Bima

Bima
Part. 17


__ADS_3

Bel panjang berbunyi nyaring, bersambut dengan riuh rendah suara para siswa di sekolah dasar tersebut. Bima beranjak dari bangku setelah hampir semua siswa keluar. Bersama Revan, ia mendatangi guru dan bersalaman seperti biasa.


"Eh, Bim! Kenapa kau selalu mencium tangan guru? Kami tidak pernah melakukannya selama ini," tanya Revan sambil berjalan di selasar sekolah.


Bima membenarkan letak tasnya, bibirnya membentuk senyum meskipun tipis. Wajah yang tak lepas dari kedua kakinya itu, melirik sekilas teman di sampingnya.


"Kata Nyak sama Babeh ... eh, maaf. Kata Ibu dan Ayahku, kita harus menghormati guru karena dia telah mengajarkan kita mengenal huruf 'A' sampai 'Z' ... apa karena itu guru terkejut saat aku mencium tangannya?" ujar Bima terjeda sejenak sesaat ingatan tentang itu mencuat ke permukaan.


Revan mengangkat bahu, "Aku tidak tahu." Keduanya tak saling bicara lagi sampai mereka tiba di gerbang sekolah. Bima menuntun sepeda yang dibelikan Dewa sebagai alat transportasinya ke sekolah.


"Itu Ayahku! Aku pergi, ya. Hati-hati, kawan!" Mereka melakukan tos. Revan melambai di dalam mobil, dan Bima masih berdiri di tempatnya. Ia tersenyum, mengangguk kecil saat mobil Revan melintasinya.


Di sana, di dalam mobil, seorang laki-laki dewasa mengenakan seragam putih menatap dalam-dalam pada Bima. Dahinya yang berkerut hingga mempertemukan kedua pangkal alis lebatnya.


"Siapa dia?" Bertanya pada Revan tanpa membuang pandangan dari sosok Bima yang masih mematung.


"Siapa? Bima?" Revan bertanya karena bingung.


"Apa namanya Bima?" Revan membenarkan.


"Kenapa, Ayah? Dia temanku. Apa Ayah tahu? Dia tadi menolongku ... dia anak yang hebat!" pujinya hampir saja salah ucap.


Laki-laki itu melirik, sedikit curiga pada putranya itu. "Benarkah? Jangan menutupi sesuatu dari Ayah, Revan?" tegasnya lekat memandang bocah tersebut.


"Mmm ... ya, Ayah. Yang aku katakan itu benar. Dia memang hebat karena suka menolong kami membersihkan kelas." Revan tersenyum mencoba memupus wajah curiga sang ayah.


Laki-laki itu bergeming, sebelum akhirnya ia berbalik ke hadapan. Revan menjatuhkan kepala pada kursi. Rasa sesak karena tekanan siswa tadi, masih saja terasa. Ia melipat bibir, menahan napas yang ingin dibuangnya dengan kasar.


Wajahnya mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa? Kak Razka? Ah ... rasanya tidak mungkin. Apa aku terlalu rindu pada mereka, ya?

__ADS_1


Ia tertawa sendiri, sudah lama rasanya tidak berkunjung ke desa tempat tinggal Kakaknya itu. Ia tak memikirkan lagi soal Bima.


Anak itu bahkan baru menjalankan sepedanya setelah mobil yang ditumpangi Revan menghilang. Kedua kakinya terus mengayuh pedal sepeda di pinggiran jalan menuju rumah kontrakan miliknya.


Tak peduli soal panas, ia bahkan sudah merasakan bagaimana panasnya sengatan matahari di lahan parkir babehnya dulu. Peluh mengucur dari pori-pori kulit di wajahnya. Merembes hingga ke leher, beruntung Bima melepas seragamnya sebelum mulai mengayuh sepeda.


Ia menghentikan laju sepedanya secara mendadak tatkala sebuah mobil mewah menjagal jalannya. Bima menatap bingung mobil di depannya, gang sempit dan jarang dilewati orang itu, membuat Bima tak dapat terus melaju dengan mobil yang melintang di tengah jalannya.


Dahi sempitnya berkerut, semakin dalam saat dua orang remaja turun. Bima bergeming, menunggu apa yang diinginkan dua remaja laki-laki berseragam SMA itu.


"Ngapa lu ngalangin jalan gua?!" hardiknya tak suka. Dari tampang kedua remaja itu, dia tahu apa yang akan dilakukan mereka.


Keduanya tertawa mendengar bahasa yang digunakan Bima.


"Bicara apa kau bocah? Kampungan! Beraninya kau menyakiti adikku!" bentak salah satu dari mereka yang berwajah sangar.


"Adik? Yang mana? Gua kagak tahu adik lu. Minggir! Gua mau lewat!" sahut Bima ketus. Ia bersiap mengayuh sepedanya kembali, tapi kedua remaja itu tetap berdiri di tempatnya.


"Oh ... jadi dia adik lu! Heh ... cehemen! Beraninya ngadu dan main keroyokan. Lu pikir, gua takut! Tapi maaf, gua lagi males ladenin lu pada! Biarin gua lewat!" pinta Bima lagi masih menahan diri untuk tidak emosi.


"Kau! Masih berani menghinaku?! Sialan! Kak, anak itu tadi yang menghajarku. Aku ingin Kakak memberinya pelajaran agar dia tidak lagi berani melawanku di sekolah," katanya dengan jari telunjuk yang diarahkan pada Bima.


Tatapan dua remaja itu menggelap seolah-olah ingin melahap habis tubuh Bima yang kecil. Akan tetapi, anak di hadapan mereka tak beranjak sedikit pun apalagi melarikan diri.


Kedua remaja itu mendekati Bima, salah satunya menarik Bima turun dari sepeda, sedangkan yang lain menendang sepeda itu hingga menabrak sebuah pohon.


"Sepeda gua!" Mata Bima berkaca, bukan mudah membelinya. Dewa harus menyisihkan uangnya untuk dapat membelikannya sepeda, dan orang-orang itu berani sekali merusaknya.


"Lepasin gua!" Bima memberontak, menggeliat dengan kuat. Ia yang telah tersulut api amarah, tak dapat lagi menahan dirinya. Bima mengangkat tubuh remaja yang mencekalnya, membantingnya hingga berdebam keras.

__ADS_1


"Sialan lu pada! Sepeda gua rusak. Susah payah Babeh gua beliin ntu sepeda, seenak jidat lu rusak!" Suara Bima berubah, parau karena sesak menghimpit rongga dadanya.


Mulut bocah yang mengadu itu menganga tak percaya melihat bagaimana Bima dengan mudahnya membanting tubuh seseorang yang lebih besar darinya. Ia berjalan mendekati remaja lainnya yang masih bersikap angkuh meskipun beberapa kali kedapatan meneguk ludah.


Tak segan lagi, Bima melayangkan pukulan meskipun dapat mengelak, Bima tak menyerah. Lagi dan lagi seolah-olah tenaga yang ia miliki tak terbatas.


Bugh!


Brak!


Bam!


Tubuh remaja itu pun terpelanting berguling di jalanan beraspal. Bima tak menyurutkan langkah, terus mendekat. Ia menginjak tangannya, mata kecil itu merah menyala.


"Ganti kerusakan sepeda gua! Lu kudu bayar gantinya! Kalau kagak, gua remukkin ni tulang yang udah berani lempar sepeda gua!" Bima menekan kakinya, jerit kesakitan menggema pilu.


Anak yang tukang mengadu itu ketakutan, gegas masuk ke dalam mobil menggigil tubuhnya.


"Ibu! Ibu! Tolong aku!" katanya berulang-ulang dengan tubuh yang gemetar hebat.


"Ambil ini! Kau bisa memperbaiki sepedamu itu, tapi lepaskan aku. Aku akan membiarkanmu pulang. Tolong, lepaskan!" pintanya dengan napas tersengal-sengal dan tertahan.


Bima berjongkok, mengambil uang yang diberikan remaja itu sebelum melepas kakinya dari menginjak tangan tersebut. Ia mengancam lewat sorotan mata sebelum berbalik menghampiri sepedanya yang sedikit penyok.


Bima mengangkat sepedanya, lalu mengayuh meninggalkan mereka yang masih diselimuti rasa takut sekaligus tak percaya itu.


"Pecundang!" cibirnya yang terdengar samar di telinga mereka. Bima mengangkat jari tengahnya, tanpa membalik tubuh.


"Sial! Bocah itu ... mungkin dia reinkarnasi seseorang yang hebat atau pun dia seorang dewasa yang terjebak di dalam tubuh anak-anak." Menggerutu sambil mencoba untuk berdiri.

__ADS_1


Ia memandang tajam anak yang masih menggigil ketakutan di dalam mobil.


"Kenapa kau tak mengatakan jika dia mahir dalam bela diri." Ia murka karena ini adalah kali pertamanya dikalahkan seorang bocah. Anak itu semakin menggigil ketakutan.


__ADS_2