
"Apa wanita itu Ibunya Kak Ayra, ya? Nyonya, Anda cantik sekali. Pantas saja Kakak begitu cantik, jika saja dia bukan Kakakku mungkin aku sudah jatuh cinta padanya," gumam Bima sembari tersenyum memperhatikan gambar Aisyah dengan senyumnya yang teduh.
"Senyum itu kagak ada bedanya ama Kakak, sama-sama bikin teduh dan bikin tenang hati." Bima benar-benar hanyut dalam pesona keindahan yang dimiliki Aisyah. Meski hanya sebuah gambar, tapi itu tak melunturkan pesona dalam dirinya. Dia tetap terlihat cantik.
"Beliau Ibu Aisyah. Mendiang istri pertama Paman Razka sekaligus cinta pertamanya. Beliau Ibunya Kak Ayra. Bukankah beliau sangat cantik?" Sebuah suara menyentak Bima. Ia menoleh ke samping kiri tubuhnya, tersenyum melihat siapa yang berdiri di sana.
Bima menghela napas sambil memalingkan wajahnya kembali menatap gambar wanita itu.
"Mmm ... ya, Beliau wanita paling cantik yang pernah gua temui," sahut Bima mengulas senyum kekaguman pada gambar tersebut.
"Kau ingin bertemu dengannya?" Ia bertanya seraya memalingkan wajah menghadap Bima.
Pemuda itu menoleh dengan binar di matanya. "Boleh?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja. Aku antar," sahutnya lagi seraya berjalan lebih dulu menuju pemakaman di belakang rumahnya. Pemakaman khusus untuk seluruh anggota keluarga Pratama Grup.
Bima mengekor di belakangnya, tak lama menyusul mensejajarkan langkah dengan laki-laki yang mengajaknya.
"Gimana kabar lu? Apa bekas luka itu masih sakit?" tanya Bima sambil menatap kedua kakinya yang melangkah bergantian.
Revan menghela napas, bibirnya menyunggingkan senyum yang sulit diartikan. Pandangannya lurus ke depan pada udara hampa yang tak teraba.
"Sejujurnya masih sangat sakit, tapi karena rasa sakit itu akhirnya aku tersadar bahwa apa yang aku lakukan memang sudah diluar batas. Terima kasih kau datang tepat waktu saat itu, jika tidak ... entah apa yang akan terjadi padaku juga dirinya," ungkap Revan terdengar tulus dan tak dibuat-buat.
__ADS_1
Bima mendengus lembut, rasa kesal di hati telah raib entah ke mana. Ia tak lagi mempermasalahkan kejadian itu. Sedikit rasa bersalah hadir dalam relung jiwa.
"Gua minta maaf karena cara gua yang kasar juga keterlaluan," tutur Bima menatap taman indah di belakang rumah yang tetap terawat dengan baik.
Revan terkekeh, ada hal yang menggelitik rasa dalam tubuhnya. Tentang Bima yang ternyata adalah sepupunya.
"Kisah kita sungguh lucu. Sejak kecil kita bersahabat hingga saat ini. Namun, di antara kita tak ada yang tahu, jika kita memiliki darah yang sama. Aku sungguh tak menduga, tapi aku senang mengetahui fakta bahwa kau adalah sepupuku. Anak Paman yang hilang dua puluh tahun silam," ungkap Revan melirik Bima yang berjalan di sampingnya sambil tersenyum.
"Gua sendiri juga kagak percaya kalo Nyak ama Babeh kagak cerita soal asal-usul gua. Berasa mimpi gua yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba orang-orang manggil gua Tuan Muda. 'Kan, kagak lucu. Bikin hidup gua canggung aja," keluh Bima sambil terus membawa langkah menyusuri jalan setapak di belakang rumah.
"Kau harus terbiasa mulai sekarang." Revan melempar senyuman pada sahabat kecilnya itu.
Bima menganggukkan kepala, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Hamparan daun yang hijau juga bunga beraneka warna menyambut kedatangan mereka.
"Maa syaa Allah ... tempat apa ini!" seru Bima. Iris matanya dipenuhi kekaguman yang teramat melihat keindahan belakang rumah yang disulap menjadi taman bunga itu.
"Ini, sih, bukan hebat lagi, tapi luar biasa. Pantes aja Kakak itu luar biasa, ternyata Ibunya juga emang kagak sembarangan." Bima turut memuji kehebatan Aisyah.
Kedua matanya melilau ke segala penjuru, menelisik setiap bunga yang tumbuh. Beraneka ragam dan warna. Menjadikan belakang rumah itu sebagai surga bunga yang indah.
Revan terus membawanya melewati tengah taman yang terdapat sebuah kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Lagi-lagi Bima berdecak kagum. Lisannya tak henti mengeluarkan kata-kata pujian untuk mendiang almarhumah Aisyah.
Entah kata seperti apa lagi yang bisa menggambarkan betapa Aisyah adalah wanita yang hebat. Mereka melewati gerbang lainnya dan nampaklah perkuburan yang dimaksud. Dengan makam Aisyah yang paling mencolok, berbeda di antara yang makam lainnya.
__ADS_1
Letaknya berada di tengah sendiri, pusaranya akan bersinar saat cahaya matahari terbit dan terbenam menerpa permukaannya. Itulah yang membuatnya istimewa di antara makam yang lain.
"Di sini beliau dimakamkan. Dikelilingi keluarganya dan menjadi yang istimewa di antara yang lain. Nenek, Kakek, Paman, Bibi, Kakek dan Nenek buyut, mereka semua dimakamkan di sini. Kami rutin berkunjung ke sini," jelas Revan disaat keduanya telah sampai di pemakaman belakang rumah.
Bima memperhatikan semua, makam Aisyah berjejer dengan makam Mamah dan Papah. Dilanjutkan Nenek dan Kakek, Paman dan Bibi Max ikut dimakamkan di sana pula.
Ia berjalan ke arah sebuah kran dan mengambil wudhu sebelum duduk di depan makam Aisyah, bersila selayaknya orang yang hendak berdoa. Revan mengikuti, duduk di samping Bima tanpa tahu apa yang akan pemuda itu lakukan.
Revan menoleh cepat ke arah sepupunya itu ketika Bima mulai melantunkan bacaan-bacaan yang sering dibaca pada pemandu dzikir, ia membelalak takjub. Sungguh tak mengira Bima bisa melakukan hal tersebut.
Alfatihah demi alfatihah dilantunkan Bima dengan khusyuk dan lancar. Revan mengikuti meski masih terkesima dengan keahlian lain dari seorang Bima. Saking khusyuknya, mereka berdua tak sadar bawa semua anggota keluarga telah berkumpul dan duduk di belakang keduanya.
Lantunan surat Yasin dibaca Bima tanpa hambatan, dilanjutkan surat-surat pendek. Bima seperti seorang ustadz yang sedang memimpin jalannya dzikir. Ia bahkan tak segan melangitkan doa diaminkan semua orang.
"Aamiin!"
Suara 'aamiin' yang terdengar banyak dan kompak membuat Bima menelan saliva gugup. Hati mulai gelisah, gundah tak menentu. Namun, ia tetap melanjutkan doa sampai akhir. Lantas, gegas menoleh ke belakang tubuh memastikan telinganya tak salah mendengar.
Bima tertegun, peluh mengucur dari dahi. Ia melirik Revan dan bertanya lewat sorotan mata, "bukankah kita hanya berdua?" Dijawab hendikan bahu oleh pemuda itu. Bima melengos ke depan, tertunduk malu. Ia bahkan membenamkan wajahnya di antara kedua paha yang ia lipat.
Razka dan Aulia meneteskan air mata menyaksikan sendiri kemampuan putra mereka. Ayra yang terharu, beringsut mendekati adiknya itu. Ia melingkarkan tangan dan menautkan jemarinya pada jemari Bima.
"Terima kasih, karena sudah sudi berdoa di depan makam Ibu," katanya berbisik seraya menjatuhkan kepala di atas pundak adiknya itu.
__ADS_1
"Ibu! Ibu pasti belum tahu siapa dia? Dia adikku, Bu. Dia hebat, bukan? Tanpa ada yang memintanya, dia duduk di sini mendoakan Ibu." Ayra mengusap sudut matanya yang berair.
Pemuda itu benar-benar sempurna untuk menjadi imam.