Bima

Bima
Part. 82


__ADS_3

"Gua tanya ngapain lu pada di rumah gua?" Suaranya memang pelan dan rendah, tapi tekanannya amat dalam dan menyesakkan siapa saja yang mendengar. Pemuda itu berdiri angkuh di ambang pintu bersama Dewa yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Ah ... maaf, Tuan. Maafkan Bima, mungkin hatinya sedang kesal," ucap Dewa merasa tak enak saat melihat wajah muram Razka dan kedua gadis yang duduk lesehan di atas tikar.


Razka berdiri dari duduknya, ia berjalan pelan mendekat hingga berhadapan dengan putranya yang hilang itu. Helaan napasnya terdengar panjang dan berat, jelas terlihat jika ia sedang diliputi kegelisahan.


"Aku datang hanya untuk meluruskan perkara tadi. Bisa kita bicara? Karena aku tak akan pergi sampai aku dapat berbicara denganmu, Nak," ungkap Razka. Ia harus sabar menghadapi Bima yang nampak kecewa.


"B-bisa, Tuan. Tentu saja bisa," sahut Dewa terbata seraya melirik Bima yang menahan kekesalan, "udah lu sono! Kagak baek begitu, Babeh kagak ngajarin lu buat kurang ajar ama orang tua. Jangan karena kesalahan satu orang, lantas semua menjadi korbannya. Udah, duduk sono. Ngomong baek-baek jangan pake emosi," sambung Dewa lagi sambil menepuk lengan Bima agar duduk berkumpul bersama mereka.


Nasya dan Ayra terkagum pada orang tua itu. Mereka tak melepaskan pandangan dari sosok tua yang berdiri berdampingan dengan Bima, terutama Ayra yang merasa familiar dengan sosoknya. Hanya saja, ia tak ingat karena wajahnya buram tak jelas.


"Tapi, Beh-"


"Kagak ada tapi-tapian. Mereka keluarga lu, Babeh yakin lu udah kasih tahu mereka siapa lu, 'kan? Sekarang, kalo ada yang ganjel di ati lu mending diomongin jangan dipendem terus kagak nemu jalan keluar. Babeh kagak mau lu jauh dari keluarga asli lu, Bim. Mereka juga punya hak atas lu," tukas Dewa dengan cepat.


Sudah seharusnya begitu. Bima sudah menemukan keluarganya, dan ia tak berhak menjauhkan mereka. Dewa tak ingin hanya karena Bima ingin tinggal bersamanya, malah menjauhkan dia dari mereka. Semuanya akan kacau jika Bima bersikap egois, orang-orang kaya itu akan menyalahkannya dan Tina karena dianggap menahan Bima dan tak membiarkan mengenal keluarga kandungnya sendiri.

__ADS_1


Baik Ayra maupun Nasya, kedua menundukkan kepala dalam-dalam. Sungguh, laki-laki tua itu memiliki hati yang baik lagi tulus. Bagaimana mungkin mereka akan tega mengambil paksa Bima dari tangannya.


"Babeh tinggal ke belakang." Ia menepuk-nepuk pundak Bima, sebelum pergi meninggalkan mereka. Tak lama Tina kembali dengan nampan di tangan. Satu teko teh yang mengepulkan asap dan beberapa gelas juga camilan teman mereka mengobrol.


"Silahkan dicicipi. Maaf, hanya ada ini di rumah kami, jangan sungkan dan semoga tidak membuat kalian merasa direndahkan," ucap Tina sambil tersenyum hangat dan ramah. Ia menyuguhkan minuman serta makanan itu di atas tikar berhadapan dengan kedua gadis yang masih duduk di sana.


"Sama sekali tidak, Ibu. Justru kami merasa tak enak membuat Ibu repot seperti ini. Terima kasih, kami pasti akan mencicipinya," sahut Ayra dengan kelemahlembutan yang ia miliki.


Tina tersenyum, di sudut matanya ada air yang menggenang. Tabahnya hati wanita tua itu! Ia berbalik dan berdiri, melirik Bima sekilas. Kepalanya mengangguk dan ikut menyusul Dewa meninggalkan mereka.


Sementara di rumah, Aulia gelisah seorang diri. Ia duduk di atas sofa menangis tiada henti. Penyesalan? Entahlah.


Ia tak tahu akan seperti ini jadinya. Seperti apa kedua orang tua asuh Bima itu? Aulia ingin melihatnya sendiri.


"Memangnya seperti apa mereka hingga Baim lebih memilih hidup bersama mereka daripada dengan Ibu kandungnya sendiri? Apakah mereka kaya? Punya segalanya, hingga ia tak membutuhkan kedua orang tuanya lagi. Ya Allah ...." Laju tangisnya kian menjadi. Tak kuasa hatinya menahan gejolak kesedihan yang mendalam.


Meninggalkan Aulia dengan pemikirannya yang keliru, Bima sudah duduk berhadapan dengan Razka dan kedua saudarinya. Ia masih saja memasang wajah datar dan dingin, sama sekali tak mengendurkan urat-uratnya yang tegang di wajah.

__ADS_1


"Bima, apa kau tahu, Nak? Kakakmu Ayra, adalah satu-satunya orang yang menolak saat kau dinyatakan meninggal. Ayra, satu-satunya orang yang dapat merasakan jantungmu dalam detak jantungnya. Apa kau tahu apa yang dia katakan disaat kecil dulu?" Razka memulai percakapan.


Ayra menatap lekat wajah sang Adik yang seketika saja tertunduk. Ia bukannya marah pada mereka, tapi pada wanita itu. Teringat akan ucapan Dewa, jangan hanya karena kesalahan satu orang, lantas semua orang menjadi korbannya.


"Dia mengatakan, aku masih bisa merasakan detak jantung adik Baim, Ayah. Adik masih hidup, dia masih hidup. Dan apa kau tahu bagaimana perasaan kami waktu itu?" Bima mengangkat wajah bertatapan dengan gadis jelita jelmaan Aisyah itu.


Dia sungguh cantik dan mempesona. Siapa saja yang melihat, sudah pasti akan terpikat. Terbersit dalam hatinya, rasa ingin melindungi Ayra dari laki-laki serakah dan hanya memanfaatkan keadaanya saja.


"Kami pikir dia hanya merasa putus asa dan tidak siap kehilangan adiknya yang baru saja dilahirkan. Kami pikir, dia hanya sedang berhalusinasi saja karena tak ingin berpisah dari adik laki-lakinya. Satu yang kami takutkan pada waktu itu, terjunnya Ibrahim ke dalam jurang akan mengganggu mental Ayra. Nyatanya, dia gadis yang kuat-"


"Teguh dalam pendirian, ia tetap bersikukuh menganggap Ibrahim masih hidup meskipun orang-orang menentangnya. Dialah satu-satunya orang yang menyadarkan kami bahwa sebelum jasad Ibrahim ditemukan, hidup atau mati, kami tak boleh menyerah untuk mencarinya," ungkap Razka panjang lebar.


Bima kembali tertunduk, air matanya jatuh tak tertahan setelah melihat kesungguhan dalam manik sang Kakak, Ayra.


"Untuk masalah Ibumu, Ayah harap kau tak menjadikannya beban. Ia hanya terlalu rindu pada putranya hingga tak dapat menahan hati. Maafkan keegoisan Ibumu, Nak. Pelan-pelan Ayah akan menasihatinya supaya bisa menerima semua ini. Ayah tidak ingin keluarga kita terpecah. Kau tahu, Nak, ada banyak pihak yang membenci keluarga kita. Mereka akan merasa senang dan tertawa jika saja kita saling membenci dan tentunya akan sangat mudah dihancurkan." Razka menarik napas dalam.


Ia menunduk sejenak sebelum kembali mengangkat pandangan.

__ADS_1


"Bima atau Baim, kau adalah satu-satunya anak laki-laki Ayah. Kekuatan Ayah, penerus Ayah. Kita harus bersatu untuk melindungi mereka. Jika bukan kita, siapa lagi? Ayah tak akan memisahkanmu dengan mereka, Ayah akan membiarkanmu tinggal dan merawat mereka karena apa yang kau ucapkan tadi memang benar. Sekalipun Ayah memberikan seluruh harta, itu semua tak akan bisa mengembalikan waktu mereka yang terbuang untuk merawatmu selama dua puluh tahun ini. Maafkan Ibumu, Nak. Maafkan," ungkap Razka lagi dengan kebijaksanaan yang ia miliki.


Bima dilanda gulana. Kepalanya semakin dalam tertunduk, ia tak mengeluarkan sepatah kata pun hanya mendengarkan dengan baik apa yang diucapkan Razka untuknya.


__ADS_2