
"Lu ngapain jalan sendirian di sini, Neng? Bukannya pulang," tanya Bima sesaat mereka berdua mendudukkan tubuh di bawah pohon beralaskan daun-daun kering yang berguguran. Gadis kecil itu menekuk kedua kaki, ia peluk lututnya tersebut dan menjatuhkan kepala di atasnya.
Bima melirik, tangannya sibuk memainkan sebuah ranting kecil menulis coretan-coretan tak jelas di atas tanah.
"Tadi aku sedang menunggu Ayah menjemput, tapi tiba-tiba preman itu menarik tanganku dengan paksa." Ia membenamkan wajah pada lututnya. Kedua tangannya yang memeluk lutut semakin ia eratkan ketika rasa takut tadi ia rasakan kembali.
"Jalanan di sini sepi, kudunya lu tunggu di depan sekolah. Mana, gua liat tangan lu!" Bima meraih tangan gadis kecil itu tanpa menunggu izinnya terlebih dahulu. Diperhatikannya tangan itu dengan saksama, ada tanda merah melingkar di pergelangan kecil tersebut.
Gadis itu mengangkat wajah, memandang Bima yang tengah memperhatikan lengannya. Jika biasanya ia menolak disentuh, tapi entah kenapa saat Bima yang menyentuhnya, ia merasa baik-baik saja.
Ditatapnya wajah tampan Bima yang berkeringat itu, ia tersenyum. Mulai berkhayal tentang seseorang yang akan menjadi pasangannya kelak. Dia menginginkan Bima, menginginkan bocah yang selalu menolongnya secara kebetulan itu.
"Kayanya kagak terkilir, cuma memar aja. Entar juga sembuh," ucapnya setelah memeriksa secara detail tangan yang memerah itu. Bima meletakkan kembali tangan tersebut secara hati-hati. Ia tak ingin menambah rasa sakit yang telah diterimanya dari preman tadi.
Wajah Bima terangkat, memandang lembut rupa cantik di sampingnya. Bibir tipis di hadapan membentuk senyuman, manis dan segar. Bima ikut menyunggingkan senyum tak kalah manis dari miliknya.
"Kakak sekolah di mana? Sepertinya bukan dari sini? Lalu, kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya gadis kecil itu yang seketika hatinya diliputi banyak tanya ingin tahu tentang bocah yang telah dua kali menolongnya itu.
Bima tersenyum lagi, ia angkat kedua bahu dibarengi wajahnya yang juga keheranan. "Nyasar gua. Kagak sadar ni kaki malah nuntun gua ke sini, mungkin udah jodoh kali, ya. Kaki gua tanpa sadar ngajak gua ke sini. Eh ... pas banget lu digangguin preman. Takdir namanya," sahut Bima yang diikuti oleh kedua alisnya yang bergerak naik-turun dimainkan.
Gadis kecil yang belum diketahui namanya itu tertawa kecil sembari menutup mulutnya. Ia meluruskan kedua kaki, mengurai rasa pegal yang menderanya. Kata-kata Bima sungguh manis terdengar.
"Eh ... ngomong-ngomong, kenapa bahasa lu kaya guru bahasa Indonesia gua? Resmi banget, kagak pegel tu lidah lu ngucapinnya?" Akhirnya, keluar juga apa yang dipendamnya dalam hati sejak pertemuan pertama mereka beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Gadis itu memutar kepala, dahinya yang berkerut justru memperlihatkan yang ia sedang bingung.
"Justru aku yang merasa ... maaf, sedikit aneh saat mendengar Kakak berbicara. Aku tidak terbiasa dengan bahasa yang Kakak gunakan. Terdengar ... apa, ya? Tapi tak apa. Apa kita bisa berteman? Aku senang memiliki teman seperti Kakak." Ia menjulurkan tangannya di depan wajah Bima. Dengan senyum yang tersemat indah, menunggu sambutan dari tangan Bima.
Bima menyambut tangan itu dengan antusias. Kembali menyematkan senyum sebagai tanda dimulainya persahabatan mereka.
"Bima!" katanya bangga.
"Nasya!" Malu-malu gadis kecil itu menyebutkan namanya.
"Nasya? Nama lu bagus. Gua suka dengernya, bakal gua ingat-ingat terus nama lu. Nasya." Bima mengulang-ulang nama itu di hati dan di lisannya. Sekilas, saat orang lain melintas, maka mereka akan mengira keduanya adalah saudara karena wajah mereka yang mirip dari beberapa bagian.
"Terima kasih. Nama Kakak juga bagus, aku suka. Kakak juga hebat dan kuat," katanya sambil tersipu dan menarik tangannya yang masih digenggam Bima. Hening. Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tak ada kata lagi yang menemani acara duduk mereka. Hanya desiran angin yang tak henti menerbangkan rambut hitam sepinggang miliknya.
"Aku tinggal di desa sebelah, Kak. Kami baru pindah ke kota ini karena tempat tinggal kami yang dulu terkena gusuran," jawabnya sembari memandang wajah rupawan yang serupa dengannya itu.
"Ini apa perasaan gua aja, ya? Kenapa wajah lu mirip ama gua? Beneran jodoh kali, ya?" Ia terkekeh usai mengatakan itu. Lesung pipinya nampak jelas terlihat membuat gadis kecil di sampingnya tertegun karena pesona yang mencuat dari sosoknya.
Tin ... tin!
Bunyi klakson mobil yang samar terdengar menghentikan gelak tawa mereka. Sebuah mobil sedan berwarna hitam terpakir di depan gerbang sekolah Nasya. Ia tak tahu jika anak yang dicarinya bukanlah di sekolah.
"Itu Ayahku. Ayo, aku perkenalkan padanya," ajaknya seraya berdiri dari tempatnya duduk.
__ADS_1
Bima menoleh, dilihatnya mobil hitam berkilat di kejauhan. Ia memutar kembali kepalanya pada Nasya yang menunggu dengan antusias. Bima menggeleng, ia belum ingin bertemu dengan keluarga gadis kecil itu. Dalam pikirannya, orang-orang yang berjalan menggunakan mobil selalu bersikap arogan terhadap mereka yang kecil.
"Entar aja, gua belum mau. Sana cepat, dia udah nungguin lu," katanya. Perasaan kecewa tergambar jelas di wajahnya, ia menunduk menahan rasa sedih yang tiba-tiba datang.
"Kagak usah sedih, entar kapan-kapan kita bisa ketemu lagi. Pulang, gih!" Bima bangkit dan menepuk kepala gadis kecil itu. Sekonyong-konyong ia memeluk tubuh Bima.
"Terima kasih, aku harap besok dan besok lagi kita akan bertemu lagi dan lagi," katanya penuh harap. Bima tersenyum dan mengangguk setelah manik mereka bertatapan.
Ia masih berdiri di tempatnya, melepas kepergian gadis kecil itu menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di dekat mobilnya.
"Ayah!" panggil Nasya berlari dan berhambur memeluk ayahnya.
"Sayang, kenapa muncul dari sana?" tanyanya bingung sambil mengusap kepala putrinya.
"Aku bertemu kak Bima di sana! Dia menolongku lagi, Ayah." Tangan Nasya menunjuk pada arah di mana tadi ia duduk bersama Bima.
Laki-laki itu menoleh, tapi tak ada siapa pun di sana. Ia menatap bingung putrinya, menuntut penjelasan.
"Mungkin dia sudah pulang, tadi masih berdiri di sana," katanya lagi meyakinkan. Ayahnya itu mengusap rambutnya sambil tersenyum.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kita pulang, ya. Maaf, Ayah terlambat menjemput," katanya. Keduanya berjalan memasuki mobil setelah anggukan kepala dari Nasya menjawab ajakannya.
Mereka tak tahu saja, Bima masih di sana. Berdiri di balik pohon menatap kepergian dua orang itu. Semilir angin memberikan rasa yang berbeda tatkala laki-laki yang di sana kembali menoleh ke arahnya. Bima buru-buru berpaling dan berbalik arah melangkah menjauh dari tempat tersebut bersamaan dengan ayah Nasya yang memasuki mobilnya.
__ADS_1
Mereka tak sejalan, kasta pun berbeda. Akankah bisa mereka berteman? Mengingat Bima bukanlah siapa-siapa, ia hanya anak seorang mantan preman di desanya. Sedangkan gadis itu, pulang pergi menggunakan mobil mewah. Siapalah dirinya?