Bima

Bima
Part. 116


__ADS_3

Malam semakin beranjak, tapi ketiga wanita berbeda usia di rumah Razka masih saja asik berbincang sambil menunggu kepulangan Ayah mereka. Percakapan hangat tentang aksi Bima yang berani saat di cafe menjadi tajuk utama bibir mereka.


Aulia kecewa karena putranya itu bahkan tidak masuk ke rumah dahulu untuk menyapanya. Namun, ia terus menghibur diri, mengatakan pada hatinya bahwa kapan saja ia dan Bima bisa bertemu.


"Siapa nama wanita itu?" tanyanya menatap Nasya dengan kerutan di dahi.


"Yola, Bu. Namanya Yola, dia dan dua temannya sudah seperti preman kampus sering mengerjai anak-anak baru dan lemah sepertiku," jawab Nasya. Sakit di rahangnya masih terasa seolah-olah baru saja tangan wanita itu menempel di sana.


"Berani sekali dia berbuat seperti itu? Apa tidak ada yang menegurnya dengan memberi hukuman?" Aulia berang. Rasanya tak pantas melakukan pembulian di kampus.


"Tapi sepertinya sekarang dia jera, Bu. Kak Bima sudah membuka kartu as-nya dan dia tak dapat bertindak semena-mena lagi. Baik di kampus maupun di luar," katanya dengan nada bangga saat menceritakannya.


"Benarkah? Memang apa yang dilakukannya?" Ayra antusias bertanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis penasaran apa yang dilakukan adik laki-lakinya untuk membungkam wanita angkuh yang diceritakan Nasya tadi.


"Kak Bima mengancam akan membuatnya hidup terlunta di jalanan. Kakak bahkan mengenal siapa Ayah wanita itu. Apa Kakak dan Ibu tahu, Ayah dari Yola ternyata seorang manager di perusahaan Ayah. Kak Bima juga tahu seperti apa cara Ayahnya itu bekerja. Dia korupsi, Kak. Aku yakin, kak Bima tidak main-main dengan ucapannya. Lihat saja, besok atau lusa dia akan memohon pada kak Bima untuk memaafkannya." Nasya tersenyum yakin dengan ucapannya.


Sementara Ayra dan Aulia meragukannya. Rasanya tidak mungkin Bima bisa berbuat sejauh itu. Masuk ke dalam kantor saja mungkin tidak pernah.


"Tidak mungkin, sayang. Kakakmu saja tidak pernah menginjakkan kaki di kantor itu. Mana mungkin dia tahu semua karyawan di sana," tolak Aulia dengan manik yang keragu-raguan.


Nasya menggelengkan kepala, ia yang lebih tahu soal Bima. Kata-kata yang sudah diucapkan Kakak laki-lakinya itu, tak akan pernah ditariknya kembali.


"Apa Ibu lupa? Kakak adalah seorang pengawal di kantor itu. Dia bersama kak Briant melakukan penyelidikan tentang semua para petinggi di kantor Ayah. Dia seorang mata-mata yang ditunjuk calon kakak ipar untuk membuka para korup di kantor itu. Kak Bima tahu dan hafal semuanya, Akmal ... tak ada apa-apanya dibanding Kakak," tegas Nasya sok tahu. Ia mengibaskan tangan sambil mencibir.


Aulia dan Ayra saling menatap satu sama lain, mata keduanya membelalak. Briant tak pernah bercerita soal itu. Kenapa Nasya tahu lebih banyak dari pada dirinya.

__ADS_1


"Kakak bisa menanyakannya pada calon suami Kakak jika tidak percaya. Apa yang aku katakan tadi semuanya benar. Kak Briant menyelidiki tentang siapa kak Bima dan merekrutnya menjadi tim mata-mata selain supir pribadi Akmal tambun itu," tekan Nasya lagi dengan sangat yakin.


Perbincangan itu berlanjut sampai suara deru mobil Razka mengusik telinga mereka. Aulia beranjak disusul kedua anak gadisnya yang mengekor di belakang.


Senyum manis menyambut kedatangan sang suami saat tubuh itu keluar dari mobil. Namun, ketiganya mengernyit disaat pintu yang lain terbuka dan menampakkan Lucky yang keluar dengan wajah tertunduk cepat setelah bertatapan dengan Aulia.


"K-kau? Kenapa kau datang ke rumahku lagi? Kenapa Ayah membawanya? Dia itu penipu, Ayah!" tuding Nasya berjalan cepat menghampiri Lucky yang masih menapak di dekat mobil Razka.


Plak!


Satu tamparan Nasya mendarat tepat di pipi kirinya. Lucky tetap bergeming, merasa pantas mendapatkan hadiah itu. Aulia menutup mulutnya tak percaya, Ayra pun sedikit terkejut. Nasya adalah orang yang paling membenci pemuda itu sejak dia ada di rumahnya dulu.


"Sayang! Hentikan!" Razka melerai. Ia memegangi Nasya yang kembali akan menampar Lucky. Gadis kecil itu memberontak, meminta sang Ayah agar melepaskannya.


Laki-laki itu tetap menahannya, sekuat tenaga agar ia tak berbuat sembarangan.


"Dengar, sayang. Dia sepupumu juga. Dia datang untuk meminta maaf kepada kita dan sudah menyesali perbuatannya. Sebaiknya kita masuk dulu dan dengarkan dia," ucap Razka menenangkan putri bungsunya.


"Tidak, Yah!" tolak Nasya masih menggeliat dalam pelukan Ayahnya.


"Nasya, sayang! Dengarkan Ayah, kita masuk dulu dan berbicara di dalam. Ayo, Nak! Ayah benar, dia adalah sepupumu, anak dari adik Ibu yang belum kalian ketahui," timpal Aulia ikut menenangkan Nasya yang terus meronta.


"Dek!" Ayra menggeleng disaat tatapan Nasya terlempar ke arahnya. Gadis itu meluluh, ia menurunkan emosi dan menuruti semuanya. Berjalan paling belakang dengan kesal. Razka merangkul bahunya sambil memberikan ciuman di atas kepala gadis itu.


Pembicaraan antara mereka, berlangsung dengan damai. Aulia dan Ayra dapat menerima Lucky sebagai keluarga, tapi Nasya masih terlihat kesal meski sudah memaafkannya.

__ADS_1


Sementara Bima mengantar pulang Khaira setelah mengajaknya membeli cemilan untuk Ibu di rumah. Ia berencana mengenalkan gadis itu kepada Dewa dan Tina sebagai calon istri. Setelah Ayra menikah, barulah akan menemui Ibu Khaira untuk meminangnya. Begitu rencana yang telah disusunnya sendiri.


"Gimana kerjanya? Lu capek kagak? Kalo capek, baeknya lu istirahat kagak usah maksain diri, gua kagak mau lu sampe sakit," ungkap Bima mengutarakan kekhawatirannya.


Khaira tersenyum, ia mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Bima. Merasa dihargai, merasa dicintai, siapa yang tak senang diperhatikan seperti tadi.


"Iya, Kakak tidak usah cemas. Aku mengerti," katanya.


Bima mempercepat laju motornya. Ingin segera sampai di rumah agar Khaira bisa cepat beristirahat setelah bekerja.


"Gua langsung pulang, kagak usah begadang. Langsung tidur aja," katanya. Khaira menganggukkan kepala mengerti, Bima masih menunggu di sana sampai sosok Khaira menghilang di balik pintu.


"Ekhem!"


Suara deheman Ibu menyentak tubuh Khaira yang tersenyum sendiri saat masuk ke rumah.


"Ibu!"


"Ibu senang Nak Bima yang mengantar. Ibu sempat khawatir memikirkan caramu pulang ke rumah. Lingkungan kita akhir-akhir ini sangat rawan," ungkap Ibu sambil mengusap kepala putrinya yang nampak cantik dibalut hijab pemberian Bima.


Khaira menunduk, ia pun merasa bersyukur karena Bima tak membiarkannya pulang sendiri. Anggukan kecil ia berikan tanda setuju pada apa yang diucapkan Ibu.


"Ya sudah, bersihkan diri dulu langsung tidur. Kau pasti lelah walaupun bekerja hanya setengah hari," titah Ibu dengan sapuan lembut di tangannya.


"Iya, Bu." Khaira meraih tangan keriput itu dan menciumnya sebelum berpamitan masuk ke kamar sendiri. Hatinya berbunga-bunga tak sabar menunggu esok jemputan sang pangeran.

__ADS_1


__ADS_2