Bima

Bima
Part. 108


__ADS_3

Ni rumah lebih gede dari rumah Nyak ama Babeh, tapi lebih nyaman tinggal di sana. Apa Nyak ama Babeh baek-baek aja, ya?


Bima bergumam usai menempati kamar yang ditunjukkan Ayra. Di atas sebuah ranjang berukuran besar, kamar dua kali lipat lebih besar dari miliknya di rumah Dewa, juga keadaan yang sejuk karena menggunakan pendingin ruangan. Sungguh berbeda dengan rumah lama yang ditempatinya.


"Nyak ama Babeh lagi ngapain, ya? Udah tidur apa belum?" Lisannya bergumam lagi. Tak henti pikirannya melayang pada dua lansia yang ia tinggalkan di rumah. Tangannya menimbang gawai. Teringin mengubungi Dewa, tapi takut mengganggu tidur lelap mereka.


"Moga-moga Nyak ama Babeh bisa tidur nyenyak gua tinggalin." Bima terlentang menghadap langit-langit kamar bernuansa putih hitam layaknya permainan catur. Dia suka, desain yang maskulin sangat cocok untuk dirinya.


Teringat ketika ia mengunjungi restoran Razka siang tadi. Gedung yang lumayan besar dengan pengunjung yang tak pernah sepi, begitu yang ia dengar. Para pramusaji lalu-lalang mengantar makanan dan membersihkan meja-meja yang kotor, begitu asik terlihat.


Belum lagi seorang wanita cantik menyambut mereka di pintu restoran berlakon sebagai resepsionis. Dengan gaji yang lumayan besar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


"Ara mau kagak, ya, gua tawarin kerja di sana. Sebelum jadi bini gua aja gitu," gumamnya teringat akan Khaira yang begitu susah mencari pekerjaan selepas lulus sekolah.


"Tapi gua takut dia kesinggung. Gua coba, ah."


Bima menggulir layar ponsel miliknya mencari nama Ara, gadis yang berhasil mencuri hatinya. Sayang, ia belum berani mengatakan pada semua keluarga.


Ra, lu mau kerja, kagak?


Bima mengirimkan pesan singkat pada gadisnya. Ia terdiam menunggu balasan.


Mau, Kak. Kerja apa? Di mana?


Pesan balasan dari Ara.


Di restoran, gajinya lumayan gede. Klo kita udah nikah entar, lu kagak usah lagi kerja. Klo lu mau siapin aja dokumen persyaratannya, terus lu bawa ke restoran itu.


Alhamdulillah, iya, Kak, Ara mau.


Entar gua antar, ya, ke restorannya. Gua jemput lu besok abis kuliah, ya.

__ADS_1


Iya, Kak.


Pesan berlanjut dengan Bima bertanya banyak hal sepele hingga Ara tak lagi membalas karena kantuk melanda.


Bima tersenyum, dikecupnya gawai di tangan yang masih menunjukkan pesan-pesan sang idaman hati. Kini ia selalu merindu, rindu untuk bertemu dirinya.


Bima mencoba melirik jam di layar ponsel, hampir tengah malam, tapi kantuk tak kunjung menyerang. Ia coba memejamkan mata, tetap saja enggan terlelap. Ada apa? Mungkin karena dia tak biasa jauh dari Tina dan Dewa. Tak biasa meninggalkan kedua orang tua itu sendirian.


Ia berguling-guling sendiri tanpa sadar terlelap jua. Jatuh ke alam mimpi indah, terbuai kisah yang tak pernah mencela.


Pagi datang menjelang, sang surya telah pun hadir menggantikan kegelapan malam. Bima mengenakan sarung dan koko yang ia bawa dari rumah karena tak tahu jika di rumah itu pun pakaian miliknya telah tersedia.


Suara-suara dari dapur mengusik minatnya. Oh ... astaga! Hanya Ayra yang tahu jika ia menginap di rumah itu. Sementara yang lain, tak tahu tentangnya yang semalam datang.


Bima keluar kamar, di meja makan telah duduk Razka dan Nasya yang sudah rapi. Sementara Aulia, sibuk membuat sarapan untuk mereka. Ayra? Di mana dia?


"Kenapa hanya berdiri di sini? Kau tidak ingin ikut bergabung dengan kami di meja makan sana?" tegur Ayra yang baru saja muncul dari kamar pada Bima yang termangu di ambang pintu dapur memperhatikan semua keluarganya.


"Selamat pagi!" sapanya dengan ceria seraya menarik kursi dan mendudukinya.


Tak ada yang menyahut, Razka hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Belum tersadar ada Bima yang masih berdiri di belakang putri sulungnya.


Ayra menarik kursi di samping Razka duduk, juga disampingnya. Memberi kode pada Bima untuk duduk di sana.


"Duduklah, Baim. Kita sarapan bersama."


Uhuk-uhuk!


Klontang!


Razka yang sedang menyeruput teh tersedak, Aulia menjatuhkan spatula di tangan disaat mendengar perintah Ayra untuk putra mereka. Bima tersenyum canggung ketika keduanya menoleh dengan mata melebar. Ia mengusap tengkuk salah tingkah melihat keterkejutan di wajah keduanya.

__ADS_1


"Baim!" seru kedua orang tua itu kompak.


"Kak Bima?" Nasya pula ikut merasa terkejut pasalnya ia pun tak tahu jika Bima menginap di rumahnya.


"Sejak kapan kau datang, Nak?" Aulia berhambur menghampiri, Razka sendiri telah berdiri dari kursinya.


Wanita itu memeluk pemuda yang masih berdiri itu. Mengecup pipi kanan dan kirinya, dan memeluknya lagi. Bima meraih tangan sang Ibu, menciumnya dengan takzim. Bergantian ia lakukan kepada Razka yang juga memberikan pelukan padanya.


"Semalam, Ibu. Aku menginap di rumah," jawab Bima dengan senyum manis miliknya. Siapa yang tak terpesona, lesung di pipi menambah ketampanan rupa yang dipahat Tuhan secara sempurna.


"Siapa yang membukakan pintu untukmu, sayang?" Aulia kembali bertanya, ada nada sedikit kesal karena ia tak tahu jika putranya menginap.


"Semalam Ayah dan Ibu sudah tidur, aku tidak tega membangunkan. Lagi pula, Baim memintaku untuk tidak membangunkan orang rumah karena ia pun ingin segera beristirahat," timpal Ayra menatap mereka dengan senyum seperti biasa.


"Ya sudah. Ayo duduk, Nak. Kita sarapan bersama. Lengkap sudah anak-anak Ayah hari ini, sarapan pun akan lebih terasa nikmat disantap," tutur Razka sembari mengajak Bima duduk bersama mengelilingi meja makan tersebut.


Hidangan pagi yang hampir sama seperti di rumah Dewa yang disiapkan Tina dengan cinta dan penuh kasih. Ia pikir, mereka akan sarapan roti dioles selai. Atau secangkir susu hangat tanpa ada pengganjal perut.


Meja makan itu tampak lebih bersinar dengan kehadiran Bima yang mengisi kursi kosong selama ini. Makanan sederhana terasa nikmat jika dibarengi syukur yang teramat. Tak perlu kemewahan, rasa syukur cukup membuat semuanya terasa indah dan membahagiakan.


Kini, Razka dan Bima duduk di teras, Aulia masih di dapur. Ayra telah dijemput calon suaminya, dan Nasya sedang bersiap pergi ke kampus. Dua cangkir teh hangat menemani pagi Ayah dan anak itu. Razka benar-benar merasa sempurna dalam hidup.


"Ayah, akan sangat bahagia jika kalian bisa berkumpul seperti ini selepas Ayah pergi nanti. Hati Ayah akan tenang di alam sana, kau akan menggantikan tugas Ayah menjaga mereka, Nak. Ayah percaya kau mampu melakukannya," ucap Razka memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka.


Bima menunduk, rasanya berat untuk berpisah karena baru saja bertemu. Ia masih ingin melihat mereka, masih belum cukup berbakti pada keduanya.


"Aku akan berdoa semoga Ayah dan Ibu diberi umur panjang, agar aku memiliki kesempatan untuk berbakti pada Ayah dan Ibu." Tulus doa yang diucapkan Bima.


"Aamiin."


Razka tersenyum dikala manik keduanya bertemu. Seperti ini yang ia inginkan, pagi ditemani putranya, mengobrol ringan perihal masalah laki-laki.

__ADS_1


"Mmm ... Ayah, apa restoran Ayah memerlukan karyawan?"


__ADS_2