
Bima yang bingung berkendara tak tahu arah, percakapan di restoran tadi sungguh membuatnya tak bisa berhenti berpikir. Apakah dia bayi yang hilang itu? Ingin beranggapan seperti itu karena wajah mereka memang sangat mirip, tapi mengingat tempat hilangnya bayi dalam cerita, hatinya meragu.
Bayi itu hilang di dalam jurang di kota ini, sedangkan ia ditemukan Tina di pinggir sawah di kampungnya dulu. Jauh sekali. Ia berhenti di sebuah jembatan, di bawah sungai besar mengalir deras. Bima memilih turun dan berdiri di penyangga jembatan menatap aliran sungai di bawahnya.
"Kenapa hidup gua penuh misteri?" Bergumam tanpa mengangkat kepalanya dari atas penyangga besi itu.
"Ya Allah, kalo emang bener itu orang tua kandungku ... gimana Nyak ama Babeh? Mereka udah tua kagak mungkin gua tinggalin." Ia menghela napas, menegakkan kepala masih bergeming pada riak air di bawah sana.
Matanya menyipit ketika melihat seseorang berjalan di pinggir sungai membawa sebuah ember yang berisi cucian. Bima terfokus pada sosoknya yang mulai berjongkok di atas sebuah batu. Ia mengeluarkan pakaian-pakaian kotor dan mulai mencuci.
"Khaira?" Ia menyebut nama gadis itu ketika mengenali wajahnya. Tersenyum bibirnya melihat gadis yang ia tolong hidup dengan baik. Khaira sendiri tak tahu jika sepasang mata di atas sana sedang memperhatikan dirinya.
Juga dua pasang mata yang lain bersembunyi di balik semak. Bima menyurutkan senyum. Matanya yang awas dapat menangkap maksud dari kedua penyusup itu. Gegas ia menaiki motornya. Mencari jalan ke arah sungai, ia tak ingin gadis itu kenapa-napa.
Bima memarkir motornya di balik semak yang lain. Berjalan bagai angin nyaris tanpa suara. Dua orang pengintai itu telah hilang dari tempatnya.
"Mau apa kalian?" teriak Khaira yang menyentak tubuh Bima. Terdengar pula suara gelak tawa dari dua orang laki-laki. Bima gegas mendatangi mereka, ia yang geram menahan diri untuk tidak melakukan kesalahan. Berpura-pura saja.
"Sayang?" panggil Bima sedikit keras. Khaira mendongakkan kepalanya bersamaan dengan kedua laki-laki itu yang menoleh ke belakang tubuh mereka. Ia menggunakan kesempatan itu untuk berlari mendekati Bima.
"Kakak!" Dipeluknya tubuh Bima dengan cepat, pakaiannya yang basah ikut membasahi tubuh pemuda itu. Ia gemetar ketakutan sekaligus kedinginan.
"Tidak apa-apa. Jangan menangis!" ucap Bima sambil menyapu lembut kepala gadis itu. Bima menarik Khaira ke belakang tubuhnya, melindungi tatkala dua laki-laki itu telah menghadap lurus ke arahnya.
"Mau kalian apakan calon istriku?" Pertanyaan Bima, meninggalkan semu merah di pipi Khaira. Rasa dingin di tubuhnya terganti dengan rasa hangat yang menjalar di wajah hingga ke telinga. Sudah ia pastikan kedua pipi hingga telinganya pasti memerah.
Khaira memegangi kedua sisi tubuh Bima dengan erat.
"Ma-maaf, Den. Maafkan kami. Kami tidak tahu kalau gadis itu punya calon suami, kami kira dia masih sendiri. Kami berniat melamarnya, Den. Maafkan kami," seru mereka yang seketika ketakutan.
Apa wajah gua nyeremin, ya? Ngapa mereka langsung minta maaf?
Bima bertanya dalam hati, tapi tidak merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Bohong! Mereka mau menodaiku tadi," jerit Khaira dengan nada bergetar. Cengkeraman tangannya di tubuh Bima menguat ketika teringat dua orang laki-laki itu berniat merobek pakaiannya.
"Beraninya-"
"Tidak, Den! Ampun ... ampuni kami. Kami tidak akan lagi berani mengganggu gadis itu, Den. Kami bersumpah!" tukas mereka dengan cepat sambil menjatuhkan diri di atas bebatuan, bersimpuh dengan kedua tangan yang ditangkupkan.
Bima mengernyit dahi, ia menoleh pada Khaira. "Bagaimana? Apa kau berniat mengampuni mereka?" tanya Bima cukup keras hingga terdengar ke telinga kedua penjahat itu.
Bima mengedipkan matanya saat gadis itu hanya terdiam tak menanggapi.
"Ah ... aku ingin mereka berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu gadis mana pun. Jika mereka tidak bersedia, lebih baik Kakak potong saja milik mereka!" Suara lantang Khaira membuat Bima tersenyum.
Gadis itu memalingkan wajahnya yang kembali memerah, ia membenarkan rambutnya yang basah ke belakang telinga menghindari tatapan Bima. Sementara dua penjahat itu mendongakkan kepala cepat-cepat dan menutupi bagian milik mereka. Mulut keduanya menganga kepala menggeleng kuat.
"Kalian dengar! Dia mau aku memotong milik kalian!" seru Bima sambil melangkah perlahan dengan sebilah pisau di tangan. Eh? Apa Bima membawa pisau? Entahlah!
"Tidak, Den! Ampun, Den! Kami berjanji tidak akan lagi melakukan kejahatan ini. Kami berjanji, Den. Tolong ampuni kami!" Kedua orang itu menangis memohon. Bima mengulum senyum tak tahan. Mereka hanya penjahat amatiran yang melihat ada kesempatan.
"Baik. Kali ini saja aku akan mengampuni kalian, tapi di lain waktu jika kalian masih berani mengganggu calon istriku atau gadis lainnya ... bukan hanya milik kalian yang akan aku potong, tapi urat nadi kalian yang akan aku putuskan. Pergi! Sebelum aku berubah pikiran." Bima mengibaskan tangan mengusir mereka.
"Mereka cuma amatiran, lu tendang aja si Otong punya mereka juga bakal ampun-ampunan." Bima kembali terbahak.
"Si Otong?" ulang Khaira yang tidak mengerti.
"Eh ... udahlah, kagak usah dipikirin. Lu udah selesai nyuci?" Ia menggeleng, "mari gua bantu sekalian nungguin ampe selesai." Ia mengangguk. Bima melepas jaketnya dan sepatunya, menggulung celana jeans-nya, bersiap membantu Khaira mencuci.
"Ngapa lu cuci di mari, kagak di rumah aja?" tanya Bima sambil membantu Khaira membersihkan pakaian. Lihai juga tangannya mencuci baju. Ia sudah terbiasa membantu Tina di rumah.
"Air di rumah tidak mengalir, aku selalu pergi ke sungai untuk mencuci dan sebagainya-"
"Termasuk mandi? Gila lu! Mandi di tempat terbuka kaya gini," tukas Bima secepat laju motornya.
Khaira tertawa kecil sambil menunduk, melihat ekspresi terkejut Bima yang lucu menurutnya.
__ADS_1
"Kalau mandi di rumah, Kak. Mana berani aku mandi di tempat seperti ini," ucapnya pelan. Bima mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kagak usah macem-macem! Gua kagak suka basah!" Pernyataan tegas Bima membuat tangan Khaira yang mengambil air terhenti.
"Tapi baju Kakak sudah basah."
"Ya, jangan lu tambahin! Cepatan ni udah sore," sahut Bima. Cemberut bibir mungil itu. Ia mencuci cepat-cepat, dalam pikirannya sudah terbayang mereka bermain air dan basah-basahan seperti di film-film. Nyatanya ... tak ada adegan seperti itu.
Bima mengantar Khaira sampai ke rumahnya, ia juga membawakan ember berisi pakaian basah milik Khaira. Rumah sangat sederhana, dan hampir roboh jika dilihat.
"Masuk, Kak!"
"Siapa? Ara?" Suara wanita yang parau berteriak dari bagian depan rumahnya. "Ya, Bu!"
"Itu Ibuku, beliau ingin sekali bertemu dengan Kakak," ucapnya sambil mengambil alih cucian dan menjemurnya. Khaira mengajak Bima masuk ke rumah bertemu dengan Ibu.
Dia membuka warung ternyata. Banyak anak-anak yang datang membeli ke warungnya.
"Bu, ini Kak Bima, Kakak yang menolong kita waktu Ibu kecelakaan kemarin." Khaira memperkenalkan Bima pada Ibunya. Wanita paruh baya yang masih terlihat pucat itu tersenyum, ia berjalan mendekat dan memeluk Bima.
"Terima kasih karena sudah menolong Ara. Terima kasih juga karena sudah membantu Ibu. Ibu tidak tahu harus bagaimana membalas semuanya?" Ia terisak sambil memeluk tubuh Bima dengan erat.
"Tidak usah dipikirkan, Bu. Pertolongan yang saya berikan juga tidak seberapa karena memang begitu adanya. Syukur kalau bermanfaat untuk Ibu dan ... Ara," ucap Bima sempat terjeda karena mengingat nama pendek Khaira, matanya melirik sekilas pada gadis yang memandang keduanya.
Ibu mengajaknya duduk di atas tikar, menyuguhkan minuman dan makanan ringan yang diambil Ara dari warungnya. Berbincang ringan sampai tak terasa malam telah datang.
Sementara teman-teman Bima gelisah menunggunya. Tim cheetah telah berkumpul, tersenyum sinis tak ada habisnya. Bima lupa jika ia punya janji dengan teman-temannya.
"Mana jagoan yang kalian banggakan itu? Heh ... hanya seorang pengecut ternyata. Jika dia tidak datang-"
"Kau tidak bisa mengambil jalanan ini! Aku yang akan menantangmu jika dia tidak datang malam ini!" sahut teman Bima berdiri tegak membela.
Terbahak laki-laki bertubuh besar itu, mengibaskan tangan tak peduli dan meremehkan.
__ADS_1
"Baik, tidak masalah. Kau akan tertinggal jauh dariku dan arena ini ... tetap akan menjadi milikku!" Ia kembali tertawa.
Satu-satunya yang mereka harapkan adalah kedatangan Bima. Namun, di mana dia? Kenapa belum muncul juga?