Bima

Bima
Part. 27


__ADS_3

Ketulusan, menjadikan seseorang yang asing bersemayam di hati. Rasa cinta kian tumbuh seiring kebersamaan yang mengisi hari-hari. Di hatinya, telah tumbuh benih cinta terhadap seseorang asing yang baru ia jumpai semalam.


Dalam pikirnya, dipenuhi wajah tampan sang pemuda berlesung pipi saat tersenyum. Bayangan di bawah temaram lampu kembali mencuat dan selalu mencipta semu merah di pipi.


Ia merapikan barang-barang milik sang Ibu, hari itu ibunya telah dioperasi dan berjalan lancar tanpa hambatan. Tinggal menunggu pemulihan sebelum dapat keluar dari gedung tempatnya para pesakitan menginap.


"Ibu, makan dulu!" Ia datang dengan sebuah nampan di tangan pemberian suster. Wanita dewasa yang terbaring di atas ranjang itu tersenyum, menoleh pada anak yang nampak bahagia di hari itu.


"Kau terlihat cantik jika tersenyum seperti itu. Apa yang membuat pipimu merona seperti sekarang ini?" tanya sang Ibu dengan nada lemah.


Chaira membenarkan rambutnya salah tingkah. Ia berpaling menetralkan rasa panas yang menjalar di pipi. Setiap kali bayangan Bima yang menciumnya muncul ke permukaan, setiap itu juga dia tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Ara hanya merasa bahagia karena Ibu sudah melewati masa kritis. Ibu harus makan dengan teratur agar cepat pulih dan kita bisa pulang," sahut Chaira setelah memalingkan wajahnya lagi pada sang Ibu. Tersenyum bibirnya, nampak cerah secerah mentari siang itu. Menyinari dunia.


"Jangan menutupinya dari Ibu, Nak. Katakan, siapa dia?" tuntut sang Ibu sembari menilik wajah sang putri yang bersemu merah. Ia menggigit bibir, menyelipkan rambut nakalnya ke belakang telinga salah tingkah.


"Dia tampan? Apa dia baik-"


"Uhuk ... uhuk!"


Chaira menoleh cepat tatkala mendengar suara batuk sang Ibu. "Minum, Bu!" Ia memberikan segelas air padanya, semu merah di wajah berganti dengan kepanikan. Wanita itu terbaring kembali dengan wajah yang masih pucat pasih. Ia tersenyum, mengelus tangan Chaira dengan tangannya yang terasa hangat.


"Bima namanya, Bu. Dia yang membantuku semalam, meminjamkan uang padaku untuk Ibu operasi," jawab Chaira saat melihat rasa penasaran di mata Ibunya.


Ia menunduk, malu dan gelisah menjadi satu di hatinya. Tangan hangat itu mengelus-elus permukaan kulitnya, Chaira melirik tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Dia ... temanmu?" Chaira terpaksa mengangguk. Mau bagaimana lagi? Apa dia harus mengatakan jika dia adalah hadiah taruhan laki-laki itu? Jika dia ingin ibunya mati seketika.

__ADS_1


"Dia pasti orang kaya. Biaya operasi itu tidak sedikit, kalau dia tidak kaya tak mungkin dia berani meminjamkan uangnya kepadamu," tutur suara parau itu dengan nada bangga terdengar.


"Kaya hati sudah pasti, tapi kaya harta Ara tidak tahu karena belum pernah melihat rumah dan keadaannya," timpal Chaira sesungguhnya. Bibir pucat itu tersenyum, mengangguk kecil tatkala pandang bertemu dengan milik anak gadisnya.


"Ibu makan dulu supaya cepat pulih dan kita cepat pulang. Dia juga memberi modal untuk kita buka usaha. Setelah usaha kita jalan, aku akan mengembalikan uangnya sedikit demi sedikit." Ia tersenyum, manis terlihat. Gigi gingsul miliknya akan mencuat ketika ia membuka kedua bibir. Menambah kesan polos pada sosoknya.


Wanita lemah itu menganggukkan kepala patuh. Chaira menyuapinya dengan pelan dan penuh perhatian. Teringat Bima yang sudah begitu baik padanya. Hatinya tak henti mengucapkan terima kasih pada pemuda misterius yang semalam merenggut ciuman pertamanya. Bukan! Tapi dia yang lebih dulu menyambarnya.


Sementara di rumah sederhana itu, sang pemuda yang menjadi pembicaraan masih bergelung di dalam selimut.


"Uhuk! Uhuk! Ekhem!"


Bima terbatuk dalam tidur hingga terbangun dengan kedua kelopak yang berkedut. Ia mengusap tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Beranjak duduk sambil mengedarkan pandangan dengan mata yang menyipit.


Melihat sinar terang di jendela, ia membelalak seketika. Lekas melempar selimut dan berlari ke kamar mandi.


Tina tersenyum tipis, melihat Bima yang berlari tergesa-gesa melewatinya.


"Nyak kagak tega, lu pules banget tidurnya. Kayanya lu capek banget," sahut Tina dengan nada sedikit tinggi. Tak ada lagi sahutan untuk beberapa saat, hanya terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Karang jam berapa, Nyak?" tanya Bima lagi kembali berteriak dengan mulut yang penuh. Bertanya sambil sibuk menggosok gigi.


Tina melirik jam di dinding terlebih dahulu, "Jam sembilan. Emang ngapa?" Tina masih sibuk mencuci piring bekas Dewa dan dirinya makan.


"Bima ada kelas jam sepuluh." Tina mengangguk-anggukkan kepalanya. Hening. Anak itu tak lagi bertanya, hanya suara air yang terdengar.


Ia keluar dengan mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya, handuk kecil di tangan ia gosok-gosok di kepala mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan menghampiri Tina, mencium pipi wanita itu sambil mencomot tempe goreng di meja makan.

__ADS_1


"Babeh ke mana, Nyak?" Bertanya dengan mulut penuh, mengunyah tempe dengan cepat dan menelannya.


"Babeh kerja." Gerakan mulut Bima terhenti mendengar jawaban Tina, "tadi majikan Babeh telepon minta diantar ke bandara," lanjut Tina semakin membuat Bima tertegun.


Ia berbalik usai membersihkan tangannya, menghampiri Bima yang mematung dengan tempe di tangan.


"Revan?" Tina menggeleng saat Bima menyebutkan nama teman lamanya, "udah lama Bima kagak ketemu dia. Dari lulus SD dia pegi sekolah ke luar negeri," lanjut Bima lesu. Bukan itu yang membuatnya sedih, tapi Dewa.


Wanita yang tak lagi muda itu tersenyum. "Pake baju dulu, baru bis itu sarapan," titah Tina seraya berlalu ke belakang rumah mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Bima meletakkan tempe di tangannya, mendengar Dewa bekerja membuat hatinya sakit tiba-tiba.


Seharusnya Dewa di rumah saja, dia sudah berumur. Kenapa masih mau bekerja. Bima melengos ke kamar, mematung di depan cermin, menatapi dirinya yang telah dewasa.


"Kagak guna lu jadi anak, Bima! Babeh lu udah tua, masih aja harus cari duit buat biayain lu. Kagak tahu balas Budi! Kagak tahu terima kasih!" Bima menunduk, kedua tangan yang terkepal ia pukulan di atas meja depan cerminnya.


Napasnya memburu, tekad dalam hati menguat untuk menggantikan Dewa menjadi tulang punggung.


"Gua kudu bisa gantiin Babeh kerja. Gua kudu cari duit biar Babeh kagak usah lagi kerja. Gua pengen bahagiain Nyak ama Babeh." Ia bertekad. Mengambil pakaian dan mengenakannya. Meraih tas serta buku dan menyampirkannya di pundak kiri.


Berjalan keluar menuju dapur dengan senyum semangat membara. Ia duduk di kursi makan, menu makanan masih sama walaupun ikan kadang berganti setiap hari, tapi sambal dan lalapan harus ada di meja.


Tina tersenyum dan duduk menemani Bima makan. Nampak lahap ia makan, selalu nikmat terasa. "Maafin Nyak ma Babeh karena cuma bisa nyekolahin lu di sekitaran sini. Kagak bisa bikin lu nyusul den Revan," ucap Tina sendu sambil menyentuh tangan Bima.


"Elah, Nyak. Kagak penting sekolah di mana, yang penting mau belajar. Di dalam negeri aja ilmu banyak bertebaran, di rumah ni juga tiap hari Bima dapat ilmu. Jadi kagak usah sedih, Nyak, apalagi ngerasa bersalah." Bima tersenyum tangannya menyentuh tangan Tina dengan lembut.


"Bentar, Nyak!" Ia melepas tangan, mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Menyerahkannya pada Tina.


"A-apa ini, Tong?"

__ADS_1


__ADS_2