Bima

Bima
Part. 96


__ADS_3

Pada akhirnya, Bima berhasil mengusir kebosanan. Bersama Razka dan Nasya mereka akan pergi berkeliling meskipun sempat terjadi perdebatan alot antara Aulia dan Razka.


Namun, kini senyum kemenangan jelas nampak di wajah pemuda itu. Puas rasanya dapat keluar dari sangkar yang dijaga ketat dua algojo berspatula.


"Ayah hebat! Bagaimana Ayah bisa mendapat izin dari dua wanita itu? Babeh saja tidak berani meminta izin Nyak," puji Bima bangga. Ia tersenyum sambil melirik Nasya yang duduk di kursi belakang seorang diri, sedangkan ia duduk di samping Razka mengemudi.


"Ah ... entahlah! Ayah bilang pada Ibumu jika kau terlalu dikekang maka kelamaan akan frustasi juga stress karena tak dapat hiburan, tapi tetap saja mereka berdua tidak mengizinkanmu makan di luar. Lihat, bekal yang mereka bawakan untuk kita ... bukankah terlalu banyak?" sahut Razka sambil menggelengkan kepala di saat mengingat tingkah dan peringatan kedua wanita itu.


Bima dan Nasya terkekeh, betapa berat perjuangan Razka meluluhkan hati keduanya. Itu sudah pasti, semua itu nampak jelas di wajah lelah sang Ayah.


"Yang penting sekarang Kak Bima bisa keluar dan menghirup udara alam walau peraturan yang ditetapkan begitu banyak oleh mereka," timpal Nasya memasang senyum penuh kemenangan.


Kedua laki-laki berbeda usia itu menganggukkan kepala setuju. Mobil terus melaju menuju bagian timur kota tersebut. Razka mengajak kedua anaknya itu pergi ke sebuah taman. Udara dari pepohonan dan tumbuhan bunga beraneka ragam dan warna masih asri dan sejuk terasa. Tak ada polusi yang mencemari perkebunan tersebut.


Di sana pula ada danau buatan yang dikelilingi pepohonan besar yang ribun. Di dalam kolam hidup beberapa jenis ikan hias yang berenang kian kemari.


"Ayah, di sini asri sekali. Aku baru tahu jika ada tempat seperti ini di kota kita," seru Bima sambil menatap pohon-pohon yang tumbuh rindang juga jejeran jenis bunga yang ditanam rapi dan cantik.


"Ayah sengaja membawamu ke sini karena kau perlu udara segar yang ada di tempat ini. Berkelilinglah, Ayah akan menunggu kalian di sana," ucap Razka sembari menunjuk sebuah gazebo yang disediakan pengelola untuk tempat beristirahat.


Nasya dan Bima menganggukkan kepala kompak sebelum berpisah dengan Razka. Meski jalan sedikit berjinjit karena rasa ngilu masih melekat erat di kaki, tapi Bima terlihat antuasias mengelilingi tempat tersebut. Terkadang ia akan berhenti untuk menarik napas juga mengistirahatkan kakinya yang ngilu.


"Lu duluan aja kalo masih mau lanjutin, gua mau istirahat di sini dulu. Entar kita ketemu di tempat Ayah nunggu," titah Bima yang mendudukkan tubuhnya di atas sebuah bangku pinggir kolam ikan.


"Apa Kakak tidak apa-apa sendiri? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kakak?" Raut cemas jelas terlihat di wajah cantik berbalut hijab army itu.

__ADS_1


"Lu kaya kagak tahu gua aja ... udah lu tenang aja, kagak usah kuatir ama gua. Sono pergi!" usir Bima sambil mengibaskan tangan meminta Nasya pergi sendiri.


Ia tersenyum saat melihat keraguan di manik sang adik, tak lama ia setuju dan melanjutkan perjalanan sendiri. Mengitari taman yang luasnya hampir mencapai dua hektar, mengambil pose seorang diri di tempat-tempat yang dianggapnya bagus.


"Gua kagak mau jadi beban semua orang, gua kudu kuat kagak boleh kelihatan lemah di depan keluarga gua," gumam Bima sambil memijit-mijit kakinya yang terasa sakit dan ngilu.


Luka bekas jahitan itu masih terasa sedikit meskipun telah mengering. Ia menyandarkan tubuh pada sandaran bangku, menikmati rimbunnya pepohonan juga sejuknya angin sepoi-sepoi. Ia memejamkan mata, membiarkan sang bayu membelai lembut pipinya.


"Sejuk bener! Jadi inget waktu di desa. Kapan, ya, Babeh ngajak pulang ke desa? Kangen gua ama kampung halaman," gumamnya sambil tersenyum sendiri dengan mata tetap terpejam.


Ia tak sadar seseorang datang menghampiri tanpa suara. Di kejauhan ia melihat Bima yang duduk seorang diri dan memutuskan untuk mendatanginya. Hatinya seolah mengenali sosok pemuda yang sedang bersantai ria itu.


Namun, ia belum bisa memastikan bahwa tebakan hatinya benar. Sosok itu menelisik wajah Bima dengan baik, ia mengernyit saat melihat dua lesung pipi di kedua sisi bibirnya. Kembali berpikir tentang pemuda yang masih belum sadar bahwa seseorang tengah mengawasi dirinya.


"Bima!" serunya dengan nada sedikit tinggi hingga menyentak lamunan Bima.


Kelopak mata Bima yang terpejam dengan cepat terbuka lebar. Juga tubuh yang duduk bersandar, lantas tegak menegang. Matanya memicing tajam, sungguh ia tak mengenali sosok di hadapannya.


"Siapa?" tanyanya dengan kerutan di dahi yang menumpuk jelas dan banyak.


Ck!


Sosok itu berdecak kesal, keterlaluan!


"Sungguh terlalu kau, Bim. Pada sahabat sendiri kau lupa. Apa tak ada satu ciri pun yang kau ingat dari diriku?" sungutnya terdengar melankolis dan menyedihkan.

__ADS_1


Ia semakin muram dikala wajah Bima justru semakin dipenuhi kerutan. Lidahnya kembali berdecak, berpaling muka karena kesal akan ingatan Bima yang lemah.


Bima tertawa terpingkal-pingkal, sudut matanya sampai berair. Diakhir tawa ia terbatuk karena tenggorokannya tergelitik.


"Muka lu lucu banget, sumpah! Gua kagak ngira lu masih ngenalin gua, tapi jujur gua kangen banget ama lu," Bima beranjak berhadapan dengan sosok yang tersenyum meski kesal karena dikerjai Bima.


"Kau mengerjaiku? Sialan, kukira kau benar-benar lupa padaku. Aku juga rindu padamu, Bim," sahutnya seraya mendekatkan diri dan memeluk tubuh Bima. Keduanya melepas rindu, duduk bersama di bangku tersebut. Saling bercerita dan berbagi kisah. Di antaranya tentang asmara.


"Jadi dia nolak lu? Kagak percaya gua, seorang Revan yang tampan dan mapan juga berpendidikan ini ditolak ama cewe yang biasa aja. Siwer kali tu cewe," komentar Bima setelah mendengar kisah asmara Revan yang mengenaskan.


Kepala pemuda itu menggeleng tak percaya. Revan adalah sosok yang tampan, ia juga mapan dan dari keluarga kaya terpandang. Tak mungkin rasanya ada gadis yang menolak lamarannya.


Hah~


Revan menghela napas sebelum berucap, "Entalah ... aku sendiri tidak tahu. Dia mengatakan sedang menunggu kedatangan seseorang untuk melamarnya. Coba kau pikir, apa orang yang ditunggunya itu akan datang hingga dia menolak lamaranku," sungut Revan. Dadanya bergemuruh hebat dikala mengingat penolakan gadis yang dia lamar.


Mendengar itu, Bima tiba-tiba teringat pada saat Khaira menolak lamaran seorang laki-laki dengan penampilan berkelas di pinggir sungai kala itu.


Apa cowo itu Revan, ya? Gua kagak sempet liat mukanya, sih. Sial!


"Mungkin mereka udah saling ngikat janji satu sama lain. Bisa aja, 'kan? Kita kagak tahu," sahut Bima sambil mengangkat bahu tak acuh.


"Tapi apa kau tahu, Bim. Karena itu aku jadi melampiaskannya dengan alkohol dan tak sengaja menabrak seorang pengendara motor karena pandanganku yang memburam. Ah ... entalah. Aku sendiri tidak tahu, mungkin kalau korban itu orang lain aku pasti masih berada dalam penjara," ungkap Revan penuh penyesalan.


Bima tertegun.

__ADS_1


__ADS_2