
Dua jam lamanya, mereka duduk bersama. Bercerita tentang segala hal, kadang tertawa kecil, tersenyum bahkan mendengus karena kesal. Namun, semua itu hanya dilakukan dua orang saja, Razka dan Bima. Sementara sisanya, diam menonton. Aulia sesekali ikut tersenyum mendengar Bima berceloteh, sedangkan Ibrahim sibuk sendiri dengan segelas minuman.
Ia kesal karena tak diperhatikan kedua orang tua itu, tapi untuk beranjak pun ia takut kehilangan kesempatan yang sudah ia genggam. Jadilah, ia hanya berdiam diri tanpa berminat menanggapi. Aulia sendiri lebih tertarik mendengarkan suara Bima, dan melihat wajah tampannya.
"Mmm ... Bima, apa keinginan terbesarmu saat ini?" tanya Razka setelah mendengarkan kisah seputar Bima yang pernah menjadi pembalap liar sebelum menggantikan Dewa.
"Saat ini dan nanti, saya hanya ingin membuat kedua orang tua saya bahagia, Tuan. Tidak ada lagi yang saya inginkan, selain melihat senyum mereka di masa senja. Saya menyesal karena telah membuat mereka kecewa. Joki balap liar itu memang menyenangkan hati saya, tapi melihat air mata keduanya saya benar-benar menyesal." Bima tertunduk kala kekecewaan di wajah keduanya kembali membayang di pelupuk mata.
Razka dan Aulia saling melempar lirikan, entah kenapa keduanya terenyuh mendengar keinginan sederhana dari Bima. Namun, hal itu juga membuat hati Razka bersedih karena bukan mereka yang ingin Bima buat bahagia, tapi Dewa dan Tina. Mereka memang pantas mendapatkannya. Razka meyakinkan hatinya.
"Heh, joki pembalap liar. Apa hebatnya? Pergaulan mereka bebas, kehidupan mereka pun benar-benar miris. Tak bisa jauh dari wanita, tawuran bahkan obat-obatan haram pun mereka nikmati. Aku tahu seperti apa kehidupan mereka," dengus Ibrahim memanasi kedua orang tua di hadapan mereka yang terdiam membisu.
Bima memejamkan mata dalam tunduk, ia harus bisa menahan diri agar tidak emosi. Razka dan Aulia pun sama tak senangnya mendengar ucapan Ibrahim. Mereka berdua menggeram, tak tahan rasanya Razka ingin mencabik lidah itu.
Perlahan Bima mengangkat wajah, ia menyiuk udara memenuhi rongga dada. Suaranya yang menyentak, menghentikan Razka yang hendak berucap. Bola mata lelaki itu berputar melirik ke arahnya.
Bima membalas tatapannya sebelum beralih pada pemuda bermulut lancang di sampingnya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Yang Anda katakan itu memang benar, tapi perlu Anda tahu tidak semua lumpur yang menggenang dapat mengotori siapa saja yang melewatinya. Saya tidak menampik semua yang Anda sebutkan tadi memang benar adanya. Akan tetapi, saya memiliki alarm hidup yang tak lelah memperingati saya setiap kali saya berbelok. Jadi, Tuan Muda, jangan selalu memandang sesuatu dari tampilan luarnya saja. Sementara kita tidak tahu seperti apa perjuangannya dalam meniti langkah-"
"Karena tidak semua pelacur melakukan pekerjaan itu hanya untuk kesenangan mendapatkan uang. Banyak di antara mereka yang terpaksa karena ingin menyelamatkan nyawa orang yang mereka cintai. Maaf, jika saya salah berucap." Bima tersenyum usai mengatakan itu. Teringat akan Khaira yang rela menyerahkan diri padanya untuk menyelamatkan nyawa sang Ibu.
Ibrahim menjatuhkan rahang dengan kedua mata membeliak persis seperti orang yang melihat hantu. Razka patut membangga pada dirinya, ia sudah mencari tahu soal kehidupan Bima selama ini bahkan mengenai ia yang seorang joki balap liar pun Razka juga mengetahuinya.
Ibrahim mendengus kasar, ia berdecih dengan wajah yang dipalingkan dari Bima. Bibirnya yang mencibir, menyulut emosi dalam diri Razka.
"Ibrahim! Jaga lisan juga sikapmu! Bertingkahlah sebagaimana orang berpendidikan tahu cara menjaga lisan. Apa yang kau ucapkan tadi belum tentu Juan melakukannya. Jika kau tak tahu apa-apa soal Juan, jangan berkomentar nyinyir seperti tadi. Aku tidak suka!" tegas Razka pada pemuda itu.
__ADS_1
Ia menatap Razka dengan rahang terjatuh tak percaya. Matanya melirik Aulia meminta pembelaan, tapi wanita itu justru membuang muka darinya. Melihat situasi sudah tidak kondusif, Bima mengakhiri pertemuan hari itu.
"Sudah. Tak apa, Tuan, Nyonya. Maaf, Tuan, Nyonya, jika tidak ada lagi yang dibahas saya pamit undur diri." Bima beranjak, ia membungkuk sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Aulia dan Razka menatap sedih punggung pemuda itu, sedangkan Ibrahim tak acuh sekalipun mendapat tatapan tajam dari kedua orang tua di depannya.
Bagus. Pergi saja sana! Pergi!
"Ya sudah. Sebaiknya kita juga pulang," ucap Razka yang diangguki Aulia dan Ibrahim, "kau duluan saja. Aku akan membayar dulu semua ini," sambungnya lagi.
Aulia pun gegas beranjak, ia ingin menemui Bima sebelum pemuda itu benar-benar pergi. Disusul Ibrahim yang tak ingin jauh darinya. Bima masih berjalan di parkiran, bukan mobil tujuannya, tapi sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Juan! Tunggu!" panggil Aulia sedikit berteriak memanggil Bima.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan? Kenapa begitu peduli padanya?" ketus Ibrahim tak lagi menutupi ketidaksukaannya di hadapan Aulia.
"Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan banyak bicara!" sengit Aulia yang tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menegur Ibrahim. Tercenung pemuda itu, ia menggeram dalam hati dan mendendam pada Bima.
"Juan!" Bima menghentikan langkah, berbalik dan melihat Aulia dengan dahi yang mengernyit. Ia terpaku menunggu, bingung sendiri melihat wajah panik Aulia di kejauhan. Namun, ada senyum yang diukirnya.
Di jalan sebuah mobil truk melaju tak terkendali, kemungkinan karena rem blong. Semua kendaraan menepi di kanan dan kiri, teriakan demi teriakan menggema disusul jeritan para wanita yang merasa ngeri melihat laju truk tersebut.
Sang supir tak henti menekan klakson memberi tanda pada semua orang untuk menyingkir dari jalanan. Namun, Aulia tak melihat itu, ia terus berjalan menuju Bima yang terdiam di sebrang.
"Aul! Menyingkir dari jalanan!" teriak kencang Razka memperingati istrinya. Bima tersentak, saat menyadari hal itu.
"Nyonya! Jangan menyebrang!" Ia ikut berteriak dengan kuat, tapi tak didengar pula Aulia. Kaki wanita itu pun tak dapat diremnya. Terus melangkah tanpa melihat keadaan. Hanya satu yang dilihatnya, yaitu Bima yang sedang berdiri menunggunya di sebrang jalan.
__ADS_1
Razka berlari, tapi kaki tuanya tak dapat berpacu dengan cepat. Tangannya melambai-lambai, mulutnya tak henti berteriak. Aulia seolah-olah tuli dan tak dapat mendengar suara-suara di sekitarnya.
"Aulia!" Suara Razka meninggi.
Bima yang termangu seketika tersadar saat mendengar suara Razka di kejauhan. Ia melirik truk yang melaju di bagian kanan jalan, dan menatap Aulia berada satu garis lurus dengannya.
"Ibu!" Lisannya bergumam. Air mata jatuh tanpa inginnya, "Ibu!" Naik nada suaranya sedikit meninggi. Ia mulai melangkah, lalu berlari mendekati Aulia. Hatinya tak rela kehilangan wanita itu.
"Ibu! Menyingkir dari jalan!" Suara teriakan Bima membuat langkah Aulia terhenti. Ia mematung di tengah jalan, begitu pun dengan Razka yang seketika membeku mendengar Bima memanggil Aulia, Ibu.
"Baim!" Lisan keduanya tanpa sadar menyebut nama anak mereka. Di sana Bima melambaikan tangan meminta Aulia segera menyingkir dari jalan. Kakinya berlari, air mata terus berjatuhan di pipinya.
"Ibu! Cepet pergi dari sana! Sadarlah, Ibu!" teriaknya lagi lebih kuat. Aulia tersadar, bunyi klakson truk menyentak telinganya.
"Argh!" Ia menjerit, tubuhnya terpaku karena terkejut.
"Aul!" Razka berteriak dengan mata membelalak.
"Bagus. Mati saja kalian!" umpat pemuda yang tak acuh melihat kejadian itu.
"Ibu!"
Brak!
Bum!
Tabrakan itu tak terelakan. Suara jeritan sahut-menyahut di pinggir jalanan.
__ADS_1
"Aulia! Ibrahim!" Razka berlari.
Pemuda itu mengernyit bingung saat Razka menyebut nama Ibrahim untuk Bima.