
"Hanya untuk satu tahun? Bisakah pernikahan dibuat semacam itu? Bukankah itu sama saja kita mempermainkan ibadah, Pak?" pekik Nasya usai mendengarkan penjelasan dari pria berkacamata di hadapannya.
Tersungging senyum samar di bibirnya yang seksi.
Jika kau tak ingin satu tahun, maka kau akan tetap jadi milikku selamanya, Nasya.
Bergumam dalam hati, itulah yang dia inginkan. Permintaan satu tahun yang diucapkan tadi bukanlah yang sesungguhnya, itu hanya trik agar Nasya setuju menikah dengannya. Setelah itu, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
"Aku tidak ingin memaksamu hidup denganku selamanya jika kau tak ingin. Aku hanya meminta bantuan mengabulkan keinginan wanita renta yang sudah tak lama lagi hidupnya itu. Hanya itu. Setelah itu kau akan bebas jika ku ingin," jelasnya menekan bagian kata tertentu dari kalimat yang ia ucapkan.
Nasya menunduk menghindari tatapan pria yang entah kenapa bertabur cinta itu. Seolah-olah sedang menghujani Nasya dengan kelopak bunga cinta yang indah.
Nasya memainkan jemarinya yang berkeringat di bawah meja. Melipat dan menggigit bibirnya menimbang tawaran dari pria berkacamata itu. Tidak begini, bukan seperti ini pernikahan yang dia inginkan. Dia ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai juga mencintainya. Namun, demi kemanusiaan hati Nasya menimbang. Patutkah ia coba? Sedang mengenal pria itu saja baru beberapa hari meskipun dosen itu telah mengajar beberapa bulan di kampusnya.
Tentu saja tidak dengan pria itu, sudah lama ia memperhatikan Nasya dan hatinya tertarik pada gadis ceria itu. Terlebih, sang Nenek di rumah terus mendesaknya untuk segera menikah. Dia bersungguh-sungguh, tapi tak ingin membuat Nasya terkejut hingga membuat skenario perjanjian itu.
"Bagaimana?" tanyanya disaat Nasya tak kunjung menyahut.
"Bisakah kita tidak terburu-buru? Aku memiliki dua orang Kakak yang belum menikah. Tak mungkin aku melangkahi keduanya. Setidaknya, biarkan aku mengenal Bapak lebih dulu. Tak apa jika Bapak ingin mengenalkan aku pada Nenek sebagai calon istri Bapak, kita bisa bersandiwara," ungkap Nasya antara tak ingin menolak, tapi juga tak bisa menerima dengan mudah begitu saja.
Pria itu tersenyum, memaklumi kekhawatiran Nasya. Baiklah, dia setuju dengan usul gadis kecil itu.
Tapi aku tak ingin bersandiwara, Nasya. Aku ingin memiliki dirimu sebagai istriku kelak.
"Baik. Sepulang kuliah nanti aku akan mengajakmu menemui Nenek. Tolong buat dia terkesan dan berakting lah sebaik mungkin. Jangan sampai Nenek curiga," pintanya tetap dengan sikap yang tenang meski Nasya jelas-jelas menolak.
Gadis berhijab itu hanya mengangguk pelan, ragu. Apakah dia harus berbohong pada Bima? Ah, tidak! Laki-laki itu posesif sekali. Bagaimana caranya dia akan pergi.
"Tunggu aku sepulang kuliah nanti," pungkasnya seraya beranjak dari duduk.
"Eh, tapi, Pak ... Anda harus meminta izin Kakakku dulu. Aku tak bisa berbohong padanya karena dia pasti akan tahu," sergah Nasya yang ikut berdiri dari duduknya.
Pria itu berbalik dan tersenyum, ia mengangguk menyetujui permintaan Nasya.
__ADS_1
"Baik. Bawa aku menemui Kakakmu, kebetulan aku ingin mengenalnya," katanya.
"Kakak ada di taman, apa Bapak akan meminta izin sekarang padanya? Kelas pertamaku sudah terlewat, aku tak mungkin ke kelas sekarang," ucap Nasya sambil menundukkan kepala.
Laki-laki itu mengangguk sambil terus menyunggingkan senyum ke arahnya.
"Baik. Bawa aku menemuinya," ucapnya seraya mengekor di belakang Nasya yang mendahului.
Di bangku taman, Bima sedang berbincang dengan Revan. Anak itu pun pada akhirnya memutuskan masuk universitas yang sama dengan Bima dan Nasya. Mereka sedang menunggu jam pelajaran berganti.
Dahi pria berkacamata itu mengernyit saat melihat pemuda yang duduk di sana adalah pemuda yang kerap bersama Nasya dan dekat dengannya. Seketika rahangnya mengetat, lintasan kedekatan mereka membuat api cemburu menggelora dalam dada.
"Kakak!" panggil Nasya dengan pelan. Bima mendongak, kerutan di dahinya menandakan ia tak senang melihat Nasya. Di belakang gadis itu, sang dosen mengendurkan urat di wajah.
"Nasya? Ngapa lu berkeliaran di jam belajar? Lu kagak ikut kelas?" tanya Bima terdengar tegas dan jelas tak senang. Ia berdiri berhadapan dengannya yang menundukkan kepala.
"Jadi, kau Kakaknya Nasya?" sambar sang dosen menyela dengan cepat. Hatinya merasa lega disaat tahu bawah Bima adalah Kakaknya. Konyol!
Bima mengangkat pandangan, ia tahu siapa laki-laki itu. Dosen baru di universitas tersebut.
Revan hanya diam memperhatikan. Masih duduk di bangku tanpa ingin beranjak sedikitpun.
Mendengar pertanyaan Bima yang mengandung kecurigaan, dosen tersebut tersenyum. Ia melangkah sebanyak dua kali mendekat ke arah Bima.
"Tidak ada. Bisa kita bicara? Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu," pintanya sambil melirik Revan yang berpura-pura tak mendengar mereka.
"Maaf, Pak. Di sini saja, dia sepupu kami. Bukan orang lain," tekan Bima terdengar tak suka dari nada bicaranya. Revan tak acuh.
Mata pria itu melirik Revan, lalu berputar bergantian menatap Nasya dan Bima yang terlihat mirip.
Dia mirip seseorang, tapi siapa? Apa aku melupakan sesuatu setelah sekian lama?
Bergumam dalam hati disaat ia memperhatikan secara lekat wajah Bima yang keras.
__ADS_1
"Baik. Aku ingin meminta izinmu untuk mengajak Nasya menemui Nenek. Beliau ingin bertemu dengan calon cucu menantunya-"
"Calon cucu menantu? Sejak kapan kau mengakui adikku sebagai calon istrimu?!" hardik Bima yang seketika memanas mendengar ucapan dosennya yang ia anggap lancang itu.
Pria itu masih tetap tenang, memaklumi sikap Bima yang mudah emosi. Sama seperti dia saat muda dulu.
"Sejak detik ini, aku menyukai adikmu sudah sejak lama. Hanya saja tak ingin mengganggu waktu belajarnya, tapi Nenek memintaku membawakan calon cucu menantu untuknya sebelum dia pergi. Jadi, bisakah aku membawanya menemui Nenek? Aku berjanji akan segera mengantarnya pulang setelah dari rumah," pintanya lagi masih dengan sikap yang tenang.
Bima menatap tajam ke arahnya, tak mudah meluluhkan hati pemuda itu. Menyangkut kebahagiaan sang adik, ia tak boleh mengendurkan kewaspadaan.
"Kak, ini hanya sebentar. Lagi pula, semua ini demi kemanusiaan. Bukankah kita harus saling tolong-menolong?" ucap Nasya hampir berbisik di telinga Bima.
Pemuda itu memutar kepala, tatapannya yang tajam membuat Nasya kesulitan bernapas.
"Lu lupa beberapa waktu lalu, laki yang lu banggakan, yang lu cinta, lu rindu setiap waktu itu dengan mudah khianatin lu? Ngancurin hati lu? Gua sakit, Nasy. Adik gua disakitin kaya begitu. Gua kagak mau lu sakit kaya dulu lagi," ungkap Bima dengan manik yang menghangat dan penuh cinta.
"Kakak!" Nasya berhambur memeluk Bima. Menangis mendengar ungkapan isi hati sang Kakak yang amat menyayanginya. Revan melirik, tapi tak berkomentar.
"Kau tenang saja. Aku tak akan pernah menyakiti dia. Jika itu terjadi, maka kau bisa langsung membunuhku saat itu juga. Aku hanya ingin membuat hati Nenek senang di penghujung hidupnya. Hanya itu, tidak lebih. Jika Nasya tak ingin hidup denganku, maka aku tak akan memaksanya," ungkap pria berkacamata itu dengan nada tenang.
Bima melepas pelukan, kembali berhadapan dengan dosen tersebut.
"Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" tegas Bima sambil memberikan tatapan tajam ke arahnya.
"Tentu saja. Aku sangat yakin," sahutnya dengan tegas.
Mendengar dan melihat keyakinan dalam manik di hadapannya, Bima mengendurkan urat di tubuh. Ia juga tak ingin terlalu mengekang Nasya, terlebih soal laki-laki yang akan menjadi calon suaminya kelak.
Ia kembali melihat Nasya, mengusap air mata gadis itu dengan lembut.
"Kalo lu suka ama dosen itu gua kagak masalah, tapi lu kudu inget kagak boleh berlebihan. Lu denger?" Nasya mengangguk dengan wajah yang tertunduk.
"Ya sudah, aku izinkan dia pergi bersama Anda, Pak, tapi hanya dua jam. Tidak lebih! Kembalilah sebelum petang." Bima mengalah, ia akan mengawasi dosen tersebut. Tentu saja tak mudah untuknya melepas Nasya bersama orang asing sepertinya.
__ADS_1
"Terima kasih."