
"Mungkin ini bisa menjadi bukti jika kau bukanlah Ibrahim!"
Semua orang menoleh ke arah suara tersebut. Ayra dengan senyum tipis di bibir, berdiri di ambang pintu dengan ponsel terangkat. Ia menunjukkan sesuatu di sana. Melangkah mendekat ke arah Razka, memberikan ponsel tersebut kepadanya.
"Coba Ayah lihat video ini, siapa yang ada di sana?" katanya sembari melipat kedua tangan di dada.
Razka menerima, melihat dengan hati-hati apa yang ada pada gawai anaknya itu. Nasya ikut memperhatikan dari jauh. Bima yang ia lihat. Hatinya masih tak percaya bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada Kakaknya sendiri. Ini terlalu mustahil.
Aulia memandangi wajah Bima yang ia peluk. Tangan pemuda itu melingkar hangat di pinggangnya. Namun, pandanganya fokus pada Ayra dan Razka. Sementara Ibrahim palsu itu, menegang. Peluh berjatuhan tak terkendali di dahinya, tubuhnya menggigil ketakutan. Pandangannya kalang kabut tak menentu. Hancur sudah penyamarannya.
Razka membeliak, Ibrahim palsu itu semakin gugup terlihat. Nasya menunggu tak sabar, Bima tetap tenang memeluk Aulia.
Kepala Razka terangkat, melirik Aulia dengan kedua bibir terbelah. Bola matanya beralih pada pemuda yang berdiri dengan tubuh menggigilnya.
"Kau ... anak mereka? Kenapa kau melakukan ini? Kau mencuri kalung milik Ibrahim karena kau tahu itu satu-satunya benda yang bisa kau gunakan untuk menipu kami. Apa sebenarnya yang kalian inginkan?" ketus Razka dengan tangan menuding lurus ke arah Ibrahim palsu itu.
"Tentu saja karena mereka ingin keluarga kita hancur. Aku menyelidikinya terus setelah dia pergi dengan terburu-buru. Ternyata, Ibu mengalami kecelakaan di saat dia pergi menemui ibunya itu," sahut Ayra dengan yakin. Razka benar-benar tak menyangka dia tega melakukan itu.
"Kau ... jadi kau tidak ada di sana saat kejadian itu?" Tubuh Razka gemetar hebat. Yang benar-benar syok saat ini adalah Aulia. Tak pernah ia duga akan tertipu seperti itu. Dia memang selalu lemah dan mudah dimanfaatkan oleh orang lain.
Kepala pemuda itu tertunduk gelisah, ia memainkan jemarinya gugup. Keringat bercucuran hingga di pori-pori telapak tangan. Ia tak mampu menjawab.
"Apa Ibu sudah memeriksa kamar Ibu? Mungkin saja ada yang hilang?" Mendengar suara Ayra kepala penipu itu terangkat kembali dengan matanya yang membelalak lebar hampir melompat keluar. Ayra tersenyum melihat ketakutan di wajahnya.
"Kamar?" gumam Aulia. Ayra mengangguk, kedua matanya menatap Bima yang tetap tenang di tempatnya berdiri. Pemuda itu benar-benar serupa dengan Ayahnya.
__ADS_1
"Periksalah, Ibu!" titah Bima dengan suaranya yang lirih. Aulia berpaling padanya, Bima tersenyum dan memberikan anggukan kecil. Aulia bergegas masuk ke dalam rumah untuk memeriksa.
Bima bergerak cepat saat insting sebagai pengawalnya diuji. Ia mengejar Ibrahim palsu tanpa berniat melepaskannya. Nasya melongo keluar gerbang, hatinya masih saja tidak terima jika Bima adalah kakaknya.
Ayra menenangkan Razka, putri sulungnya itu meminta laki-laki tua di sampingnya untuk duduk di kursi. Ia menurut, mengambil napas pendek-pendek mengurai sesak di dada. Jantungnya sudah ikut menua, berdegup tak terkira.
Aulia datang tergesa membawa kotak kosong yang ia temukan di kamar yang tak terpakai. Wajahnya panik, ia takut ada yang lainnya juga ikut hilang.
"Bagaimana?" tanya Razka sambil menatap wajah istrinya yang tegang.
"Kosong. Uang dan perhiasan hilang entah sejak kapan. Aku tidak pernah memeriksanya," sahut Aulia Dengan panik, "di mana Bima dan penipu itu?" lanjutnya bertanya melirik Razka dan Ayra.
"Penipu itu melarikan diri dan pemuda itu sedang mengejarnya ... ah, maaf, tadi siapa namanya?" Dahi Ayra mengenryit seolah memiliki kenangan tentang nama pemuda itu.
"Bima? Bima ...." Kedua matanya membelalak, teringat kisah yang diceritakan adiknya di saat kecil itu. Buru-buru ia berpaling pada Nasya, dan menghampirinya.
"Dek, apa kau ingat dulu kau pernah bercerita tentang seorang anak yang mirip dengan Ayah saat tersenyum dan memiliki mata yang sama seperti Ibu? Bukankah namanya Bima?" cecar Ayra sambil memegangi bahu adiknya itu.
Nasya tertegun, perasaannya seperti tercabik. Ia patah hati sebelum mencintai. Ia mengangguk kecil menjawab pertanyaan dari kakaknya tanpa berani mengangkat wajah untuk bertatapan.
"Apa dia yang kita cari selama di desa itu?" Ia mengangguk lagi dikala pertanyaan lanjutan dari Ayra kembali terlontar. Ayra menarik tangannya mendekati Aulia dan Razka sambil menunggu Ibrahim yang mengejar penipu itu mereka berdiskusi.
"Ayah, Ibu, apa kalian ingat soal anak yang diceritakan Nasya saat kecil dulu? Kita mencarinya, anak penjaga lahan parkir di pasar saat di desa dulu. Apa kalian mengingatnya?" tanya Ayra menggebu-gebu. Matanya menatap tak sabar pada kedua orang tua yang termangu dalam diam.
"Ayah lupa, sayang," sahut Razka penuh sesal. Matanya berputar pada Aulia berharap wanita itu akan mengingatnya.
__ADS_1
"Apakah anak yang menolong Nasya saat hilang di pasar dulu? Diakah? Ibu mengingatnya karena Ibu pun sempat diam-diam mencaritahu soal dirinya, tapi tak pernah bertemu. Apa kau sebelumnya pernah bertemu dengannya?" ungkap Aulia sedikit meragu di hatinya. Apakah yang dimaksud anak itu?
Razka menoleh menatap istrinya dengan kerutan di dahi. Ia benar-benar tak mengingat ada cerita itu. Apa karena dulu, ia tidak begitu mempedulikan apalagi memperhatikan kisah sang anak? Mungkin saja.
"Benar, Ibu. Dialah orangnya. Selama di desa pun aku terus mencarinya sampai aku dan Nasya berhasil menemukan rumah anak bernama Bima itu, tapi dia telah pindah bersama orang tuanya dan ... dan hanya bertemu dengan laki-laki tua bertatto itu," jelas Ayra mengingat kembali wajah Dewa, sayang wajah tua itu tak jelas dalam ingatannya. Hanya gambar tatto di tangannya saja yang dapat ia ingat dengan jelas.
"Jadi, selama ini kalian ...." Ayra mengangguk cepat menjawab pertanyaan Aulia yang menggantung.
"Hari itu kami baru saja berteman, hari di mana aku akan diculik, tapi keesokan harinya kak Bima sudah tidak lagi menemuiku. Aku bahkan tidak tahu kalau kak Bima pindah dari rumahnya," ucap Nasya lesu.
Bukan karena mengingat kisah itu, tapi mengingat hatinya yang teriris harus menerima kenyataan bahwa laki-laki yang selama ini bersemayam di hatinya adalah Kakak kandungnya yang hilang.
Sakitnya!
Sementara Bima, terus memacu kakinya mengejar penipu itu tanpa lelah. Ia tak menyerah, tak ingin melepaskan orang yang berniat memanfaatkan keluarganya.
Kakinya yang panjang lagi gesit, berhasil menyusul pemuda itu. Ia menarik kerah bajunya dan membantingnya di jalanan. Tubuhnya terpelanting membentur jalanan beraspal. Ia mengaduh kesakitan, melirik ke sekitarnya meminta bantuan.
Lihatlah Bima! Pemuda dengan perawakan tinggi tegap itu, nampak seperti malaikat maut yang bersiap memisahkan nyawa dari raganya. Dadanya yang kembang-kempis seiring napas yang memburu. Ia melangkah, menarik salah satu tangan Ibrahim palsu itu, menyeretnya tanpa ampun.
"Tolong! Siapa saja tolong aku!" Ia buru-buru berdiri menyesuaikan langkah cepat Bima yang menariknya tanpa perasaan.
Banyak orang melihat, tapi tak berani ikut campur. Mereka pikir itu urusan keluarga karena sekilas wajah mereka memiliki kemiripan.
"Tolong! Lepaskan aku! Siapa saja tolong aku, dia ingin membunuhku!" katanya lagi memohon sambil berurai air mata buaya. Sayang, tak ada satu pun yang berani bergerak saat melihat tatapan nyalang dari pemuda yang menyeretnya.
__ADS_1