Bima

Bima
Part. 12


__ADS_3

Kehilangan. Adalah rasa yang tak pernah ingin dirasakan oleh setiap makhluk. Tak hanya manusia, binatang pun dapat merasakan sakitnya kehilangan. Namun, kehilangan adalah suatu yang sudah digariskan Tuhan untuk setiap makhluk-Nya. Agar timbul rasa syukur atas apa yang dimiliki saat ini.


Dewa, salah satu makhluk yang tak ingin bertemu dengan kehilangan. Ia tak ingin menunda lagi untuk membawa pergi Bima dan juga istrinya. Masalah sekolah, biarlah dia akan mengurusnya nanti sekalian lapak yang dia punya.


Motor legenda miliknya melesat bagai tiupan angin yang menerbangkan setiap helai daun yang gugur. Menyisakan debu di udara meski motor itu tak nampak lagi.


Sementara di rumah, Bima baru saja sampai dari sekolah. Keadaannya tidak baik, baju kotor dan kusut. Rambut yang lembab dan acak-acakan, juga wajah yang dipenuhi keringat. Ia melangkah dengan gontai memasuki rumah.


"Assalamu'alaikum!" Lesu suara yang ia keluarkan. Ternyata melawan preman cukup menguras banyak tenaganya. Ia ambruk di lantai, duduk dengan kedua kaki terjulur ke depan. Bersandar tubuhnya pada dinding yang dingin, menyegarkan.


"Wa'alaikumussalaam! Lesu amat lu, Tong." Tina muncul dari dapur mengenakan daster kebanggaannya sebagai seorang Ibu rumah tangga. Ia membawakan Bima minuman segar dan duduk di dekatnya.


"Iya, Nyak. Capek," katanya lemas. Ia beranjak sedikit, meraih tangan Tina lantas menciumnya. Ia melirik segelas minuman dingin yang diletakkan Tina di samping kakinya. Mengambilnya, lantas meneguknya hingga tandas.


"Ugh ... seger bener!" Wajah lesu yang tadi sedikit berubah segar. Tina tersenyum, tapi seketika senyum itu memudar saat matanya menangkap luka lebam di bagian tangan Bima.


Diraihnya cepat tangan itu, dan dilihatnya dengan mata yang melebar. Sakit hatinya melihat anak yang dia rawat terluka walau hanya lebam di kulit.


"Ni tangan lu ngapa, Tong? Lu berantem lagi? Kudu berapa kali Nyak bilangin, lu kagak usah berantem-berantem lagi, kagak usah jotos-jotosan lagi, kagak usah jadi pahlawan, ngarti kagak lu? Nyak kagak bisa liat lu kaya gini, Bima. Nyak kagak bisa. Nyak ngerasa kagak berguna jadi Ibu lu karena lu keseringan luka kaya gini." Pecah tangis Tina.


Ia memang tak pernah bisa melihat Bima terluka, berbeda dengan Dewa yang akan mendukung apa pun yang Bima lakukan selama itu tidak menyalahi aturan hidup yang ada.


"Biarin aja namanya juga anak laki, kudu tahan banting kagak cengeng. Babeh bangga ama lu, Bim. Lu emang anak Babeh." Lantas cengengesan sambil merangkul anaknya itu. Itulah yang dilakukan Dewa, baginya selama Bima masih baik-baik saja ia tak perlu risau.

__ADS_1


"Udah, Nyak. Ngapa Nyak nangis, Bima kagak ngapa-ngapa, kok. Ni liat, cuma memar dikit doang kagak sakit. Beneran, nih ...."


Puk-puk-puk!


Bima memukul-mukul luka memar di tangannya. Namun, tangan Tina tak kalah cepat mencegah. Ia menggenggam tangan Bima dan menciuminya.


"Jangan lu pukul-pukul. Kalo sakit gimana? Iya udah Nyak kagak nangis lagi. Karang lu cerita, deh, ngapa lu bisa kaya gini pulang sekolah?" Tina meredakan tangisnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada anaknya itu sepulang sekolah tadi.


Bima menggaruk kepalanya sebelum menceritakan apa yang dia alami barusan. Tersenyum juga bibir hampir keriput itu, dalam hati membangga pada putra semata wayangnya yang telah berhasil menggagalkan penculikan.


"Emang hebat anak Nyak ni. Nyak bangga ama lu, tapi kapan-kapan lu kagak usah ngelawan mereka. Mending lu lari cari bantuan," ujar Tina sambil mengusap rambut lembab putranya itu.


"Tapi, Nyak, kata Babeh lari bukan sifat laki. Ntu namanya pengecut, mental cemen alias mental kerupuk. Bakal melempem kalo kena aer. Bima, pan, anaknya Babeh Dewa yang terkenal pemberani." Tepukan di dada mengungkapkan rasa bangganya terhadap sang Ayah. Darah Dewa meski tak mengalir di tubuhnya, tapi melekat erat padanya.


Bunyi berdecit motor milik Dewa, meninggalkan jejak ban di tanah. Tina yang terkejut, melepas pelukan dan berhambur keluar bersama Bima. Tak biasanya Dewa memarkir motor seperti itu.


"Bang? Ada apa?" tanya Tina yang berdiri dengan dahi berkerut melihat wajah tegang Dewa.


Sekonyong-konyong, Dewa memeluk Bima membuat Tina melongo heran. Bima terkesiap dalam pelukan, mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dan berbeda rasa membuatnya ikut merasa heran.


"Beh?" Suaranya tercekat di tenggorokan karena Dewa malah mempererat pelukan.


"Bang? Lu ngapa, sih?" Semakin dalam kerutan di dahi Tina, "kagak biasanya lu kaya begitu, Bang. Ada apa, sih?" tanyanya lagi beruntun karena tak kunjung mendapat jawaban.

__ADS_1


Dewa menyusut air matanya sebelum melepas pelukan. Ia memegangi kedua bahu Bima, manik mereka saling memaku satu sama lain. Tina menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Babeh dapat kerjaan baru di kota, kita semua bakal pegi ke sana. Mudah-mudahan kerjaan Babeh lebih baik." Dewa tersenyum, tersirat kesedihan di matanya yang hitam legam.


"Terus sekolah Bima gimana, Beh?" tanya Bima pelan. Ia melirik Tina yang bergeming menatap mereka.


"Lu tenang aja, Babeh bakal urus semuanya. Karang bantu Nyak lu beres-beres, gih. Malam ni kita pegi," ucapnya sambil tetap tersenyum menyembunyikan kegundahan hatinya.


Ia memang bisa menutupi semua itu dari Bima, tapi ia tak dapat menyembunyikan itu semua dari Tina. Istrinya itu tahu apa yang terjadi.


Tina tersenyum tatkala Bima meliriknya, kepalanya mengangguk pelan saat mata Bima meminta persetujuan. Ia melengos ke kamarnya, disusul Tina yang sebelumnya melirik Dewa. Lelaki itu tidak menyembunyikan apa pun darinya. Anggukan kepalanya menjawab pertanyaan yang tak terucap lisan Tina.


Malam itu mereka berkemas, dan pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui siapa pun. Dewa bahkan menjual motornya, untuk tambahan ongkos pergi ke kota. Menaiki bus antar kota, mereka pergi meninggalkan desa dan semua kenangan yang dilukiskan.


Maafin gua. Lu baek-baek di sini, ya. Gua pegi, kalo kita jodoh, kita pasti bakal ketemu lagi.


Bima bergumam saat teringat gadis kecil yang baru pagi tadi menjadi sahabatnya. Tina meraih kepalanya, menyandarkannya pada bahu. Bima memejamkan matanya yang terasa berat. Malam semakin pekat jika saja tak diterangi lampu jalan yang berjajar.


Dewa sama sekali tak dapat memejamkan matanya, ia terus mengawasi keduanya selama dalam perjalanan. Dewa menghubungi temannya, rumah kontrakan untuknya telah disiapkan. Dewa tersenyum, pada akhirnya mereka bisa juga lepas dari pengawasan orang-orang itu.


Ia mendapat tawaran kerja di sebuah perusahaan besar di kota tersebut. Sebagai petugas keamanan bersama temannya itu.


Mudah-mudahan hidup keluarga gua berubah. Gua juga pengen bahagiain bini gua, ajak dia belanja di mal kaya orang-orang. Doain gua ya, Tin, Bima, semoga aja rezeki kita lebih bagus di kota entar.

__ADS_1


Ia melempar lirikan pada keduanya, anak dan istrinya itu telah terlelap dalam keremangan lampu mobil.


__ADS_2