
"Ibrahim!" Bibir Aulia bergumam lirih, tapi kedua mata tetap terpejam rapat. Sesuatu terjadi di alam mimpinya, sesuatu tentang sang putra, anak yang tak berada di satu atap dengannya.
"Baim!" Lagi, bibir pucat itu kembali bergumam. Mengusik ketenangan tidur seseorang di sampingnya. Razka mengernyitkan dahi, mendengar suara lirih sang istri.
Ia beranjak, menopang tubuh dengan salah satu siku tangannya. Sementara tangan yang lain mengusap lembut kepala Aulia yang berkeringat.
"Aul! Bangun, sayang!" gugahnya sembari mengguncang pelan bahu Aulia yang gelisah dalam tidur.
"Baim!" racau Aulia masih dengan mata terpejam. Mendengar nama anaknya disebut, rasa cemas seketika bersarang di hatinya. Ia beranjak duduk, tangannya semakin kuat mengguncang tubuh Aulia.
"Aul! Bangun!" Ia melirik jam dinding, pukul empat dini hari. Lamat-lamat mendengar suara orang melantunkan tarhim di mushola tanda waktu subuh akan segera tiba.
"Ibrahim!" Aulia tersentak dengan mata terbelalak. Ia melirik Razka dengan napas yang tersengal. Peluh bercucuran di wajah, ia beranjak duduk dan menetralkan dadanya yang kembang-kempis.
"Kakak! Baim, Kak. Aku ... perasaanku tak enak. Aku takut kenapa-napa dengan Baim, Kak. Kita ke rumahnya, aku ingin memastikan keadaannya," ucap Aulia panik. Kedua tangannya mencengkram tangan Razka, peluh semakin banyak mengalir bahkan sampai menetes di lehernya.
"Tenang, Aul! Kau harus tenang. Baca istighfar dan tenangkan hatimu." Razka yang sebenarnya panik, mencoba untuk tetap bersikap tenang. Tak ingin menambah kepanikan sang istri.
Aulia menurut, lisannya melafazkan bacaan istighfar dengan pelan. Ia lakukan secara berulang-ulang untuk membuat hatinya tenang. Sedikit saja, tapi rasa cemas itu tak kunjung pergi dari sana.
Raut gelisah masih tercetak jelas di wajahnya yang berkeringat. Ia tak dapat membohongi diri sendiri untuk tidak merasa cemas.
"Tidak bisa, Kak. Aku harus ke rumahnya, aku harus melihat sendiri anakku baik-baik saja. Ayo, Kak, kita ke rumah mereka. Kumohon!" cecar Aulia lagi sembari memegangi kedua tangan Razka dan mengguncangnya beberapa kali.
Gema adzan subuh berkumandang, Razka meminta kepada Aulia untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Dewa.
__ADS_1
"Ayah, Ibu, kenapa pagi-pagi sekali kita ke rumah mereka? Apa tidak mengganggu?" tanya Ayra yang diminta Aulia untuk bersiap-siap ikut pergi ke rumah Bima.
"Ibumu mengkhawatirkan keadaan Baim, di mana Nasya? Apa dia tak ikut?" sahut Razka mewakili Aulia yang masih nampak gelisah. Wajahnya pucat, bibirnya berdecak lemah beberapa kali.
"Aku sudah coba menghubungi Kak Bima, tapi tak diangkat. Sebenarnya ada apa, Ayah, Ibu?" Nasya menyambar dari dalam kamar sembari menggenggam ponselnya.
Bima bahkan terlupa pada benda pipih itu. Tak sampai terpikir untuk membawa serta ponselnya karena panik dengan keadaan Dewa.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajak Razka yang bergegas keluar rumah dan menyalakan mesin mobil. Disusul ketiga wanita berbeda usia setelah Nasya mengunci pintu. Cepat-cepat masuk ke dalam mobil, duduk dengan cemas. Melihat Aulia yang pucat, Ayra dan Nasya ikut panik. Mereka bahkan tak sempat membersihkan diri selain mengambil wudhu tadi.
Di dalam mobil, Aulia tak henti meracau memanggil-manggil nama Bima. Cemas semakin besar mereka rasakan bahkan Razka yang sejak tadi mencoba untuk tenang, ikut merasakan gelisah itu.
Sesampainya di rumah Bima, langit masih diselimuti kegelapan. Sang mentari masih berada di ufuk timur, menyembulkan sinar jingga keemasan yang perlahan muncul. Keadaan rumah sederhana itu nampak sepi dan tenang. Terlihat baik-baik saja, hanya saja mobil yang dibawa Bima pulang semalam tak ada di halaman rumah.
Gerbang sederhana rumah itu tak terkunci bahkan terbuka lebar. Gegas mereka semua keluar mobil dan mengetuk pintu kayu tersebut.
Sunyi. Tak ada sahutan dari dalam rumah. Aulia semakin panik. Ia menoleh pada dua putrinya yang berdiri di belakang memperhatikan. Sementara Razka, mengedarkan pandangan dengan raut bingung ke seluruh halaman rumah tersebut.
Gerbang yang terbuka lebar sementara pintu rumah terkunci dan tak ada sahutan dari dalam.
"Coba kau hubungi lagi Kakakmu, Nasya!" perintah Razka, saat ia menjatuhkan pandangan pada putri bungsunya.
Nasya cepat-cepat menghubungi nomor Bima, suara dering ponsel milik pemuda itu terdengar dari dalam rumah. Aulia melebarkan kedua biji maniknya, ia terduduk lemas karena hati semakin cemas. Wanita itu menangis sesenggukan di atas lantai rumah Dewa dipeluk Ayra yang secara spontan menyambar tubuhnya.
"Mereka semua pergi, tapi ke mana?" gumam Razka dengan bingung. Ia kembali melilau mencari bantuan dari para tetangga yang lewat sekedar bertanya tentang ke mana penghuni rumah tersebut pergi. Namun, tak satu pun dari tetangga mereka, yang melintasi rumah itu.
__ADS_1
"Ke mana Ibrahim? Kenapa pergi tidak memberitahu?" ucap Aulia dengan lirih dan bergetar. Ayra mengusap-usap lengan sang Ibu menenangkan Aulia yang semakin histeris. Meraka memutuskan untuk menunggu di depan rumah Bima.
Matahari perlahan naik menampakkan diri dengan membawa cahaya yang ampuh untuk mengusir kegelapan menggantikannya dengan sinar terang benderang.
Suara sirine ambulance terdengar di kejauhan, para tetangga Bima berhamburan ingin tahu siapa yang datang bersama mobil tersebut. Razka berdiri tegak diikuti Aulia dan kedua anak mereka dikala mobil tersebut mendekat. Di depan ambulance mobil yang mereka kenal menuntun dan masuk ke halaman rumah sederhana milik Dewa.
"Ibrahim!" gumam Razka dan Aulia.
"Kak Bima!" Nasya pula ikut bergumam saat melihat mobil yang dikendarai Bima berhenti di hadapan mereka. Bima menggigit bibir, kedua tangan mencengkeram erat kemudi disaat pandang menatap semua keluarganya.
Ia perlahan keluar dibarengi dengan langkah semua orang yang berada di teras mendekati mobilnya. Bima mengangkat wajah yang sembab, matanya memerah berikut seluruh kulit wajah. Air matanya jatuh menetes disaat melihat Aulia dan Razka di hadapan.
"Ayah! Ibu!" panggilnya lirih.
"Ibrahim!"
Ia berhambur memeluk keduanya. Menangis tersedu menumpahkan kesedihan dalam hati. Mendengar tangisan pilu sang putra, Aulia tanpa sadar ikut meneteskan air mata.
"Babeh ... Babeh udah pergi. Babeh pergi ninggalin Bima, Yah. Babeh pergi ninggalin Bima," adunya pada mereka.
Razka menepuk-nepuk punggungnya, di lain sisi Aulia pula mengusap rambut hingga bagian punggung Bima yang lain. Mobil ambulance berhenti tepat di belakang mobil Bima. Pemuda itu mengurai pelukan, berdiri menyambut kedatangan jenazah Dewa beserta Tina yang menemaninya.
Para tenaga medis membawa jasad Dewa ke dalam rumah. Tubuh gagah itu kini tak berdaya di balik kain putih yang menutupinya. Tak ada lagi senyum seorang preman berhati lembut seperti Dewa. Menyusul Tina yang segera mendapat pelukan dari Aulia.
Tak tertinggal Nasya dan Ayra yang juga ikut menguatkan wanita renta yang nampak tegar meski ia hanya berpura-pura saja. Tangisnya kembali pecah disaat pelukan Aulia menyambut, tapi ia kembali teringat pada pesan Dewa untuk tidak menangisi jasadnya.
__ADS_1
Para tetangga berbondong-bondong datang melakukan takziah ke rumah duka. Turut berbelasungkawa atas kepergian Dewa yang ramah pada mereka semua.