Bima

Bima
Part. 18


__ADS_3

"Pamit dulu, Nyak, Babeh. Assalamualaikum!" Bima mengayuh sepedanya di jalanan. Semangat belajar yang terus berkobar menjadikannya yang terdepan. Tak tertinggal apa pun dan selalu update setiap apa yang terjadi di sekolah.


Setelah pembegalan di tengah jalan itu, tak ada yang berani mengancam apalagi melawan Bima. Ia bahkan tak segan menegur mereka yang sering melakukan penindasan. Bersahabat baik dengan Revan, tanpa gangguan apa pun.


"Bima, Ayah dan Ibuku mengundangmu ke rumah. Apa kau bersedia datang? Mereka sangat ingin mengenalmu," ujar Revan ketika jam istirahat dan mereka berdua duduk di bangku taman sekolah.


"Aku tidak tahu sampai aku meminta izin orang tuaku. Sepertinya, tidak hari ini karena aku harus membantu Ibu, tapi kapan-kapan aku pasti akan memenuhi undangannya." Bima tersenyum, menampakkan lesung pipinya yang kecil di kedua sisi bibirnya.


Revan tetap menganggukkan kepala meskipun kecewa, tapi ia juga tidak dapat memaksa karena itu adalah hak orang lain menolak atau menerima.


"Bagaimana kalau kau yang berkunjung ke rumahku? Ibuku pasti senang. Aku selalu bercerita tentangmu. Bukankah kau bisa meminta izin pada ayahmu lewat supir yang selalu menjemput?" saran Bima penuh harap.


Ia menunggu, Revan berpikir. Menimbang dalam hati tawaran dari Bima.


"Aku akan mencoba." Bima mengangguk. Bel masuk berbunyi. Keduanya beranjak meninggalkan bangku taman sekolah ikut berdesakan dengan yang lain.


******


Bima mengayuh sepedanya menuju rumah, setiap hari selalu seperti itu tak jemu ia melakukannya. Ia sosok yang disenangi teman dan para tetangga, juga semua orang yang ia jumpa. Di belakangnya duduk dengan takut Revan yang akhirnya menerima tawaran Bima untuk berkunjung ke rumah setelah diizinkan ayahnya.


Ia memeluk erat pinggang anak yang mengayuh sepeda di depannya tanpa lelah dengan kuat. Menyembunyikan wajah di punggung Bima yang terpejam ketakutan.


"Apa kau tidak bisa pelan-pelan saja mengayuhnya? Aku takut!" pekiknya terbawa udara yang menerjang.


Bima tersenyum, kakinya bergerak semakin cepat mengayuh. Kedua tangan yang melingkar di pinggangnya semakin mengerat.


"Kau harus melawan rasa takutmu mulai hari ini, Revan! Jangan biarkan dia menjadi kelemahanmu!" ucap Bima tak peduli pada gemetar yang ia rasakan di tubuh bagian bawahnya.


Anak itu, mungkin saja meneteskan air mata karena tak biasa menaiki sepeda.


"Bima-"


"Diamlah! Cukup berpegangan yang kuat dan jangan pernah kau lepaskan kedua tanganmu itu!" tukas Bima dengan cepat.

__ADS_1


Bibirnya membentuk senyuman, sebuah kesenangan sendiri baginya menggoda sahabatnya itu. Sepeda melambat saat memasuki kawasan kontrakan di mana Bima tinggal.


Bima menyapa Ibu-ibu yang selalu berkumpul di pos kamling dekat tempat tinggalnya. Pelan-pelan Revan membuka matanya ketika ia merasakan laju sepeda yang melambat. Pegangan tangannya pada pinggang Bima pun mengendur, tatkala sepeda semakin melambat.


Ada bau khas yang menyeruak di udara begitu sepeda mulai berhenti. Bima turun, bocah itu masih memegangi sepedanya menunggu Revan turun. Bocah itu tertegun sejenak sebelum menggerakkan kakinya menuruni sepeda.


"Kau membuat jantungku serasa mau lepas. Aku tidak terbiasa kau tahu?" sungut Revan sembari memegangi dadanya yang kembang-kempis.


Terkekeh tanpa dosa Bima melihatnya. Ia membenarkan posisi sepedanya sebelum mengajak masuk anak gedongan itu.


"Mulai hari ini kau harus membiasakan diri," katanya enteng sambil melengos. Duduk membuka sepatu dan meletakkannya di rak.


"Buka sepatumu dan letakkan di sini!" Ia beranjak dan mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum! Nyak, Bima pulang!"


Revan termangu mendengar panggilan Bima untuk Ibunya. Tersenyum ditahan, sebutan itu terdengar lucu di telinganya.


"Wa'alaikumussalaam ... eh, anak Nyak udah pulang." Tina membukakan pintu, memeluk tubuh Bima usai disalami anaknya itu. Ia tertegun melihat anak lain berdiri di belakang tubuh Bima.


"Hallo, apa kau temannya Bima? Saya Tina, ibunya Bima." Tina mengulurkan tangan hendak berjabat dengannya.


Revan tersenyum, menyambut tangan Tina dengan pelan.


"Revan, Tante. Namaku Revan," katanya membalas senyum Tina yang tersemat sejak melihatnya. Ia beranjak dan mengelus kepala anak itu sebelum mengajaknya masuk.


"Baiklah, Revan. Silahkan masuk! Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri karena memang tidak apa-apa di rumah Bima." Ia terkekeh, "kalian pasti lapar, Ibu sudah memasak untuk kalian," ujarnya sambil mengajak kedua anak itu memasuki rumah.


"Ibumu ramah sekali," bisik Revan di telinga Bima. Bocah tengil itu tersenyum bangga, tanpa berucap ia menepuk dadanya yang membusung. Nyak gua! Dalam hati.


"Bima, ganti baju dulu, gih! Ajak sekalian temanmu itu!" Suara Tina memerintah segera dilaksanakan Bima tanpa mengulur waktu. Bima meminjamkan bajunya kepada Revan.


"Apa tak apa aku memakai bajumu?" Bima menggeleng. Keduanya duduk di atas lantai berhadapan dengan berbagai macam menu sederhana ala Tina.


"Ini semua Nyak aku yang buat. Sekali kau cicipi, tak akan berhenti mulutmu mengunyah," katanya jumawa. Tina tersenyum, merasa senang karena Bima memuji dirinya di hadapan orang lain.

__ADS_1


Keduanya makan dengan lahap, hampir menghabiskan nasi sebakul saking enaknya. Bocah gedongan itu bahkan nambah dua kali dari porsi biasanya.


"Mmm ... ini enak. Aku belum pernah memakan masakan seperti ini," katanya setelah menghabiskan sisa nasi di piring, "ternyata lebih nikmat jika makan tanpa sendok," ucapnya lagi menjilati jari-jari yang dipenuhi bumbu dan sambal. Tina dan Bima saling pandang dan tersenyum.


"Sambalnya juga enak, ada baunya, tapi aku suka. Kenapa masakan Tante bisa seenak ini?" Terus saja mengoceh tanpa henti memuji masakan Tina yang baru saja mendarat di lidahnya.


"Kalau kau suka, kau boleh makan di sini setiap hari," ucap Tina yang disambut binar bercahaya dari matanya.


"Benarkah?" Tina mengangguk meyakinkan. Kedua bocah itu membantu Tina membereskan bekas makan mereka.


"Biar Bima yang nyuci, Nyak." Bima berjongkok di dalam kamar mandi. Tangannya menari dengan lincah memainkan spon di piring.


Ia mengajak Revan bermain bersama teman-temannya seusai melakukan tugas rumahnya. Mengerjakan tugas sekolah sampai sore menjelang.


"Nyak, Bima mau antar Revan pulang, ya. Udah sore," pamit Bima pada Tina. Sayang, anak itu sepertinya tak ingin pulang. Namun, teringat akan pesan sang Ayah ia harus pulang saat sore.


"Hati-hati!"


Dengan mengayuh sepeda, Bima mengantarkan Revan ke rumahnya. Butuh waktu setengah jam lamanya sampai mereka tiba di perumahan tempat tinggal Revan.


"Wah ... apa kau tinggal di sini? Rumah di sini besar-besar dan bagus-bagus!" pekik Bima mengagumi deretan rumah besar dan megah di sepanjang komplek tersebut.


Revan tak menyahut, ia hanya tersenyum dan terus menunjukkan Bima jalan menuju rumahnya.


"Kau harus masuk ke rumahku, Bima. Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku," ajaknya memohon.


"Maaf, Revan, tapi Nyak menyuruhku langsung pulang. Lain kali saja, ya. Sana masuk! Aku akan langsung pulang saja," ucap Bima penuh sesal.


Kecewa jelas tergurat di wajahnya. Namun demikian, ia tetap melangkah masuk melewati gerbang. Bima tersenyum, mengangguk kecil sebelum menaiki sepeda. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil datang memasuki gerbang yang sama dengan yang dilalui Revan.


"Bima!" gumam Dewa yang kala itu menjadi supir majikannya.


Dikayuhnya sepeda itu, rumah Revan sungguh menarik hatinya. Ada sesuatu yang tak asing ia rasakan saat melihat rumah besar tersebut membuatnya ingin terus datang memenuhi panggilan yang ia sendiri tak tahu apa itu. Ada apa dengan rumah tersebut?

__ADS_1


__ADS_2