Bima

Bima
Part. 45


__ADS_3

Bima berdiri berdiskusi dengan penjaga gerbang rumah besar yang membuatnya penasaran itu. Bertanya banyak soal sang majikan yang dijawab apa adanya oleh penjaga gerbang itu.


"Dulu, yang tinggal di rumah ini bukanlah Nyonya Emil, tapi kakaknya yang pergi mengasingkan diri ke daerah terpencil karena suatu kejadian-"


"Apa karena bayi mereka yang jatuh ke jurang?" tukas Bima secepat kilat. Berkedip sepasang mata di hadapannya.


"Dari mana kau tahu soal itu? Bukankah baru hari ini kau bekerja? Dan Tuan Besar baru saja sampai di kota ini lagi?" Terheran-heran wajah berkeringat di hadapan Bima. Ia termangu, benar juga. Kenapa dia bisa lepas kontrol seperti tadi.


"Ah ... i-itu ... Bapak saya yang bercerita, beliau pernah mendengar secara tak sengaja soal cerita itu," sahut Bima gugup tiba-tiba. Ia mengusap tengkuk dengan wajah yang dipalingkan dari tatapan mata di depannya.


Hening. Takut-takut ia melirik lawan bicaranya yang masih terdiam.


"Oh ... pak Dewa. Pantas saja, pak Dewa setiap hari menemani Tuan ke mana pun mereka pergi. Kau anak yang berbakti, pantaslah pak Dewa pensiun karena beliau sudah tua. Saya pun di sini menggantikan Ayah saya dulu." Ia menepuk-nepuk punggung Bima memaklumi.


Pemuda itu melipat bibirnya, menahan gejolak dalam hati.


"Jadi, cerita itu benar, ya?" sambung Bima bertanya. Lelaki itu terdiam, berpikir. Pasalnya, ia pun hanya sekedar mendengar dari sang Ayah yang merupakan penjaga gerbang terdahulu di rumah tersebut.


"Ayah saya adalah saksi hidup dari kisah itu. Tuan Muda diculik pembantu di rumah ini dan akhirnya terjun ke jurang. Setelah itu, tak ada yang tahu lagi kisahnya seperti apa." Ia menghela napas panjang, merasa iba pada keluarga tersebut.


Bima tercenung, pikirannya dipenuhi kisah bayi yang hilang itu. Hatinya kosong mengambang membayangkan kronologis kejadian dua puluh tahu silam.


"Mmm ... jika boleh tahu, usia berapa bayi itu hilang dan siapa namanya?" lanjut Bima terus mengulik kisah soal anak yang hilang.


Penjaga gerbang tersebut kembali berpikir, mengawang ke langit mengingat-ingat kembali.


"Jika tidak salah ingat, beberapa hari setelah dilahirkan ... ah, aku lupa. Namanya Ibrahim, keluarga ini memanggilnya Baim." Membelalak kedua bola mata Bima. Ia terhenyak mendengarnya.


Baim .... Bima? Apa bayi itu gua? Tapi gua kagak yakin karena kagak ada petunjuk laen yang mengarah ke gua.

__ADS_1


Bima melipat bibir, biji maniknya berputar-putar gelisah. Bima mengangkat wajah tatkala mendengar langkah Fahru mendekati mobil.


"Saya pergi dulu!" Gegas Bima membukakan pintu untuk majikannya. Kakinya berayun cepat memutari mobil duduk di belakang kemudi.


Ia mengenakan sabuk pengaman sebelum menjalankan mesinnya. Tangannya lihai memutar kemudi, melaju meninggalkan halaman rumah yang selalu membuat hati Bima dipenuhi rasa penasaran yang besar.


Bima mencoba fokus pada jalanan meskipun hatinya diliputi rasa gelisah. Misteri ini harus ia ungkap. Getar ponsel sang majikan membuat Bima melirik ke arahnya.


"Revan?" Dada Bima berdebar tatkala mendengar nama sahabat lamanya disebut. Ia tersenyum berdoa semoga Revan di jauh sana dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa? Kau akan pulang bulan depan nanti?" Suara Fahru terdengar bahagia.


Revan, gua kangen ama lu.


Mobil berputar di belokan, dengan hati yang riang Bima terus menginjak pedal gas.


"Baik, Papah sudah sangat rindu kepadamu, Nak. Mamahmu pasti senang mendengar kabar ini. Apa kau sudah mengabarinya?" Antusias suara Fahru menyambut rencana sang putra.


Menimang ponsel sambil bergumam sendiri soal rencana kedatangan putranya. Bima turut merasa senang, pada akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sahabat lamanya itu.


"Ah ... belok kiri! Mereka menunggu di restoran yang ada di ujung sana!" ucap Fahru dengan cepat. Mobil berbelok segera menuju restoran yang ditunjukkan Fahru.


"Siapa namamu? Maaf, aku lupa menanyakannya." Fahru tersenyum memandang wajah yang ditutupi masker di sampingnya.


"Juan, Tuan."


"Kudengar usiamu barulah dua puluh tahun. Itu seusia putra kami yang baru saja menelpon. Apa kau tidak kuliah?" Fahru antusias bertanya.


"Saya kuliah, Tuan, tapi saya akan menjeda kuliah saya untuk menggantikan tugas Bapak. Tidak apa-apa, Tuan," sahut Bima tak enak saat melihat wajah Fahru yang mengernyit.

__ADS_1


"Kau bisa tetap bekerja sambil kuliah. Sayang jika harus putus di tengah jalan. Pergilah ke kampus setelah mengantar Akmal ke kantor. Anak muda sepertimu harus memiliki pendidikan yang tinggi," ucap Fahru sembari menepuk pundak Bima.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih." Bima tak menduga hal ini, ia sudah berniat meninggalkan kuliah demi menggantikan Dewa. Namun, takdir Tuhan sungguh baik terhadapnya.


Fahru mengulas senyum puas di bibirnya, cara mengemudi Bima berbeda dengan Dewa. Ia tetap fokus dan menjaga jarak meskipun kerap menyalip kendaraan di hadapannya.


Mobil berhenti di parkiran sebuah restoran mewah.


"Kau kembali saja, aku tidak tahu sampai kapan aku berada di sini." Fahru tersenyum usai mengatakannya pada Bima. Kepala pemuda itu mengangguk pelan dan menatap sang majikan memasuki restoran tersebut.


"Gua kagak tahu kudu ke mana? Santai di mari aja dulu kagak apa-apa, 'kan?" Bima menjatuhkan kepala pada sandaran kursi, kedua tangan menumpuk menjadi pengganjal kepalanya. Hanya beberapa menit saja, biarkan ia menikmati kehidupannya.


Bima merogoh sakunya, mencari bungkus rokok yang biasa menemani. "Ah ... sial!" Ia mengumpat karena tak menemukan apa yang dicarinya. Bima terpaksa keluar, mendekati sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan.


Ia membuka masker, membeli sebungkus rokok, memutuskan untuk duduk di warung tersebut sembari menikmati segelas susu hangat. Asap rokok mengepul dari bibirnya, ia duduk sendiri menghadap ke jalanan. Ada beberapa pelanggan juga di sana sedang menikmati pagi mereka.


Ia melamun, masih memikirkan soal bayi yang hilang di keluarga tersebut. Kepalanya menunduk dan terangkat berulang-ulang. Menyugar rambutnya yang lembut bekas sentuhan shampo pagi tadi.


Sementara di jalan, Razka bersama Rendy menuju restoran yang sama dengan Fahru. Keduanya asik berbincang, tertawa kecil. Mungkin saja membahas kenangan saat dulu.


Razka memalingkan wajah ke luar jendela. Dahinya yang keriput itu berkerut ketika mata rabunnya menangkap sesosok pemuda yang tercenung di sebuah warung. Sayangnya, Bima melepas jas berlogo Pratama Grup dari tubuhnya.


Razka membenarkan letak kacamata, mempertajam indera penglihatan milikinya itu. Jantungnya berdebar-debar kencang di saat ia melihat dengan jelas wajah pemuda tersebut.


"Ren! Bisa kita pergi ke warung yang di sana?" Bergetar lisan Razka saat meminta Rendy pergi menemui pemuda tadi.


"Ada apa? Fahru mungkin saja sudah menunggu kita untuk-"


"Pergi saja! Aku harus memastikan sesuatu," tukas Razka dengan cepat. Kedua matanya tak berpaling dari sosok pemuda yang menarik hatinya itu. Mobil berbelok, beberapa saat pemuda itu terhalang tiang-tiang lampu dan bangunan di jalanan.

__ADS_1


"Cepat, Ren!" Mobil berhenti di warung tersebut. Razka bergegas turun dan mendatangi kursi di mana Bima duduk. Matanya berkaca-kaca, jantungnya berdegup kuat.


Baim!


__ADS_2