Bima

Bima
Part. 75


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau merasa sesak?" tanya Razka beruntun disaat melihat wajah Aulia yang nampak pucat dengan bibir gemetar. Tangannya terasa lembab, ia mainkan. Keringat bercucuran di wajah merembes hingga ke punggung. Entah apa yang sedang terjadi padanya.


"Aul!" Razka memegang tangan istrinya, meremasnya sedikit agar ia menoleh. Wanita itu menggigit bibir gelisah, ia menoleh pada suaminya, air mata menggenang di pelupuk.


"A-aku merasakan kehadiran Ibrahim, Kak. Dia di sini sekarang," katanya lirih dengan getar di lidah. Air mata pun jatuh tak terelakan menghantam pipinya yang sudah mulai menua.


"Ibu! Ada apa? Kenapa memanggilku? Apa Ibu sudah membuatkan ku sarapan?" Pertanyaan beruntun itu membuat Aulia dan Razka sama-sama melempar tatapan ke arahnya. Wajah pemuda itu nampak sumringah tak seperti tadi yang muram dan cemberut.


"Diam di tempat!" sergah Aulia dikala langkah pemuda itu mulai meniti. Ia membeku, menarik kembali kakinya untuk berdiri di tempat semula.


"Ibu!" lirihnya bergetar. Wajah itu ... teramat menyebalkan untuk dilihat. Ia memasangnya untuk mendapatkan perhatian Aulia, tapi kini wanita itu tak lagi peduli. Ia sedang menunggu seseorang yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar di saat berdekatan dengannya.


Sementara Bima masih membantu Nasya menekan-nekan tengkuk gadis itu.


"Cukup, Kak!" sergah Nasya dengan napas tersengal-sengal. Semua isi perutnya terkuras. Bima mengambil sapu tangan miliknya, membantu gadis itu menyeka keringat juga mulutnya yang berair.


"Kenapa lu kagak bilang kalo mabok kaya begini? Liat, muka lu ampe pucat," katanya seraya terus membersihkan keringat di wajah sang Adik. Ya ... dia adik Bima, bukan?


"Aku belum pernah naik motor sekencang itu, kepalaku pusing dan perutku mual," desis Nasya sambil memegangi lehernya yang terasa tak nyaman.


Bima menatapnya bersalah, ia tak tega melihatnya kesakitan seperti tadi. "Tidak usah seperti itu, Kak. Ayo!" Nasya menoleh ke dalam gerbang. Kebetulan ia melihat Ibrahim yang sedang memunggungi mereka.


"Kak, laki-laki itu yang mengambil kalungnya dan dia mengaku-ngaku sebagai Ibrahim anak Ayah dan Ibu yang hilang," tuding Nasya pada punggung lelaki yang masih bergeming di hadapan mereka.


"Di-dia ... bukannya ...." Bima tak sempat melanjutkan kata-katanya.


Dia anaknya Tuan Besar yang songong itu, 'kan? Ngapa bisa dia ngambil kalung itu?


Dahi Bima berkerut, ia masih bertanya-tanya kenapa pemuda itu yang mengambil kalungnya.


"Ayo, Kak!" Nasya menarik tangan Bima untuk masuk ke dalam gerbang.

__ADS_1


"Eh ... tunggu!" Ia melepas tangannya dan melepas helm dari kepala.


Keduanya masuk, Nasya memimpin Bima untuk melabrak pemuda itu. Jantung Aulia semakin berdetak hebat, Razka memicingkan mata tatkala putri bungsu mereka masuk bersama seorang pemuda yang tak lain adalah Bima.


"Ju-juan?" Aulia bergumam.


"Bukan, dia Bima." Razka pula menimpali.


"Hei, pencuri! Kembalikan kalung yang kau ambil kepada Kak Bima karena kalung itu miliknya bukan milikmu!" ketus Nasya menepuk bahu pemuda itu sedikit kuat hingga ia menoleh padanya.


Kalian tidak melihat Bima, ia termangu menatap kedua orang tua yang berdiri di teras rumah tersebut. Kalo ini rumah Tuan Besar dan Nyonya, dan Nasya manggil mereka Ayah dan Ibu, ntu artinya dia adik gua. Ya Allah ....


"Siapa dia? Bukankah dia hanya seorang supir rendahan? Berani-beraninya mengakui sesuatu yang berharga milik orang lain!" Suara tinggi Ibrahim, berhasil mengembalikan kesadaran Bima.


Sementara di teras, Razka menahan tangan Aulia untuk tidak menghampiri mereka.


Pemuda bertubuh tegap itu, melirik dengan mata elangnya yang menghujam tepat di kedua manik milik Ibrahim.


"M-mau apa kau? Berhenti di sana!" cegahnya sambil berjalan mundur dengan kedua tangan mengarah ke depan. Bima tak menyurutkan langkah, ia terus maju membuat Ibrahim mau tak mau berlari ke arah Aulia. Ia bersembunyi di balik tubuh wanita itu meminta perlindungan. Aulia membeku, dengan air mata yang kian deras mengalir.


"Beraninya tangan kotor lu nyentuh tubuh Nyonya!" ketus Bima pula, hatinya gemetar. Ia tak rela Ibunya disentuh penjahat seperti pemuda itu.


"I-ibu ... dia mau menyakitiku. Tolong aku, Bu," ucap Ibrahim memelas pada Aulia. Kedua tangannya meremas daster yang dikenakan wanita itu. Tubuhnya menggigil ketakutan, tapi Aulia bergeming. Kedua matanya tak berkedip menatap Bima yang kian mendekat.


Pegangan Razka di tangannya menguat dikala Aulia melakukan pemberontakan. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.


Bima berhadapan dengan Aulia, ia menatap wanita itu sejenak sebelum beralih pada tangan yang melingkari tubuh itu. Bima mencengkeram kuat tangan lancang itu, meremasnya, membuat sang empu menjerit kesakitan.


"Argh! Ibu, Ayah, dia menyakitiku! Tanganku ... sakiiit!!!" jerit Ibrahim terdengar memilukan.


Namun, Bima tak melepasnya hingga kedua tangan lancang itu terlepas sendiri dari tubuh ibunya. Ia menarik Ibrahim dengan kuat menjauh dari kedua orang tuanya. Bima terus menyeret pemuda itu hingga menuruni teras dan melemparnya tanpa ampun.

__ADS_1


"Berani lu sentuh Ibu gua pake tangan lu yang kotor itu! Jauh-jauh lu dari mereka, gua Ibrahim! Gua anak mereka yang hilang itu, dan kalung yang ada di leher lu ... itu punya gua!" Bima menarik paksa kalung yang melingkar di leher Ibrahim palsu itu. Ia memegangi lehernya sendiri. Selain sakit karena tarikan Bima, ia tak rela digantikan.


Bima menggenggam miliknya itu dengan erat, matanya menyalang menghujam pemuda yang tak berkutik di atas tanah. Nasya? Menganga, ia menutup mulutnya tak percaya. Air matanya jatuh tak tertahankan.


Tidak! Hatiku, cintaku, bagaimana dengan perasaanku? Tidak! Kakak bukan Ibrahim, Kakak tidak boleh jadi Kakakku yang hilang. Tidak!


Kepalanya menggeleng lemah, kakinya lemas seketika menerima kenyataan bahwa Bima adalah Ibrahim, Kakaknya yang hilang.


"Ibrahim?" Suara lirih Aulia, memberikan ketenangan pada hati Bima. Ia memejamkan mata, merasakan sentuhan hangat di belakang tubuhnya.


Aulia memeluknya, menangis, menumpahkan kerinduan pada pemuda itu. Sementara Ibrahim palsu, menganga tak percaya.


"Ibu! Dia berbohong. Akulah Ibrahim, Ibu. Aku! Dia berbohong, dia hanya ingin hidup enak bersama kalian dengan mengaku-ngaku sebagai Ibrahim. Ibu ... jangan tertipu olehnya, dia pendusta!" teriaknya kuat-kuat.


Ia beranjak dan berjalan cepat ke arah Bima, mencengkeram tangan Aulia dengan kuat. Jeritan dari belakang tubuhnya membuat Bima membuka mata. Kedua bola matanya menjegil pada tangan yang kembali lancang meremas ibunya.


Bima mencekal tangan itu sebelum ia berhasil menarik Aulia. Meremasnya kuat-kuat hingga terlepas.


"Kurang ajar! Udah gua bilang jangan sentuh Ibu gua! Apa perlu gua bogem kuping lu itu!" hardik Bima memutar tangan itu hingga terangkat ke atas. Ia menjerit, air matanya merembes. Memohon meminta dilepaskan.


Sementara Aulia, tetap memeluk Bima. Air mata Razka jatuh dengan sendirinya karena terharu mendengar Bima yang berkali-kali menyebut Aulia Ibu tanpa segan lagi.


"Jauh-jauh lu dari sini! Mau gua laporin ama polisi lu, hah? Biar busuk lu di dalam bui!" bentak Bima sambil mendorong jauh tubuh pemuda itu hingga menghantam pagar gerbang. Tangannya melingkar memeluk tubuh Aulia tanpa memalingkan pandangan dari pendusta itu.


Mendengar suara ribut, Ayra yang sedang bersiap di kamar berhambur keluar dan melihat pemandangan yang luar biasa itu. Ia melirik Nasya yang menangis sambil bersandar pada dinding gerbang. Menatap Aulia yang memeluk seorang pemuda, juga melirik Razka yang mematung di dekat kursinya.


"Apa bukti jika kau memang Ibrahim?!" tantang Ibrahim palsu dengan tubuhnya yang menegak.


Razka nampak tidak suka, begitu pun dengan Ayra.


"Mungkin ini bisa menjadi bukti jika kau bukanlah Ibrahim!"

__ADS_1


__ADS_2