Bima

Bima
Part. 49


__ADS_3

Siang hari yang terik tak menyurutkan langkah Aulia untuk keluar rumah. Entah mengapa hati menuntunnya untuk melangkah menuju rumah lamanya. Rumah yang selalu mengingatkannya pada sosok bayi yang hilang dua puluh tahun silam itu. Kakinya gesit berayun tatkala motor telah ia parkir di halaman rumah besar tersebut.


"Kak?" Emilia terpekik. Ia baru saja hendak keluar pergi ke restoran, tapi urung ketika melihat Aulia yang datang tergesa.


Aulia memeluk erat tubuh adik iparnya itu, menangis sesenggukan. Entah apa yang dia tangisi?


"Ada apa, Kak? Kenapa tiba-tiba menangis?" Emilia bertanya bingung. Ia mengajak Aulia untuk duduk menenangkan diri di sofa.


"Kak Razka ...."


"Ada apa, Kak? Kenapa dengan Kakak?" Jelas panik Emilia. Kabar terputus itu membuatnya dirundung kegelisahan yang tiba-tiba menyerang.


Namun, gelengan kepala Aulia sedikit membuatnya lega. Setidaknya untuk saat ini saja.


"Kak Razka melihat Baim di sekitar kota ini, Emil. Dia melihatnya. Dia begitu dekat, tapi sulit dijangkau," ujar Aulia sembari sesenggukan. Kepalanya yang tertunduk, terguncang bersamaan dengan kedua bahu yang naik-turun.


"Baim?" ulang Emilia dengan gumamam.


"Iya, sekarang mereka bertiga sedang mencarinya. Aku akan menunggu di sini saja. Entah kenapa hatiku mengajak untuk datang ke rumah ini. Apa mungkin mereka akan menemukannya, Emil?" ucap Aulia penuh harap.


Sebagai wanita Emilia tahu bagaimana perasaan Aulia saat ini. Perasaan seorang Ibu yang pernah kehilangan anaknya dan masih berharap untuk bertemu suatu hari nanti.


"Aku tidak tahu, Kak. Kita berdoa saja semoga mereka berhasil menemukannya," sahut Aulia tidak ingin menduga-duga. Ia sendiri tidak yakin, apakah Baim benar masih hidup atau itu hanyalah keinginan hati Aulia dan Razka saja yang tak dapat menerima kepergian bayi itu.


Emilia mengusap-usap punggung sang kakak ipar, mencoba meredakan tangis yang seolah tak ingin berujung itu.


"Semoga takdir Allah memang membuatnya kembali kepada kita, Kak. Aku pun sama seperti Kakak, berharap Ibrahim dapat berkumpul lagi bersama kita." Emilia menggigit bibir kuat-kuat. Rasa sakit yang disalurkan Aulia lewat tangisan, benar-benar mengoyak hatinya.


Ada harapan, juga rasa takut bercampur jadi satu berpadu dalam rasa yang tak ia mengerti. Keduanya hanyut mencoba menyelami rasa masing-masing. Rindu itu tak pernah pudar, rindu yang tak pasti akan terobati, menggerogoti setiap rasa dalam hati.

__ADS_1


Deru mobil di halaman, membuat keduanya awas. Aulia gegas beranjak, ia tahu itu adalah suaminya. Usai menyeka air mata yang terus meleleh, ia berdiri di teras menyambut kedatangan orang yang ia tunggu sejak tadi.


"Sayang-"


"Bagaimana, Kak? Apa kalian berhasil menemukannya?" Pertanyaan yang belum sempat diajukan Razka diserbu Aulia dengan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di hatinya.


Razka menyapu lembut kepala wanita berhijab di hadapannya itu, mengusap pipinya yang lembab bekas disinggahi air.


"Tidak hari ini, Aul. Mungkin Allah belum ingin kita bertemu dengannya, tapi aku yakin dia ada di sekitar kita. Kau sabar, ya." Razka memeluk tubuhnya yang berguncang menahan tangis. Membawanya memasuki rumah dan duduk di ruang tengah yang sama.


Disusul dua laki-laki yang selalu setia menemaninya. Wajah lelah keduanya tak dapat menutupi senyum kebahagiaan yang diukir Fahru. Bibirnya yang terlipat mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan Emilia.


"Pah? Kenapa Papah terlihat tidak biasa?" Dahinya berkerut curiga. Matanya memindai tajam membuat Fahru salah tingkah sendiri.


"Aku haus, Mah. Bisa buatkan aku minum?" pinta Fahru usai mendaratkan bokong di atas sofa samping istrinya.


Sorot mata Emilia yang tajam, dibalasnya dengan senyum menggoda dan nakal. Emil mendengus, gegas beranjak pergi ke dapur membuatkan mereka minuman segar. Bincang-bincang seputar pencarian Baim pun, terjadi di antara mereka. Rencana lanjutan mereka akan mengerahkan para pengawal di perusahaan untuk ikut membantu.


Emilia datang menyuguhkan minuman beserta camilan sore. Usai kejadian penculikan Ibrahim, ia tak lagi memakai jasa asisten rumah tangga karena trauma itu tak hanya membekas pada Aulia, tapi juga dirinya dan anggota keluarga yang lain.


Suara mobil lain terdengar, tubuh Aulia tersentak dan menegang, jantungnya berdetak kencang, kepala menoleh keluar penasaran.


"Baim. Dia sini. Dia ada di sini," gumamnya yang menghentikan percakapan mereka sejenak. Razka pun ikut merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Aulia.


"Tidak mungkin, Aul!" tolaknya pelan. Sungguh bertentangan dengan detak jantung di dadanya.


"Itu, Akmal," beritahu Emil setelah melihat mobil yang terparkir itu. Aulia tak peduli, ia beranjak dari kursinya diikuti Razka menuju teras.


Debaran jantungnya semakin tak karuan tatkala ia melihat seorang pemuda yang menutupi wajahnya dengan masker keluar dan membukakan pintu untuk anak majikannya. Wajah memerah Akmal, menampakkan kekesalan yang teramat sangat. Ia bahkan mendorong tubuh Bima agar menjauh dari jalannya.

__ADS_1


Bima tak acuh, ia menutup pintu dengan cepat. Kakinya yang panjang tak mempengaruhi laju langkahnya. Seperti ada tarikan magnet, kepala Bima berputar otomatis menghadap kedua orang tua yang berdiri di teras rumah majikannya.


Pandangannya bertemu dengan dua pasang manik tua itu. Entah apa yang dia pikirkan, tapi kedua kaki terpaku setelah berhadapan dengan keduanya secara langsung.


Siapa mereka? Apa mereka pemilik rumah yang dulu itu, ya? Ngapa hati gua cenat-cenut. Mata gua panas, pengen nangis rasanya. Ayah ... Ibu ... apa mungkin mereka orang tua kandung gua? Muka gua mirip ama mereka.


Hatinya tak henti meracau, masih meraba dalam gelap. Pelita yang dicarinya, nampak berada jauh dari jangkauan. Hati ingin mengakui bahwa kedua orang itu adalah orang tuanya, tapi pikiran menjeda meminta waktu padanya untuk menguatkan spekulasi hatinya itu.


Kenapa aku merasakan kehadiran Baim di sini? Apakah pemuda itu? Dia ... dia menarik hatiku untuk memeluknya.


Aulia mulai melangkah menuju anak tangga di teras. Pandangannya tak lepas dari sosok Bima yang mematung di depan mobil.


Uhuk-uhuk!


Suara batuk membangunkan Bima dari lamunan. Ia memandang Aulia dan Razka sekilas sebelum mengangguk takzim pada keduanya. Pandangan mereka terputus kala Bima memilih masuk ke dalam mobil dan gegas menjalankannya. Aulia bahkan tak sempat mengatakan tunggu padanya.


"Babeh, ada apa ama Babeh, ya?" Ia bergumam cemas.


"Dia Juan, Kak. Supir baru di rumah ini, sekaligus tim keamanan Pratama Grup. Ia menggantikan ayahnya yang sudah tua." Emil datang menjelaskan.


Aulia yang belum sempat menuruni anak tangga itu, menoleh dengan pandangannya yang sendu. Kecewa jelas terlihat di matanya karena tak dapat menggapai pemuda itu. Kedua maniknya bertemu tatap dengan milik Razka yang juga memancarkan perasaan yang sama dengannya.


"Dia sudah lama? Aku baru melihatnya?" tanya Razka membuka mulut setelah terdiam beberapa saat.


"Baru hari ini saja dia bekerja. Ayo, Kak! Tanyakan lebih banyak pada Akmal, seharian ini dia bersama Juan," ungkap Emilia lagi mengajak keduanya masuk menemui Akmal yang sedang bersungut-sungut di dekat papahnya.


"Dia joki balap liar, Papah. Membawa mobil ugal-ugalan di jalan, salip sana salip sini. Mengerikan!" Ia bergidik saat menceritakan bagaimana Bima yang tak kenal takut saat melesat di jalanan.


"Tapi wajahmu mengaguminya, Nak. Akui saja kalau kau terkesan dengannya. Lagi pula, bersama Juan kau lebih cepat sampai di rumah," tukas Fahru sembari tersenyum menggoda Akmal.

__ADS_1


Wajah putra sulung mereka memerah malu. Hatinya memang mengagumi Bima dengan bakat mengemudinya yang lihai, tapi ia gengsi mengakui lantaran kesal tak sempat berpamitan dengan sang kekasih. Gelak tawa pecah di dalam rumah itu, tapi Aulia terlanjur terpaut oleh pemuda misterius tadi.


__ADS_2