Bima

Bima
Part. 127


__ADS_3

Di keheningan malam, seorang pemuda duduk bersimpuh. Di atas sajadah sebuah bangunan kecil, ia menyendiri. Bertemankan isak tangis yang menyayat hati. Kedua tangan menengadah, kepala tertunduk dalam. Bahu berguncang naik dan turun dengan cepat mengikuti isak yang ia lakukan.


Lidahnya kelu tak mampu berucap, dalam hati berharap agar tetap bersama. Setidaknya beberapa saat lagi atau setelah ia memberikan seorang menantu bahkan cucu sekaligus. Namun, siapa yang sanggup melawan takdir.


Ajal adalah suatu ketentuan yang tak bisa diakhirkan atau disegerakan. Datang tanpa diundang, tak kenal waktu dan keadaan. Tak tahu masih dibutuhkan. Ia-nya adalah ujian bagi setiap insan.


"Bima cuma pengen yang terbaik buat Babeh." Ia bergumam pasrah. Diangkatnya kepala sembari menarik cairan yang hampir tumpah dari dua lubang hidung. Bima mengusap pipinya yang basah, seraya menyudahi tirakatnya. Gegas beranjak dan kembali ke tempat Tina menunggu.


Pintu itu masih tertutup, belum ada tanda-tanda dokter keluar. Ia melihat wanita tua itu dalam keadaan menunduk. Sama sepertinya, menangis tak kuasa menahan sebak di dada. Pemuda itu duduk di sampingnya, merengkuh tubuh ringkih berguncang milik Tina.


Memberikan dekapan hangat agar hatinya yang pilu sedikit merasa tenang dengan hadirnya. Kecupan penuh cinta ia berikan pada pucuk kepala sang Nyak. Wanita tegar nan kuat yang telah menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang.


"Apa Babeh lu bakal pergi sekarang?" lirihnya bertanya dengan suara bergetar dan tersendat.


Bima menggeleng antara tidak tahu dan tidak mau tentu saja. Ia tak menyahut karena tak ada yang tahu tentang misteri datangnya Malaikat Ijra'il menjemput nyawa manusia.


Helaan napas Tina terdengar berat dan panjang. Wajahnya yang tertunduk lambat-lambat terangkat. Ia tersenyum meskipun terpaksa.


"Nyak ikhlas klo ini emang udah waktunya Babeh pergi. Tina ikhlas, Bang. Tina kagak mau jadi beban berat Abang. Kalo ini emang yang terbaik, maka Tina rela, Bang." Tina kembali terisak diikuti laju tangis Bima yang kemudian memecah kesunyian.


Bima mengeratkan pelukan, tak kuasa mendengar suara hati wanita tua itu. Lisan boleh saja berucap ikhlas, tapi hati tetap merasakan beratnya perpisahan.


Pintu ruangan terbuka, Bima gegas melepas pelukan dan menyusut air mata sebelum berdiri berhadapan dengan seorang dokter laki-laki yang menangani Dewa.


"Dokter-"


"Anda yang bernama Bima?" tanya dokter menyela lisan Bima yang hendak bertanya.

__ADS_1


"Ya, Dokter. Saya Bima," sahutnya cemas.


"Silahkan masuk ke dalam, pasien butuh ditemani. Kalian yang dia perlukan saat ini," katanya seraya memiringkan tubuh memberi ruang untuk Bima dan Tina memasuki ruangan.


Di dalam sana, terbaring Dewa yang lemah. Dengan selang oksigen juga infus yang terpasang di tubuhnya. Ia tersenyum saat lirikannya jatuh pada dua sosok yang kian mendekat ke arahnya.


"Mari! Deket-deket ama gua, jangan jauh-jauh dari Babeh, Tong!" Dewa memanggil Tina dan Bima dengan suaranya yang lemah hampir seperti bisikan.


Kedua orang itu berdiri di sisi kanan dan kiri tubuh renta milik Dewa yang semakin tak berdaya itu. Ia memeluk keduanya, mengecup pucuk kepala mereka sebelum melepasnya.


"Makasih, cintanya Abang. Lu udah ikhlasin Abang buat pergi. Gua kangen ama lu, Tin. Gua kangen juga ama anak kita," racaunya lagi semakin pilu terdengar. Napas tak lagi beraturan.


Tina menahan isak tangis yang merangsek keluar. Begitupula dengan Bima, ia melipat bibir menahan sesuatu yang ingin tumpah ke permukaan.


"Kagak usah nangis, ada Bima yang bakal jagain lu. Anak kita yang hebat itu," lanjutnya dengan napas yang semakin tersengal. Ia menjeda, menarik napas pendek-pendek mengurai sesak yang datang menghimpit.


Aliran rasa hangat dirasakan Dewa di seluruh pembuluh darah. Berdesir hebat memberikan rasa nyaman yang menenangkan. Ia memejamkan mata, napasnya masih berat terasa dan semakin berat.


"Beh!" panggil Bima. Dewa melirik dengan suara payah, mulutnya terbuka mencari udara. Tersenyum meski dipaksa.


"Tuntun Babeh lu, Tong. Jangan ampe ketinggalan!" pinta Tina dengan lirih. Lisannya gemetar, air mata turun kembali semakin deras.


"Tina ikhlas, Bang. Insya Allah." Tina mengusap wajah suaminya yang berkeringat. Menyusut peluh yang terus mengalir dari pori-pori kulit lelaki hebat itu.


"Ikutin Bima, Beh. Laa ilaaha illallaah!" bimbing Bima berbisik di telinga. Lidah Dewa tergerak dengan kaku. Ia melirik Bima, susah payah mengeluarkan suara.


"Napas Babeh ... sesak. Bisa kagak lu ... ngucapin yang pendek-pendek aja ... jangan yang panjang. Babeh susah ngikutinnya. Begini ... Allah ... Allah! Kaya gitu," pinta Dewa semakin tersendat-sendat.

__ADS_1


Air mata Bima jatuh, menetes ke permukaan kulit wajah Dewa.


"Kagak usah nangis! Jangan nangis!" lanjut Dewa meski kesulitan. Bima mengusap air matanya, mulai membimbing Dewa dengan berbisik di telinganya.


"Allah ... Allah ... Allah!"


"Iya, kaya begitu ... Babeh gampang ngikutinnya," racaunya lagi semakin terdengar tak jelas.


"Allah ...!"


"BABEH!" jerit Bima dengan kuat dikala dada Dewa tak lagi berguncang. Kelopak matanya tertutup, bibirnya menyunggingkan senyum tipis meski samar terlihat.


"ABANG!"


Bohong! Jika hati mereka tak merasakan sedih dengan kepergian orang yang amat berharga untuk hidup mereka.


Bima dan Tina meraung sambil memeluk tubuh kaku Dewa. Biarkan mereka menangis untuk yang terakhir kali sebelum jasad itu terkubur berkalang tanah.


"Bima bahkan belum kasih Babeh menantu." Pilu terdengar.


"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun!" seru para tenaga medis meski lirih dan berbisik, tapi tetap terdengar di telinga. Mereka membiarkan kedua orang itu menangis dalam pelukan Dewa, memberikan waktu untuk terakhir kalinya sebelum jasad itu dibungkus kain putih.


"Tina ikhlas, Bang. Tina ikhlas. Abang tunggu Tina di sana. Insya Allah kita bakal kumpul kaya dulu lagi. Tina sayang Abang. Bang Dewa laki-laki baik, suami yang bertanggungjawab dan kagak pernah nyakitin Tina. Insya Allah jalan Abang menuju surganya Allah dipermudah. Cepat atau lambat Tina bakal nyusul Abang," tutur wanita berhati mulia itu sambil sesenggukan.


Ia harus tegar, ikhlas adalah sesuatu yang mudah diucapkan lisan, tapi berat ditanggung hati. Seiring waktu berjalan, semua akan berlalu pergi.


"Babeh! Bima juga ikhlas. Babeh kagak usah kuatir soal Nyak. Bima yang bakal jagain Nyak. Bima sayang Babeh. Bima anaknya Babeh Dewa. Babeh adalah laki-laki hebat, bertanggungjawab pada keluarga. Babeh punya hati yang tulus walaupun Bima bukan anaknya Babeh. Insya Allah, Babeh dapat tempat terbaik di sisi Allah," tutur Bima pula dengan keikhlasan hatinya.

__ADS_1


Keduanya menjauh, membiarkan tenaga medis melakukan kewajibannya terhadap jasad yang sudah tak bernyawa itu lagi. Berpelukan saling menguatkan menyaksikan bagaimana tubuh itu ditutup kain putih secara perlahan.


__ADS_2