
Di rumah sederhana itu, raungan seorang wanita menggema hingga keluar. Jerit penuh luka diperdengarkannya pada dunia tanpa segan dan penuh derita. Nada kekecewaan mengalun pilu dari sosoknya yang tak lagi muda, takut pada sesuatu yang sudah dipastikan kedatangannya.
Bima gegas berlari memasuki rumah, mendengar suara tangisan Tina ia menyerobot masuk ke kamar orang tuanya.
"Nyak?" Kedua matanya membelalak, jantungnya ikut berdegup kuat, mendapati Tina yang sedang menangis memangku Dewa di atas lantai.
"Bima! Tolongin Babeh lu, dia pingsan." Wajah tua itu dibanjiri air mata. Bima memposisikan dirinya memunggungi mereka berdua.
"Taro Babeh di punggung Bima, Nyak!" pinta Bima dengan cepat. Pelan-pelan Tina meletakkan kedua tangan Dewa di atas pundak putranya itu. Bima menarik tubuh tak berdaya Dewa bersiap menggendongnya.
"Kita ke rumah sakit, Nyak!" katanya lagi seraya beranjak berdiri dengan Dewa di belakang tubuhnya. Tina mengambil dompet dan menyambar kerudung instan yang selalu ia kenakan itu sebelum menyusul Bima keluar rumah.
Kaki rentanya tak lagi gesit di saat ia ajak berlari. Tulang-tulang dalam tubuhnya telah rapuh dan ringkih, mudah sekali terserang linu. Ia membukakan pintu mobil bagian belakang, membantu Bima meletakkan tubuh Dewa di dalamnya. Disusul dirinya yang juga ikut masuk, duduk bersama suaminya itu.
Tak ingin menunda waktu lagi, Bima bersegera menjalankan mobil itu menuju rumah sakit. Tak ingin terlambat, perasaan buruknya tak pernah salah jika menyangkut tentang Dewa dan Tina.
Bertahan, Beh! Bima mohon!
Hatinya memohon tiada henti. Ia melirik Tina yang memeluk tubuh suaminya di belakang sambil tak henti mengucurkan air mata dari tempatnya. Bima menambah kecepatan, menyalip beberapa kendaraan di depannya, ia akan berhenti hanya pada saat lampu jalan berubah merah.
Bima kembali mengangkat tubuh Dewa setelah mobil ia parkir di depan rumah sakit. Bersama Tina memasuki lobi dan berteriak memanggil para petugas medis.
"Dokter! Tolong Babeh saya! Suster!"
Beberapa perawat dan dokter datang tergopoh, di antara mereka ada yang mendorong brankar. Dewa diletakkan di atasnya, dokter memeriksa sebentar dan memutuskan.
__ADS_1
"Bawa ke ruang ICU, pasien mengalami gagal napas!" titahnya sebelum berbalik kepada Bima dan Tina.
"Anda bisa mendaftar terlebih dahulu, sementara pasien akan kami tangani segera di ruang ICU," pintanya pada Bima dengan tangan menunjuk pada tempat bertuliskan pendaftaran. Dokter melirik jas yang dikenakannya, hafal dengan logo yang terdapat di sisi kanan jas tersebut.
"Nyak ikutin Dokter aja, biar Bima yang urus semuanya," ucap Bima pada Tina. Wanita tua itu mengangguk patuh, gegas mengayun kedua kaki membuntuti dokter yang lebih dulu berjalan.
Sementara Bima pergi ke pendaftaran mengurus semuanya. Ia menyusul setelah bertanya arah ruang ICU. Duduk memeluk Tina, menunggu dokter selesai menangani Dewa.
Moga Babeh kagak kenapa-napa, ya Allah. Selametin Babeh Bima, ya Allah. Bima masih butuh Babeh.
Tak henti hatinya melangitkan doa untuk Dewa. Sejujurnya, walaupun tabir yang menghalangi keberadaan orang tuanya mulai terkuak, Bima tak ingin berpisah dengan keduanya. Ia masih ingin bersama mereka, masih ingin mendengarkan nasihat hidup dari keduanya. Sekalipun tidak berpendidikan, mereka memiliki lebih banyak pengalaman hidup dari siapa saja.
Kerasnya kehidupan yang mereka jalani, menjadikan kedua lansia itu setegar karang di lautan. Menurun pada Bima yang mereka angkat menjadi anak. Tak kisah mereka bukan anak kandung, tapi ikatan kasih sayang di antara mereka terjalin dengan erat.
"Dokter ...?"
Senyum yang diukir dokter tak membuat hati Bima tenang. Tangan kanannya menepuk pundak Bima, menyalurkan kekuatan batin yang hampir terkikis.
"Keadaan paru beliau sudah sangat kronis. Kami tidak tahu pasti berapa lama lagi beliau bisa bertahan. Satu saran dari kami, buat beliau bahagia dan tersenyum. Sterilkan tubuh kalian sebelum menemuinya, gunakan pakaian khusus yang diberikan perawat!" Ia kembali menepuk pundak Bima sebelum melenggang pergi.
"Babeh!" Hatinya menangis, tapi ia tak dapat meneteskan air mata di hadapan Tina yang rapuh.
"Bang! Jangan tinggalin Tina! Abang kagak boleh pergi duluan, Tina kagak bisa hidup tanpa Abang," lirih Tina bergetar. Wajahnya menempel di celah kaca mengintip kondisi Dewa yang belum sadarkan diri.
Bima melirik, ia mendekat dan memeluk tubuh ibu asuhnya itu dari belakang.
__ADS_1
"Nyak yang kuat, ya. Ada Bima yang akan selalu nemenin Nyak," ucapnya sambil membenamkan wajah di pundak kurus itu. Tangan Tina terangkat membelai pipi Bima. Pelukan di tubuhnya mengerat seiring rasa sakit yang semakin terasa.
Kehadiran Bima di sisinya, tetap saja membuatnya cemas dan gelisah. Pikiran-pikiran buruk berseliweran seperti menghantui di setiap siang dan malamnya. Meski ia mengaku sebagai anak, meski ia berkata akan tetap di sisi, semua itu tidak menutup kemungkinan dia akan pergi meninggalkan di saat menemukan kedua orang tua kandungnya.
Semua itu menjadi momok yang menakutkan untuk Tina. Jika Dewa pergi mendahuluinya, jika Bima pun menyusul meninggalkannya, akan seperti apa hidupnya nanti.
Nyak kagak tahu, apa lu bakal nemenin Nyak apa pergi ninggalin Nyak kalo lu udah nemuin mereka, Bima.
Hatinya menjerit, lingkaran tangan di perutnya tak lagi terasa hangat. Ia membutuhkan pelukan Dewa, membutuhkan kata-kata penenang yang diucapkan lelaki tua itu dikala hatinya gundah gulana.
"Ayo, Nyak! Kita liat Babeh ke dalem, Babeh butuh kita di sono," ajak Bima mengendurkan lingkaran tangannya di perut Tina. Wanita tua itu mengangguk patuh, lantas menuruti ajakan sang putra untuk menemani Dewa di dalam sana.
Pakaian khusus mereka kenakan, masker ikut melengkapi, sebelum menemui Dewa di dalam ruangan. Tangis Tina menjadi, dikala ia melihat kondisi Dewa yang sungguh menyedihkan. Ia menutup mulut menyembunyikan wajah di ketiak Bima.
Sementara Bima, sekuat tenaga menahan tangis. Bibirnya gemetar hebat, ia menggigit daging bibirnya hingga cairan asin terteguk bersama ludah.
"Beh, Babeh kudu kuat. Bima masih butuh Babeh. Bima masih pengen ngobrol ama Babeh. Bima belum bisa bikin Babeh bahagia. Babeh kudu sehat, anak Babeh yang bengal ini masih butuh nasehat Babeh. Bima masih butuh Babeh."
Pecah juga tangis Bima, ia terisak-isak sembari memeluk Tina yang tak henti menangis. Para perawat yang menjaga, saling pandang satu sama lain. Selain bahasa mereka yang aneh, juga merasa iba terhadap kedua orang itu.
Sesuai arahan, Bima dan Tina tak dapat berlama-lama di dalam ruangan. Mereka berdua cukup menunggu di depan, berjaga-jaga khawatir terjadi sesuatu. Bima meminta Tina untuk berbaring di atas kursi, sementara ia duduk melantai bersandar pada kursi di dekat kaki Tina.
Tangan renta itu membelai belakang kepala Bima dengan lembut. Menyalurkan kasih sayang yang dia punya sembari meyakinkan hatinya bahwa Bima tak akan pernah meninggalkan dirinya sendiri.
Dia anak gua!
__ADS_1