
Hari-hari berlalu dengan cepat, tiga bulan sudah berlalu. Hari yang ditunggu Bima pun akan segera tiba. Seluruh persiapan telah rampung, Ayra dan Nasya bersemangat dalam menyiapkan semuanya.
Dery dan Riza bahkan menunda kepulangan mereka demi menghadiri pesta pertunangan Bima sekaligus berkumpul bersama keluarga besar melepas rindu. Rumah sederhana Bima dipenuhi barang-barang yang disiapkan Ayra juga Nasya. Semakin sempit terlihat hingga untuk duduk saja mereka harus memilih tempat.
"Apa lagi yang harus kita beli, Kak?" Nasya meletakkan jari telunjuknya di dagu. Berpikir apa lagi yang kurang dan patut mereka beli. Bima menggelengkan kepala malas.
"Lu mau bikin rumah Nyak sumpek ama barang-barang? Ini aja udah menuhin rumah mau lu tambah lagi," sungut Bima menunjuk barang-barang yang telah disusun menggunung di ruang tengah. Memang mereka pikir rumah Khaira sebesar apa hingga dibawakan barang sebanyak itu?
Nasya memperlihatkan deretan gigi hingga gingsul miliknya mencuat ke permukaan. Persis Emilia jika ia tersenyum. Bima berdecak seraya melengos ke kamar mengabari Khaira yang belum diberitahunya.
"Kakak!" Nasya memekik saat melihat Ayra berlari terburu-buru ke kamar mandi. Nasya berlari menghampiri, ia meringis melihat Ayra yang memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kakak!" Bima terlihat panik. Ia masuk ke kamar mandi dan memberikan pijatan-pijatan lembut di tengkuk sang Kakak.
"Gimana? Udah mendingan?" tanya Bima menatap cemas Ayra yang pucat dan berkeringat.
Wanita itu mengangguk lemah, seraya berpegangan pada bahu Bima. Pemuda itu membawa Ayra duduk di bangku dapur. Nasya sigap memberikan segelas air hangat padanya.
"Telpon kak Briant, cepat!" titah Bima pada Nasya yang termangu menatap sang Kakak. Ah, sialnya. Aulia dan Tina tak ada di tempat, mereka tengah pergi bersama membeli sesuatu, katanya.
Cepat-cepat Nasya menunaikan perintah Bima. Pemuda itu bertambah panik disaat Ayra semakin lunglai terkulai di atas meja dapur.
Ketiganya menunggu Briant.
Deru mobil laki-laki itu terdengar, gegas Bima mengangkat tubuh Ayra dan membawanya ke depan. Kondisi Ayra terlihat lemah dan pucat. Briant tersentak saat melihat istrinya dibopong Bima ke mobil.
Tanpa banyak kata, Briant menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Membawa Ayra ke IGD untuk mendapatkan penanganan dari sang ahli. Menunggu dengan sabar di depan ruang darurat tersebut.
"Siapa suami Nona?"
"Saya, Dokter!" Briant berdiri cepat disaat suara dokter terdengar.
"Ikut saya!" Tanpa melirik Nasya dan Bima ia mengikuti dokter memasuki ruang IGD.
"Kak, kira-kira Kakak kenapa? Aku takut," tanya Nasya sambil meringis.
"Kagak tahu gua, kalo tahu udah gua obatin tadi di rumah," ucap Bima diikuti decakan lidah kesal. Keduanya menunggu dengan cemas hingga terlupa untuk menghubungi Aulia ataupun Tina.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" sambar Aulia disaat ia melihat Bima dan Nasya yang terduduk gelisah.
"Kami tidak tahu, Ibu. Kakak terlihat lemas tiba-tiba tadi, Kakak juga muntah-muntah hebat." Nasya menunduk usai menjawab pertanyaan Aulia.
Mendengar suara tawa sang Ibu, kedua wajah polos itu terangkat. Semakin bingung saat melihat Tina dan Aulia tersenyum tanpa terlihat cemas.
Pintu ruangan terbuka seorang dokter keluar diikuti Ayra yang digandeng Briant. Bima dan Nasya lekas berdiri menghampiri Kakak mereka. Benar-benar polos, keduanya bahkan masih terlihat cemas meskipun Ayra sendiri tersenyum senang.
"Kakak tidak apa-apa? Apa yang sakit?" tanya Nasya panik.
"Kakak kalian tidak sakit," sahut dokter sambil tersenyum gemas melihat ekspresi wajah Nasya dan Bima.
"Kalau kagak sakit, terus kenapa muka Kakak pucet kaya begitu?" Bima mendelik tajam tak terima dengan keterangan dari dokter.
"Kakak kalian memang tidak sakit, Ibu yakin dia sedang hamil saat ini. Benar, bukan, Dokter?" timpal Aulia sambil tersenyum bahagia.
Anggukan kepala dokter membuat Nasya dan Bima termangu beberapa saat sebelum bersorak seperti anak kecil.
"Yeay ... keponakan!" Mereka bahkan melakukan tos dan berjingkrak riang. Ayra diselimuti kebahagiaan yang tiada tara, ia menjatuhkan kepala di bahu Briant sambil mengukir senyum.
Sebelah tangannya mengusap perut sambil bergumam dalam hati. Ibu, kau akan menjadi Nenek sebentar lagi. Aku sedang mengandung cucumu, Bu.
Keesokan harinya, iring-iringan mobil Pratama Grup menghebohkan seluruh kota. Para penduduk yang tinggal di desa Khaira bahkan berbaris di jalan seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Padahal, tak ada yang tahu jika yang akan datang melamar adalah dari keluarga Pratama Grup.
Khaira dan Ibu yang menyambut bahkan menahan napas melihat deretan mobil terparkir di jalanan sempit itu.
"Sebenarnya siapa yang akan melamarmu? Bukankah nak Bima? Tapi itu mobil milik Pratama Grup?" Ibu bertanya bingung.
"Mungkin karena kak Bima adalah pekerja mereka," sahut Khaira mencoba kemungkinan.
Namun, detik berikutnya membuat kedua mata Khaira terbelalak, disaat seorang pemuda yang dulu hampir melecehkannya keluar dari mobil diiring kedua orangtuanya.
Wajah gadis itu berkedut, ia terpaku di tempat. Tidak mungkin! Semalam yang mengabarinya adalah Bima, bukan Revan! Hatinya menolak. Ia yang hendak beranjak meninggalkan teras rumah, dihentikan sang Ibu. Meski memelas, tangan Ibu tak urung melepaskan jua.
"Kami datang membawa calon suamimu, Ara!" seru Revan.
Kepala wanita yang menunduk itu terangkat dengan cepat, senyum Revan menyambut. Keempatnya menyingkir dan memberi jalan pada Bima yang diapit Aulia dan Tina. Di depan calon suaminya itu Razka berjalan dengan gagah.
__ADS_1
Desas-desus dari mulut-mulut tetangga pun tak terelakan. Kebanyakan dari mereka menyebut Khaira beruntung. Dia adalah sosok Cinderella di masa kini. Seorang gadis biasa dipinang orang nomor satu di kota tersebut.
"Ibu!" Kali ini tangan Khaira yang mencengkeram lengan sang Ibu. Ia gugup karena Bima datang bersama majikannya. Kenapa? Apa karena Babeh sudah meninggal hingga Razka menggantikan posisinya?
"Assalamu'alaikum!" ucap Razka dengan sopan.
"Wa'alaikumussalaam! Tuan, selamat datang di gubuk kami. Maaf, kami tidak tahu jika Tuan Besar yang akan mengantar nak Bima lamaran. Silahkan, Tuan!" ungkap Ibu dengan sopan. Ada rasa tak enak dari nada yang ia ucapkan karena memang mereka tak tahu jika Bima adalah anggota keluarga Pratama Grup.
"Terima kasih," sahut Razka seraya membawa kakinya melangkah masuk diikuti Bima, Aulia dan Tina menyusul sisanya, meski sebagian harus tetap berada di luar karena tempat yang tak memungkinkan untuk mereka masuki.
"Tuan, maaf hanya seadanya. Kami benar-benar tidak tahu jika kak Bima akan datang bersama Anda," ungkap Khaira benar-benar tak enak hati.
"Jangan sungkan, Nak. Seorang Ayah sudah pasti akan mengantar anaknya untuk pergi melamar. Sudah diterima saja kami sudah sangat berterimakasih," tutur Razka.
Terkejut Khaira dan Ibu mendengarnya.
"A-ayah?" ulang mereka bersama-sama.
"Benar, Ara, Ibu. Beliau Ayahku, maaf karena tidak memberitahu kalian soal ini," timpal Bima menjelaskan.
Khaira yang mendengar, tertunduk segera. Bagaimana ini? Itu artinya selama ini, Tuan Besar mengawasiku? Ah, adakah kesalahan yang aku buat selama bekerja di sana? Ya Allah ... aku malu sekali!
Teringat ketika Razka menanyainya soal Bima saat interview dulu. Baru sekarang tahu jika jawaban atas pertanyaan dulu begitu penting untuk Razka. Oh, tidak! Khaira menggigit bibir menahan gugup dan gelisah.
"Tidak apa-apa, bisa kita mulai acaranya?" ucap Razka yang diangguki Ibu dan keluarga Khaira yang lainnya.
Dimulailah acara lamaran itu, mengikat gadis sederhana berparas cantik dengan sebuah cincin berlian yang dibeli Bima sendiri. Sekali lagi mereka diliputi rasa bahagia akan bertambahnya anggota keluarga.
Khaira diterima dengan baik dalam keluarga itu. Namun, ia telah memutuskan, akan tinggal di rumah Tina mengikuti Bima setelah menikah nanti.
"Sebentar lagi menyusul gadis kecil kita ini!" seru Revan menggoda gemas Nasya yang tertawa riang.
"Jangan dulu! Masih banyak jomblo sepuh di keluarga kita, Revan. Kau lihat mereka! Aku menunggu mereka lebih dulu!" Nasya menunjuk deretan para jomblo yang tanpa mereka sadari sedang duduk berbaris.
Akmal, Farel, dan Lucy berwajah masam. Mereka melengos kesal, tapi Revan dan Nasya justru tertawa puas.
Berbahagialah, kalian. Semoga terus bahagia.
__ADS_1
TAMAT.