
Di tengah keramaian, sesosok yang ia rindu mencuat ke permukaan. Senyum yang diukirnya menyiratkan kesedihan mendalam. Penderitaan, tergambar jelas di maniknya yang selalu nampak memesona.
Langkah yang anggun itu teringin merengkuh harapan. Melambai, menginginkan dirinya untuk segara datang. Setetes air suci jatuh menghantam bumi tatkala ia menutup kelopak indah yang membingkai manik hangatnya.
"Kakak?" Lembut suara, mendayu merayu hadirnya, "kenapa lama sekali tidak datang? Apa Kakak tidak yakin aku akan pergi?" lanjut suatu merdu itu lagi mengusik ketenangan hati dan ketentraman jiwa.
"Ara?" Bima tersentak, bolpoin yang dipegangnya jatuh membentur lantai. Memantul beberapa kali menimbulkan suara nyaring karena kelas yang sepi.
Pemuda dengan manik sekelam langit malam itu, beranjak tanpa basa-basi. Mencangkolkan tas di bahu kanannya, berjalan keluar melewati asisten dosen yang sibuk mencatat pelajaran.
Degup jantungnya tak terkendali, membuatnya teringin cepat tiba di tempat sang pujaan hati. Firasat buruk datang silih berganti, menjejali hati yang meresah tiada bertepi. Pelajaran belumlah usai.
Bima adalah laki-laki yang tak pernah abai akan rasa yang hadir dalam benak. Semua yang bersangkutan dengan hatinya, tak akan membuatnya tenang jika mata belumlah memandang dan memastikan yang ia-nya baik-baik saja.
Hati Bima semakin tak terkendali disaat bayangan gadis itu yang diganggu oleh laki-laki setempat dulu membayang kembali. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan kampus.
"Gua mohon, lu baik-baik aja, Ra."
Lisannya bergumam lirih, hatinya semakin merintih. Di jalanan, dialah rajanya. Tak ingat jika ia baru saja keluar rumah sakit akibat kecelakaan. Lupa jika kakinya saja masih cedera.
Ban mobil berdecit di depan rumah gadis itu, buru-buru Bima mendatangi ibu Khaira dan bertanya padanya perihal gadis yang berhasil mengganggu konsentrasi pikirannya itu.
"Ara? Dia sedang mencuci di sungai."
Mendengar kata sungai, hati Bima semakin was-was. Belum selesai wanita paruh baya itu berbicara, pemuda yang selalu menolong anaknya melesat cepat.
__ADS_1
"Gua kagak boleh terlambat. Tunggu gua, Ra!" jerit hatinya sambil mempercepat langkah.
Bima terhenyak disaat telinga mendengar suara jeritan juga tangisan gadis sang pujaan di tepi sungai.
"Ara!" Matanya melebar hampir keluar dari tempatnya berada. Bima memacu langkah semakin cepat, tak ingin terlambat, tak ingin menyesal. Ia saja belum menyatakan perasaannya pada gadis itu.
Bima menerobos semak, pandanganya melilau mencari keberadaan Khaira. Di sana, seorang laki-laki sedang melakukan hal yang tak pantas dilakukan. Air jatuh dari pelupuknya menyaksikan bagaimana perjuangan Khaira agar terlepas dari kurungan sang pemangsa.
Baru saja amarahnya reda terhadap Akmal, kini kembali tersulut oleh pemandangan memalukan yang tersuguh di hadapannya. Kakinya memacu cepat, melesat bagai angin yang menerbangkan apa saja di jalanan.
"LANCANG!" Suaranya bagai guntur menyambar, serak dan menggema. Tenggorokannya tercekat oleh emosi yang membuat rongga dada terhimpit. Revan tersentak, tak mengira aksinya akan dipergoki orang lain. Ia kira tempat ini sepi karena jauh dari pemukiman.
Belum sempat mencerna keadaan, sebuah tangan menjambak rambutnya, menariknya dengan kuat hingga tubuh lancang itu menjauh dari sang bunga.
Bugh!
Bima menatap nyalang sepupunya dengan napas yang memburu. Kedua tangan terkepal bersiap kembali menyerang. Suara rintihan Khaira, melunakkan amarah Bima. Ia terhenyak lantas berbalik melihat kondisi sang gadis.
Pemuda itu termangu sejenak sebelum memejamkan mata berikut kepalanya yang menoleh menghindari sesuatu yang tak seharusnya ia tatap. Gadis itu terbaring dengan kondisi yang menyedihkan. Pakaian atasnya terkoyak hampir terbuka.
Bima melepas jaket yang ia kenakan, membantu sang pujaan hati untuk beranjak dan mengenakan jaket itu untuk menutupi tubuhnya yang hampir terbuka. Mata yang basah itu mendongak menatap Bima dengan derai air yang menderas.
"Kakak!" Tangisnya kembali pecah dikala ia memeluk Bima. Kesucian yang dijaga Bima, kehormatan yang akan ia serahkan pada pemuda itu hampir saja ternoda. Itu akan menjadi penyesalan Bima untuk seumur hidupnya jika saja ia datang terlambat tadi.
Air mata pemuda itu jatuh dikala ia menutup mata, dikecupnya rambut Kharia yang basah lagi berantakan. Hatinya menderita melihat gadis yang ia cinta dalam keadaan memalukan seperti sekarang ini.
__ADS_1
Bima menangkup wajah gadis itu membuatnya mendongak, mengusap kedua matanya yang sembab dan tak henti berair.
"Udah gua bilang kagak usah ke sungai lagi. Ngapa lu nekad nyuci di sungai, di sini terlalu banyak kejahatan. Lu kagak tahu siapa aja yang berniat jahat ama lu, Ra," ucap Bima dengan nada pelan. Ibu jarinya mengusap-usap pipi Khaira yang tak henti dijatuhi air dari mata.
"Di rumah tidak ada air, Kak. Ibu tidak sanggup membayar. Aku terpaksa mencuci di sungai bersama temanku. Maaf karena tidak mendengarkan Kakak," ungkap gadis itu sambil sesenggukan. Ia membenamkan wajah di perut Bima terus saja menangis.
Sementara Revan, ia menatap tak percaya pada sosok yang baru saja memberikan bogem mentah di wajahnya. Jantungnya berdebar kuat, bagaimana nasibnya di tangan Bima?
Akmal yang bertubuh lebih besar darinya saja mampu dia angkat pagi tadi, apatah lagi dirinya yang lebih kurus. Mungkin akan dilempar Bima jauh dan jauh ke dalam semak.
"Bi-bima?" panggil Revan dengan suaranya yang serak dan terbata. Ia mencoba bangkit dari atas bebatuan yang membuat bokongnya ngilu saat membentur tadi.
Hati Bima memanas mendengar suara Revan yang memanggilnya. Amarah yang sempat berkurang karena Khaira, kini kembali tersulut dan menjilat-jilat. Gadis itu pun tak kalah terkejut disaat Revan mengenali Bima. Ia tak ingin melepas pelukan meski tubuh Bima telah memutar membelakanginya.
Bima menjegil pada sosok Revan yang tertatih menegakkan tubuh. Wajahnya menghitam persis seperti tadi pagi saat ia meluapkan emosi pada Akmal.
"Gua kagak nyangka orang berpendidikan kaya lu bisa ngelakuin hal yang memalukan kaya gini. Lu rendahan, Revan. Cara lu amat rendahan dan norak. Kalo lu suka ama Ara, harusnya lu perlakuin dia baek-baek. Kalo lu cinta ama dia, harusnya lu jaga kehormatannya. Bukan malah ...." Bima menggelengkan kepala tak percaya. Ia masih bisa mengontrol diri agar tidak menyerang Revan.
Kepalan tangannya semakin kuat hingga ia bisa merasakan semua kuku hampir menancap di kulitnya.
"Gua jaga dia baek-baek, gua junjung tinggi kehormatannya, tapi lu mau ngerusak dia. Dia berharga buat gua. Asal lu tahu, Revan, dia ... calon istri gua. Lu denger! Khaira calon Ibu dari anak-anak gua. Jangan sekali-kali lagi lu berani sentuh dia kalo lu mau hidup lu tetep lanjut." Dengan yakin Bima mengatakan itu.
Kharia membelalak mendengar pengakuan Bima. Hatinya berbunga-bunga, ia menjatuhkan kepala di punggung sang pujaan hati. Tersenyum meski air mata kembali jatuh. Pada akhirnya ia mendapat jawaban pasti atas perasaan yang ia simpan selama ini.
"Bi-Bima ... maafkan aku, tapi aku sungguh tidak tahu jika kau adalah calon suaminya. Kukira dia hanya membual. Aku ... aku juga mencintainya, Bima," ungkap Revan sedikit rasa sesal terlihat di matanya.
__ADS_1
"Sorry, Revan. Gua udah ngalah soal perusahaan, tapi soal Ara gua kagak bakal ngalah ama lu. Terserah lu, tapi jangan coba-coba lu sentuh dia!" tegas Bima lagi. Tak ingin rasanya ia menyerahkan gadis itu pada laki-laki yang telah lancang ingin menodainya. Ia pikir Revan berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Nyatanya, sama saja.