
Sekelompok anak muda itu sedang merayakan kemenangan mereka, sorak-sorai wanita dan laki-laki bercampur menjadi satu. Namun, itu semua terhenti karena kedatangan sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam tepat di hadapan mereka.
Bima berdiri tegak di bawah sorotan lampu mobil tersebut. Si pengemudi mencengkeram erat kedua tangannya yang mengendalikan kemudi. Ia geram, kesal, dan kecewa tentu saja.
Namun, ia pun sempat terharu melihat kemenangan sang putra dan dia baik-baik saja. Apa yang tak dapat dicapainya di masa muda, kini dicapai anaknya di masa tua. Dewa sempat terharu, tapi perasaan kecewa lebih banyak ia rasakan ketika mengingat janji Bima kemarin.
Ia menilik anak-anak muda di hadapannya yang saling melempar pertanyaan. Akan tetapi, tidak dengan Bima. Firasat buruk datang menakuti, membuat tubuhnya menegang seketika. Ia mematung di paling depan, menunggu siapa gerangan yang akan muncul ke permukaan.
Pintu mobil itu terbuka, jantung sang juara semakin berdegup tak beraturan. Ia tak berani berkedip tatkala satu kaki dari dalam mobil tersebut menapak di atas tanah. Seorang laki-laki yang tak lagi muda berdiri dengan tubuhnya yang gagah dan tegap.
"Ba-babeh?" Kelu lidah Bima. Air liurnya tercekat di tenggorokan, mulutnya menganga tak percaya. Keringat mulai merembes membasahi punggungnya.
Mampus gua!
Ia mengumpat dalam hati saat tatapan Dewa yang dipenuhi kekecewaan menghujam maniknya. Sementara teman-teman Bima yang tak tahu siapa orang tua itu, bertanya satu sama lain.
"Umur lu masih muda, tapi lu udah pikun." Suara bernada jenaka itu menohok bagian tengah dada Bima. Senyum yang dilemparkan Dewa bahkan seperti ancaman yang sengaja dihantarkan Dewa untuk melemahkan dirinya.
"Babeh, Bima bisa jelasin ...."
Mata tajam milik Dewa memangkas kalimat Bima yang belum selesai ia ucapkan. Detak jantungnya sudah meronta-ronta hendak melompat dari tempatnya. Bima bahkan kesulitan meneguk salivanya sendiri.
Babeh pasti marah besar.
__ADS_1
"Gua harap mata gua salah lihat. Gua harap pemuda yang dielu-elukan, bukan pemuda yang kemaren berjanji ama gua." Dewa menggelengkan kepalanya. Matanya yang kelabu mengembun menahan kecewa yang memenuhi hatinya.
"Pulang! Kalo lu masih nganggep gua Babeh lu!" titah Dewa sarkas. Ia berbalik tanpa ingin mendengar penjelasan Bima. Kepala pemuda itu tertunduk lesu, helaan napas terdengar berat ia hembuskan. Kali ini, dia benar-benar ketahuan. Dewa benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Langkah Dewa pasti, mendekat pada mobilnya. Namun, belum sampai tangannya menjeremba pegangan pintu, sekelompok teman Bima mencegahnya. Mereka menjatuhkan diri bersimpuh di kaki Dewa. Usia mengamati apa yang terjadi, mereka akhirnya sadar semua itu adalah karena mereka memaksa Bima untuk balapan malam itu.
"Pak! Kami bisa menjelaskan. Semua itu bukan kesalahan Bima, balapan malam ini juga bukan keinginan Bima. Kami yang sudah memaksanya untuk melakukan balapan, semua ini kesalahan kami, Pak. Tolong jangan hukum Bima-"
"Benar, Pak. Dia sudah menolak untuk balapan, tapi kami yang memohon kepadanya agar melakukan balapan malam ini karena cuma Bima yang bisa melawannya. Jika Bima tidak datang maka, mereka akan menguasai tempat kami berlatih, Pak. Tolong, maafkan Bima. Kami berjanji tak akan memintanya lagi balapan," ucap teman-teman Bima bergantian menjelaskan.
Dewa bergeming, ia tak peduli bagaimana pun cerita diawal. Yang ia tahu Bima sudah melanggar janjinya.
"Apa yang kalian dapatkan dari balapan liar ini?" Pertanyaan Dewa membuat mereka bingung sendiri, "hanya kesenangan semata? Juga sejumlah uang jika kalian berhasil memenangkan balapan? Hanya itu? Selebihnya, nyawa yang kalian gadaikan." Dewa melanjutkan kalimatnya, kepala-kepala yang bersimpuh di hadapannya tertunduk dalam. Meresapi kata-kata yang dilontarkan pak tua itu.
"Apa yang kalian katakan pada kedua orang tua kalian ketika akan pergi? Apakah alasan mencari pekerjaan? Ataukah pergi menginap di rumah teman? Ingat, itu suatu kebohongan besar. Kebohongan besar. Kalian menipu kedua orang tua, sejumlah uang yang mereka cari dengan memeras keringat dan membanting tulang siang dan malam, kalian gunakan untuk bertaruh. Mau jadi apa kalian jika sudah dewasa nanti?" Bima tertunduk dalam-dalam.
"Di saat orang tua mengharapkan anaknya menjadi manusia, tapi anak tersebut malah melakukan hal yang sudah pasti akan membuat kecewa hati tua mereka. Jangan sia-siakan apa yang sudah orang tua kalian lakukan untuk membuat kalian berguna di masa depan. Pulang, dan minta maaflah pada mereka!" pungkas Dewa seraya melanjutkan langkah mendekati mobil.
Tarikan napasnya begitu dalam ia lakukan sesaat setelah bokongnya mendarat di atas kursi kemudi. Ia menatap Bima yang berjalan tertunduk mendekati motornya. Dewa menekan klakson mobil dengan kuat. Bima mengerti, ia kembali turun dari motor dan menuruti keinginan babehnya masuk ke dalam mobil setelah menitipkan motor pada salah satu temannya.
Mobil berlalu tanpa berpamitan, meninggalkan tempat yang tak ingin lagi Bima kunjungi. Hatinya sakit melihat gurat kecewa di wajah Dewa. Ia masih menunduk walaupun sudah duduk berdampingan dengan laki-laki tua itu.
Dewa pun bergeming pada jalan di depannya. Mulut keduanya terkunci rapat, tak ada satupun yang memulai untuk berbicara. Bima memberanikan diri melirik ke arah laki-laki tua yang sudah merawatnya itu.
__ADS_1
"Kagak usah larak-lirik. Kalo ada yang mau lu bilang, cepet bilang! Babeh dengerin!" Pada akhirnya lisan tua Dewa yang membuka percakapan. Lewat nada yang sudah melemah, dan hati yang lebih siap, ia akan mendengarkan apa yang ingin dikatakan Bima.
"Maafin Bima, Beh." Kepala pemuda itu tertunduk dalam, "Bima udah salah ngelanggar janji Bima. Bima kagak bisa nolak yang diminta temen Bima. Maafin Bima, Beh," lirih Bima penuh sesal. Dewa meliriknya, tersenyum bibir keriput itu dengan kesungguhan pemuda di sampingnya.
"Terus, demi ngebela temen-temen ... lu berani langgar janji lu ama Babeh ama Nyak? Gitu?" sarkas Dewa tanpa memalingkan wajahnya dari jalanan di depan.
Bima menggelengkan kepala dengan kuat, "Bima kagak ada niat buat langgar janji Bima, Beh. Bima cuma kagak tega waktu temen-temen ditindas dan diremehin ama mereka-"
"Iya, Bima tau. Bima tetep salah. Maafin Bima, Beh. Maaf karena udah bikin Babeh ama Nyak kecewa, maafin Bima." Ia terisak, dadanya terasa sesak karena sesal yang teramat. Belum lagi membuat mereka bahagia, sudah berkali-kali mengecewakan keduanya. Bima benar-benar menyesal.
Mobil melambat dan menepi di sebuah pinggir danau yang dipenuhi pepohonan. Lampu-lampu di sekelilingnya, berpijar menerangi sekitaran danau yang masih menyisakan pasangan muda-mudi di sepanjang mata memandang.
"Babeh emang kecewa ma lu karena lu balapan lagi, tapi apa lu tau? Lu persis kaya Babeh waktu muda dulu. Selalu pengen nyoba hal baru meskipun bahaya." Dewa menoleh padanya, tersemat senyum yang menambah penyesalan di hati Bima tatkala ia ikut memalingkan wajah padanya.
"Itu Babeh. Yang kagak kenal apa itu ngaji, kagak tau apa itu ibadah, kagak tau apa yang kudu disembah. Bukan lu, yang udah Babeh ajak ngaji ama ustadz, udah tau ibadah, udah tau apa yang disembah. Lu juga pasti tau, hidup itu berharga dan cuma satu kali yang kudu lu manfaatin sebaek-baeknya. Hmm ...."
Dewa menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Babeh percaya ama lu, ditambah temen-temen lu tadi, tapi bukan tu yang bikin hati Babeh ama Nyak sakit." Dewa menekan dadanya, Bima berubah bingung. Namun, ia hanya terdiam mendengarkan.
"Lu kenal ama gadis yang namanya Yola?" Dahi pemuda itu berkerut mendengar nama gadis yang mengejar-ngejar dirinya itu. Ia mengangguk tanpa berucap.
"Dia karang di rumah. Babeh kaga tau dah, gimana caranya lu nenangin Nyak. Dia ngamuk-ngamuk di rumah, lu kudu siap-siap denger ocehannya dan kudu bisa yakinin Nyak lu itu."
Perasaan buruk menyergap hatinya. Apa yang dilakukan gadis itu hingga membuat Tina mengamuk.
__ADS_1