
Di waktu yang sama di mana Bima membawa Khaira. Nasya tengah duduk menyelesaikan tugas bersama teman-temannya.
"Nasya, laki-laki yang memanggilmu tadi siapa? Apa benar itu Kakakmu? Dia mirip sekali denganmu," tanya salah satu dari teman Nasya untuk ke sekian kalinya.
Gadis itu memutar bola mata malas, belajar kelompok kali ini tak lepas dari membahas soal Bima. Ia jengah meladeni pertanyaan yang sama dilontarkan teman-temannya secara bergantian.
"Aku sudah katakan dia Kakakku. Ada apa dengan kalian? Kenapa sedari tadi terus bertanya soal Kakakku? Siapa dia? Benarkah dia?" sungut Nasya mempraktekkan bagaimana cara mereka bertanya.
Ketiga temannya itu terkekeh melihat bagaimana Nasya bersungut-sungut. Wajah-wajah mereka merona secara tiba-tiba disaat bayangan Bima yang memanjakan Nasya melintas dalam benak.
"Dia tampan, Nasy. Kenalkan pada kami, siapa tahu salah satu di antara sahabatmu ini menjadi kakak iparmu kelak," gurau mereka disambut tawa renyah saat Nasya membulatkan mata dengan mulut menganga lebar. Tidak mungkin.
Namun, detik berikutnya, ia menghendikan bahu. Berbohong saja supaya mereka berhenti membahas soal Bima.
"Kakakku tipe pemilih. Ia jarang berbicara terlebih pada orang asing. Soal wanita, calon Kakak iparku bahkan sangat cantik dan tak banyak bicara. Sama persis sepertinya. Mereka itu sama, ibaratkan kita sedang bercermin. Nah, Kakakku dan calon istrinya seperti itu. Kalian faham?" Nasya melempar tatapan pada mereka satu per satu. Menegaskan lewat sorot mata apa yang baru saja ia katakan. Padahal, belum tentu benar.
"Yah ... patah hati sekampus, dong!" seru ketiganya secara kompak. Nasya manggut-manggut dengan ekspresi membenarkan.
Mereka saling memandang satu sama lain dengan kedua bahu yang turun dari tempatnya. Bibir yang sejak terbuka karena tawa dan senyum, kini mengatup dan maju sekitar lima centi. Dalam hati Nasya tertawa riang, merasa menang karena telah berhasil mempermainkan ketiga temannya.
"Tapi tunggu! Kita masih punya kesempatan untuk mendapatkannya selama janur kuning belum melengkung." Nasya menjatuhkan rahang tak percaya, sebegitu tertarikkah mereka pada Bima?
"Bener. Kau benar, kita masih punya waktu untuk melengserkan posisi calon istrinya," sambut yang lain dengan semangat membara. Nasya memutar bola mata tanpa merubah ekspresi terkejutnya. Berbohong pun percuma karena mereka tetap saja bersemangat membicarakan soal Bima.
"Kita hanya harus mencari cara bagaimana agar kita bisa mendapatkan simpatinya," timpal yang satunya membuat lesu Nasya.
__ADS_1
"Selamat berjuang!" katanya lemah sambil menjatuhkan kepala di atas meja. Ia menyeruput jus miliknya mendinginkan kepala yang memanas akibat obrolan ketiga temannya. Ia menyibukkan diri dengan gawai berbalas pesan dengan sang kekasih. Bibirnya tersenyum, lupa sudah pada ketiga temannya.
Sementara mereka terus tertawa, menghayal soal Bima. Beruntung, tugas telah selesai dan mereka berniat menghabiskan waktu bersama sebelum pulang ke rumah. Camilan di atas meja raib tanpa sadar akibat terhanyut dalam obrolan yang fiktif. Sampai ....
"Nasy! Kau harus melihat ini! Angkat kepalamu dan coba lihat di atas panggung sana!" pinta salah satu temannya. Nasya yang jengah karena obrolan pesan dengan Revi pun telah diakhiri laki-laki itu.
"Kakakku belum datang, aku belum memberitahunya untuk menjemput," ucap Nasya kembali tanpa semangat.
"Bukan Kakakmu, Nasy. Revi! Coba kau lihat Revi sedang melamar seorang gadis. Siapa dia? Ah, dia teman kak Yola!" seru yang lain sembari menutup mulut tak percaya.
Nasya terburu-buru mengangkat kepala, memutarnya ke arah panggung. Tangannya mengepal erat, memukul meja dengan kuat.
Di sana, laki-laki bernama Revi sedang berlutut di depan seorang gadis dengan sebuah bunga mawar di tangan. Ia memegang sebuah mik di tangannya yang lain untuk mengeraskan suara.
"Lina, maukah kau menjadi kekasih dari laki-laki yang telah lama menyendiri ini? Aku berjanji hanya mencintaimu seorang. Terimalah cintaku!" ungkapnya.
Ia melirik gelas-gelas jus yang masih berjajar di atas meja, bangkit dengan cepat sambil menyambar salah satu gelas yang masih berisi setengahnya.
"Nasya!" Ketiga temannya memekik. Salah satu dari mereka menyambar ponsel Nasya dan merekam apa yang terjadi di cafe tersebut. Video yang dikirim kepada Bima. Memperlihatkan Nasya yang sedang berjalan ke atas panggung menghampiri kedua sejoli yang sedang menjadi sorotan. Tanpa segan melempar jus tersebut ke arah si laki-laki.
Nasya berdiri di atas panggung, tangannya masih mencengkeram erat gelas yang baru saja ia siramkan pada si laki-laki brengsek itu.
"Kau bilang mengantar Mamah ke rumah sakit? Kau sibuk karena tak dapat menemuiku di cafe ini, tapi ternyata kita berada di satu cafe yang sama. Kau memang sialan! Benar apa yang dikatakan Kakakku, kau laki-laki brengsek!" ucap Nasya dengan suara yang lantang.
Ia melempar gelas di tangan melayang tepat di kepala Revi jika saja laki-laki itu tak berhasil menghindar. Wanita yang baru saja berbunga-bunga ternganga kesal melihat kelakukan Nasya yang menurutnya tak tahu malu.
__ADS_1
"Hei! Gadis sialan! Siapa kau? Datang-datang mengganggu." Tangannya sigap mendorong tubuh Nasya hingga mundur beberapa langkah. Gadis berhijab kesayangan Bima itu, menoleh cepat ke arahnya. Dia tahu siapa itu kelompok Yola.
"Tentu saja aku mengganggu karena tiga hari yang lalu dia berjanji yang sama kepadaku. Lalu, sekarang dia mengatakan janji itu padamu. Apa kau mau dipermainkan laki-laki bajingan seperti dia?" teriak Nasya dengan lantang.
Sementara laki-laki itu masih terdiam, malu dan marah menjadi satu. Juga ada rasa tak enak pada Nasya. Yola bertepuk tangan sambil menaiki panggung bersama satu temannya lagi.
"Bukankah kau gadis yang diselamatkan Bima waktu itu? Oh, kebetulan ... aku masih memiliki dendam kepadamu. Kau iri padanya karena dia lebih cantik, seksi dan menarik daripada dirimu yang urakan dan tak tahu diri. Aku benar, bukan ... Revi?" Yola memainkan jari telunjuknya di dada laki-laki itu. Mengedipkan mata dengan nakal menggoda pertahanannya.
"Be-benar. Dia benar, Nasya. Aku butuh pendamping sepertinya. Apa yang aku ucapkan padamu, hanyalah main-main. Kau yang terlalu terbawa perasaan saja, jadi bukan salahku jika aku mencari yang lebih menarik daripada dirimu," ucap Revi dengan tegas.
Wanita itu tersenyum penuh kemenangan, ia mendatangi Revi dan melingkarkan tangan di lengannya. Mengejek Nasya yang seketika terdiam dengan air mata yang jatuh berderai.
"Kau memang brengsek!" Tangan Nasya terangkat, tapi cepat ditangkap Yola. Ia menyudutkan gadis itu ke dinding dan menekan kuat rahangnya.
"Nasya!" Ketiga temannya memekik, tapi dihadang saat ingin menghampiri.
"Tidak ada Bima di sini. Haha ... itu artinya tidak akan ada yang menyelamatkanmu, gadis sialan!" Ia menekan cengkeramannya membuat Nasya meringis.
"Kak Bima pasti datang. Kakakku pasti akan datang! Lihat saja, bisa apa kalian jika dia telah datang?" cibir Nasya sambil tersenyum setelah melirik seorang laki-laki berwajah sangar memasuki cafe.
Tak ada kata, hanya langkah lebarnya yang terus berderap memasuki cafe, terus menaiki panggung. Kedua tangannya menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan. Wajahnya menghitam menyeramkan. Ketiga teman Nasya yang melihat meneguk ludah dengan susah payah.
"Mati kalian!" umpat salah satunya. Revi membelalak melihat kedatangan Bima yang bagai seorang aljogo itu. Bola matanya melebar ketika melihat tangan kekar itu menjambak rambut Yola, menariknya dengan kuat hingga cengkeraman tangan di rahang Nasya terlepas.
Wanita angkuh itu menjerit, meringis sambil memukul-mukul tangan Bima yang menyeret rambutnya hingga keluar cafe.
__ADS_1
Bugh!