Bima

Bima
Part. 13


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang sesaat kaki mereka menapak di atas jalanan beraspal kota yang akan mereka tinggali. Hiruk-pikuk manusia memenuhi jagat subuh di kota tersebut. Berbeda sekali dengan desa tempat mereka tinggal dulu. Jika subuh, orang-orang ramai berjalan ke mushola menunaikan jama'ah subuh.


Sementara di kota tersebut, walau adzan telah selesai dikumandangkan, mereka tak kunjung mendatangi tempat ibadah yang terselip di antara bangunan ruko.


Dewa menoleh saat merasakan tarikan pada ujung bajunya. Ia menilik Bima yang fokusnya pada lalu-lalang manusia di terminal tersebut. Bocah itu mendongak menatap manik sang Ayah penuh akan tanya.


"Kagak usah heran, di sini laen ma di rumah dulu. Orang-orang pada cuek ma ibadah, tapi kita kudu kuat iman. Kagak usah, dah, ikut-ikutan mereka." Dewa tersenyum, tangannya mengusap kepala Bima yang memberikan anggukan kepala untuk pernyataan yang ia dengar.


"Sholat subuh dulu, nyok! Noh, mushola di sono!" Ia menunjuk bangunan kecil yang terhimpit bangunan lainnya. Ketiganya membawa langkah mendekati bangunan yang sepi pengunjung itu.


Hanya segelintir orang saja yang terlihat duduk di dalam sana. Bertambah tiga orang musafir yang baru saja menginjakkan kakinya di tanah itu. Beribadah dengan khusyuk meskipun penampilan tak sesaleh mereka.


"Beh, kita ke mana abis ini?" tanya Bima usai menyelesaikan ibadah dua raka'at di dalam mushola itu. Ketiganya menunggu di sebuah warung yang menjual nasi uduk.


"Tunggu temen Babeh, dia mau jemput di mari," ucapnya.


"Memangnya kalian dari mana? Sepertinya kalian baru di sini," tanya pemilik warung dari dalam warungnya.


Dewa meneguk ludah, dari bahasannya saja sudah sangat berbeda. Bagaimana dia harus menjawab. Bingung sendiri khawatir orang-orang di kota itu tidak bisa menerima kehadiran mereka.


"Kami memang baru sampai di sini, Bu. Kami dari desa dan sedang menunggu jemputan."


Bima dan Dewa sama-sama melongo mendengar jawaban lugas dengan bahasa resmi dari lisan wanita yang duduk di antara mereka.


"Tina?"


"Nyak?"

__ADS_1


Tina tersenyum melirik anak dan suaminya yang menatap takjub padanya. Mereka tak menduga bahwasannya perempuan itu dapat mengucapkan bahasa lisan orang-orang tersebut.


"Oh ... pantas saja saya baru melihat pagi ini. Kalau begitu, selamat datang di kota kami!" ucapnya ramah tamah. Ia menjulurkan tangan hendak berjabat dengan Tina.


Wanita luar biasa dan penuh kejutan itu pun tersenyum dan menyambut uluran tangannya.


"Terima kasih. Mmm ... boleh kami beristirahat di sini sebentar sampai jemputan kami datang?" Ia melepas tangannya dengan lembut. Sekalipun terasa kasar kulit telapak tangannya, tetap saja kelembutan hatinya tak tersamarkan olehnya.


"Oh ... silahkan! Siapa pun boleh duduk di sini termasuk kalian, tapi maaf saya harus ke belakang," pamitnya yang dengan cepat diangguki kepala oleh Tina.


"Nyak?" Bima dan Dewa masih menatapnya tak percaya. Mata mereka berkedip melihat sisi lain dari wanita yang saban hari berkata kasar dengan nada tinggi melengking itu.


"Tin ... lu ...?" Tak ada kata terucap dari lisan Dewa. Sungguh dia tak menyangka jika istrinya itu memiliki hal istimewa yang dia sembunyikan darinya selama ini.


"Kenapa, Bang? Kaget, ya?" Cengar-cengir menampakkan deretan giginya yang nampak putih bersinar. Dewa dan Bima mengangguk persis orang yang terhipnotis.


Tina mengibaskan rambutnya, bak model-model iklan shampo di televisi. Dia cantik senyumnya menawan benar-benar mempesona.


"Bukan maen bini gua! Lu emang penuh kejutan, bangga gua jadi laki lu. Kapan-kapan ajarin kita ngomong kaya tadi, ya." Dewa memainkan alisnya pada Bima. Bocah itu mengangguk tanpa merubah kekaguman di wajahnya.


"Nyak mirip anak yang Bima tolong, dia ngomongnya kaya gitu, Nyak. Beda ma kita," celetuk Bima setelah beberapa saat termangu takjub pada wanita itu.


"Oh ... benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Bima dan Dewa kembali melongo, sedangkan Tina tertawa geli.


"Nyak hebat! Bukan maen. Kaya guru bahasa Indonesia Bima di sekolah." Ia tertawa senang. Lagi-lagi Tina mengibaskan rambutnya yang kusut memperagakan para artis di iklan shampo.


"Eh ... ngomong-ngomong lu belajar di mana bahasa kaya gitu? Kagak pernah denger gua lu ngomong begitu," tanya Dewa yang penasaran pada kemampuan Tina, istrinya.

__ADS_1


Wanita itu mengulas senyum, ia memainkan kepala mengejek sang suami yang menunggu jawabannya. Dewa mendengus, keingintahuannya membuatnya sedikit tak sabar.


"Eh ... jawab lu! Malah cengar-cengir kagak jelas begitu," sungut Dewa mulai kesal.


"Sabar, Beh! Sabar! Orang sabar disayang Nyak!" Bima mengusap-usap dada Dewa yang membusung. Mendengar kalimat Bima, ia malah tak terima.


"Eh ... lu ngomong apa? Cuma Babeh yang kudu disayang Nyak lu, orang lain kagak boleh! Awas aja lu, ya!" Dewa menunjuk Tina yang tertawa kecil mendengar perdebatan anak dan suaminya.


"Ups! Maaf, Beh. Bima salah!" Bocah itu tertawa kecil sambil melengos.


"Elah, Bang. Bima cuma becanda kale. Kagak usah dianggep, Tina cuma sayang ama Abang Dewa seorang dan anak kita Bima. Kagak ada yang laen. Sumpah!" Tina mengangkat dua jarinya bersumpah.


Dewa menghela napas, meredakan kekesalan di hatinya. Ia kembali tersenyum saat Tina dan Bima sama-sama memeluk.


Matahari mulai merangkak naik, tapi jemputan mereka tak kunjung datang. Bima yang lelah merebahkan diri di bale-bale dengan kepala yang ia letakkan di pangkuan Tina.


"Bang, mana temen Abang yang mau jemput? Lama amat, sih?" gerutu Tina mulai bosan. Ia ingin segera merebahkan diri di atas lantai. Melonggarkan otot-otot yang kaku karena hampir semalaman duduk di dalam bus.


"Kagak tahu gua. Mana hp gua mati, batrenya lobet." Dewa ikut menggerutu kesal. Ia merasa kasihan pada Bima dan Tina yang nampak lelah. Wajah keduanya lesu, kusut, dan kotor.


Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru terminal. Sebuah mobil mendekat, mobil jenis sedan berwarna hitam itu nampak mengkilat saat terkena sinar matahari. Dewa mengernyit, diam menunggu pengemudi mobil tersebut turun.


"Dewa! Apa kabar, kawan?" Ia merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi hendak berpelukan dengan sahabatnya itu.


"Wah ... lu, Dar, banyak berubah, ya." Dewa menyambut pelukan sahabatnya. Keduanya saling menepuk punggung melepas rindu yang lama tak berjumpa.


"Ini bini gua, Tina. Itu anak gua Bima." Dewa memperkenalkan Tina dan Bima. Temannya itu menelisik wajah keduanya, dahinya mengernyit. Melirik Bima dan Dewa bergantian.

__ADS_1


"Anakmu tampan sekali. Dia pasti akan menjadi rebutan para gadis saat besar nanti. Halo, Nyonya. Saya Darma, sahabat lama suami Anda." Ia menjulurkan tangan pada Tina.


"Tina." Singkat saja. Tak lagi berbasa-basi, ia membawa mereka segera ke kontrakan yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama di kota tersebut. Kontrakan yang lebih kecil dari rumah mereka di kampung, tapi tak apa. Yang terpenting mereka terlindungi dari panas dan hujan.


__ADS_2