjutkan langkah menyusuri jalanan. Entah ke mana kakinya akan melangkah. Jika boleh, ia ingin bertemu suami dan anak-anaknya.
Bima tersenyum melihat sosok Aulia di jalanan.
"Ibu!" Aulia mendongak, sebuah sepeda motor mendekat ke arahnya. Ia menunggu sambil tersenyum.
"Ibu, awas!"
Brak!
__ADS_1