Bima

Bima
Part. 104


__ADS_3

Riak air tak lagi menarik di telinga, hembusan lembut sang angin tak lagi memberi rasa sejuk, gemerasak dedaunan pohon membuat sekujur tubuh meremang. Menegang otot tubuhnya menelan ludah pun kepayahan.


Lebam di pipi yang berdenyut membuatnya meringis merasakan perih dari daging bagian dalam yang robek. Rasa asin bercampur bau amis merembes tak sempat ia buang. Revan berdiri menatap penuh sesal pada sosok pemuda yang berada di puncak kemarahan.


"Maafkan aku, Bima. Aku benar-benar tidak tahu jika gadis itu adalah kekasihmu. Aku pikir dia berbohong karena tak pernah mengatakan laki-laki yang sering dia sebut. Aku benar-benar tidak tahu. Tolong, maafkan aku. Aku tidak ingin persaudaraan kita hancur begitu saja, Bima. Sudikah kau memaafkan aku! Kumohon!" mohon Revan.


Wajahnya memelas, maniknya memancarkan kesungguhan akan kata yang ia ucapkan, tapi Bima enggan percaya. Setidaknya sampai Revan benar-benar menunaikan ucapannya.


"Sorry, bukan gua kagak mau maafin lu, tapi apa yang lu lakuin barusan bener-bener bikin kepercayaan gua hilang gitu aja. Jangan coba lu nampakin batang hidung lu di depan gua sampai lu bener-bener sadar apa yang lu lakuin itu salah!" kecam Bima sambil menuding tegas wajah Revan yang mengalami lebam di bagian pipi kiri. Jejak darah yang mengering masih melekat di sana.


Bima tak peduli, ia merangkul bahu Khaira dan mengajaknya pulang setelah mengambil cucian gadis itu. Tatapan Bima menyalang ketika ia melintasi sepupunya itu. Kakak dan adik sama saja.


Revan menyugar rambut, tangannya mengusap sudut bibir yang terasa kaku karena luka bekas pukulan Bima.


"Sial!" Ia mengumpat berkali-kali, "kenapa harus Bima? Kenapa bukan orang lain? Ya Tuhan ... kenapa harus Bima? KENAPA?!" teriaknya frustrasi.


Revan meraung, di tempat sepi itu ia menyendiri dengan segala duka. Menyesali alur hidup yang diciptakan Tuhan untuknya. Begitu rumit. Seandainya bukan Bima, ia akan terus berjuang tak akan mundur sampai mendapatkan hati sang pujaan hati.


Namun, ini adalah Bima, sepupu yang baru saja bertemu setelah dua puluh tahun menghilang. Tak akan mungkin ia bersaing apatah lagi Bima sudah lebih dulu mengenal Khaira jauh sebelum ia kembali ke tanah kelahirannya.


Ia meninggalkan sungai itu dengan langkah gontai, air mata merembes membasahi pipi. Revan membanting pintu mobil dengan kuat. Ia sudah kalah telak sebelum berperang.

__ADS_1


Sementara Bima, mengantar Khaira sampai ke rumahnya. Disambut dengan raut cemas Ibu melihat keadaan putri semata wayangnya itu.


"Ara! Ada apa denganmu, Nak? Kenapa jadi begini?" tanya Ibu Khaira sembari menelisik sekujur tubuh sang putri.


Khaira melirik Bima yang diam mematung sebelum menjawab pertanyaan dari ibunya itu.


"Tadi Ara jatuh, Bu. Tidak sengaja terpeleset di sungai saat membawa cucian. Beruntung Kak Bima datang.


Ia menundukkan kepala, dalam hati memohon maaf karena lagi-lagi membohongi ibunya. Namun, harus bagaimana, tak mungkin juga dia mengatakan ada seseorang yang berniat melecehkannya di sungai.


"Oh ... ya Allah, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kau baik-baik saja. Sekarang ganti pakaianmu," ucap Ibu sedikit merasa lega setelah mendengar keterangan dari anak gadisnya itu.


Khaira menurut, ia pergi ke kamar mengganti pakaiannya, sedangkan Bima digiring Ibu untuk duduk berbincang di ruang tamu dekat warungnya.


"Alhamdulillah tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja akhir-akhir ini memang sedang banyak yang harus dikerjakan," sahut Bima dengan rasa tak enak yang menyelubungi hatinya. Apa lagi?


"Syukurlah ... Beberapa hari lalu ada seorang anak muda yang terlihat seperti orang kaya dari pakaiannya datang ke rumah dan melamar anak gadis Ibu. Menurut Nak Bima bagaimana?" tanya Ibu Khaira mencari tahu seperti apa perasaan Bima terhadap putrinya.


Pemuda itu sedikit terkejut mendengarnya, hati menjawab tidak, tapi lisan tak mampu berucap secara langsung. Ia memainkan jemarinya yang bertaut di atas meja. Bergerak gelisah mencari jawaban yang pas.


"Mmm ... saya tidak tahu. Itu tergantung Khaira sendiri. Semua jawabannya ada pada anak Ibu." Bima kembali terdiam, wajah yang sempat terangkat itu kembali menunduk. Rasa resah dan gelisah kian menghantui.

__ADS_1


Wanita paruh baya di hadapannya tersenyum, segala rasa yang ada dalam hati anak muda itu jelas terlihat pada raut wajahnya. Ia mengerti, ada cemburu yang terdetik dalam hatinya.


"Khaira sendiri bingung, dia mengatakan bahwa sedang menunggu seseorang datang untuk melamarnya. Namun, ketika Ibu tanya, siapa dan kapan? Dia tak pernah menjawab. Jadi, menurut Nak Bima, apakah kami harus menunggu dia datang atau menerima lamaran yang sudah pasti saja?" lanjut Ibu Khaira lagi semakin menambah kegelisahan dalam hati Bima.


Ingin mengatakan, tapi orang tuanya saja belum tahu tentang Khaira. Bima memberanikan diri mendongak, bertatapan dengan biji manik berkabut di depan dirinya.


"Bagaimana menurut Ibu jika saya saja yang melamar Khaira?" tanya Bima dengan pandangan pasti juga keyakinan yang ia susun dalam hati.


Hening beberapa saat. Keduanya sama-sama diam, menegaskan hati masing-masing tentang pilihan yang sedang dihadapi.


"Tapi-"


"Saya tahu, saya tidak setampan laki-laki yang datang melamar Khaira. Saya juga tidak kaya seperti dirinya, atau soal pendidikan mungkin ... saya masih duduk di bangku kuliah, tapi Ibu jangan khawatir saya akan bertanggungjawab penuh atas hidup Khaira, saya akan bekerja keras seperti Babeh dalam memenuhi semua kebutuhan Nyak. Apa pun akan saya lakukan yang penting semua halal dan membuatnya bahagia," tegas Bima dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Belum ada tanggapan dari wanita paruh baya itu, membuatnya was-was dan mewanti-wanti hatinya akan penolakan karena permasalahan sosial itu biasanya menjadi penghalang. Ia tetap bersahaja, tetap mengaku sebagai anak Dewa dan Tina karena baginya, ketulusan itu tak akan memandang status sosial yang dimiliki.


Entah kaya ataupun miskin semuanya sama saja. Harta bisa dicari, tapi hati yang tulus sulit dimiliki. Dibalik sebuah tembok pembatas, gadis itu tersenyum mendengar lamaran yang diucapkan Bima secara gamblang. Padahal, Ibu hanya menguji bagaimana perasaan pemuda itu.


Setelah sekian lama terdiam membuat Bima dilanda kegundahan hati, Ibu Khaira tertawa kecil. Hal itu berhasil menyentak alam bawah sadar Bima, ia gegas mendongak menatap bingung calon ibu mertuanya itu.


"Terima kasih, hanya itu yang ingin Ibu dengar. Baik, Ibu akan menunggu lamaran secara resminya. Ibu senang pada akhirnya Nak Bima mengakui juga perasaan Nak Bima. Ibu yakin, di tangan Nak Bima anak Ibu yang semata wayang akan mendapatkan kebahagiaan. Terima kasih," ungkap wanita paruh baya itu lagi sambil tersenyum haru.

__ADS_1


"Aamiin." Bima dan Khaira menyambut bersama-sama doa yang diucapkan Ibunya itu. Bima tersenyum senang, sedangkan Khaira menundukkan wajah malu-malu.


__ADS_2