Bima

Bima
Part. 40


__ADS_3

Di malam yang sama, di mana Bima sedang bersama Khaira dan ibunya, Yola menjalankan rencana yang telah disusunnya. Ia mencari tahu alamat rumah Bima dari teman-teman dekat Bima termasuk dari teman-teman club motornya.


Di sanalah ia berada, di seberang jalan rumah Bima. Memperhatikan seorang wanita yang tak lagi muda usianya sedang berbincang dengan laki-laki tua yang baru saja datang. Kali ini Dewa membawa mobil majikannya ke rumah. Mereka duduk di teras rumah menikmati malam akhir pekan dengan secangkir kopi panas milik Dewa, juga teh hangat yang masih mengepulkan asap milik Tina sebagai teman camilan ubi rebus malam itu.


Teringat akan kisah di kampung dulu, Dewa yang hanya pekerja serabutan, tapi tetap dapat menikmati kehidupan. Hari-hari yang dipenuhi senyuman, tak terbesit ketakutan akan kehilangan. Semua berjalan baik dan penuh kebahagiaan.


"Kenapa aku jadi tidak tega? Apa benar itu orang tua Bima? Mereka sudah tua," ucap Yola setelah mengamati dengan baik kedua lansia di teras rumah tersebut.


Bibir keriput mereka tersenyum walau hanya ditemani ubi rebus yang tidak berkelas. Kopi sederhana, dan teh yang murah meriah, sederhana sekali hidup mereka. Namun, tatkala mengingat Bima yang tak pernah menggubris perasaannya, membuat tekadnya kembali berkobar.


"Ingat, Yol, Bima sudah bersikap tak acuh padamu. Selama ini tak ada satupun laki-laki yang tak mengacuhkan dirimu. Dengan sikap angkuhnya, Bima bahkan tak melirik ke arahmu." Si pembawa kayu bakar memanas-manasi.


Rasa kasihan yang sempat ia rasakan raib dengan sendirinya. Bayangan Bima yang menjatuhkannya dari motor tanpa kata, membuat hatinya tiba-tiba memanas.


Yola mengambil tetes mata, dan meneteskannya pada mata. Berpura-pura bahwa ia sedang menangis. Apa yang akan dia lakukan sebenarnya?


Yola keluar dari mobilnya, berjalan pelan dan berdiri tak jauh dari teras rumah Bima. Ia sesenggukan, dengan mata yang dibasahi air, Yola sedang berakting.


Mendengar suara tangisan Yola, Dewa dan Tina melempar tatapan pada arah suara tersebut. Kulit dahi mereka yang keriput, nampak jelas tatkala keduanya mengernyit.


"Siapa itu, Bang?" tanya Tina penasaran.


"Kagak tahu gua, tapi ngapa dia nangis di mari?" Dewa ikut melempar tanya tanpa memalingkan wajah dari gadis cantik berpakaian seksi tak jauh dari rumahnya tersebut.


Tina yang hendak beranjak, dicekal Dewa tangannya. "Gimana kalo dia makhluk jadi-jadian? Lu kagak takut?" bisik Dewa. Tina yang sudah beranjak, kembali duduk di kursinya.


Sialan, orang tua itu! Kenapa tidak datang padaku dan menegurku?! umpat Yola dalam hati.


"Ada-ada aja lu, Bang! Zaman sekarang mana ada makhluk kaya begitu, yang ada cuma pura-pura," sambar Tina. Namun, ia menurut tak beranjak. Hatinya membenarkan kemungkinan yang dikatakan Dewa.


Yola yang jengah karena tak diacuhkan oleh mereka berdua pun, mulai melangkah dengan pelan. Ia tersedu sedan di sepanjang langkahnya mendekati Tina. Rok mini dan baju tanpa lengan yang dikenakan, membuat risih mata Tina yang berkabut.


"Pe-permisi! A-apa i-ini rumah Bi-bima?" Ia bertanya berpura-pura terbata. Isak tangis menyelengi suaranya yang tercekat.

__ADS_1


Tina dan Dewa melempar lirikan satu sama lain, diliriknya si gadis ada yang janggal dengan tubuhnya yang dibalut pakaian minim tersebut.


"Benar. Apa kau datang untuk mencari Bima? Tapi maaf, Bima belum pulang ke rumah," sahut Tina. Kedua matanya memindai sosok gadis cantik di depannya.


Yola tak menjawab, ia justru menjatuhkan diri di hadapan keduanya dengan laju tangis yang kian menjadi. Tina yang bingung harus apa segera berhambur mendatangi Yola.


"Apa yang harus aku lakukan? Dengan keadaan yang seperti ini, aku sudah tidak punya masa depan. Kuliahku hancur, orang tuaku juga memarahiku belum lagi seluruh penghuni kampus, mereka semua mengejekku," adunya sambil sesenggukan.


Tina melirik Dewa, laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya tak tahu.


"Memangnya ada apa denganmu? Sampai-sampai kau mendapat perlakuan seperti itu?" Tina berucap lembut, suaranya yang bergetar tetap terdengar menenangkan.


Yola yang menunduk, mengangkat wajahnya yang dibasahi air mata palsu.


"Tante, Bima memaksaku melakukannya. Bima merenggut kegadisanku di acara balapan itu, dan ... dan sekarang aku hamil. Aku tidak tahu harus apa? Orang tuaku memaksa untuk mendatangi Bima dan meminta pertanggungjawabannya. Bagaimana ini, Tante?"


Lemas seketika tubuh Tina, ia terjatuh dan duduk di lantai dengan rasa tak percaya yang memenuhi hatinya. Air matanya jatuh tanpa kendali, kepalanya menggeleng kuat menolak apa yang dikatakan gadis itu.


"Kagak mungkin! Anak gua ...."


"Om ... kenapa aku diseret! Om, apa yang Om lakukan? Kenapa kasar padaku? Lepaskan! Sakit!" jerit Yola sambil mencoba melepas cekalan Dewa di pergelangan tangannya.


Dewa tak berbelas kasih, ia menghempaskan tubuh Yola hingga terjerembab di atas tanah.


"Kalo lu datang cuma buat fitnah anak gua! Baeknya lu pegi, sebelum gua seret lu ke penjara karena mencemarkan nama baek anak gua! Jangan sekali-kali lagi lu datang ke mari, ngarti lu?" bentak Dewa tanpa perasaan.


Yola yang terlanjur berakting, tak ingin dipermalukan seperti itu. Banyak warga yang datang berkerumun karena mendengar jeritannya. Ia beranjak pelan dan berdiri.


"Apa maksud Om? Aku memfitnah? Ayah dan anak sama saja. Habis manis sepah dibuang. Laki-laki yang tidak bertanggungjawab, berani berbuat tak berani mengakui. Di mana Bima? Biar dia akui semua perbuatannya ini?" teriak Yola sudah tidak lagi menangis seperti tadi.


Mata Dewa menyipit, memindai gadis yang berapi-api di hadapannya. Desas-desus pun ikut terdengar dari warga yang berkerumun. Membuat Dewa tak tahan. Suara tangisan Tina, ikut memenuhi gendang telinganya semakin menyulut api yang sudah berkobar.


Dewa tersenyum tipis sebelum berujar, "Lihat diri lu! Pakaian yang lu pake aja kekurangan bahan. Mungkin bukan Bima yang udah make lu, tapi lu pengen anak gua yang nikahin karena lu suka ama dia. Gua tetep kagak percaya Bima yang udah bikin lu bunting. Gua kenal anak gua sendiri, gua percaya ama dia. Semua warga di sini juga tau gimana anak gua? Jadi lu kagak usah bikin drama yang kagak-kagak di mari. Lu kagak bakal dapat apa-apa dari memfitnah anak gua!" Tegas dan lugas lisan Dewa berucap.

__ADS_1


Yah ... itu isi pemikiran Dewa saat ini. Hanya spekulasi laki-laki tua itu dengan berharap pada kenyataan yang sama seperti yang ia katakan.


Yola tak mau kalah, ia melirik tubuhnya sendiri. Sial! Seharusnya aku mengganti baju dulu tadi. Mengumpat dalam hati setelah memindai tampilannya sendiri.


"Kenapa Om menyalahkanku? Kenapa juga membawa-bawa tampilanku? Di balapan itu dia bebas memilih wanita mana yang dia inginkan. Dia memaksaku dan melakukannya di sana ...." Ia melirik Tina yang masih duduk melantai sambil sesenggukan.


"Tante, Tante adalah seorang wanita. Bagaimana kalau Tante atau anak perempuan Tante di posisiku saat ini? Bagaimana perasaan kalian sebagai orang tua ketika anak gadisnya dilecehkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab? Tante-"


"Kagak usah rayu-rayu bini gua! Lu ama dia beda. Bini gua wanita terhormat kagak pernah ngelakuin hal rendah kaya lu. Anak gua ... dia ngejunjung tinggi norma agama kagak mungkin ngelakuin hal yang lu sebutin tadi. Pegi! Sebelum gua seret lu ke penjara, biar warga sini jadi saksi lidah jahat lu itu!" Tangan Dewa terayun tinggi mengusir Yola dari halaman rumahnya.


Gadis itu menatap nyalang Dewa, matanya menajam dan mengancam.


"Baik. Aku akan pergi, tapi ingat ... Yola tidak akan berhenti untuk mengganggu Bima. Yola akan datang lagi sampai mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan! Ingat itu, Pak Tua!" katanya seraya berbalik meninggalkan halaman rumah Dewa.


"Apa pun yang lu lakuin, lu kagak bakal bisa ngejatuhin anak gua!" timpal Dewa cukup keras. Wajahnya yang merah padam, dengan kedua tangan dikepalkan, marah tak terbendung. Awas saja jika memang Bima benar-benar melakukan hal yang memalukan itu.


Yola menjeda langkah, melirik tanpa berpaling sebelum berjalan kembali.


"Hmm ... dasar wanita ******! Menyukai kekasih orang, sampai melalukan hal memalukan seperti ini?" cibir anak Munari yang keganjenan.


Yola melirik tanpa berniat menimpali. Ibu-ibu yang lain pun ikut menyahuti.


"Lihat saja pakaiannya! Laki-laki mana yang tak tergoda untuk tidak menyentuhnya? Mungkin saja yang dikatakan pak Dewa benar, dia hamil oleh orang lain, tapi ingin Bima yang bertanggungjawab."


Yola geram, tapi tak dapat melakukan apa-apa. Ia mempercepat jalannya, masuk ke dalam mobil.


"Gagal!" seru kedua temannya pelan.


Sementara Dewa mendatangi Tina dan mengajaknya memasuki rumah. Wanita itu masih menjerit-jerit tak terima.


"Awas aja tu anak pulang! Bakal gua marahin abis-abisan. Bisa-bisanya dia bikin malu orang tua!" teriak Tina dengan perasaan dongkol.


"Tin, lu tanya ama dia baek-baek apa bener begitu? Kalo gua kagak percaya Bima ngelakuin itu?" ucap Dewa menenangkan.

__ADS_1


"Gua pegi dulu! Gua mau cari anak gua dan cari tahu yang sebenarnya."


"Iya, sono! Lu seret tu anak ke rumah, Bang!" Dewa menggelengkan kepala pening.


__ADS_2