
Angin malam berhembus syahdu, menerbangkan jaket kulit milik seorang pemuda yang sengaja tak dirapatkan. Tubuh yang atletis itu nampak gagah berada di atas kuda besi miliknya.
Ia membelah jalanan ibukota yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan meski langit telah berganti kelam. Bintang-gemintang menari dengan indah, menemani sang rembulan agar tak kesepian. Menabur benih cinta pada hati dua anak manusia.
Bima tersenyum disaat jarak menuju restoran semakin dekat. Lampu-lampu yang berkelip di area parkir telah nampak di matanya, buru-buru Bima menarik pedal gas mempercepat laju motor yang ia kendarai.
Akhir pekan, pengunjung di restoran semakin ramai. Terutama di bagian samping, tempat makan yang lesehan dengan nuansa asri pepohonan juga kolam ikan membuat semua orang nyaman berada di sana.
"Ara pasti sibuk, yang datang banyak banget. Restoran Ayah penuh pengunjung. Moga-moga Ara kagak sakit karena kecapean," gumamnya usai melepas helm dan mendekapnya.
Ia masih duduk di atas motor, di parkiran. Kebiasaannya menunggu adalah ditemani sebatang rokok yang mampu mengusir jemu. Bima mengeluarkan benda tersebut dan membakarnya satu batang. Ia merebahkan diri di atas motor, menatap langit malam yang nampak indah berkilauan.
"Den, Mamang boleh minta rokok?" tegur seseorang yang Bima tak sadari kedatangannya.
"Eh?" Ia terperanjat, lekas duduk dan memutar tubuh menatap laki-laki paruh baya di belakangnya.
"Maaf, Bapak minta rokok?" tanya Bima memastikan.
"Iya, kalau boleh," katanya tak enak.
Bima mengeluarkan bungkusan dan menyerahkannya, ia juga memberikan korek api pada laki-laki itu. Ia pergi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Bima mengikuti arah laki-laki paruh baya itu pergi, dahinya berkerut disaat pandang jatuh pada sebuah pilar restoran.
"Eh? Itu penipu yang dulu. Mau ngapain dia di mari?" Bima berjengit melihat Lucky yang berdiri di balik pilar itu mengintip ke dalam restoran.
Bima melompat turun dari atas motor, berjalan mengendap bagai hembusan angin yang tak berderap. Apa yang dilakukan penipu itu di depan restoran milik Razka?
Rokok di tangan ia buang asal, kedua kaki terus melangkah semakin mendekat. Lucky yang masih asik mengintai tak menyadari kedatangan Bima dari arah belakang tubuhnya.
"Ngapain lu ngintip restoran Ayah gua? Mau apa lagi lu ama keluarga gua?" bentak Bima yang berhenti beberapa jengkal dari arahnya.
Tubuh Lucky menegang, ia berbalik dengan raut ketakutan melihat Bima berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"K-kau ... sejak kapan kau di sana?" Lidahnya kelu bertanya, terbata karena rasa takut yang meraja.
"Gua? Di sini? Sejak lu datang mengintip, gua udah ada di sini. Ngapain lu mata-matain restoran Ayah gua?" tanya Bima sekali lagi.
Lucky terlihat gusar, bola matanya berputar mencari alasan. Berkali-kali keringat menetes dari dahinya, ia mencari celah untuk melarikan diri.
"A-aku ... aku hanya ingin meminta maaf. Aku tidak sedang mengintai. Percayalah padaku, Baim. Aku hanya ingin meminta maaf pada kalian," katanya sambil tertunduk.
Bima tak lantas percaya begitu saja, ia memicingkan mata curiga, insting pengawalnya sedang bekerja. Beberapa petugas keamanan yang melihat gegas menghampiri mereka berdua.
"Tuan Muda! Apa yang sedang terjadi?" tanya salah dari mereka setelah berada di hadapan Bima.
"Bawa laki-laki ini menghadap Ayahku!" titahnya yang segera dilaksanakan oleh kedua orang itu. Lucky diapit mereka, setengah terseret kakinya saat mengikuti tarikan kedua pengawal Razka itu.
Lewat pintu belakang restoran mereka membawa Lucky ke sebuah ruang yang terdapat jejeran kursi dan sebuah meja panjang. Mereka mendudukkan laki-laki itu di salah satu kursi dengan Bima sebagai pengawas. Sementara salah satu dari mereka pergi memanggil Razka.
"Baim! Aku benar-benar ingin meminta maaf pada kalian. Aku bersumpah sudah menyadari semua kesalahanku, dan ingin memperbaiki hubungan keluarga di antara kita. Itu saja," ungkap Lucky dengan gurat wajah yang tak dibuat-buat.
"Lu pikir gua percaya ama pembohong besar kaya lu? Gua butuh bukti bukan cuma omong kosong!" tegas Bima tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Kita adalah keluarga, Baim-"
"Keluarga? Hah ...." Bima tertawa. Kedua tangan bertolak di pinggang, wajahnya ia palingkan. Kesal dan tak mengerti apa yang disebut keluarga?
"Siapa yang lu maksud keluarga?" sarkas Bima, "Ayah gua, Ibu gua, gua, atau Kakak dan Adek gua? Siapa?" lanjutnya bertanya kian menohok hati Lucky.
Pemuda itu menatap nanar Bima yang bersikap angkuh di hadapannya. Hatinya dipenuhi rasa sesal yang mendalam. Sesal pada yang telah ia lakukan beberapa waktu lalu. Ia menunduk sambil mengusap wajah frustasi. Bima memang tak tahu apapun soal dirinya, hanya Aulia yang tahu siapa sebenarnya dia.
Pintu berderit, tak lama Razka muncul bersama orang yang memanggilnya. Melangkah penuh wibawa mendatangi tempat Bima berada.
"Apa dia kembali berulah? Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Razka setelah berdiri berdampingan dengan putranya. Ia menelisik wajah Lucky yang perlahan terangkat, memandangnya sayu dan penuh kesedihan.
__ADS_1
Tolong selamatkan aku dari rantai dosa yang membelenggu.
Begitu pintanya dalam hati. Ia memang datang untuk meminta maaf, dengan hati tulus yang telah ia siapkan sejak kakinya melangkah keluar rumah. Lucky gegas beranjak.
"Paman! Aku datang bukan untuk mencari masalah. Aku bersumpah, Paman. Aku datang hanya ingin meminta maaf kepada Paman dan keluarga karena kesalahan yang aku lakukan beberapa waktu lalu. Aku berkata benar, Paman. Aku tidak berbohong," ungkap Lucky dengan air mata yang jatuh di pipinya.
Razka mengernyitkan kening, mendengar Lucky memanggilnya Paman hatinya bertanya-tanya.
"Paman? Apa yang membuatmu berani memanggilku Paman? Apakah aku Pamanmu?" sentak Razka.
Permainan apalagi yang sedang ia perankan. Kemarin saja ia begitu pandai memainkan peran sebagai Ibrahim, dan sekarang dia memerankan peran sebagai keponakan. Anak dari siapa? Emilia? Mega? Sasa? Atau Mia? Oh, astaga! Hebat sekali pemuda di hadapannya itu.
"Kau memang Pamanku. Apa Paman tidak percaya? Kemarin aku memang berbohong, tapi sekarang aku bersungguh-sungguh. Aku bersungguh-sungguh, Paman," ungkap Lucky lagi dengan raut wajah menyedihkan.
Razka terdiam, menilik manik mengembun itu mencari kesungguhan dari apa yang dia katakan. Lihat, kali ini maniknya memancarkan kejujuran. Ia mendekat menelisik wajah pemuda yang bergeming di hadapannya.
Razka menilai, mencari-cari wajah siapa yang hampir mirip dengan wajah pemuda itu. Sedalam apapun ia mengorek ingatan, tetap saja tak menemukan rupa yang sama seperti dirinya.
"Jika kau memang benar keponakanku, katakan siapa orang tuamu?" tuntut Razka pada akhirnya.
Ia menegakkan tubuh menunggu jawaban dari pemuda yang tetap bergeming di tempatnya. Lucky meneguk ludah, memindai wajah Razka bergantian dengan Bima. Mereka benar-benar serupa. Bima adalah jelmaan Razka disaat muda.
"Ibuku adalah ...."
*****
Hallo, readers! Boleh minta dukungan lagi di novel terbaruku. Karena Bima sebentar lagi khatam, yuk tengok Kenan di novel terbaruku.
Sinopsis, tragedi bunuh diri yang dilakukannya malam itu tak membuat Kenan meregang nyawa justru ia mendapatkan anugrah yang tak terduga.
Diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya, Kenan tidak menyia-nyiakan itu semua. Dia berusaha memperbaiki hidup dan membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah menindasnya.
__ADS_1