
Langit bumi tak dapat mencegahnya. Ia pergi membawa perasaan duka. Luka yang ditorehkan teramat sakit terasa. Air mata terus berjatuhan menjadi saksi nyata. Betapa hatinya teriris tak terduga. Alunan nyanyian alam tak terdengar rungunya. Hanya kesedihan yang menyelimuti jiwanya.
Apa salah mereka? Apa dosa mereka? Hingga banyak orang yang begitu ingin menyakiti keduanya. Kedua lansia itu bahkan tak pernah mengusik kehidupan para tetangga. Dicibir, dihina, direndahkan, sudah menjadi camilan sehari-hari dalam hidup mereka.
Kalo ketemu orang tua kandung gua bikin mereka menderita, lebih baik gua kagak pernah kenal ama mereka. Gua harap mereka bisa ngerti, tapi nyatanya mereka sama aja ama yang lainnya. Orang kaya emang selalu egois dan semaunya. Nyak, Babeh, Bima sayang Nyak ama Babeh. Gimana pun kata orang, kalian juga berjasa besar dalam hidup Bima.
Air matanya terus menganak sungai, hingga pandangannya memburam. Tak pernah ia bayangkan, ibu kandungnya akan meminta dirinya untuk meninggalkan mereka berdua.
Tak peduli terpaan angin. Tak kisah hujan yang ikut mengguyur dirinya. Di bawah derasnya air yang jatuh itu, air mata Bima bercampur jadi satu. Ia berhenti di tepi sebuah jembatan, membiarkan motornya terus menyala. Sementara dia berjalan gontai mendekati tiang penyangga.
Berdiri tertunduk, menangis tergugu. Kedua tangan mencengkeram erat besi tersebut. Hatinya pilu, rasa sakitnya terus menjalar memenuhi seluruh bagian dari tubuhnya.
"ARGH!!!" Dia menjerit sekuat tenaga. Meluapkan kemarahan dalam dada. Sakitnya, sesak terasa.
"Kenapa? Kenapa semua jadi begini? Kenapa? Apa Nyak, Babeh gua kagak pantes bahagia?" Bima kembali tertunduk. Membenturkan kepalanya pada tiang besi itu sambil terus menangis.
"Mereka udah tua, gua cuma pengen ngerawat mereka yang udah ngerawat gua dari bayi. APA SALAH?!" Suaranya menggema dalam hujan. Ia terduduk lemas di pinggir jembatan itu.
Tangannya lunglai terkulai, matanya yang tak henti berair terpejam rapat. Ia hanya ingin merawat keduanya di hari tua mereka karena Dewa dan Tina tak memiliki siapapun lagi selain dirinya. Hanya dia yang mereka punya, dan hanya dia yang bisa merawatnya.
"Kenapa orang tua itu egois? Kenapa kagak biarin gua tinggal ama Nyak ama Babeh? Kenapa, ya Allah?!" lirih suara Bima bergetar hebat. Ia menekuk lutut, memeluknya erat-erat. Membenamkan wajah di atasnya masih saja menangis meski hujan masih mengguyur bumi.
Suara jeritannya yang menggema, mengundang seorang gadis untuk mendatanginya. Di tangannya sebuah payung ia genggam, payung yang cukup lebar. Ia berdiri di samping pemuda itu tanpa disadarinya. Bibirnya yang tipis tersenyum, perlahan mengarahkan payung yang ia genggam ke arah Bima. Melindunginya dari hujaman air hujan yang tak kunjung reda.
__ADS_1
Merasakan tak ada lagi air hujan yang menjatuhi tubuhnya, lambat-lambat Bima mengangkat kepalanya. Ia menengadah dan mendapati sebuah payung lebar dengan motif kupu-kupu melindunginya dari hujan.
Kepalanya berputar ke samping, seorang gadis cantik memegangi payung tersebut, tersenyum hangat kepadanya.
"Apa Tuan baik hati sedang bersedih hati? Apakah gerangan yang membuat hati Tuan bersedih sehingga burung pipit ini merasa pilu kala mendengarnya?" tanya gadis tersebut dengan nada mendayu lembut.
Manis senyumnya membuat Bima tertegun sejenak. Matanya yang basah lagi merah tak berkedip menatapnya. Dia cantik hari itu, dan dia suka.
"Tuan?" Tangannya yang gemulai melambai-lambai di depan wajah Bima yang tercenung. Jemari lentiknya menjentik tepat di hadapan kedua manik yang tak berkedip itu. Bima tersadar dari hipnotis gadis tersebut.
"Lu? Ngapain lu di sini?" tanyanya gugup. Ia berpaling muka, menyeka matanya yang basah oleh air mata. Ia memberingsut cairan yang keluar dari lubang hidungnya.
Kharia duduk di sampingnya, penampilan gadis itu membuat Bima tertegun. Dia cantik dengan dress panjang yang menutupi seluruh bagian tubuh walaupun mahkota miliknya belum tertutup sempurna.
Apakah dia tulang rusuk Bima yang hilang? Hingga selalu mampu menenangkan gejolak api dalam dirinya.
Bima bungkam, ia menatap hampa udara yang tertutup derasnya air hujan. Bagaimana menjelaskannya?
"Tidak apa-apa jika Kakak tidak ingin bercerita, tapi alangkah lebih baiknya jika Kakak mengadu dan berteriak di atas sajadah. Itu akan lebih menenangkan walaupun jeritan seperti tadi dapat membuat hati kita lega," ujarnya masih tersenyum manis.
Ia ikut melayangkan tatapan ke depan, menatap air yang turun tanpa tahu kapan akan surut. Helaan napasnya membuat Bima berpaling.
"Terkadang air hujan dapat mendinginkan hati yang panas. Airnya yang jatuh di atas kepala secara langsung, merupakan obat dari segala macam penyakit. Meresap ke dalam pori terus mengalir hingga ke ulu hati." Ia menoleh, pandang mereka bertemu. Kilas balik kejadian malam itu secara tiba-tiba membayang.
__ADS_1
"Kakak tidak percaya?" Ia lanjut bertanya disaat Bima tak menyahut ucapannya, "mari, aku tunjukkan!" katanya lagi. Ia beranjak berdiri, melempar payungnya hingga terguling di atas jalan jembatan. Gadis itu merentangkan tangan lebar-lebar, kedua matanya terpejam, kepalanya mendongak ke atas. Ia berputar sambil tertawa riang.
Bima tersenyum, terlalu kekanakan, tapi ia suka. Khaira membuka matanya, berjalan pelan menghampiri Bima dan menarik tangan pemuda itu. Mengajaknya berputar di bawah guyuran air hujan dengan kedua tangan terpaut erat.
Mereka tertawa bersama, lelah berputar, keduanya merebahkan diri di atas jalanan dengan napas tersengal-sengal. Beberapa kali mereka meneguk air hujan yang menjatuhi wajah. Sekilas Bima melupakan kegundahan hatinya. Beruntung, keadaan jalanan sepi.
"Apa lu sering ngelakuin ini?" tanya Bima. Ia memalingkan wajah menatap Khaira. Hujan yang deras berangsur-angsur berubah menjadi gerimis.
Gadis ceria itu ikut berpaling, masih tersenyum seperti tadi. "Aku suka melakukannya. Airnya yang sejuk terasa menyegarkan disaat melewati tenggorokan, dan aku suka." Ia beranjak duduk, menekuk lutut. Menjatuhkan kepala di atasnya sambil menatap Bima.
"Bagaimana perasaan Kakak? Setiap masalah pasti memiliki jalan keluarnya karena kita diuji seberapa pandai kita mencari solusi tanpa meninggalkan hati. Jadi, Kakak ... jangan menyerah apalagi putus asa," ujar gadis itu memberi semangat yang menyengat aliran darah dalam tubuhnya.
Bima tertegun sebelum tersenyum, ia beranjak duduk. Menghela napas panjang sebelum memalingkan wajah pada gadis itu.
"Lu bener. Makasih lu udah dateng dan ngasih gua pencerahan. Mmm ... lu cantik," puji Bima membuat Khaira merona malu, "tetaplah tersenyum seperti itu. Aku suka," lanjutnya lagi dengan bahasa formal semakin menambah rona di pipi gadis itu.
Ia berpaling menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terima kasih," lirihnya hampir tak terdengar.
"Mmm ... Ara!" Apa lu masih nunggu gua? Bima tak sanggup mengucapkannya secara lisan disaat wajah gadis itu berpaling menjawab panggilannya. Ia gugup dan secara tiba-tiba lidahnya kelu.
"Hujan udah reda, gua antar lu pulang," katanya seraya bangkit sambil menggigit bibir. Ah, rasanya gugup. Bukan itu yang mau gua bilang ... tapi gua malu.
Tersirat kecewa di wajah manis gadis itu, tapi ia tetap tersenyum dan mengangguk pelan. Beranjak dari duduk, mengambil payung yang terbang terbawa angin sebelum melipatnya. Ia duduk berpegangan pada pinggang Bima disaat motor melaju membawanya menuju rumah.
__ADS_1