
Babeh ... Babeh kudu kuat. Babeh kudu bangun, Babeh kagak boleh pergi dulu. Anak Babeh masih butuh nasehat, masih butuh petuah, masih butuh teguran Babeh. Bima masih pengen peluk Babeh, masih pengen ngobrol ama Babeh. Bima suka ama cewek, Beh, tapi Bima belum berani ngomong ama Babeh. Bima mohon ... Babeh jangan pergi dulu sebelum Bima kenalin ama tu cewek. Bima sayang Babeh, Bima sayang Babeh.
Suara lirih itu mengusik Tina dari tidur lelapnya. Ia kira bermimpi, tapi saat telinga tuanya menangkap sebuah getar suara ... perlahan kelopak matanya terbuka. Tangisan pilu terdengar amat lirih di tengah malam sunyi itu.
Tina melirik kakinya, pantas saja ia kehilangan rasa hangat karena rupanya anak yang memeluk sepanjang tidur itu hilang dari tempatnya. Tina beranjak duduk, menoleh pada suara tangisan yang sejak tadi mengusik telinganya.
Di sana, di pintu ruang ICU, ia melihat Bima tengah berdiri tertunduk dengan kedua tangan yang menempel di pintu kaca tersebut. Dahinya membentur, air matanya jatuh tak terbendung. Tina terenyuh melihat Bima yang sesedih itu, mengapa hatinya meragukan kasih sayang anak yang ia asuh dari bayi itu? Sementara Bima, selalu menunjukkan cintanya kepada mereka.
"Bima!" Bergetar suara Tina menyebut nama anaknya. Ia beranjak mendekati sang pemuda yang masih membenturkan kepala pada pintu ruangan itu.
Bima menoleh disaat ia merasakan sentuhan lembut nan hangat di pundaknya. Matanya yang basah memandang sendu manik berkabut di hadapannya. Ia berhambur memeluk Tina, menumpahkan tangisan yang ia bendung sejak tadi.
"Kagak apa-apa. Babeh lu orang yang kuat. Doain aja supaya Babeh cepet sehat lagi," ucap Tina sambil mengusap-usap rambut putranya yang lembab karena keringat.
Bima menjatuhkan wajah di pundak sang Ibu, mengendus aroma tubuh khas wanita renta itu. Entah sampai kapan ia bisa menikmati bau tubuhnya, ia ingin menyimpannya dalam hati dan pikiran agar selalu teringat padanya ketika takdir memisahkan mereka kelak.
Melihat bungkusan plastik di atas kursi, Bima mengurai pelukan. Ia mengusap air matanya, lantas menuntun Tina untuk duduk kembali di tempatnya semula. Bima meraih bungkusan dan memangkunya. Membuka ikatan mengeluarkan isi di dalamnya.
"Nyak kudu makan dulu, ini udah Bima beliin makan juga baju ganti bakal Nyak. Maafin Bima, tadi Bima titipin Nyak ama suster," ungkap Bima sambil membuka sebungkus nasi yang ia beli lengkap dengan lauk pauknya.
Tina menggelengkan kepala, mengingat kondisi Dewa yang tak dapat memakan apa pun di dalam sana, membuat selera makannya hilang begitu saja.
"Nyak kagak laper, gimana Nyak mau makan sedangkan Babeh kagak makan apa-apa di sono," tolak Tina. Tak lama kepalanya menunduk dengan tangan yang mengusap kedua mata.
Bima pun tahu seperti apa rasanya karena begitulah yang dia rasakan juga, tapi bagaimana jika Tina juga sakit? Hilang sudah kekuatannya untuk tegak berdiri.
"Tapi Bima kagak mau kalo Nyak sampe sakit kaya Babeh. Gimana entar Bima kalo Nyak juga sakit? Bima pastinya kaya orang linglung, Nyak. Kaya ayam kagak ada induknya, berisiknya minta ampun nangis kagak udah-udah. Nyak makan, ya? Nyak kudu kuat buat Babeh, gimana entar Bima jawabnya kalo Babeh bangun terus nanya kenapa Nyak juga sakit?" rayu Bima memohon pada Tina.
__ADS_1
Melihat ketulusan yang diperlihatkan Bima, Tina tak dapat menolak. Benar kata Dewa, dia tak dapat menolak jika Bima yang meminta. Ia mengangguk sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Semua demi lu, Bang. Gua kagak mau Bima bingung kalo lu bangun entar. Cepet bangun, suami kesayangannya Tina. Liat ni anak kita, dia perhatian banget ama kita, Bang.
Hatinya bergumam, matanya menatap bangga pada Bima yang telaten menyuapinya makan. Rasanya memang berbeda, Bima dan kata-katanya cukup mujarab untuk mendatangkan selera yang hilang.
"Lu udah makan?" tanya Tina setelah beberapa suapan nasi masuk ke dalam perutnya. Bima mengangguk, ia menunjuk tempat sampah dengan kepalanya. Di sana, teronggok bungkusan hitam. Mungkin bekas makannya. Tina tersenyum dan melanjutkan makan.
Gradak-gruduk!
Suara tergesa dari dokter dan perawat menyentak Bima yang sedang mencuci tangan dan Tina tengah menenggak minum. Terkejut bukan main, mereka memasuki ruangan ICU.
"Dokter, ada apa?" Bima berhambur mendekati dokter laki-laki sebelum ia memasuki ruangan. Ia-nya tak menyahut, hanya mengangkat tangan sebagai tanda agar Bima tak banyak bertanya. Lalu, pintu ruangan tertutup rapat bahkan gorden yang biasanya dibiarkan terbuka, kini ditutup membuat Bima tak dapat melihat apa yang terjadi pada Dewa.
Tina sudah gelisah, air matanya kembali turun tak dapat ia tahan. Hatinya tak henti mengucap doa-doa untuk keselamatan Dewa. Bima tak beranjak, ia tetap berdiri di depan pintu dengan perasaan yang sama seperti hati Tina.
"Dokter ...?" Nada bergetar Bima, menandakan kecemasan hatinya. Dokter itu membuka masker, tersenyum pada keduanya.
Tina sedikit bingung, tapi berharap sesuatu yang baik, yang akan dia dengar kali ini.
"Bapak Dewa sudah melewati masa kritisnya. Beliau laki-laki yang kuat. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat," ucap dokter tersebut sambil terus tersenyum melihat binar harapan di manik keduanya menjadi suatu kebahagiaan.
"Alhamdulillah!" seru keduanya sembari mengusap wajah lega. "Nyak!" Bima memeluk Tina, air mata jatuh penuh haru bahagia.
"Mari, ikut saya!" ajak dokter pada Bima.
"Nyak tunggu di mari, Bima ikut dokter dulu sebentar!" Tina mengangguk. Ia kembali duduk anteng, menunggu dengan hatinya yang lebih tenang. Bibirnya tak henti mengucap syukur, komat-kamit bergumam melafalkan kalimat-kalimat thoyibah.
__ADS_1
Sampai Dewa pada akhirnya dipindahkan, Bima lebih memilih Dewa dirawat di rumah sakit. Lebih terkontrol oleh tenaga medis, dan akan mendapatkan penanganan yang cepat tentu saja. Tina menemani Dewa di ruangan, meski kelopak itu belum terbuka, tapi ia bersyukur karena Dewa telah melalui masa terberatnya.
Pintu terbuka, Bima melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara yang mengusik istirahat Dewa. Tersenyum bibir itu ketika Tina menoleh ke arahnya. Wanita tua itu sudah lebih tenang dari pada sebelumnya.
"Gimana ama Babeh, Nyak?" tanya Bima begitu sampai di dekat mereka.
"Babeh kagak ngapa-ngapa," sahut suara Dewa yang terdengar parau.
"Babeh!"
"Abang!"
Keduanya terkejut sekaligus senang. Bersama memeluk Dewa dengan sangat hati-hati. Menangis kembali, tapi kali ini hati mereka lega.
"Terima kasih, ya Allah ... gua masih dikasih kesempatan untuk bisa meluk kalian. Babeh sayang kalian," ucap Dewa penuh syukur. Bima dan Tina sama-sama melepas pelukan, binar bahagia tak dapat mereka sembunyikan.
"Terima kasih karena Babeh udah mau kembali ama kita," sahut Bima yang dibalas anggukan kepala oleh Dewa.
"Gimana hari pertama lu kerja, Tong? Kerasan?" tanya Dewa lagi.
"Kerasan, Beh. Alhamdulillah." Bima tersenyum, teringat tadi siang ia mengerjai Akmal habis-habisan.
"Syukur kalo kerasan, lu kudu sabar ngadepin sikap anaknya, ya?" Dewa mewanti-wanti mengingat sikap Akmal yang lupa ia ceritakan kepada Bima sebelum pergi bekerja.
"Tenang aja, Beh. Ntu, mah, bukan apa-apa. Bima bisa ngatasin yang kaya begitu, mah." Bima mencibirkan bibir. Benar, memang tidak ada apa-apanya. Buktinya, dia dapat mengerjai Akmal dengan mudah.
"Udah, Tin. Lu kagak usah nangis lagi, entar abis air mata lu?" Dewa melirik istrinya, wanita itu masih sesenggukan. Tersenyum bibirnya meskipun air mata masih berjatuhan.
__ADS_1