Bima

Bima
Part. 121


__ADS_3

"Duduk!" Perintah dari Fahru terdengar tegas untuk putra bungsunya itu. Revan yang baru saja datang melempar lirikan pada ketiga orang yang duduk berjejer di sebuah sofa panjang.


Emilia dengan wajah kesal bercampur kecewa begitu pula dengan Fahru. Sementara Akmal, menatapnya sendu. Merasa iba sekaligus menyesali tindakan adiknya itu.


Revan mendaratkan bokong pada kursi single di hadapan ketiganya. Ia menjadi terdakwa pagi itu, disidang tiga orang hakim yang bersiap membacakan setiap kejahatan juga putusan yang akan mereka berikan.


"Kau tahu apa kesalahanmu?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Fahru dengan nada menekan membuat Revan menundukkan wajah.


"Kenapa?" Pertanyaan selanjutnya, Revan menarik napas panjang. Melonggarkan rongga dada yang menyempit.


"Jika kau sedang ada masalah, kau bisa berbagi bersama kami. Kau masih memiliki keluarga, Revan. Jangan kau tanggung sendiri beban berat di pundakmu," tutur Akmal bijaksana. Sejak perbincangannya dengan Razka beberapa waktu lalu, Akmal berpikir lebih dewasa.


Dia tak lagi main-main dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak lagi mengedepankan ego, semua telah ia pikirkan dengan baik apa yang sudah ia lalui. Belajar dari semua kesalahan dan berjanji pada diri sendiri tak akan lagi mengulang semuanya.


Revan semakin tertunduk, rasa bersalah mulai menghinggapi hatinya setelah mendengar penuturan sang Kakak.


"Yang dikatakan Kakakmu itu benar, Nak. Kau tidak sendirian, ada kami di sini. Kau bisa bercerita kepada Mamahmu bila segan dengan Papah, atau pada Kakakmu yang mungkin lebih bisa mengerti permasalahan anak muda. Jangan melampiaskan semuanya pada tempat-tempat seperti itu," timpal Fahru menambahkan apa yang telah diucapkan putra sulungnya itu.


Emilia mengendurkan urat-urat tegang di wajahnya, ia menatap penuh cinta pada anak malang di depannya itu.


"Kemari, sayang. Duduk bersama Mamah di sini," pinta Emilia menepuk bagian kosong di antara dirinya dan Fahru.


Revan mengangkat wajah, matanya tergenang air dan memerah. Gurat penyesalan terpancar jelas di matanya. Ia beranjak dan menjatuhkan diri di kaki kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Maafkan Revan, Mamah. Maafkan Revan, Papah. Revan benar-benar menyesal. Maaf," katanya menangis tersedu sambil mencium lutut keduanya.


Emilia menarik tubuh putra bungsunya itu dan memeluknya. Mengusap-usap lembut punggung berguncang itu menenangkan hatinya. Ia membawa Revan duduk di antara Mamah dan Papahnya.


"Sudah, tidak apa-apa. Jadikan semua ini pelajaran. Jangan kau ulangi lagi," ucap Emilia mengusap pipi Revan dengan kedua tangannya. Revan mengangguk lantas menjatuhkan kepala di pundak wanita itu.


Fahru mengusap punggung putranya, ia tak ingin emosi memecah kekeluargaan mereka. Keharmonisan yang diciptakan Razka dulu, harus tetap terjaga hingga mereka semua menua.


"Katakan ada masalah apa hingga kau bisa berbuat diluar batasmu, sayang?" tanya Emilia dengan lembut.


Revan mengangkat wajah dari pundaknya, ia memandangi wajah hampir tua Emilia bergantian dengan wajah Fahru yang sudah muncul keriput di beberapa bagian. Juga pada Akmal yang tersenyum tulus padanya.


"Wanita yang aku cintai memilih pria lain, Mah. Dan pria itu adalah temanku. Aku kecewa dan tidak tahu harus apa. Disaat itu yang terlintas dalam pikiranku adalah bar dan alkohol yang selalu membuatnya lupa pada masalah yang kuhadapi. Maafkan aku, Mah, Pah. Aku berjanji tak akan mengulangi semuanya," ungkap Revan dengan nada lemah dipenuhi penyesalan.


"Tidak apa-apa. Ingat, Nak. Jodoh, rezeki, maut, sudah diatur Allah. Kau tidak perlu takut untuk itu karena semua ketentuan ada di tangan Yang Kuasa. Masalah wanita, dia mungkin bukan jodoh terbaikmu. Yakin saja pada hatimu, ada wanita lain yang sedang menunggumu dengan tulus. Entah siapa dan di mana, kita semua tidak tahu. Satu pesan Mamah, lepaskan yang telah pergi karena semua yang ada di dunia bukanlah milik kita seutuhnya. Jangan putus asa, sayang. Mamah bertemu Papah setelah hati Mamah dipatahkan orang yang Mamah cintai. Terbukti, Papah adalah jodoh terbaik yang dikirim Allah untuk Mamah. Kau percaya?" papar Emilia panjang lebar.


Teringat pada masa di mana ia mengetahui bahwa pria yang dia cintai telah menikah dan memiliki anak. Betapa hancur hati Emilia pada saat itu, tapi beruntung ia memiliki Kakak yang bijaksana hingga semua rasa sakit perlahan hilang dengan sebuah kata ikhlas. Lalu, dipertemukan dengan seseorang yang memberinya cinta tak terbatas.


Emilia melempar lirikan pada Fahru, tersenyum bibirnya ketika laki-laki itu melempar senyum penuh cinta padanya. Mendengar pemaparan Emilia, Revan semakin tersadar. Ia mengangguk tanda mengerti pada apa yang disampaikan Mamahnya itu.


"Revan mengerti, Mah. Terima kasih sudah menyadarkan Revan." Ia kembali memeluk Emilia penuh haru.


"Pah, Maafkan Revan," katanya seraya memeluk Fahru menuntaskan rasa bersalahnya usai melepas pelukan Emilia. Ia melempar pandangan pada Akmal, terbersit rasa bersalah di hati kala ia mengingat bahwa ia sempat merasa iri pada kakaknya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Maafkan aku," katanya tulus.


Akmal mengangkat bahu. "Tidak masalah," katanya. Mereka tertawa bersama, akhir pekan yang menyenangkan. Tak semestinya masalah itu terus berlarut sehingga menjadi besar seiring waktu berjalan dan semakin sulit dipecahkan.


Revan menerima kesalahannya dan menyadari semua. Belajar untuk merelakan semua yang telah terjadi di antara ia dan Bima, juga dengan Kakaknya.


Suara ketukan di pintu menyita keseruan para penghuni rumah tersebut. Fahru sigap berdiri berjalan menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang di pagi akhir pekan mereka.


"Kak! Wa'alaikumussalaam!" Ia meraih tangan Razka dan menciumnya. Dilanjutkan pada Aulia, juga semua keponakannya termasuk Bima yang turut berkunjung bersama kedua orang tuanya.


"Mari, masuk! Kebetulan kami sedang berkumpul. Emil pasti senang kalian berkunjung," katanya seraya mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, maaf karena tidak memberi kabar terlebih dahulu," ucap Razka tersenyum tak enak.


"Tak apa, Kak. Kenapa harus mengabari jika mau ke sini. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian dan keluarga yang lain," sahut Fahru sambil berjalan menuju ruangan di mana semua anggota keluarga sedang berkumpul.


"Kalian ada rencana berlibur? Apa kami mengganggu?" tanya Aulia tak enak jika kedatangan mereka tak tepat waktu.


"Ah ... tidak, Kakak ipar. Kami tidak ada rencana ke mana pun akhir pekan ini. Hanya berkumpul di rumah menghabiskan waktu dengan bercerita apa saja," sahutnya lagi untuk pertanyaan Aulia.


Wanita itu tersenyum, di belakang Ayra bersama Nasya melangkah bersamaan. Sementara Bima terpaku di ruang tengah di depan dua buah poster besar yang terpampang di sana.


Memperlihatkan semua anggota keluarga yang lengkap. Semua orang ada di sana. Dua buah poster dengan dua wanita berbeda di samping Razka, tapi dengan anggota keluarga yang sama lengkapnya. Ia menebak itu adalah Ibu Ayra dilihat sekilas saja Kakaknya itu memang mirip sekali dengan wanita yang ada pada gambar.

__ADS_1


"Bima!"


__ADS_2