
"Ayah, penghulu memintaku untuk memanggil Ayah. Acara akad akan dimulai," ucap Bima masih berdiri di ambang pintu kamar Ayra.
Razka menoleh sejenak dan mengangguk sebelum kembali berpaling pada putrinya yang cantik.
"Ayah tunggu kau di bawah. Hari ini, Ayah melepas tanggung jawab atasmu, Nak. Setelah akad nanti seluruh hidupmu akan ditanggung suamimu. Taati setiap perintahnya selama itu tidak melenceng dari agama. Hormati setiap keputusannya, penuhi semua kebutuhannya, jaga perutnya dari rasa lapar setiap malam. Jadilah istri yang taat pada suami karena ridho Allah untukmu ada pada ridho suamimu," nasihat Razka seraya mengecup dahi Ayra lama sekali.
Gadis itu menahan tangis, melipat bibirnya kuat-kuat ia tak ingin merusak usaha sang Kakak yang susah payah dalam meriasnya.
Razka keluar, ia memicingkan mata disaat berpapasan dengan putranya. Bima memasang senyum lebar merayu Razka supaya membiarkan ia membawa Ara menemui Ayra.
"Tuan!" sapa Khaira sambil membungkuk. Ia merasa canggung ketika Bima mengajaknya menemui calon pengantin wanita.
Razka menggelengkan kepala, ia berlalu setelah memperingati Bima lewat sorotan matanya.
"Kak, apa tidak apa-apa aku masuk dan melihat calon pengantin? Sepertinya Tuan Besar tidak senang," sergah Khaira sembari memegangi tangan Bima yang hendak membawa langkah masuk ke kamar Ayra.
"Kagak apa-apa. Gua udah minta izin tadi. Ayo!" ajaknya seraya menarik tangan Khaira memasuki kamar tersebut.
Ayra yang masih duduk di depan meja rias tersenyum menyambut kedatangan calon adik iparnya yang terlihat pemalu. Ia menunduk terlihat gelisah. Semerbak wangi mawar menyeruak ke dalam indera penciumannya. Bercampur dengan wangi bunga yang lain memenuhi seisi kamar Ayra.
Bunga-bunga itu dipetik dari taman belakang rumah. Bunga milik Aisyah.
"Apa kabar? Kudengar kau bekerja di restoran Ayah?" sapa Ayra dengan ramah. Mereka belum sempat berkenalan. Khaira sendiri bahkan belum mengetahui jika Bima adalah putra majikannya. Itu karena Bima mengenakan seragam tim keamanan Pratama.
"Iya, Nona. Saya bekerja di restoran Tuan Besar." Khaira tak berani mengangkat wajah menatap Ayra.
Pengantin itu tersenyum, betapa Khaira gadis yang pemalu.
"Angkat wajahmu, Ara. Kau tak perlu menunduk di hadapanku," titah Ayra sembari mengangkat wajah gadis itu menggunakan jari telunjuknya.
"Terima kasih, Nona. Ini hanya hadiah kecil dari saya. Maaf karena saya tidak bisa memberikan hadiah yang mewah untuk Anda, Nona." Khaira menyodorkan sebuah kado untuk Ayra. Hadiah kecil darinya yang mungkin sangat bermanfaat untuk Ayra.
"Apa ini?" Ayra menimang.
__ADS_1
"Dibukanya nanti saja, Nona. Saya malu," ucap Khaira kembali menunduk.
"Nak! Kau sudah siap?" Aulia datang menghampiri. Ayra mengangguk lantas beranjak berdiri dari duduknya. Ia diapit Aulia dan Bima. Di belakangnya Khaira mengiring bersama Nasya.
Kata sah telah diucapkan di lantai bawah, menggema hingga ke lantai dua rumah. Pengantin wanita digiring, semua orang terpana.
"Aisyah!"
Lisan juga hati mereka menyebut nama wanita itu disaat Ayra muncul.
"Dia benar-benar mirip dengan kak Aisy," bisik Mega di telinga suaminya.
"Pah, bukankah dia sangat mirip dengan mendiang kak Aisy? Aku seperti melihat kak Aisy dalam sosoknya." Emilia pula berbisik di telinga Fahru.
Bukan hanya mereka, Zia dan Ruby bahkan menangis histeris hampir menjerit. Beruntung, orang-orang di dekat mereka menenangkan keduanya.
"Tanganku sendiri yang meriasnya, tapi aku tidak sadar ia begitu mirip dengan Kak Aisy," ucap Zia merasa tak percaya.
Sampai kedua mempelai duduk di pelaminan, semua orang tetap merasa takjub terhadapnya. Keanggunannya serupa dengan Aisyah, tak ada beda jika ia disandingkan dengan ibunya itu.
Bima menjadi pemerhati jalannya acara, ia bertanggungjawab atas keamanan tempat acara tersebut. Bersama Revan, mereka berdua tak menurunkan kewaspadaan.
"Jangan terlalu serius, Tuan Muda. Acaranya insya Allah aman," celetuk Farel seraya duduk di sebuah bangku berhadapan dengan Bima dan Revan.
"Kak Farel benar, aku hanya takut akan ada masalah, Kak." Bima mendesah, ia telah melakukan yang terbaik untuk acara ini.
Farel membawakan mereka jus, membiarkan mereka minum untuk menyegarkan tenggorokan.
"Kak Farel, kapan akan menyusul? Lihat, dia cantik sekali, bukan?" goda Revan menunjuk Lucy yang berjalan mendekati Nasya. Bibir putra Atmaja itu tersenyum, ia tak menampik putri keluarga Maxwell memang cantik. Darah campuran yang mengalir dalam dirinya membuatnya tampak berbeda dari gadis yang lain.
"Sepertinya bukan aku yang akan menyusul, tapi Tuan Muda. Lihat saja! Mereka bahkan sudah sangat dekat," tuding Farel menunjuk kelompok Khaira dengan dagunya. Sesekali wanita itu menjalankan tugasnya sebagai pramusaji dari restoran. Tak apa, yang penting jangan terlalu lelah. Itu pesan Bima disaat ia berbicara padanya.
"Yah ... mungkin saja karena Adik kecilku juga akan menikah," sambar Bima tak menampik keinginannya untuk segera meminang Khaira.
__ADS_1
Meninggalkan obrolan Bima, Nasya berikut ketiga temannya kini ditambah Lucy menyambut para tamu yang datang. Dengan Akmal yang mengetuai, ia yang bertugas menyambut kolega bisnis Pratama Grup.
"Nasy! Lihat, siapa yang datang!" pekik salah satu teman Nasya disaat seorang pria berkacamata memasuki area pesta sambil mendorong kursi roda.
"Itu pak dosen tampan, tapi kenapa tidak bersama rombongan? Dia datang sendiri," sambar yang lain kegirangan dengan datangnya dosen tersebut.
Nasya membelalak, terpana oleh sosoknya yang selama beberapa hari ini memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya meski jarang bertemu.
Pria itu mengernyitkan dahi saat mendapati Nasya berada di barisan para gadis penerima tamu. Namun, detik berikutnya ia tersenyum, merasa senang dapat bertemu dengan sang pujaan hati di tempat ini. Sekalian saja mengajaknya bersalaman dengan kedua mempelai.
"Nak, bukankah itu Nasya? Dia ada di sini juga, kebetulan sekali," tanya Nenek saat menangkap sosok calon menantunya dari jauh. Mata tuanya dapat melihat Nasya dengan jelas, tapi tidak dengan yang lain.
"Nasya, kau di sini?" tegur dosen tersebut setelah berhadapan dengan Nasya. Gadis itu mengangguk dan tetap menunduk karena malu. Bima yang melihat memperhatikan dari jauh.
"Kau datang bersama keluargamu? Di mana Kakakmu?" tanyanya lagi sambil mencari sosok Bima.
"Kakak di sana." Nasya menunjuk Bima. Dosen itu menunduk sopan sebagai sapaan dari jauh.
"Nasya, maukah kau menemaniku menemui mempelai?" Nasya menatap ketiga temannya yang nampak termangu. Sedekat itukah mereka? Begitu kira-kira mereka bergumam.
Sementara Lucy, tersenyum menggodanya. Menyenggol-nyenggol bahu Nasya membuatnya semakin merona. Ia hanya mengangguk lantas mensejajarkan langkah dengan dosen tersebut menemui kedua mempelai.
"Di mana keluargamu?" Nasya tak menjawab, kemungkinan besar dosen tersebut tidak tahu siapa Nasya dan siapa keluarganya.
"Di mana Tuan Besar dan istrinya? Apakah yang di panggung itu?" tanya Nenek mencari Razka dan Aulia teringin menyapa.
"Iya, Nek. Mereka di panggung, kita akan ke sana." Ia mendorong kursi roda Nenek menaiki panggung.
Razka dan Aulia tertegun melihatnya. Sudah lama sekali tak berjumpa, tapi mereka masih saling mengenali.
"Tuan Besar, apa kabar?" sapa Nenek.
"Nenek! Maa syaa Allah, sudah lama sekali tidak bertemu," seru Razka seraya menyalami Nenek. Ia masih sama seperti dulu.
__ADS_1
Mendengar itu, Ayra menoleh. Pandangnya beradu dengan sosok pria berkacamata, ia tertegun. Lintasan kisah tentangnya hadir begitu saja. Sebuah gubuk reyot di perkampungan kumuh tempatnya bermain dengan laki-laki itu membayang dalam benak.
"Fandi!" Pria itu tersenyum.