
"Uhuk-uhuk!"
Suara batuk itu benar-benar mengganggu ia yang masih mendengkur di peraduan. Semakin didengar, semakin menyesakkan. Rasa kantuk yang menggelayuti kelopak seketika raib, lenyap dengan begitu cepat.
Selimut yang menggelung tubuhnya, terlempar entah ke mana. Telinganya awas mendengar deru mobil di halaman rumah. Kedua kaki menapak cepat di atas lantai yang dingin, berayun tergesa keluar dari tempat paling nyaman di dunia.
Pandanganya berganti sendu mendapati laki-laki tua itu telah bersiap dengan seragam kebanggan miliknya. Langkah yang sempat terjeda, ia lanjutkan untuk mendekat. Menghampiri laki-laki tua yang sedang membuat mobil itu berkilat dengan kedua tangannya yang lihai.
"Beh?"
Suara batuk menyahut panggilan Bima sebelum tubuh renta itu berbalik dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya yang pucat pasih. Bibir keriput miliknya tetap tertarik ke samping meski sedang menahan sesak yang membuat dadanya kembang-kempis.
"Babeh mau kerja?" Pertanyaan bernada lesu itu disambut anggukkan kepala oleh Dewa, tak lama batuk pun ikut menyertai.
"Kagak usah. Mari! Biar Bima yang gantiin Babeh kerja. Babeh di rumah aja, istirahat. Bima yang bakal bilang ama majikan Babeh," ucapnya dengan tenang.
Tangannya yang kekar membawa tubuh renta Dewa ke dalam rumah meskipun menolak. Tina sudah menghilang setelah menyediakan segelas kopi panas kesukaan sang suami. Ia pergi membeli keperluan dapur.
"Hari ini kagak usah minum kopi. Biar Bima bikinin wedang jahe." Tangannya cekatan merampas gelas kopi yang hendak disambar Dewa. Melongo lelaki tua itu, tapi tak urung jua kepalanya mengangguk.
Lagi-lagi, batuk itu menghantam dadanya. Paru-paru dalam tubuhnya mungkin saja rusak hingga membuatnya tersiksa dengan batuk yang berdahak. Lendir bercampur darah, ia sembunyikan dengan cepat pada sebuah sapu tangan yang ia selipkan di dalam saku jas.
Bima kembali dengan segelas wedang yang mengepulkan asap. Di tangannya yang lain, pakaian ganti untuk Dewa ia serahkan pada lelaki itu. Tangannya yang keriput mengambil gelas wedang dan menyeruputnya dengan pelan.
"Ah ... bener lu, Tong! Ini bikin tenggorokan Babeh lega," ucapnya lewat suara yang terdengar parau. Kedua sudut bibir pemuda itu tertarik ke samping mendengar ucapan sang Babeh.
"Mulai ni hari, Babeh kudu ngurangin rokok. Biar batuk Babeh kagak bandel kaya sekarang." Bima juga menyambar bungkus rokok dari hadapan Dewa di saat tangan tua itu hendak mengambilnya. Dewa termangu, melongo. Namun, mengangguk patuh.
__ADS_1
"Sekarang, ganti baju Babeh. Biar Bima yang pergi," titahnya lagi seraya duduk bersila di tempat tersebut.
"Iya, iya, tapi gimana entar kalo den Revan pulang? Dia bakal ngenalin lu?" tanya Dewa sebelum beranjak dari duduknya. Ada sesuatu yang mengusik hati tua itu sebenarnya. Kebenaran tentang seorang laki-laki yang memiliki rupa sama seperti Bima, akan Bima temui di rumah itu. Mungkin ini sudah takdir, jika pun ia adalah ayah kandung Bima, maka biarlah semuanya terungkap.
"Babeh kagak usah kuatir, Bima bakal ganti nama sementara. Bima juga bakal nutupin muka Bima pake masker. Si Revan kagak bakalan ngenalin Bima," sahut pemuda itu dengan rencana yang sudah ia susun dengan matang.
Ia pernah melihat Razka sekali di rumah itu, kemungkinan laki-laki yang serupa dengannya akan kembali terlihat di rumah Revan walaupun tidak setiap hari. Rencananya harus berjalan mulus, orang-orang di rumah itu tak boleh ada yang tahu sebelum ia mengungkapkan misteri yang melilit kehidupannya.
"Ya udah." Dewa beranjak. Meninggalkan Bima yang sedang menikmati sebatang rokok di tangan. Segelas susu hangat selalu menemani paginya. Sarapan apa adanya yang dibuat Tina, selalu menjadi nomor satu untuk disantap.
Dewa kembali sambil membawa seragam miliknya. Tangan pemuda itu dengan cepat menerima dan berlalu masuk ke kamarnya. Ia mematut diri di depan cermin besar yang tersedia di kamarnya. Seragam serba hitam dengan logo Pratama Grup itu, melekat pas di tubuhnya.
"Gagah bener gua kalo pake seragam jas kaya begini!" Ia berseru pelan memuji diri sendiri, "pose dulu, ah ...." Tangannya menggapai gawai yang ia letakkan di atas nakas. Tak lupa menutupi wajah dengan masker, Bima mengambil beberapa pose. Cekrak-cekrek bunyi kamera gawai memotret dirinya.
"Gua post juga, ah ...." Jarinya yang panjang menari lincah di atas layar gawai tersebut. Foto-foto di-posting dalam beberapa akun sosial media miliknya atas nama Arjuna sang Pemikat. Tak ada yang tahu akun itu. Foto-foto yang di-posting pemiliknya tak ada satu pun yang menampakkan wajah pemuda tersebut.
Namun, urung tatkala melihat sebuah akun yang ikut meramaikan postingan miliknya tersebut. Akun dengan foto seorang gadis yang tak lagi asing di benaknya.
"Bima! Buruan!" Tangannya berhenti bergerak mendengar panggilan Dewa.
"Iya, Beh!" Ia keluar dari sosial media miliknya dan memasukkan gawai ke dalam saku jas.
Penasaran gua ama akun itu. Perasaan gua kagak asing amat, ya. Ia bergumam sambil membawa langkahnya keluar menemui Dewa.
"Wuih ... gagah bener anak gua! Lu mau gantiin Babeh kerja, Tong? Gimana ama kuliah lu?" serbu Tina yang kedua tangannya dipenuhi kantong plastik belanjaan. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang sumringah.
"Iya, Nyak. Gimana, ya? Kalo entar ditanya soal kuliah, Bima bakal jawab yang sebenernya, Nyak." Ia melirik Dewa. Mata berkabut itu memancarkan kegelisahan yang kentara. Mengoyak hati dan perasaan Bima yang baru saja ia teguhkan.
__ADS_1
"Babeh kagak usah kuatir, Bima bakal minta waktu buat kuliah ama majikan," ucapnya menenangkan. Mengangguk kepala itu tatkala sang istri menjatuhkan pandangan ke arahnya.
"Ya udah. Lu ati-ati, mendingan dah, kalo majikan kasih izin lu buat kuliah. Lu kagak usah lagi cari kerjaan, jadi supir juga kagak ngapa-ngapa. Kagak bikin malu," ujar Tina tersenyum maklum pada putra satu-satunya itu.
"Iya, Nyak. Bima berangkat dulu. Beh!" Tak pernah lupa akan etika, Bima selalu menyalami keduanya. Bukannya Tina tak tahu, Dewa pernah bercerita kepadanya soal laki-laki yang wajahnya mirip dengan Bima itu.
"Jemput majikan di rumahnya, Tong!" teriak Dewa sesaat Bima menarik pegangan pintu mobil. Pemuda itu mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Ia melengos masuk dan duduk di balik kemudi.
"Bisa kagak gua nyetir mobil mewah ini, ya? Biasanya cuma mobil rongsokan punyanya cang Mahmud." Ia terkekeh sendiri. Memutar kontak, bunyi deru mobil tersebut begitu halus terdengar.
"Berangkat, Nyak! Beh!" Kepalanya menyembul dari balik kaca yang terbuka. Masuk kembali dan mulai menjalankan mobil tersebut.
"Apa kagak ngapa kita biarin dia kerja di sono, Bang?" tanya Tina. Ia bergeming di ambang pintu menatap mobil yang dikendarai Bima menjauh.
"Mungkin udah waktunya. Kita dua udah tua, mau sampe kapan nyembunyiin Bima kaya begini. Kalo pun Bima masih mau tinggal di mari, ntu udah rezeki kita. Biar dia kenal ama keluarga kandungnya sebelum kita pergi satu per satu ninggalin dia," ungkap Dewa diselingi batuk yang kian menjadi-jadi.
Tina berbalik dan mendekat. "Tumben lu minum wedang, Bang?" Kerutan di dahi menampakkan keheranan.
"Bima yang buatin. Seger, enak di tenggorokan." Dewa tersenyum malu ketika Tina mendengus.
"Tadi juga mau gua buatin wedang, tapi lu, pan, nolak. Malah minta kopi," sungut Tina.
"Yah ... gimana, ya? Kalo si Bima yang nyuruh gua kagak bisa nolak." Tangannya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Rokok lu di mana, Bang?" Semakin heran Tina ketika matanya tak satupun menemukan puntung rokok di dalam asbak. Bungkusnya pun raib entah ke mana. Padahal, Dewa tak pernah bisa jauh dari benda tersebut.
"Diambil si Bima juga. Kagak boleh ngerokok gua," sahut Dewa lesu.
__ADS_1
"Bagus!" Manggut-manggut kepala Tina sebelum melengos meninggalkan Dewa sendiri.