Bima

Bima
Part. 78


__ADS_3

"Cukup! Kau anakku, tidak ada yang bisa menggantikan posisiku sebagai ibu kandungmu. Tinggalkan mereka dan kembali pada keluargamu sendiri, Ibrahim!"


Bagai disambar petir di siang bolong, dada Bima bergemuruh. Gelak tawa yang tadi terdengar hangat dan akrab sekejap saja raib bersama datangnya suara tinggi Aulia.


Senyum-senyum merekah yang baru saja nampak di wajah ketiga anak itu, kini berganti muram dan durja. Terutama wajah pemuda yang antusias bercerita tentang kehidupannya. Wajah hangat dan manisnya kini nampak datar dan dingin. Sedingin kutub Utara yang tak tersentuh sang mentari.


"Aul! Kau seharusnya tidak bicara seperti itu!" tekan Razka yang juga terkejut mendengar suara Aulia yang meninggi. Saat menoleh, wajah yang biasanya damai itu kini memerah marah. Inilah yang dia takutkan, ini yang dia wanti-wanti disaat istrinya itu tahu perihal Bima sesungguhnya.


"Kenapa? Aku yang mengandung dan aku yang melahirkannya. Aku yang lebih berhak atas dirinya bukan mereka!" bentak Aulia tidak terima dengan pernyataan Razka yang terkesan menjauhkan dirinya dari anak yang ia rindukan.


Razka menggeleng, ia melirik Bima yang termangu dengan mata menjegil tak percaya. Ayra dan Nasya pun sama-sama tak mengerti mengapa Ibu mereka bisa semarah itu. Tidak ada yang salah dari kisah yang diceritakan Bima tadi. Disambung dengan cerita Nasya meskipun harus menekan rasa dalam hatinya kuat-kuat.


Laki-laki tua itu menunduk, memijit kepalanya yang terasa pening secara tiba-tiba. "Kau egois, Aul," katanya lirih.


Napas wanita yang tengah berdiri itu terdengar memburu, ia tengah dikuasai api amarah dan keegoisan. Aulia yang tenang dan bijak, kini hilang sudah. Mungkin karena kerinduannya pada sang putra, ia ingin menarik Bima untuk hidup dengannya.


"Egois?" Aulia tertawa meremehkan. Bima memicing tidak suka, lain sudah pandangannya terhadap wanita itu. Namun, dalam hati ia bisa merasakan seperti apa sesungguhnya Aulia itu. Akibat jatuhnya Ibrahim ke dalam jurang, trauma itu masih membekas hingga merubah sedikit karakternya yang dulu lembut. Ia selalu diselimuti ketakutan, takut akan hal buruk yang selalu mengintai di setiap sisi anak-anaknya.


"Sembilan bulan aku mengandungnya, aku pertaruhkan nyawaku saat melahirkannya, dan mereka yang bukan siapa-siapa ingin mengakuinya? Ingin mengambil hati dan dirinya dariku? Lalu, bagaimana dengan aku? Perasaanku sebagai Ibu? Hatiku yang selama ini merindu? Tidakkah Kakak pikirkan?" Berderai air mata di pipinya.


Razka menekan kepalanya yang terasa semakin pening. Betapa ia mengerti perasaan Aulia, tapi tidak seperti itu caranya. Nasya dan Ayra hanya terdiam, dalam hati kecil mereka tak setuju dengan sikap yang diperlihatkan Aulia.


Lihat saja Bima! Ia nampak tidak senang dengan sikapnya. Wajah datar itu, begitu menyeramkan untuk dilihat. Ia masih diam, menimbang rasa dalam diri, mengukir kata yang pantas untuk dia ucapkan. Bagaimanapun, Aulia adalah ibu kandungnya.

__ADS_1


Wanita yang masih diselimuti kecemburuan itu, memalingkan wajahnya pada Bima. Pandang mereka bertemu sekilas, tapi Bima gegas membuang wajahnya. Hal itu membuat hati tua Aulia berdenyut.


"Baim! Nak! Perlu kau tahu seperti apa perjuangan Ibu dalam meyakinkan hati bahwa kau masih hidup. Sekalipun mereka memaksa Ibu untuk menganggapmu mati seperti yang mereka katakan, tapi hati Ibu tidak bisa menerimanya. Hati ini selalu berkata, kau, anak Ibu masih hidup. Ibrahim-ku masih hidup. Kembali pada Ibu, Nak. Ibu akan memberikan berapa pun yang mereka pinta ... apapun, yang penting kau tetap di sini," pinta Aulia semakin memelas.


Berharap dalam hati Bima akan memenuhi harapannya. Air matanya semakin deras terlihat, ia lemah. Memang lemah, tapi tidak seperti itu caranya. Bagaimana perasaan Dewa dan Tina jika mendengar apa yang dia ucapkan saat ini. Keduanya tak akan bisa menerima, tentu saja.


Mendengar kalimat akhir Aulia, Bima menggeram tertahan. Hatinya serasa diremas-remas, perih tak terkira. Selama ini Dewa dan Tina begitu tulus menyayanginya, bukan uang atau harta yang mereka inginkan sebagai imbalan. Mereka bukanlah manusia serakah dan bukan pula manusia yang suka memanfaatkan keadaan.


Bima yang sejak tadi diam, pelan-pelan beranjak berdiri. Ia menghadap Aulia, tapi pandangan ia buang ke tempat lain. Menguatkan hatinya demi janji yang telah ia ucapkan pada kedua lansia di rumah sederhana mereka.


Bima tak lupa bagaimana perjuangan Dewa yang rela meninggalkan kampung halaman dan menjual satu-satunya harta yang ia miliki hanya demi memberikan kehidupan yang lebih layak untuk dirinya.


Bima tak lupa dengan tangisan Tina di waktu kecil setiap kali melihat luka di tubuhnya. Wanita itu bahkan tak peduli pada jarinya yang teriris disaat ia membuat sapu lidi yang penting baginya bisa menghasilkan uang untuk jajan anaknya itu.


"Maafkan saya, Nyonya ...." Kalimatnya terjeda, Aulia termangu mendengar panggilan Bima untuknya. Tidak! Bukan seperti ini. Jangan begini! Razka mengangkat wajah menatap putranya itu, Nasya dan Ayra pun tak lepas dari wajah dingin dan datar yang ditampilkan Bima.


"Anda memang telah melahirkan saya, tanpa Anda saya tak akan mungkin ada di dunia ini. Saya tidak mengingkari hal itu. Akan tetapi, Anda jangan lupa ada campur tangan orang lain dalam pertumbuhan saya. Mereka memang bukan orang tua kandung saya. Wanita tua di rumah sana bukanlah yang melahirkan saya, tapi lewat tangannya saya merasakan suapan pertama yang dipenuhi cinta dan kasih yang melimpah."


Bima memutar pandangan menatap Razka yang terdiam.


"Juga laki-laki tua di rumah itu ... saya memang bukan benihnya, bukan keturunannya, tapi ia rela berjuang siang dan malam, peras keringat banting tulang, hanya untuk memberi saya makan. Apa saja dia lakukan agar saya tetap sekolah. Katanya, biar lu jadi orang kalo udah gedenya. Katakan! Katakan pada saya, balasan seperti apa yang setimpal untuk semua cinta, kasih sayang, juga pengorbanan waktu yang mereka gunakan untuk merawat saya seumur hidup mereka?"


Semua orang bungkam mendengar penuturan Bima yang bergetar.

__ADS_1


"Sekalipun kalian memberikan seluruh harta kepada mereka, saya yakin bukan penerimaan yang akan kalian dapatkan. Bukan ucapan terima kasih yang akan kalian dengar, tapi sumpah serapah karena merasa direndahkan dan dihina. Kalian orang-orang kaya, dari dulu selalu memandang rendah Nyak dan Babeh. Nama gua Bima, anaknya Babeh Dewa. Gua kagak bakal ninggalin mereka."


Air mata Bima jatuh saat mengingat wajah tua keduanya itu menangis karena harus berpisah darinya. Ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah Razka. Mendengar kalimat akhir Bima, tak ada yang tak menangis.


Ayra mengejarnya, disusul Aulia yang tak rela kehilangan Bima lagi. Razka sendiri tak tahu harus apa? Ini semua karena kata-kata Aulia yang tak seharusnya terucap.


"Baim, tunggu!" Ayra memanggil.


"Ibrahim! Jangan pergi, Nak! Jangan tinggalkan Ibu!" Aulia pula ikut berteriak memanggil anaknya.


"Kakak!" Nasya berlari menghampiri. Ia menepis rasa yang tak lazim di hatinya dan mengejar Bima.


Pemuda itu tak mengacuhkan, ia mendekati motornya tanpa berpaling sedikit pun. Mengenakan helm dan menghidupkan mesin motornya.


"Kakak! Aku mau ikut Kakak!" Nasya memegangi tangan Bima, matanya yang basah memohon agar Bima mengiyakan keinginannya.


Namun, laki-laki itu justru melepas tangan Nasya dan tanpa kata ia melesat bersama motornya.


"Kakak!"


"Baim!"


"Ibrahim!"

__ADS_1


Ketiga orang itu berteriak secara bersamaan memanggil nama pemuda yang pergi dalam keadaan marah itu.


__ADS_2