
Akhir pekan kali ini menghadirkan rasa yang berbeda. Tak hanya untuk Razka dan keluarganya, tapi juga untuk Dewa dan Tina yang diterima dengan baik oleh mereka.
Berkumpulnya seluruh anggota keluarga, memberikan kesan mendalam untuk hidup mereka. Hidangan terhampar di atas sebuah tikar yang sengaja mereka bawa dari rumah.
Semua itu Tina dan Aulia yang menyiapkan. Para orang tua telah duduk manis mengambil tempat mereka. Begitu pula dengan dua gadis yang telah berganti pakaian. Kecuali, dia, pemuda yang masih berada di dalam kolam.
Wajah pemuda itu menengadah ke langit, membiarkan sinar matahari menerpa permukaannya. Hanya jakunnya yang terkadang naik turun meneguk saliva. Mungkin tenggorokannya mengering, tapi ia tak peduli. Hatinya terlalu bahagia hingga ia sendiri lupa bahwa matahari telah berada di puncak.
"Apa Kakak masih di dalam air?" tanya Nasya yang tak mendapati Bima duduk bersama mereka.
"Dia tidak ikut membersihkan diri bersamamu?" Aulia balik bertanya sambil menyusun rapi gelas juga piring yang akan mereka gunakan untuk makan.
"Kakak bilang masih ingin di kolam. Entah apa yang dia lakukan di sana," ucap Nasya yang menjumput seiris timun dan melahapnya.
"Bima memang selalu seperti itu jika diajak berenang. Ia akan menyendiri untuk beberapa saat di dalam kolam, setelah puas barulah akan naik dan makan," terang Tina sambil memandang wajah mereka semua dengan tenang.
Aulia yang sempat merasa cemas perlahan berubah lega. Ah, satu lagi, mereka memang tak tahu apapun soal Bima.
"Apa perlu aku panggil?" Ayra menawarkan diri karena bagaimanapun sudah setengah jam lamanya Bima tak muncul.
"Tidak usah, Nona. Walaupun dipanggil dia tak akan menyahut, tapi jika kalian tak percaya boleh mencobanya," saran Tina kepada mereka semua.
Ayra dan Nasya beranjak bersamaan, penasaran juga dengan tingkah aneh pemuda itu yang betah berlama-lama di dalam kolam. Keduanya saling tatap satu sama lain saat mendapati Bima yang tengah terlentang di tengah kolam sendirian.
Ia terlihat tenang tak terganggu meskipun keadaan sekitar amat bising.
"Kakak! Ayo, naik. Kita makan!" panggil Nasya dari tepi kolam.
__ADS_1
"Baim, kau sudah terlalu lama di dalam air. Naiklah, hangatkan tubuhmu!" timpal Ayra juga berdiri di tempat yang sama.
Beberapa saat menunggu tak ada respon dari Bima. Pemuda itu masih tenang di tengah kolam tanpa beranjak sedikit pun. Kedua gadis itu kembali setelah beberapa kali panggilan yang tak diindahkan Bima.
"Bagaimana?" sambar Razka saat kedua putrinya itu kembali dengan lesu.
"Nyak bener, Kakak bahkan tak menggubris panggilan kami," keluh Nasya seraya duduk di atas tikar tempatnya semula.
"Biarkan saja, tak lama lagi dia akan naik," ucap Dewa sembari tersenyum kepada mereka. Hafal betul dengan sikap pemuda itu, jika sudah mendapatkan apa yang dia cari di dalam air dia akan keluar dengan sendirinya.
"Astaghfirullah! Apa kalian menungguku untuk makan!" seru Bima dengan mata melebar melihat hidangan di atas tikar belum tersentuh sedikit pun.
Semua orang mendongak ke arahnya, dia bahkan sudah rapi. Padahal, baru saja Nasya dan Ayra memanggilnya, pemuda itu masih berada di dalam kolam.
Melebar mata kedua gadis itu, rasa tak percaya begitu cepat Bima berganti pakaian.
"Itu yang masih menjadi misteri bagi kami selama ini. Dia cepat sekali berganti pakaian, padahal baru saja masih berada di dalam kolam," ujar Tina menjelaskan tentang situasi Bima yang membuat semua orang meneguk ludah.
"Adik dan Kakakmu baru saja kembali dari sana. Mereka bilang kau masih berada di tengah kolam tak mendengar panggilan yang mereka lakukan. Lalu, kenapa tiba-tiba kau ada di sini dan sudah berganti pakaian?" Dahi Razka berkerut hingga kedua ujung alisnya bertemu.
Bima yang sekarang bingung seperti orang linglung, tak lama ia tersenyum aneh dan hanya menghendikan bahu saja.
"Aku tidak mendengar mereka memanggilku, Ayah. Mungkin orang lain yang mereka lihat dan aku sedang berada di dalam kamar ganti," kilahnya sambil mengunyah sebuah udang goreng.
Nasya dan Ayra membelalak tak terima, apa-apaan pemuda itu? Jelas-jelas yang mereka lihat adalah dirinya, sekarang malah berkilah.
Aulia menghela napas, menyudahi semuanya. "Sudah, yang terpenting saat ini Baim sudah ada di sini. Kita makan sama-sama karena matahari sudah turun dari puncaknya," ujar Aulia yang diangguki semua orang.
__ADS_1
Makan siang kala itu pun bermakna lain untuk mereka. Terutama bagi Dewa dan Tina yang sepanjang hidupnya hanya ada mereka berdua sebelum Bima datang. Ditambah Bima, dan sekarang bertambah pula anggota keluarganya meskipun mereka adalah orang lain dalam perkumpulan itu.
Razka dan kedua gadisnya masih menatap curiga terhadap Bima. Terutama Nasya, jiwa ingin tahunya memberontak. Tatapannya masih sama tajam, mencari kebenaran dari apa yang terjadi pada Kakaknya itu.
Mereka semua beranjak menuju sebuah mushola setelah mengisi perut. Menunaikan kewajiban terhadap Tuhan sang Pemberi Segala Nikmat. Kali ini, Razka yang menjadi imam sesuai dengan permintaan Bima.
"Apa kita akan pergi lagi?" tanya Nasya pada Ayra yang duduk di sampingnya. Mereka bertiga berjejer di serambi mushola menunggu para orang tua menyelesaikan keperluan mereka. Tak ada yang menyahut.
"Ayah, ke mana kita akan pergi?" tanya Nasya begitu Razka keluar dari pintu mushola.
"Ayah akan mengajak kalian ke tempat dulu Ayah menjadi seorang pedagang sate," katanya.
Binar-binar antusias nampak jelas di manik mereka. Perjalanan hidup sang Ayah telah mereka dengar dari beberapa mulut. Seorang Abang penjual sate keliling, menjadi ahli waris dari perusahaan terbesar di kota itu. Siapa yang tak mengenalnya? Seorang yang dermawan meski jarang menampakan diri di depan publik.
Aulia sendiri pun ingin mengetahuinya, stand penjualan tempat Razka dan Aisyah mangkal kala muda dulu. Berpisah untuk bertemu kembali pada keadaan yang lebih baik.
Stand penjualan itu disulap menjadi taman yang indah. Ada bagian khusus yang disiapkan untuk anak-anak bermain layaknya taman kanak-kanak. Di pinggiran taman tersebut berjejer gerobak-gerobak yang disiapkan oleh pemerintah setempat dan Pratama Grup adalah investor utama dalam pengembangan taman tersebut.
"Di sana tempat Ayah berjualan, di samping gerobak soto itu. Lalu, Aisyah di samping yang lain," jelas Razka menunjuk gerobak soto yang masih setia di sana.
"Ayah, sudah lama sekali aku tidak mencicipi soto Nenek. Bisa kita duduk di sana?" seru Ayra tiba-tiba. Teringat saat kecil dulu, ia dan Razka sering berkunjung ke tempat mereka berjualan soto sekedar menyapa ataupun menikmati semangkuk soto hangat yang rasanya tiada tara.
"Boleh. Ayo, kita sapa mereka!" ajak Razka pada semuanya. Setelah bertahun-tahun tak menampakkan diri, banyak dari mereka yang mengenali, tapi takut salah saat ingin menegur. Semua pedagang di sana sudah berganti, banyak yang Razka tak kenali. Hanya satu orang saja, si penjual soto. Anak dari pemilik kedai terdahulu yang diselamatkan Aisyah saat kecil.
"Tuan Besar. Maa syaa Allah ... lama tak jumpa, Tuan," pekiknya langsung berderai air mata dan tanpa sadar memeluk tubuh Razka sambil sesenggukan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Razka usai mengurai pelukan penuh rindu.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Baik, Tuan. Saya baik ... silahkan! Silahkan duduk, Tuan. Saya akan membuatkan soto untuk kalian," katanya sembari mengusap air mata di pipi.
Dengan semangat ia meracik beberapa mangkuk soto. Tak ingin ada kesalahan dalam suguhannya. Razka dan semua keluarganya telah duduk melingkar di sebuah meja bundar. Hidangan soto menjadi penutup hari mereka. Dilengkapi dengan kisah dari si penjualnya.