
Sementara Aulia dan Razka pergi ke rumah sakit sebelum ke rumah mereka, Bima terus melanjutkan langkah entah ke mana. Tak lelah kakinya itu berpacu meninggalkan hiruk-pikuk manusia di tempat kejadian itu.
Teringat kejadian yang menimpanya tadi, di mana ia tanpa sadar memanggil Ibu pada Aulia. Beruntung, kakinya masih lebih cepat daripada truk tadi. Disaat truk tersebut hampir menyentuh tubuh Aulia, Bima berhasil menariknya. Mereka berguling jauh ke pinggiran jalan.
Aulia menindih tubuh Bima dengan kedua matanya yang terpejam. Sudah dapat ia bayangkan akan jadi apa dirinya ketika truk tersebut berhasil menghantam tubuhnya. Ia tak tahu siapa yang telah menariknya, tapi telinganya sempat mendengar seseorang memanggilnya Ibu di kejauhan.
Aulia membuka mata, pandang mereka bertemu dikala Bima pun turut membuka kelopaknya. Dentuman hebat, membuat Aulia memeluk tubuh Bima yang berada di bawahnya. Dekapan hangat yang ia rasakan dari pemuda yang berada di bawahnya itu, terasa melindungi.
Bima merasakan sebuah aliran aneh, tapi menenangkan yang menjalar bersama darah dalam dirinya. Menimbulkan rindu yang mendalam di hatinya. Rindu entah pada siapa, tapi wanita itu tahu bagaimana cara mengobatinya.
"Ju-juan?" gumam Aulia seraya menjauhkan wajah dari Bima. Pemuda itu membantunya untuk beranjak.
"Apa Nyonya baik-baik saja? Ada yang sakit? Di mana yang sakit?" tanya Bima tanpa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya.
Aulia tersenyum, ia menganggukkan kepala sambil menyahut, "Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?" Ia sedikit menunduk demi dapat melihat wajah Bima yang tertunduk. Pemuda itu hanya mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.
"Maaf, tadi itu ... kau-"
"Ah ... bukan apa-apa. Maaf, saya harus pergi." Buru-buru Bima beranjak. Ia terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Aulia.
"Juan, tunggu!" Namun, sedikit pun Bima tak menoleh ke arahnya, ia terus menyebrang jalan berlari di antara kerumunan manusia. Lalu, hilang tak terlihat lagi.
Aulia beranjak tertatih, melangkah dengan hati-hati mencari Razka. Sementara Bima berlari tak tahu arah tujuan. Ia hanya ingin menghindari Aulia karena merasa telah berbuat lancang.
Sampailah Bima di sebuah pinggir sungai, dasarnya yang merupakan bebatuan membuat aliran airnya begitu jernih. Bima melangkah pelan, menyusuri batu-batu kecil yang menghampar di pinggirannya.
Bima duduk di atas sebuah batu besar dengan kedua kaki tertekuk. Tangannya memeluk lutut, wajahnya menengadah ke langit. Helaan napas ia hembuskan dengan sangat berat, mengurai sesak di dada.
"Ngapa mulut gua lancang bener, ya? Kagak sadar gua manggil dia Ibu, tapi hati gua bener-bener kagak rela tadi liat tu Nyonya mau celaka," gumam lisannya dengan pelan.
__ADS_1
Ia melepas tangan, meletakkan keduanya di belakang tubuh menopang. Kakinya ia julurkan ke depan, kedua mata terpejam menikmati hembusan angin segar juga sengatan matahari sore itu.
Lelah menggunakan tangan sebagai sanggahan, ia merebahkan diri di atas batu besar itu. Melipat kedua tangan di belakang kepala sebagai pengganjal. Hati dan pikirannya terus melayang pada Aulia dan Razka yang bersikap tak biasa terhadapnya tadi.
Perhatian wanita itu bahkan dapat ia rasakan sampai detik itu. Hatinya menghangat berada di dekat mereka berdua. Seolah-olah ia bertemu dengan sanak saudara yang sudah sangat lama berpisah.
Kasak-kusuk terdengar mengusik telinganya, Bima membuka sedikit kelopak, dahinya mengernyit. Mencari sumber kegaduhan di sekitar yang tertangkap telinganya.
"Ara?" Ia bergumam seraya beranjak duduk di atas batu tersebut. Suara wanita yang khas di telinganya, ia tak pernah lupa nada lembutnya yang mengalun.
"Maaf, Tuan, tapi saya tidak bisa menerima Anda." Suara wanita itu terdengar dari balik semak.
"Apa kurangku, Ara? Aku kaya dan mapan, juga berpendidikan. Kau tidak akan hidup susah denganku. Percayalah, Ara. Aku ingin menjadikanmu istriku. Aku akan menjamin kehidupanmu, aku berjanji." Sebuah suara lain menimpali penolakan wanita itu. Suara yang terdengar Memohon dan memelas, menuntut penerimaan.
Bima yang penasaran, turun dari batu tersebut. Ia mengendap ke balik semak, mengintip dua sejoli yang sedang bersitegang di sana. Ara, gadis yang berhasil memikat hatinya itu berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki dengan penampilan berkelas. Sekali lihat saja, orang akan tahu jika dia adalah seorang yang kaya.
"Bukan seperti itu. Tuan sama sekali tidak memiliki kekurangan, Tuan juga mapan dan tampan, tapi saya tidak bisa menerima lamaran Tuan karena saya sedang menunggu seseorang datang ke rumah. Saya sudah berjanji padanya akan menunggu. Sekali lagi maafkan saya, Tuan," tutur Khaira dengan mata yang memancarkan keyakinan pada setiap kata yang keluar dari bibir ranumnya.
"Siapa laki-laki itu?! Apa dia lebih segalanya dariku hingga kau lebih memilih menunggunya daripada aku yang sudah pasti?" geram laki-laki itu sembari melangkah semakin mengikis jarak antara mereka.
Bima menggeram, tapi ia harus menahan diri sampai situasi benar-benar tak terkendali. "Awas aja tu orang kalo ampe macem-macem ama Ara. Gua kagak bakal diem," kecam Bima dengan rahang yang mengetat marah.
"Berhenti, Tuan! Tolong jaga sikap Anda. Bukankah Anda bilang bahwa Anda adalah seseorang yang berpendidikan? Maka sangat tidak pantas orang seperti Anda memaksa seseorang seperti itu!" ketus Ara. Tangan kanannya terangkat isyarat untuknya tidak melanjutkan langkah.
Bima tersenyum, dalam hati membangga pada sikap Khaira yang tegas. Ia menolak dengan tegas, dan tak segan mengucapkan kata-kata menohok tadi.
Langkah kaki laki-laki itu terhenti seketika. Sungguh sial! Bima hanya dapat menatap punggungnya saja, ia tak dapat melihat seperti apa rupa laki-laki pemaksa itu.
Orang kaya emang suka maksa. Suka seenaknya aja, kagak mikirin perasaan orang lain.
__ADS_1
Bima mengumpat, ia mencibirkan bibir melihat kekalahan laki-laki congkak itu. Khaira berbalik meninggalkannya. Gadis itu bahkan mempercepat langkah menghindari laki-laki yang memaksanya itu.
"Awas saja kau, Khaira! Aku pasti akan mendapatkanmu. Jika aku tahu siapa laki-laki itu, akan aku musnahkan dia." Laki-laki itu menggeram sebelum membawa langkahnya dari tepi sungai tersebut.
"Ah, sial! Ngapa mukanya kudu madep sana, sih?!" Bima mengumpat tatkala dalam harap ia akan melihat wajahnya, tapi sungguh sayang. Laki-laki itu bahkan tak menolehkan kepala dan terus menjauh dari posisi Bima.
Ia beranjak berdiri dan keluar dari persembunyiannya. Memperhatikan laki-laki berpenampilan mewah itu pergi. Suara mobil menderu, mungkin mobil laki-laki itu.
Bima melirik langit, matahari mulai beranjak turun menuju peraduannya. Ia pun pergi meninggalkan tepi sungai. Berjalan menyusuri jalanan. Kakinya berkali-kali menendang udara karena kesal dan bosan meniti langkah.
"Coba ada temen geng motor gua, kek, lewat. Capek juga gua jalan. Mana rumah masih jauh dari sini," umpatnya diiringi decakan lidah berkali-kali.
Brum!
Cit!
"Bima!"
Pemuda itu menoleh, senyum sumringah ia ukir tatkala melihat salah satu teman geng motornya berhenti tepat di samping dia berjalan.
"Roy! Lu ...." Ia menggeleng-gelengkan kepala senang bukan main sampai lidahnya kelu tak dapat berucap.
Bima menepuk bahu temannya itu seraya duduk di jok belakang motor Roy.
"Sedang apa kau di sini? Di mana motormu, Kawan?" tanya Roy sambil melaju membawa Bima pergi.
"Entar gua ceritain. Sekarang kita ke tempat nongkrong, udah lama gua kagak nyapa temen-temen," sahut Bima sambil menepuk kedua bahu temannya itu.
Tanpa kata, motor melesat cepat di bawah payung senja nan indah. Mungkin dia butuh teman untuk mengutarakan perasaannya. Butuh didengarkan untuk sekedar mengurangi rasa gelisah. Butuh masukan jika ada yang memberi pendapat. Sahabat adalah tempat terbaik untuk melakukan itu.
__ADS_1